Wilona Kanaya dan Ayin Wijaya adalah saudara kandung. Wilona adalah anak spesial, dia gadis yang bisu, namun itu tidak membuat Ayin merasa malu mempunyai adik kandung yang spesial.
Mereka berdua begitu akrab dan dekat hingga akhirnya kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai karena masalah perselingkuhan. Hak asuh jatuh pada kedua pihak, Wilona ikut dengan ibunya sedangkan Ayin ikut dengan ayahnya. Hingga mereka berusaha untuk bertemu satu sama lain agar dapat berinteraksi.
Perjuangan Wilona untuk bertemu dengan Ayin begitu sulit, banyak rintangan yang harus Wilona lewati mulai dari masalah internal dan eksternal. Masalah keluarga bahkan masalah pertemanan. Ayin yang sulit ditemui, keluarga yang menghalangi bahkan teman-temannya juga ikut campur dengan urusan Wilona.
Tapi ada satu kejadian yang tak mereka inginkan terjadi hingga Ayin menyesal luar biasa dengan Adik kandungnya, Wilona.
#JIMINJEONG #AESPA #KPOP
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Home, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Memori
...Peringatan: Semua yang ada di sini hanyalah fiksi belaka. Kepada anak-anak spesial, izinkan saya untuk membuat cerita fiksi ini agar tidak terjadi kesalahpahaman....
......DIINGATKAN UNTUK PARA PEMBACA untuk tidak membawa-bawa nama AYIN dan WILONA diluar dari novel ini (OOT, LATAH, komen di segala sosial media aespa dan sebagainya yang membuat orang risih dan memicu fanwar) kecuali untuk promosi Night Cloud bisa kalian kreatifkan di konten kalian sendiri.......
......
Tapakan kaki Wilona sangat jelas terdengar di balkon rumahnya. Suara angin malam menyejukkan pikirannya, jangkrik dan kodok bersahut-sahutan di sana. Semilir angin menggerakkan rambut pendek berwarna hitamnya. Wilona menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.
Dengan mata yang tertutup, ia menarik senyumnya. Berusaha mengingat memori barunya yang tersimpan bersama Ayin. Matanya terbuka perlahan menatap bintang-bintang terang yang berkilap.
Wilo udah berhasil bawa Kak Ayin ke sini tapi masih belum bisa masuk ke rumah....
Wajahnya kini berpaling ke bawah dan menatap kosong keramiknya. Ia mengangkat kepalanya lagi dengan mata yang mulai panas. Dia berusaha untuk tidak menangis mengingat memori-memori yang terbesit di pikirannya seketika itu. Sampai tenggorokannya sakit menahan air matanya agar tak menetes.
Wilo pengen Kak Ayin bisa liat langit malem lagi bareng-bareng kayak dulu ... Wilo kangen.
Kangen. Tangannya meremas pagar balkon dengan jari-jemari yang gemetar. Ia tidak dapat membendungnya lagi, wajahnya dibanjiri air mata. Wilona kemudian menghapusnya.
Cuma malem yang bisa nenangin pikiran Wilo. Cuma bintang, bulan dan awan malem yang bisa buat Wilo tenang.
Matanya menangkap satu bintang yang terjatuh. Wilona harap, dia bisa membuat ingatan Ayin kembali secepatnya. Malam itu, malam yang membuat Wilona terjatuh di dalam kenangannya lagi. Malam yang begitu tenang dan sepi.
Inilah tempat kesukaan Wilona kala semuanya meninggalkannya sendirian. Hanya bintang, malam dan bulan yang tak pernah meninggalkannya serta Tuhan yang selalu mendengarkan semua doa-doanya.
...💌...
Ayin menatap wajah ibu sambungnya saja sudah mulai muak. Sifat ibunya itu begitu bengis padanya setiap hari ketika tidak ada ayahnya. Dia berpikir tidak mungkin seorang ibu mampu menjahati anaknya sendiri? Diingat jika keduanya menikah setelah dia lahir dan dewasa di atas brankar rumah sakit.
