Seorang tentara yang penuh dengan penyesalan di culik oleh mahluk dari alam semesta yang berbeda. dia lalu kabur dari mereka dan membalaskan dendam nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dezxnut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 Perburuan Liar
Sesaat pria itu membuka buku. Di halaman pertama dia melihat logo berbentuk pesawat dengan globe berwarna biru di belakang pesawat itu, ada tulisan di bawah logo "Parable Colony". Logo itu tertempel di tengah-tengah kertas, di bagian paling bawah kertas ada nama yang tertulis dengan tulisan berantakan “Dr. Sajaka” Dia mengatakan nama itu dengan pelan, suaranya sedikit berserak ketika membaca nama itu “Jadi itu namanya?” Suaranya sedikit bergetar dengan amarah, ia mengingat betul bagaimana makhluk itu terus memanggilnya ‘Tes Subjek’ Suara Dokter itu seakan mengejeknya setiap kali ia memanggil pria itu. Sebenarnya pria itu akan menyiksa Dr itu terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Tetapi amarahnya tidak bisa dibendung lagi dan tak sengaja membunuhnya. Dr. Sajaka bisa dibilang beruntung karena lolos dari takdir yang lebih mengerikan dari kematian.
Dia lalu membalikkan halaman. Di belakang halaman pertama ada gambar yang menarik perhatiannya, gambar itu adalah foto potret dari seseorang. Di foto itu terpampang jelas wajah seorang yang sudah berumur, tetapi pria itu bukanlah manusia melainkan makhluk yang berbeda. Kulitnya berwarna biru tua, lebih gelap dan lebih pekat daripada Arcn. Posturnya juga lebih kecil layaknya manusia dewasa. Ia memakai topi berpuncak layaknya panglima dengan logo yang sama seperti di lembar pertama. Topinya berwarna putih selaras dengan pakaian panglimanya. Di bawah foto itu ada namanya “Nebitno” Serta bintang berwarna perak tertempel di samping kanan nama itu. Tentara itu menatap foto dengan jeli, dia langsung tau kalau pria yang berada foto itu adalah panglima tingkat tinggi.
Ajax tersenyum tipis “Sempurna” Pikirnya kalau dia mendapatkan info darinya itu maka info yang dia dapatkan akan lebih banyak. Di lembar dua dia juga melihat deretan foto beserta nama, tetapi dia tidak terlalu memperdulikannya karena ia tahu kalau info yang dia dapatkan akan lebih besar kalau langsung menemui panglima itu. Dia lalu kembali membaca jurnal itu dan berusaha untuk memahaminya, walaupun bahasa yang digunakan sangatlah asing. Pria itu membalik-balik halaman berusaha untuk mendapatkan clue. Dia tidak mengerti bahasanya, beruntungnya jurnal itu ada gambar dengan tanda panah.
Dia lalu melihat foto Nebitno yang terhubung dengan anak panah, anak panah itu menunjuk ke gambar di sebelahnya. Ajax memperhatikan gambar itu “Bubble?” Gambar yang ia lihat adalah bola raksasa persis yang seperti di luar. Di bawah gambar itu tercantum sebuah nama “Bubble: Teohudolon” Otaknya seakan mengklik dan dia tahu tujuannya sekarang. Pria itu menutup buku jurnalnya, lalu meletakkannya di balik rompi. Dia menepuk-nepuk dadanya seakan mengetes apakah jurnal itu akan merosot ke bawah, karena tidak merasakan apa-apa dia tidak menghiraukannya. Pria itu lalu berjalan keluar dari kamar itu sambil mengikat kedua rantainya di kedua lengannya dengan erat.
Dia berjalan melewati jalan besi. Setiap langkah membuat suara *Clank* Yang berisik, pria itu mengklik lidahnya “Chk” Pria itu tidak menyukai suaranya sama sekali, baginya suara itu mengingatkannya dengan casing peluru yang berjatuhan ke lantai. Pria itu mengingat betul kalau dia tidak mau membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Dia memikirkan itu sambil melangkahi banyak mayat, ia menyesal tetapi di secara bersamaan pria itu melakukan hal yang ia sesali. Setiap jalan, setiap level ada banyak mayat berserakan, kondisi mereka berbeda-beda. Ada yang tertempel di dinding, ada yang digantung, ada yang kepalanya hancur, ada yang tubuhnya terbelah, ada yang menjadi arang, ada yang tertusuk banyak pisau, dan banyak yang terjatuh ke bawah.
