Indonesia
NovelToon NovelToon
She Wasn'T Me

She Wasn'T Me

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Bepergian untuk menjadi kaya / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: N Vaira

Menjadi yang terbaik dari yang terbaik tidaklah semudah itu. Cemburu dan iri dengki tersirat di dalam hati yang tak lagi suci. Haus perhatian dan kasih sayang membuat keduanya mencari validasi. Tak melakukan apapun sudah pasti tersingkirkan. Mampukah kalian membantu Sena menemukan jati dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N Vaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman

Aku denger semuanya tau!

Oh ayolah!

Aku ini gak perlu dikasihani kayak gitu dong!

Aku ngerti kok kalo kalian anak berada!

Aku juga ngerti kalo lingkungan di sini tuh gak bagus.

Terus kenapa emangnya?

Aku memang masih butuh papa mama di sisiku, tapi mama memintaku untuk jadi anak mandiri secepatnya.

Kurang kasih sayang?

Kurasa tidak tuh?

Memang gak semuanya jahat, tapi aku masih ngeliat orang2 yang baik hatinya kok!

Aku nggak harus selalu diurus ortu kandungku kan?

Faktanya, aku benci sekali dengan mama, tapi berkat mama lah aku tumbuh jadi anak yang disiplin dan tanggung jawab!

Jika bukan karna mama ngusir aku dari rumah kelahiranku, mana mungkin aku bisa ngasilin duit sendiri!

Selama ini aku bergantung pada papa secara finansial

Tapi sekarang?

Aku bisa ngebiayain hidupku sendiri!

Setidaknya aku nggak ngemis2 minta duit ke ortu!

Iya.

Harus aku akui aku nggak punya cowo dan juga wajahku burik.

Tubuhku juga tidak semodis kakak2 cantik dan ganteng yang jadi model!

Terus kenapa emangnya?

Aku bersyukur aku masih bisa hidup sedikit lebih lama!

Aku bersyukur aku masih berjuang buat tetep hidup hingga saat ini!

Jika saja aku menyerah dan pasrah pada takdirku, aku sudah pasti mati terbunuh begitu saja!

Kenapa aku harus punya cowo untuk bisa bahagia?

Aku sudah punya nenek yang mengisi hari2ku.

Aku punya pelatih dan kakak2 tiri yang mau ngajarin aku lebih baik lagi dari hari kemarin.

Aku punya duit buat having fun tiap kali aku menginginkannya.

Dengan cara kalian membicarakanku di belakang begini...

Aku jadi tersadar.

Kalian tidak cukup lebih baik untuk jadi teman seperjuanganku.

Kalian tidak layak untuk menemani jatuh bangunnya prosesku.

Sekarang aku mengerti.

Sejak detik ini...

Aku tak boleh lagi terlalu terlibat dengan kalian.

"Pemeriksaan!" Ucap pengawas.

Hanya aku dan maniak game itu aja yang udah bangun.

Yang lainnya?

Mereka masih bermalas2an.

Kau tau?

Aku benar2 bersyukur mama begitu keras padaku.

Jika bukan karna mama yang ngedidik keras diri ini buat bangun pagi tiap harinya, mungkin nasibku akan sama seperti teman2 sekamarku.

Hukuman mereka lebih parah lagi!

Jika aku dan si maniak game disuruh berdiri di dalam air sambil mengangkat ban sejam doang, mereka harus tahan nyampe jam istirahat tiba.

"Mampus! Rasain tuh! Suruh siapa ganggu gw yang lagi asyik main game!" Ucap si maniak game.

"Mereka ganggu Lo?" Tanyaku.

"Mie gw diabisin dan gw terpaksa masak lagi. Padahal jatah duit jajan mereka lebih besar daripada gw!" Ucapnya.

"Btw. Enak banget ya latihan hari ini? Kita gak disiksa kayak kemarin!" Ucapnya.

"Ya. Lo nomor 13 ya?" Tanyaku.

"Hooh. Nomor paling sial yang pernah ada!" Ucapnya.

"Sial? Lo percaya omong kosong itu?" Tanyaku.

"Ya iya dong!"

"Sial apanya? Nyampe bisa bertahan lebih dari 3 bulan gw apain Lo?" Tanyaku.

"Jadi Lo ngancem gw?" Tanya dia.

"Gw tantang Lo gimana?" Tanyaku.

"Oke! Kalo gw menang, Lo harus turutin yang gw mau selama seminggu!" Ucapnya.

"Kalo gw yang menang, jangan pernah sok deket sama gw!" Ucapku.

"Oke! Gak masalah! Sepakat ya?" Tanya dia.

"Sepakat!"

Bagiku, istirahat begitu cepat.