Malam ini bersamaan dengan malamnya Wilona di sana. Ayin sedang berusaha mengingat-ingat memori apa yang menjanggal di otaknya. Ayin mengatupkan bibirnya dan meretakkan jari-jari yang pegal. Inilah kebiasaan Ayin tiap di rumah.
Rasanya malam ini, dia ingin melukis saja menggunakan pena di atas kertas kosong. Itu merilekskan pikirannya yang penuh. Salah satu memori mulai keluar di dalam pikirannya. Ada satu ingatan yang dapat ia ingat. Senang Ayin mengingat ini. Satu kenangan saja sudah cukup membuat Ayin senang.
Karena berarti penyakit Amnesia itu sudah mulai sembuh. Ugh ... ngomong-ngomong soal Amnesia, Ayin membenci penyakit ini yang tidak bisa membuatnya ingat apa-apa ketika ia melewati kejadian tersebut. Hingga kemarin saja dia hampir lupa pernah berjalan-jalan bersama Wilona.
"Setiap aku inget kenangan lama," ucapannya terjeda sejenak. "Kenapa ... kenapa selalu ada cewek berambut pendek? Kenapa aku gak inget sama dia? Siapa dia?" tambah Ayin sambil mengerutkan kedua alisnya yang hampir menyatu sempurna.
"Bingung ... siapa sih dia?"
Ayin curiga. Apakah gadis itu ada hubungannya dengan dirinya? Atau ada hubungan darah dan keluarga? Ayin juga masih menganggap ini misteri di dalam pikirannya. Dia mulai membuka ponselnya lalu segera menelpon Gisel.
"Gisel," sapanya.
"Ini, aku mau cerita."
Ayin mulai menceritakan memori otaknya itu dengan Gisel. Gisel bilang itu hal biasa, dia mencoba menenangkan Ayin soal ini. Gisel yakin bahwa Ayin akan ingat satu-persatu memori itu jika sudah waktunya. Ayin berdiri dan menyenderkan punggungnya ke dinding.
Helaan napas lelah terasa hangat di tenggorokannya. "Kalo kita sama-sama di kelas sore. Aku pasti bakal tiap hari curhat ke kamu," lirihnya.
Suara Gisel dari dalam telepon bertanya, kenapa dia tidak curhat saja kepada teman barunya, Wilona. Dia mungkin bisa membantunya untuk masalah itu. Ayin menggeleng pelan walau pun Gisel tak melihatnya di sini, tetapi dia seakan-akan berada di hadapan Gisel.
"Enggak. Aku khawatir aja karena mungkin masih baru jadi aku gak keenakan kalo curhat langsung masalah pribadi ke dia."
Ayin mematikan telepon tersebut lalu dia bersedekap sebentar sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut—nyeri. Ayin nyaris saja merosot jatuh jika ia tadi tidak menyenderkan punggungnya di dinding.
Karena pandangannya langsung menggelap singkat seakan dirinya ingin pingsan. Ayin memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali.
Dia bergerak pindah untuk duduk ke kasur empuknya. Tangannya ia ulurkan untuk meraba dan mencari obat sakitnya tersebut di area kasur. Sebab kemarin, dia lupa meletakkannya kembali ke laci.
Ayin menghela napas lega kala obat itu dia temukan kembali di bawah bantalnya. Ia beringsut ke kanan—mengambil gelas berisi air dingin kemudian Ayin langsung mengonsumsi obat itu.
Kapan penyakit ini sembuh?
Dalam benaknya terdapat ucapan tersebut. Dia ingin segera sembuh, ingin sekali. Bahkan jika waktu itu semakin dekat, Ayin akan menunggunya.