Dinding berlumuran dengan darah, lantai diselimuti oleh genangan darah. Banyak dari mereka yang tidak bersalah dan banyak dari mereka yang masih belum berbicara. Dia tidak memperdulikan makhluk-makhluk itu, dia bahkan menganggap mereka bukan sebagai makhluk yang bisa berpikir tetapi sebagai binatang liar. Dia sampai ke pintu bunker yang terbelah, dia langsung keluar tanpa menatap kebelakang.
Dia berjalan menyusuri lorong yang hening, cahaya dari luar jendela kembali menyinari bagian kiri badanya. Dia lalu menatap keluar jendela dan melihat bola-bola besar itu yang seakan melayang di kekosongan “Jadi itu adalah Bubble?” Pria itu terdiam sejenak “Jadi bentuk dari luar dunia ku seperti itu?” Dia kembali terdiam, dan merenung mencoba memahami bagaimana mereka bisa menghancurkan dunianya “Bagaimana mereka bisa? Itu tidak masuk akal…” Gumam kecil.
Di sepanjang lorong itu dia terus memikirkan pertanyaan ini, dia berusaha untuk mengerti apa motif dari mereka. Saat pikirannya sedang di penuhi pertanyaan, dia mengingat perkataan dari makhluk yang ia bunuh di dalam penjara raksasa “Ahh… Dia bilang dunia ku dikuras habis… Apa itu berarti mereka menguras sumber daya kami?” Semakin ia pikirkan, semakin besar kebenciannya “Jadi… Dimata kalian kami hanya primata yang tinggal di hutan belantara?" Nafasnya semakin berat “Binatang seperti kalian bukanlah manusia yang mempunyai akal sehat!” Dia berhenti di tengah lorong, memegang wajah sebelah kirinya “Sial! Sial! Sial! Sial! Sial!!! Sial!!! Sial!!! Sial!!!!!!” Setelah semua sudah berlalu akhirnya Ajax dapat mencerna apa yang terjadi.
Dia akhirnya sadar betapa kesepian dirinya. Dunianya hilang, keluarga satu-satunya mereka siksa. Dia terjatuh ke lantai, lututnya terbentur dengan keras. Dia mengangkat tangannya, dan memukul-mukul lantai dengan kuat. Dia ingin menangis tetapi tidak ada air mata yang keluar, dia ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar. Pria itu terus memukul-mukul lantai, suara bergema ke seluruh lorong dengan dahsyat. Jika masih ada seseorang yang hidup, seluruh tubuh mereka pasti akan bergetar mendengar suara itu seakan berdiri di sebelah tank yang menembak secara bertubi-tubi.
Dia terus memukul-mukul lantai itu, tangannya berdarah karena dampak dari lantai itu. Dia berhenti, tangannya mengeluarkan darah yang menggenang di sekitarnya. Dia mengangkat tangan itu dan menegakkan badannya, matanya merah, seluruh urat di wajahnya seakan ingin meletus. Tubuh pria itu bergetar dengan hebat, nafasnya tidak beraturan, kedua tangannya mengepal dengan kuat, dan tanpa disadari kedua rantai yang mengikat di tangan nya menguat dengan sendiri.
Dia lalu berusaha untuk menenangkan diri, menarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskan nafas itu dengan perlahan. Tubuhnya dengan perlahan rileks, dia berdiri di lorong itu dengan diam. Hening, semua menjadi hening. Dengan diam pria itu kembali berjalan menelusuri lorong.
Dia terus berjalan, tidak berbicara dan tidak memikirkan apapun. Dia bahkan tidak sadar kalau jendela yang menemaninya sudah menghilang. Sampai akhirnya ada jendela lagi yang muncul di sebelah kiri, tetapi jendela itu tidak menampilkan apa yang ada di luar melainkan menampilkan hangar yang luas.
Dia menoleh kirinya dengan perlahan menatap hangar itu, Ajax kembali menatap ke depan dan berjalan untuk mencari pintu masuk. Hanya perlu beberapa langkah saja dia melihat ada pintu yang terbuka. Dia lalu berjalan memasuki hangar itu dan menatap keluar, matanya melebar “...” Hangar itu langsung terbuka menuju keluar, dia melihat Bubble alam semesta yang begitu besar, pria itu menatapnya dengan kagum tetapi semakin lama dia melihat keluar semakin sakit kepalanya. Dia menggaruk-garuk kepalanya dan perlahan mendekati pintu hanggar yang lebar itu. Sesaat sudah berada di hadapannya dia melihat kalau ada semacam cahaya transparan berwarna biru yang memisahkan hangar itu dengan dunia luar. Ajax mengangkat tangannya dengan ragu dan akan menempelkan tangannya keluar, tetapi dengan cepat dia langsung menurunkan ide itu “Bodoh sekali” Gumamnya dengan pelan.