Mungkin karna kami berdua asyik ngobrol?

Entahlah.

Kupikir dia anak introvert banget.

Ternyata nggak juga tuh!

Menurutku, dia anak yang asyik, tapi terkadang menyebalkan.

"Nenek! Sena datang, nek!" Ucapku.

"Nenek menunggumu. Ayo masuk! Pamanmu juga datang. Kita makan bersama ya?" Tanya dia.

Seperti biasa.

Nenek memasakan dimsum kesukaanku.

Meski wajah paman tuh kusut, bukan masalah besar!

Kedepannya aku akan sering kemari.

Berhubung nenek ini suka sekali memasak untukku secara sukarela, aku harus ngasih duit buat dia belanja ke pasar kan?

Baiklah!

Aku akan belajar menyisihkan sebagian gajiku untuk keluarga ini!

Bagiku, nenek ini sudah seperti nenek kandungku sendiri!

"Kudengar kau menikmati bersama nenek. Apa itu benar?" Tanya paman.

"Benar."

Entahlah.

Auranya memang mengintimidasi.

Mungkin kedepannya akan lebih sulit buat akrab dengan pak tua ini.

Terserah lah!

Aku tak mau ambil pusing!

Selama mereka tak menuangkan racun di makanan dan benda2 yang aku pakai, ya gak masalah kan?

"Aku melihat paman naik kuda kemari. Paman seorang ksatria?" Tanyaku.

"Dulunya sih begitu, tapi sekarang paman lebih memilih ngurus peternakan kuda aja." Ucapnya.

"Ada berapa banyak?" Tanyaku.

"Cuman 7." Ucapnya.

"Cuman 7? Itu sudah banyak, paman!" Ucapku.

Kulihat dia tersenyum, namun...

Senyuman itu hambar.

Aku bertanya2.

Apa ada masalah sebelum aku datang kemari?

Meski begitu...

Rasanya kurang sopan to the point di awal pertemuan begini.

Nanti aja lah!

Ntar juga tau akar masalahnya di mana!

"Paman dengar akhir2 ini kamu sering mampir kemari temani ibuku." Ucapnya.

"Alih2 bareng temen... Aku lebih suka habisin waktu luangku bareng keluarga!" Ucapku.

"Lalu di mana keluargamu?" Tanya dia.

"Di negeri sebelah." Ucapku.

"Jadi kamu ngerantau kemari?" Tanya dia.

"Ya."

"Tapi seumuran kamu masih sekolah kan?" Tanya dia.

"Ya."

Sekolah?

Apa semua ini bisa dianggap sekolah?

Selama aku masuk agensi, yang kulakukan hanyalah ikut pelatihan, kerja paruh waktu, dan jalanin bisnis.

Apa ini masih bisa dianggap sekolah seperti anak2 biasanya?

Aku terlalu malas menjelaskan panjang lebar.

Alhasil aku hanya bisa mengiyakan pertanyaan paman.

"Lusa bakal libur selama 3 hari. Apa aku boleh menginap di sini?" Tanyaku.

"Tentu saja boleh, nak! Rumah kami selalu terbuka untukmu! Aduh! Nenek seneng banget kalo kamu bakal nginep di sini temani nenek!" Ucap nenek.

"Beneran nih? Asyikkk! Sayang nenek!" Ucapku.

Lusa ya?

Jadi anak ingusan ini pengen tinggal di sini selama 3 hari?

Baiklah!

Aku harus menetap di sini dan mengawasinya!

Bagaimanapun caranya aku harus memastikan ibuku baik2 saja!

Anak ini entah datang dari mana.

Asal-usulnya bener2 gak jelas!

Bagaimana mungkin aku bisa yakin kalo dia ini anak baik2?

Pokoknya aku harus mengawasinya!

"Kerja! Kerja! Kerja~" Gumam Sena.

"Nenek! Paman! Aku pamit ya!" Teriaknya dari kejauhan.

"Hati2 di jalan!" Ucap nenek.

"Loh? Kamu mau kemana nak?" Tanya nenek.

"Aku juga pergi dulu, bu!" Ucapku.

Tenang saja, bu!

Aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri tentang anak ini!

Aku mendengar dia bersenandung riang dan kurasa dia bakal pergi ke suatu tempat.

Aku harus mengikutinya!

Mari kita lihat apa yang anak ini lakukan!

Tunggu sebentar!

Dia pergi ke tempat perekaman film?

Bahkan dia langsung berbaur dengan para kru secepat itu!

Apa dia bagian dari mereka?

Kalo iya, kenapa dia ngelakuin ini?

Bukannya seharusnya dia sekolah kayak anak biasanya?

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!