Dia lelah dengan penyakit ini, penyakitnya membuat Ayin repot. Dia harus berkali-kali bertanya pada Gisel dan teman-temannya tentang tugas serta apa-apa yang kemarin terjadi. Karena memorinya kurang kuat mengingat. Kadang, Ayin malu bertanya kembali kepada Gisel akibat penyakit Amnesia ini.
Capek banget, jujur secapek ini.
Ayin berharap, waktunya secepatnya datang agar dia tidak serepot ini. Meminum obat, sakit lagi, minum obat—berobat ke dokter mengurusi penyakit ini lagi. Lelah. Ayin lelah.
...💌...
Hari ini, Wilona tidak masuk kelas. Dia menitip absen kepada Naya. Gisel baru saja sampai di kantin. Suasana kantin seperti biasa ramai, banyak para mahasiswa dan mahasiswi baru pulang dari kelas pagi.
Suara dentingan sendok dan garpu beradu. Gesekan kursi ditarik oleh Gisel berbunyi, dia duduk berhadapan dengan Naya. Matanya mencari-cari sosok Wilona. Naya kemudian mengetuk kecil meja makan.
'Wilo gak dateng hari ini,' ujarnya dalam bahasa isyarat.
Gisel tentu saja kaget, punggungnya lurus kembali setelah tadi sempat terbungkuk. Wajahnya menjadi tegang. "Kenapa?" Pertanyaan itu dilontarkan refleks kepada Naya. Naya memasang wajah murung. Tangannya terangkat untuk menerangkan keadaan Wilona.
'Wilo sebenernya mau berobat tapi malah dirawat inap karena HB rendah. Kurang darah gara-gara makannya gak bergizi.'
Gisel terdiam sejenak. Pikirannya langsung tertuju pada Ayin. Ah, gadis itu. Dia baru saja ingin memberitahu beritanya kepada Wilona. Gisel mengambil roti yang ada di meja tersebut kemudian merobek bungkus dan menggigitnya. Naya menunggu temannya itu berbicara.
"Ayin semalem nelpon. Dia bilang kalo ingatannya mulai balik. Dia kayaknya mimpi cewek rambut pendek," Gisel memberi jeda sejenak kemudian melanjutkannya lagi.
"Ya taulah siapa lagi kalo bukan Wilo tapi Ayin gak inget. Dia pengen cerita ke Wilo tapi gak berani katanya sih, masih baru jadi dia malu cerita ke Wilo."
Naya tentu saja langsung tersenyum. Naya mencolek tangan Gisel. Dia menunjuk Gisel, menunjuk tangannya sendiri kemudian membuat bahasa isyarat. Raut wajahnya terlihat senang seolah dia baru mendapatkan beberapa uang merah.
'Sebentar lagi kayaknya Kak Gisel, aku sama Wilo berhasil buat Kak Ayin balik. Diinget waktu itu, Wilo bilang kalo Kak Ayin udah tau rumah Wilo,' lontarnya.
Matanya memandang gelas berisi teh dingin itu lalu beralih lagi memandang Gisel. 'Aku yakin pasti Ayin perlahan-lahan inget.' Gisel berkutik dan mengambil gelas milik Naya itu lalu menyeruputnya.
"Ayin pasti sedih kalo denger Wilo dirawat inap. Dia mau ketemu lagi katanya. Gimana ya, cara bilangnya? 'Kan aku pura-pura gak kenal Wilo kalo sama Ayin."
Naya menepuk jidatnya lalu menggeleng kecil mendengar pengakuan Gisel, Gisel hanya menyengir lalu menggaruk leher belakang yang tak gatal.
'Kalo Kak Ayin inget, berarti tugasku udah mulai ya, Kak? Soalnya tugasku di sini bantuin Kak Ayin makin inget sama Wilo.'
Gisel mengangguk setuju dengan ucapan Naya. "Apa kita habis ini langsung ke rumah sakit aja? Biar bisa kita obrolin lagi soal ini. Mumpung kelas udah abis jadi kita bisa ke sana." Naya menyetujui saran Gisel.
...💌...