Dia berbalik badan dan menelusuri hangar besar itu. Hangar itu sepuluh kali lipat lebih besar dari lapangan sepak bola, langitnya setinggi gedung pencakar langit, lantai dan dindingnya memiliki motif yang aneh dan alien. Tidak terlalu banyak pesawat yang berada hangar itu, kebanyakan pesawat pasti sudah dipakai oleh para orang-orang penting. Dia menjelajahi hangar itu mencari pesawat untuk perjalanannya. Dia mencari yang ukuranya kecil, ia pikir kalau ukuran pesawatnya kecil tidak ada yang akan memperhatikannya maupun itu musuhnya ataupun sesuatu yang berada di luar.
Setelah beberapa saat dia menemukan pesawat yang ia cari, ukuranya sedikit lebih besar dari mobil van. Dengan perlahan dia mendekati pesawat itu, dia memutari pesawat itu untuk mencari jalan masuk. Dia berdiri di belakang pesawat itu, ia menyilangkan tangannya dan memperhatikan bagian belakang pesawat dengan intens. Dia lalu mendekati dengan tangan yang masih di silang. Dia lalu menyentuh pesawat itu, tiba-tiba bagian yang disentuh terbuka secara perlahan ke samping, Ajax terkejut sedikit mundur kebelakang.
Didalam dia melihat interior pesawat yang begitu kecil, di dalam ruangan sepanjang satu meter dan tinggi 300 sentimeter yang langsung menuju ke kokpit yang sempit. Ajax perlahan masuk kedalam pesawat itu dan pintu di belakangnya tertutup rapat, didalam dia melihat sebuah pintu di sebelah kanan yang menuju ke kamar yang kecil. Dia lalu berjalan menuju ke bagian kokpit, duduk di kursi pesawat itu dan mulai mengecek sekitarnya.
Dia melihat tombol berwarna biru muda, dia mengangkat tangannya. Jarinya melayang diatas tombol dengan ragu “Coba saja dulu…” Pria itu lalu menekan nya.
*Click*
Mesin pesawat itu menyala, lampu orange menyinari bagian dalam dengan halus, Interior pesawat itu sepi. Tidak ada apa-apa selain kursi kokpit dan kamar kecil tadi. dinding dan lantai dibuat oleh besi berwarna abu tua yang tidak mengeluarkan suara saat diketuk oleh pria itu. Tiba-tiba muncul suara wanita mengejutkan pria itu “S-e-L-a-M-a-T…” Suara bergonta-ganti bahasa sampai menemukan bahasa yang cocok, suara itu kembali dengan nada antusias “Selamat datang penumpang. Kemana tujuan kita hari ini!!” Pria itu memundurkan badanya ke kursi itu, wajahnya sedikit takut “S-siapa. K-kau?” Suara itu langsung membalasnya dengan instan “Tentu saja saya adalah AI pembantu mu tuan!!” Nadanya terdengar seperti wanita yang bahagia, itu tidak terdengar seperti robot sama sekali.
Ajax lalu bertanya dengan nada curiga “Kenapa kau membantuku?” Ia melontarkan pertanyaan ini karena curiga dengannya. Dia baru pertama kali mendengar apa itu AI dan pria itu langsung berasumsi kalau AI yang sedang berbicara dengan nya adalah alat perang. AI itu langsung membalasnya “Oh tentu saja karena kau adalah penumpang. Pesawat ini adalah pesawat sewaan” AI itu lalu mengubah nadanya melihat pria itu yang masih curiga “Tenang lah pak tentara!. Karena TOS kami tidak membolehkan mengedit AI sama sekali!!” Diakhir dia kembali bersinar layaknya matahari.
Pria itu menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung dan sedikit jengkel “Huh baiklah… Saya mempercayaimu” Nadanya pelan dan kelam bertolak belakang dengan robot itu. AI lalu bertanya “Baiklah sebutkan Bubble yang akan dituju dan saya akan mengantarmu kesana” Pria itu terlihat kebingungan “Bubble…?” AI langsung membalasnya “Iya Bubble!. Coba kau lihat ke luar jendela dan melihat bola-bola yang melayang itu” Ajax menggelengkan kepalanya “Tidak. Kepala ku sakit melihat itu” AI itu tertawa sedikit “Kau lucu sekali tentu saja manusia tidak akan bisa melihatnya secara langsung!. Tetapi disini dilindungi kaca spesial, kaca ini memfilter luar agar persepsi mu tidak hancur dan bisa melihat bola itu tanpa konsekuensi~~” AJax dengan perlahan menaikan kepalanya sambil menutup mata, dengan perlahan pria itu membuka matanya dan menatap keluar jendela dan melihat kalau ukuran dari Bola-bola itu sedikit mengecil “Wow” AI itu berbicara seakan sambil menyeringai “Keren bukan!?. Yang kau lihat adalah Bubble. Dan itu adalah alam semesta lainya. Keren bukan manusia sepertimu pasti terkagum-kagum. Hmm” Ajax meletakkan tangannya di dahi lalu mengusapnya ke bawah.