Suara pintu terbuka dan terdorong membuat Wilona melirik pintu tersebut. Muncul kedua temannya itu di balik pintu ruang inap. Wilona menampilkan senyum ke arah mereka kala Naya dan Gisel berjalan ke tempatnya.
"Kamu tuh ya, makan yang bergizi dong!"
Baru masuk saja Gisel sudah mengomelin Wilona. Pasien yang merasa diomelin pun menutup kedua telinganya seakan suara Gisel sangat berisik. Naya sejak tadi hanya diam menatap infus yang menancap di tangan kirinya dengan bau obat yang tajam.
'Niatnya mau berobat eh, malah kena rawat inap!'
Wilona menjelaskan hal itu kepada mereka. Naya berusaha menahan tawanya agar tidak ketahuan oleh Wilona, namun sayangnya wajah Naya begitu merah karena menahan tawa hingga kentara sekali.
'Ketawa aja kalo mau ketawa.'
Naya tertawa hingga kedua bahunya naik-turun dengan cepat, dia menunduk tertawa puas melihat Wilona duduk di brankar. Tangan Naya jahil mencolek-colek selang infus itu hingga membuat kedua mata Wilona menyipit menatap Naya intens.
Wilona menampar tangan Naya karena merasa ngilu. Tangan kiri yang diinfus dia angkat dan mencubit lengannya gemas seolah-seolah berucap 'jangan dimainin!' Kepada Naya.
"Makanya, jaga makannya biar gak masuk rumah sakit," omel Gisel.
Wilona mengibas-ibaskan tangannya ke arah Gisel seakan menyuruhnya untuk berhenti mengomel. Wilona bertanya bagaimana keadaan Ayin? Gisel menjawab bahwa Ayin baik-baik saja.
"Gimana kalo Ayin nyariin kamu? Dia lagi pengen ketemu sama kamu."
'Gimana, ya? Aku gak tau kalo bakal dirawat inap gini.'
Gisel tampak berpikir sejenak, keningnya berkerut. Dia akhirnya mendapat ide. "Gimana kalo kamu chat aja? Sini hapenya, kamu gak bisa chat soalnya lagi sakit." Gisel mengulurkan tangan meminta sang gadis memberi ponselnya.
Wilona menurut dan memberikan ponsel itu kepada Gisel. Suara pintu terbuka lagi, semua menoleh termasuk Wilona. Bunda datang membawa makan siang untuk Wilona.
"Loh? Kalian dateng kok gak bilang dulu ke Bunda? Ya ampun! Bunda gak bawain makanan ... cuma bawain makan Wilo," tuturnya sambil berjalan ke tempat mereka.
"Ah, gapapa, Bun. Lagian juga kami gak laper kok."
"Serius? Masa sih? Bunda beliin, ya?" Tangannya sudah merogoh saku untuk mengambil ponsel. Naya mengangguk polos saja menuruti kemauan Bunda Wilona.
"Eh, gaus—"
"—Gapapa, Gisel. Bunda ikhlas kok ngasih kalian," potong Bunda.
Gisel akhirnya menurut dan kembali lagi pada topik sebelumnya. Wilona dan Naya sejak tadi hanya mendengarkan obrolan mereka. Gisel tampaknya serius mengetik di ponsel Wilona. Bunda mendekat diam-diam ke arah Gisel dan menelengkan kepalanya agar bisa mengintip isi pesan yang ingin di kirim ke Ayin.
"Oh?! Gisel mau chat Ayin ke sini?!" hebohnya tiba-tiba membuat Gisel terkejut dengan kehadiran Bunda di sampingnya.
"Bukan ... itu, Gisel cuma pengen ngasih tau ke Ayin kalo Wilo gak masuk hari ini soalnya sakit. Kalo soal jenguk, kita belum tau."
Tampak kembali murung wajah Bunda. Gisel merasa bersalah. Wilona menghela napas melihat tingkah Bunda yang terlihat seperti anak kecil. Naya mengetuk-ngetuk meja laci agar semuanya menoleh ke arahnya.