Dia lalu mengingat kalau kata Bubble muncul didalam buku itu “Sampai lupa…” Gumam pria itu karena merasa bodoh. Dia lalu membersihkan tenggorokannya “Antar aku ke Teohudolon” Nadanya menjadi serius. AI itu bersuara “OK!!” Pesawat itu perlahan melayang, dan menghadap ke depan pintu hangar. AI itu kembali berbicara dengan nada yang lebih serius "Perjalanan ke universe Teohudolon akan dilakukan, para penumpang dimohon memakai sabuk pengaman saat lepas landas" Ajax segera memakai sabuk pengaman, suara itu lalu berbicara lagi "Perhatian sesudah kita terbang para penumpang bisa berjalan-jalan di pesawat" Suara itu lalu mengakhiri perkataan nya dengan nada yang gembira "Selamat jalan~" Pesawat itu melesat keluar melewati dinding medan gaya dengan cepat.
Pesawat itu melesat di dalam kehampaan melewati banyak Bubble dengan kilat. Ajax menatap keluar dengan ekspresi kagum sekaligus takut. Dia tidak pernah merasakan perjalanan yang begitu cepat di sepanjang hidupnya. Dia melihat di luar kalau pesawat itu seakan bergerak didalam tabung yang diselimuti oleh cahaya. Dia seakan melirik ke samping karena mual lalu AI itu kembali berbicara dengan nada santai “Kita akan sampai dalam waktu 1 menit lagi” Ajax terkejut mendengarnya “APA!! Kenapa cepat sekali?!” AI langsung membalas dengan antusias “Tentu saja karena kita bergerak melampaui kecepatan cahaya itu sendiri Duhhh~” Mata pria itu melebar “KAU BILA-” Tetapi perkataanya di potong oleh AI itu “Dan~~ Kita telah sampai!~~” Pandangan pria itu langsung ke luar jendela.
Dia menatap sebuah struktur yang begitu besar, ia tidak bisa mendefinisikannya secara pasti. Otaknya me register struktur itu sebagai bola yang mengeluarkan cahaya, struktur itu saking besar dan kompleks otak menipu diri sendiri dan melihatnya sebagai bola bercahaya. Dia merasa sangat kecil bersebelahan dengan Bubble, dia lalu berteriak ke AI bertanya mengapa mereka tidak bergerak “Hei!! Ayolah mengapa kita diam saja!! Kepala ku seakan ingin meledak kalau melihat itu terlalu lama” Dia menutup matanya dan menunduk kebawah.
AI lalu menjawab dengan nada bingung “Uhmm. Kau tidak memberitahuku info yang cukup?” Ajax kebingungan mendengarnya “Hah?!” AI itu berbicara dengan jengkel “Ihhh~~ Gimana sih. Koordinat Timeline nya mana? haloo??” Ajax mengambil buku catatan dari balik rompinya. Sambil menunduk dia membuka-buka halaman yang ia lihat. Setelah halaman yang ia cari ketemu. Pria itu mengangkat buku itu ke atas kepalanya “Nih” AI itu mendengus kesal, dan membaca halaman yang ada gambar Bubble itu “Ihh kamu itu tentara bukan sih” Ucapnya dengan nada bercanda “Itu ada tulisan Timeline di paling bawah halaman duhhh~~~” Pesawat itu lalu sedikit bergetar. Pria itu langsung menaikan kepalanya dengan cepat dan bersiap-siap.
Pesawat itu melesat menuju ke struktur itu dengan kilat, cahaya berwarna biru muda langsung menyinari wajahnya dengan silau. Dia menutup matanya dengan sekejap. Lalu suara AI itu muncul lagi “Kita sudah sampai~~” Pria itu membuka matanya dengan perlahan. Di luar jendela adalah lapangan rumput yang sangat luas. Pria itu spontan berdiri sampai lupa kalau dia masih memakai sabuk pengaman “Ah!” Setelah melepaskan sabuknya pintu yang berada di belakangnya terbuka.