'Gimana kalo kita suruh Kak Ayin jenguk Wilo?'
"Eh, jangan! Nanti ketahuan. Kamu belum kenal sama dia, 'kan, tugas kamu belum dapet!" respon Gisel.
Naya memanyunkan bibirnya. Memberi bahasa isyarat seakan kesal dengan respon Gisel, 'Dasar!'. Gisel lupa memberitahu tentang Ayin kepada Wilona.
"Oh iya, Wilo. Kak Ayin semalem nelpon aku terus bilang kalo dia pengen curhat ke kamu tapi gengsi soalnya masih baru, takut kamu risih denger curhatan pribadi dia," katanya.
Bunda duduk di samping Naya. "Curhat apa Kak Ayin ke Gisel? Jujur, Bunda kangen banget sama Kak Ayin ... namanya seorang ibu pasti kangen, gimana? Dia udah mulai inget belum?"
Garis bibir Gisel melengkung ke atas. Dia merapikan posisi duduknya dan melirik sekilas wajah Wilona. "Kabar bagus, Ayin udah mulai inget, Bun, sedikit-sedikit." Tentu saja membuat Wilona dan Bunda ikut tersenyum senang.
"Syukurlah, Bunda udah seneng banget dengernya apa lagi bisa ketemu sama Ayin...." sejenak ruangan menjadi hening dengan suhu yang dingin di dalam ruangan. Tiba-tiba Bunda terpelonjak dan berdiri membuat semuanya ikut terkejut.
"Ya ampuuuun! Bunda lupa suapin makan Adek, mana buburnya udah dingin lagi! Sini, Bunda suapin. Dari tadi pasti Adek laper!" Tangannya sejak tadi memegang bungkus bubur, lantas Bunda membukanya dan menyodorkannya.
Naya dan Gisel saling tukar pandang lalu tertawa kecil melihat tingkah lakunya. Wilona terkekeh dan membuka mulut untuk menerima suapan sang Bunda ke dalam mulutnya.
Notifikasi masuk ke dalam ponsel Wilona, suara nada dering notifikasi membuat Wilona melirik ponsel itu termasuk Gisel dan Naya. Gisel langsung mengambilnya dan segera membaca pesan itu terlebih dahulu dalam batin.
Semuanya menunggu respon sang gadis itu. Kemudian dia tersenyum dan tertawa kecil. "Ayin bilang 'ya ampun, kok kamu gak bilang? Aku baru selesai mapel pertama, baru buka hapee maaf banget! Kamu sekarang lagi di rumah sakit, 'kan? Aku jenguk, ya, habis kelas?!' Itu katanya."
Semuanya tampak hening sejenak. Wilona mengangkat tangannya dan segera membuat bahasa isyarat. 'Gimana? Kalo kata aku sih, boleh banget. Kalo kalian? Bun?'
"Kalo gitu, boleh. Boleh Ayin ke sini," kata Bunda.
Naya berpikir sejenak. Dia mulai mengangkat tangannya dan menunjuk dirinya. 'Aku pura-pura cuek aja nanti, tenang aja, 'kan, Kak Ayin gak kenal aku. Nanti suatu saat kalo ketemu lagi pasti dia bakal kenalan.' Gisel menolak.
"Gak, kalo gitu aku berarti ketahuan dong? Aku di sini posisinya gak kenal sama sekali sama Wilo." Bunda tak enak hati menyuruh Gisel pulang.
"Yaudah ... kami pulang duluan, bilang ke Ayin kalo dia boleh ke sini."
Gisel dan Naya berdiri dan pamit pulang dengan Bunda. Awalnya, Bunda melarang mereka, namun itu demi Ayin jadi Bunda mengiyakannya.