Tentara itu langsung berlari keluar pesawat, sesaat ia keluar pintu pesawat tertutup dengan rapat. Ajax langsung berguling-guling diatas rumput dengan bahagia, tawa keluar dari mulutnya seperti anak-anak. Darah yang berada di seragamnya tertempel di atas rumput dengan halus. Ajax lalu berhenti, dia mencabut banyak rumput dan menghirupnya. Dia lalu berdiri dan menghirup udara segar. Cuaca saat itu cerah, burung berkicau dengan merdu membuat nyanyian alam alami, angin menghembus ke setiap sisi pria itu dengan halus. Badannya seakan ingin melayang, senyuman lebar terlukis di wajahnya, kedua tangannya melebar layaknya sayap.
Kedua rantai yang mengikat di tangannya seakan melentur. Pria itu sadar, dia langsung mengencangkan ikatan kedua rantai itu dan langsung memperhatikan sekitar. Dia berada di lapangan rumput yang luas dan datar, jauh di depannya ada kumpulan gunung yang menjulang menembus awan. Lapangan itu dikelilingi oleh hutan oak, yang tidak terlalu lebat. Cahaya matahari tembus di celah-celah pepohonan dengan indah. Ajax menghirup udara segar sekali lagi.
Pria itu memperhatikan area sekitar pepohonan dan melihat jalan setapak tanah “Baiklah ayo mulai” Dia lalu berjalan ke setapak tanah itu sambil meregangkan tubuhnya. Dia memasuki hutan itu, suasana semakin sejuk dan senyumannya dengan perlahan melebar. Dia melihat ke kirinya, sebuah gerombolan rusa berjalan menelusuri hutan itu dengan mudah. Kicauan burung semakin jelas menemaninya sepanjang jalan.
Dia mengikuti jalan itu dengan perlahan menikmati setiap langkah yang ia ambil. Tanpa disadarinya dia bersenandung mencoba mengikuti ritme kicauan burung. Pria itu seakan melupakan misinya, dia bahkan tidak tahu dunia seperti apa yang telah ia masuki.
Ajax berjalan di setapak tanah selama beberapa menit, sampai dia melihat sebuah kerajaan layaknya pada abad pertengahan. Pria itu berhenti sesaat melihat dinding dari kerajaan itu, raut wajahnya berubah menjadi serius. Dia dengan perlahan mulai mendekati pintu masuk. Pintu itu berada di dinding yang menjulang melampaui pepohonan, tetapi pintu itu bentuknya kecil Ajax berasumsi kalau pintu itu semacam pintu belakang. Pintu itu juga dijaga oleh dua penjaga yang mengenakan armor zirah.
Kedua penjaga itu sedang berbincang satu sama lain, suasana dengan santai “Hari ini damai sekali yah?” Ucap salah satu penjaga. Penjaga di sebelahnya menyahut “Iya kau benar. Tidak akan ada yang dapat menga-” Kedua penjaga itu mendengar suara dari kedalaman hutan. Keduanya langsung mengambil kuda-kuda menodongkan tombak mereka ke arah suara “SIAPA DISANA? KELUAR KALAU MAU SELAMAT?!” Tak lama kemudian mereka melihat seorang pria dengan pakaian aneh, tubuhnya diselimuti oleh banyak cairan yang sudah kering. Pria itu juga memiliki bau yang menyengat, kedua penjaga menaikan tombak mereka mencondongkan ke wajah pria itu yang tidak terlihat takut sama sekali.
Kedua penjaga itu sedikit merinding melihat ekspresinya yang seakan tidak peduli dan wajahnya yang menyeramkan. Lalu pria itu mengeluarkan buku dari balik pelindung aneh yang menutupi badanya, pria itu lalu membuka buku itu dan memperlihatkan sebuah foto ke arah kedua penjaga yang kebingungan. Keduanya melihat ke satu sama lain dengan heran. Lalu salah satu penjaga berbicara dengan nada bergetar “I-ikuti kami” Kedua pria itu membimbingnya ke dalam.
Dibalik pintu itu adalah pasar yang sedang ramai, ada banyak orang dengan berbagai macam ras yang berinteraksi dengan harmonis. Pria itu juga melihat banyak ras layaknya dari buku fantasi. Ada ras Elf yang sedang berpatroli, mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari dedaunan dan membawa busur. Ada ras Org yang bertubuh tinggi membawa pentungan kayu dan pakaian layaknya manusia purba dan rantai yang diikat di leher. Ada ras Cyclop yang terlihat sebagai alkemis, tubuh mereka setinggi anak kecil mengenakan topi sihir yang menutupi wajah mereka. Dia juga melihat ras naga, mahluk setengah ular, setengah kuda, dan sebagainya hidup dengan tentram dan damai.
Pria itu memperhatikan sekitarnya dengan takjub, matanya sedikit berbinar melihat suasana yang hangat. Tetapi kedua penjaga itu memiliki ekspresi yang berbeda, keduanya bergetar ketakutan mereka merasa kalau ada hawa yang aneh dari pria itu.
Mereka bertiga berjalan di tengah keramaian pasar, setiap jenis makhluk memperhatikan pria itu sama dengan nya pria itu memperhatikan mereka. Mereka berbisik dengan satu sama lain “Ibu, ibu lihat pria itu. Pakainya aneh sekali” Suara anak itu langsung menghilang di kerumunan, para penduduk kota itu juga bertanya-tanya “Siapa orang itu?” Ajax tidak terlalu peduli dengan ocehan mereka, tetapi juga dia kebingungan karena bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.
Ketiga pria itu berjalan cukup lama. Ukuran dari kerajaan itu sangat lah fantastis. Setiap sisi jalan ada kerumunan orang. Jalan yang luas di lalu lalang oleh kereta kuda yang sibuk, jalan trotoar yang terbuat dari bata dilalui dengan ramai “Hidup sekali…” Ucapnya dari bawah nafas, salah satu penjaga yang mendengarnya langsung membalas dengan bangga “Tentu saja hidup, kerajaan kami adalah kerajaan yang makmur dan tentram. Bahkan tidak ada kejahatan politik sama sekali, kau terkesan bukan…” Punggung penjaga itu ditepuk oleh temanya “Shttt kau jangan asal berbicara dengannya. Kalau dia…” Mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah pria itu yang menatap balik dengan ekspresi kaku “M-m-maaf” Ajax melambaikan tangannya seakan memberi isyarat kalau itu bukan masalah.
Setelah itu ketiganya sama sekali tidak berbicara.
Mereka sampai di depan dinding suatu gerbang, gerbang itu diangkat sesaat ketiganya sampai. Didalam adalah bangunan yang megah, bangunan itu di jaga oleh banyak ksatria berzirah yang berpatroli. Mereka bertiga terus berjalan sampai di depan gerbang kayu dengan motif pohon yang indah. Gerbang itu dijaga oleh dua ksatria dengan baju zirah yang lebih megah.
Salah satu ksatria itu menghampiri mereka. Dengan lantang ia berkata “Ada urusan apa dengan sang keagungan” Penjaga yang mengantar Ajax berbicara “Uhh…. Lihat orang ini” Ksatria itu mengecek Ajax dari atas sampai bawah “Ada yang dari luar antariksa lagi?!” Ucapnya dengan nada sedikit gemetar. Ksatria itu lalu berjalan ke gerbang dan mengetuknya sebanyak tiga kali.
Sesaat kemudian pintu itu terbuka ke atas. “Masuklah” Ucap ksatria. Dia langsung berdiri di sebelah gerbang layaknya sebuah patung. Ajax langsung masuk kedalam istana itu. Gerbang di belakangnya tertutup, di sebelah gerbang itu dia melihat org besar yang di belenggu. Org itu memegang rantai yang menaikkan dan menurunkan gerbang, pria itu langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
Ruangan itu tidak memiliki cahaya, cahaya yang masuk berasal dari jendela yang menempel di kedua sisi dinding ruangan. Kaca dari jendela itu adalah kaca patri yang bergambarkan raja sebelum belum nya. Pria itu berdiri di karpet berwarna merah yang panjang menuju ke singgasana didepan.
Di depan Ajax adalah seorang raja manusia yang duduk di singgasananya, raja itu menatapnya dengan arogan. Raja itu sudah berumur, tubuhnya terlihat tidak terlatih sama sekali. Raja itu menaikkan kepalanya dan berkata “Wahai makhluk asing kau datang dari mana?” Nadanya terdengar arogan, gerakkan tubuhnya sangatlah sombong dan menjengkelkan.
Di Dalam benaknya langsung muncul ingatan-ingatan yang tidak mengenakkan. Dia mengingat betul banyak “Pemimpin” Yang berlagak arogan ke dirinya dan orang di sekitarnya. Raja itu menyahut dengan lebih keras “Hei!! Apa yang kau lakukan? Apakah kau tidak diajarkan etika oleh orang tuamu!. Brengkes ayo bersujud!” Kelakuannya seperti anak kecil. Mood pria itu hilang dengan sekejap, tadinya dia melihat kerajaan itu sebagai kerajaan makmur. Dia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap raja mereka.