****
Wilona mengangkat tangan seakan menulis lalu telapak tangan kanannya ia sejajarkan dengan ulu hati—sedikit ia naikkan ke atas untuk membuat kata bahasa isyarat 'senang'.
'Bunda seneng, 'kan, nanti ada Kak Ayin ke sini?'
Bunda mengangguk antusias. Tangannya memegang tangan Wilona yang berada di atas perutnya. "Seneng, Bunda kangen banget sama Kak Ayin. Gimana ya, mukanya sekarang? Pasti tambah cantik kayak Wilo."
Suara pintu terbuka menandakan ada seseorang masuk ke dalam ruang tersebut. Tentu saja yang lebih dulu melihat kehadiran Ayin adalah Bunda, ibu kandungnya.
Lantas, mata sang Bunda menggenang. Air matanya panas, cepat-cepat Bunda menunduk ketika Ayin melangkah ke tempat Wilona. Maniknya meloloskan cairan bening ke baju.
"Wilona, kamu gapapa? Kenapa bisa masuk ke sini?" Bibirnya melengkung ke bawah.
Dia memegang tangan Wilona. Gadis bisu itu melirik Bunda yang menunduk dengan air mata yang terus menetes. Sungguh, Wilona sedang menahan tangis hingga tenggorokannya sakit.
Wilona menggeleng pelan sambil tersenyum menatap Ayin yang datang ke sini dengan pupil Wilona yang membesar menatap Ayin dalam. Bibirnya bergetar menahan sesak.
Sang kakak akhirnya datang menemuinya bahkan bisa bertemu dengan Bunda. "Wiloo, makanya jangan ketat-ketat banget jadwalnya kalo capek langsung istirahat! Ini aku bawain buah-buahan buat kamu."
Ayin meletakkannya di atas meja lacinya. Ayin menatap Bunda Wilona, kedua alisnya terangkat. Ia heran mengapa ibu Wilona menunduk.
"Em ... Tante, jangan sedih. Wilona pasti sembuh kok," tegurnya dengan suara lembut.
Suaranya sudah dewasa tak lagi seperti anak kecil. Bunda perlahan-lahan mengangkat kepalanya meskipun begitu berat karena dia tak kuat menatap sang anak yang telah lama jauh.
Wilona khawatir karena Bunda tak bisa berakting layaknya tak saling mengenal. Tangannya mengepal takut jika Bunda keceplosan soal Ayin. Ia mengigit bibirnya kemudian beralih menatap Ayin.
"Iya ... doain ya, semoga sembuh."
Suaranya gemetar dan hampir tak terdengar di telinga Ayin. Ruangan ini semakin dingin, Bunda merasa angin tersebut berhasil menusuk tulangnya. Mungkin karena Bunda gugup.
Ayin duduk di sebelah Bunda. Tangannya memegang kaki Wilona karena posisinya berada di kaki Wilona sedangkan Bunda berada di perut Wilona. Wajahnya sungguh khawatir dengan Wilona.
"Aku jadi inget waktu aku di rumah sakit juga kayak kamu ... gak enak. Makanan jadi hampa semua, badan lemes," lontarnya.
Wilona tersenyum. Ia tahu bahwa ingatan itu mulai kembali pada Ayin terbukti dengan dia ingat saat berada di rumah sakit.
"Oh iya, aku rencananya mau beli buku bahasa isyarat. Aku mau belajar mandiri biar gak ngerepotin kamu...." Wilona mengangkat kedua tangannya.
'Santai, gapapa.'
"Sepi tau, gak ada kamu ... aku jadi gak semangat ngerjain linguistiknya, laprakku numpuk...." Ayin memasang wajah sedih. Kemudian dia menoleh menatap Bunda. Sang Ibu yang merasa dipandang pun merasa gugup dan kaku disekujur tubuhnya.
"Tante gak makan? Makan Tante, Tante udah makan belum? Kalo belum, Ayin kebetulan bawa makanan." Ayin membuka tasnya dan mengambil kotak bekalnya.