Tetapi karena sifat raja itu. Dia jadi berpikir dua kali kalau penduduk tadi tidak semakmur yang dia bayangkan, mereka pasti menyembunyikan sesuatu. Sementara itu sang raja masih mengoceh tidak jelas, Ajax sudah muak dia tidak peduli lagi. Tentara itu mulai mendekati sang raja yang terus mengoceh, dia bahkan tidak sadar kalau tentara itu sudah berada tepat di hadapnya.
Raja itu berhenti berbicara, dia menatap ke atas matanya bertemu dengan tatapan tajam dari tentara itu. Lalu Ajax mengeluarkan buku dari balik rompinya, dan memperlihatkan foto panglima itu tepat di depan wajah sang raja. Terkejut raja itu langsung berteriak "H-hei apa yang akan kau lakukan... penjaga, penjaga!!, di mana kalian!!!" Teriaknya juga seperti anak kecil, pikir tentara itu.
Kedua ksatria tadi langsung mendengarnya dan menyuruh Org itu untuk membuka gerbang tersebut. Tapi Org itu diam saja, dia sama sekali tidak mendengarkan mereka. Perhatiannya tertuju pada pria itu, matanya berbinar dengan kagum. Dia tidak pernah melihat seseorang yang berani menentang raja itu.
Tentara itu mencekik lehernya dengan kuat “Kau tau, dia dimana?” Ucapnya sembari menempelkan buku itu di wajah raja yang ketakutan. Raja itu berusaha untuk berbicara, lehernya dijepit oleh pria itu dengan kencang “D-dia a-da di… Ko-ta. Parable…” Tentara itu menguatkan cekikannya “K-kota, d-di sebelah bukit sana” Raja itu menunjuk ke arah kanannya.
Tentara itu mengikuti jarinya, melihat bukit dari kejauhan. Di sekitar bukit dia melihat banyak asap yang tentara itu mengira datang dari perapian. Tentara itu melepaskan cengkeramannya, raja itu terjatuh ke singgasananya. Kedua tangan nya memegang leher dia langsung batuk darah. Tentara itu menatapnya dengan tatapan jijik “Aku membenci kaum seperti kalian…” Nada pria itu dalam, suaranya membuat raja dan Org itu bergetar. Raja itu dengan perlahan menaikan kepalanya dengan tangan yang memegang leher.
Dia melihat wajah dari tentara itu. Wajahnya seakan dilapisi oleh bayangan, tetapi kedua matanya seakan bersinar dari balik bayangan itu. Tatapannya seperti seekor singa yang kelaparan, sesaat dia melihat tatapannya dia langsung pipis di celana. Raja itu bergerak sedikit, dengan cepat tentara itu langsung menendang kepalanya dengan kuat. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, kepalanya menyatu dengan kursi.
Kaki kanan tentara itu dilumuri oleh darah, dia lalu membalikkan badannya dan berjalan ke gerbang itu. Org itu langsung membuka pintunya, di wajahnya terpampang ekspresi puas, dan terkesan. Sesaat gerbang itu terbuka, ratusan penjaga menyambut pria itu dengan senjata yang ditodongkan ke arahnya.
Tentara itu menatap mereka dengan ekspresi kebingungan. Kedua rantai yang mengikat di lengan nya mengerat. Kedua sisi itu diam tidak bergerak, kedua sisi menunggu siapa yang akan bergerak duluan. Tentara itu kenal dengan suasana ini, dia adalah tentara selalu ada momen menegangkan yang terjadi dari musuh maupun kawan. Di posisi ini pria itu di kepung dengan pasukan ksatria, dari atas dinding pemanah siap untuk menembakkan busur setiap saat.
Tentara itu sudah mengalami pengalaman yang lebih buruk, dan melawan pasukan yang lebih canggih. Tetapi dia menganggap momen ini adalah hidup dan mati. Dia tidak menganggap remeh mereka, pria itu akan mengeluarkan seluruh kekuatannya dengan serius. Pandangannya tajam ia memperhatikan sekitarnya, mencari celah pada formasi mereka. Dari sisi penjaga istana mereka ketakutan, pria di hadapan mereka tidak mengeluarkan energi apapun tetapi aura yang dikeluarkan seakan dapat membunuh kalau berjalan terlalu dekat.
Tentara itu mengepalkan kedua tangan nya, para pasukan menodongkan senjata mereka lebih tinggi lagi. Suasana akan meledak. Pria itu akan melesat ke arah mereka, lalu dari dalam istana itu muncul suara “PERHATIAN SEMUA KAUM ORG KU!!, RAJA SUDAH MATI. KITA SUDAH BEBAS!!!” Suasana menjadi hening, semua orang melihat ke dalam kastil. Tentara itu menoleh ke belakang dengan kebingungan, dia kembali menoleh ke depan dan langsung ancang-ancang. Pria itu menatap kearah pasukan dan berhenti, dia melihat mereka yang ketakutan setengah mati.