"Ah! Gausah-gausah, gapapa ... Bunda eh Tante udah makan." Tangannya menahan bekal Ayin. "Gapapa Tante, ini buat Tante!" Tangan Ayin mendorong bekal tersebut hingga Bunda menerimanya.
Wilona tersenyum miring, kemudian kembali menatap Ayin yang sedang menutup tasnya. Tapi tiba-tiba Ayin menghentikan aktivitas. Terlihat Ayin membeku sambil bengong membuat Wilona mengerutkan alisnya.
Kak Ayin kenapa?
Ayin merasa ingatannya ada yang kembali. Salah satunya adalah ia pernah di rawat inap juga sama seperti Wilona bahkan dia merasa wajah ibu Wilona tak asing di matanya.
Ayin kembali bergerak dengan canggung. Wilona bertanya melalui bahasa isyarat yang mudah dipahami oleh Ayin. Wilona menunjuk Ayin dan menabrakkan kedua tangannya ke depan seakan bersalaman.
'Kamu gapapa?'
Ayin menatap Wilona yang khawatir lalu tersenyum dan menggeleng. "Gapapa," katanya. Bunda menatapnya sedikit berusaha untuk tidak terlalu kentara.
Ayin berdiri dan menepuk-nepuk pelan kaki Wilona. "Aku pulang dulu, ya? Tante, Ayin pulang dulu soalnya ini udah malem takut nanti Ayah Ayin marah kalo gak pulang ke rumah." Dia terkekeh sembari bersalaman dengan Bunda.
Tanpa sengaja Bunda mengelus kepala Ayin ketika dia membungkuk dan salam kepadanya. Kemudian dia pergi dan menutup pintu ruang tersebut. Seketika atmosfer di ruangan ini mendadak normal kembali tak seperti tadi yang sangat dingin.
Wilona menoleh ke arah Bunda. "Kak Ayin tetep sama..." Wilona tersenyum hingga menampilkan giginya. Ia mengangkat kembali tangan membuat bahasa isyarat.
Wilona memegang daun telinganya yang berarti 'ibu', kemudian tangannya ia sejajarkan di dada dan Wilona angkat pergelangan tangannya sedikit ke atas dua kali yang artinya 'senang'.
'Bunda seneng?'
Bunda tentu saja mengangguk senang. "Bunda gembira banget liat keadaan Kak Ayin. Bahkan Bunda gak nyangka bisa ketemu Kak Ayin, Dek." Tangan Bunda membuat bahasa isyarat dengan pandai. Wilona terharu dan tersenyum kepada Bunda.
💌
Di perjalanan tentu saja Ayin melamun. Dia bingung mengapa ketika Ayin sedang menjenguk Wilona. Ada rasa deja vu ketika melihat ibu Wilona dan ruangan rumah sakit tersebut.
Ayin merasa pernah mengenal Ibu Wilona tapi di mana? Bahkan dia lupa kapan Ayin pernah bertemu dengannya. Hanya saja, Ayin tak asing dengan wajahnya.
Seingat Ayin, ketika dia berada di rumah sakit kala itu tak ada sama sekali ibu Wilona di sana. Hanya ada ayah dan mama yang menemaninya bahkan ketika itu Gisel adalah teman pertamanya di rumah sakit.
Ayin berusaha mengingat-ingat kejadian tersebut. Hingga dia tak sadar bahwa sejak tadi supir taksi memanggilnya karena dia telah sampai di depan rumahnya.
"Ah, maaf, Pak. Saya tadi ngelamun," katanya.
"Gapapa, Mbak."
"Makasih ya, Pak." Ayin turun dari mobil taksi online tersebut lalu berjalan masuk ke terasnya. Dia berusaha melupakan kejadian yang janggal di otaknya berharap bahwa dia tadi hanya delusi.
BERSAMBUNG....
"ceritanya sedih" ucap wilona sembari mengusap sedikit air matanya yang jatuh tanpa diminta