Lalu muncul banyak suara teriakan yang datang dari dalam kota, pasukan yang takut tadi langsung berlari ke arah kota dengan panik. Tentara itu melihat banyak asap hitam pekat yang menjulang ke langit, lalu dari arah belakangnya dia mendengar hentakan yang sedang mendekatinya. Pria itu langsung menoleh kebelakang, pandanganya tertuju pada dinding berwarna merah gelap. Pria itu perlahan menaikkan kepalanya “Oh…” Matanya langsung bertatapan dengan wajah Org yang dibelenggu tadi. Tatapan Org itu terlihat sangat bersahabat seakan melihat teman lama, dia lalu berbicara dengan nada yang dalam “Kawan… Terimakasih atas semu-” Tentara itu mundur beberapa langkah, dia melihat Org itu dengan tatapan waspada dan dia mulai berjalan keluar dari halaman istana itu.
Pria itu melihat kekacauan, banyak mayat yang tergeletak di jalanan. Rumah-rumah terbakar sampai hangus, dari kedalaman kekacauan itu banyak suara tawa yang dalam disusul dengan suara tangisan seseorang. Kota yang damai seakan berubah menjadi kacau dengan seketika. Insting pria itu ingin melakukan sesuatu, tetapi dia memilih untuk menutup mata dan berjalan keluar dari kota itu.
Dia keluar dari gerbang sebelah kanan. Gerbang itu terbuka lebar, tidak ada yang menjaganya. Tentara itu keluar dari kerajaan itu, dia menoleh kebelakang pundaknya. Melihat kota itu terbakar dengan kacau. Dia hanya diam dan mulai berjalan ke arah bukit menuju desa Parable.
Di sepanjang perjalan dia tidak berbicara, tidak bersenandung, tidak tersenyum. Tidak ada burung yang berkicau dan tidak ada angin yang berhembus, semua menjadi hening dan diam. Wajahnya murung, tatapannya suram. Jalannya pelan, tetapi dia tetap bergerak dan tidak berhenti. Seperti mesin yang sudah usang pria itu tetap berjalan tanpa henti.
Setelah satu jam berjalan pria itu sampai di desa itu, dia berhenti di depan gapura yang terbuat dari kayu. Gapura itu bertuliskan “Desa Parable” Dia menatap gapura itu dengan tatapan kosong. Pria itu berjalan ke dalam desa. Ajax lalu memasuki desa itu dia melihat kota itu dipenuhi oleh makhluk reptil dan makhluk biru, mereka sangat bahagia. Desa itu juga terlihat maju, bangunan besi yang mengkilap dan beberapa bangunan layaknya gedung pencakar langit, Ajax menelusuri kota itu mencari di mana gedung panglima itu berada. Dan setelah beberapa saat mencari dia menemukan gedung yang bertuliskan “Tempat Peristirahatan panglima Nebitno” tanpa pikir panjang Tentara itu masuk kedalam.
Pintu terbuka membuat suara bell, di depan ada resepsionis wanita yang berdiri di balik meja. Ruangan itu bertema zaman victorian, dinding berwarna hijau dengan aksen emas, perabotan yang kecil dan terlihat mewah. Lampu gantung yang sedikit menyala, cahaya alami menyinari dari jendela di sebelah pintu masuk dengan halus. Resepsionis itu memakai seragam putih, warna kulitnya berwarna biru muda. Rambutnya panjang orange melambai dengan lembut. Resepsionis itu langsung melihatnya dengan jelas dia lalu menyambutnya dengan lembut “Permisi pak, ada yang bisa dibantu? Ada keperluan apa dengan panglima?” Tentara itu tidak mendengarkan apa yang dia katakan perhatiannya tertuju pada foto dibalik wanita itu yang digantung di atas dinding dengan tatapan sengit membuat resepsionis itu sedikit kebingungan, foto itu adalah foto sang panglima.
Ajax lalu mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu. Pria itu tersenyum dengan lembut dan berbicara “Ehhh, saya tahu ini akan terdengar konyol tetapi bisakah anda berbalik badan” Nada pria itu pelan dan bersahabat membuat wanita itu menurunkan kewaspadaannya. Ia berpaling badan ekspresi tentara itu berubah menjadi serius dan dengan cepat, tentara itu mematahkan lehernya,
*Crak*
Wanita itu mati dengan seketika, tentara itu meletakkan tubuh wanitanya dengan perlahan dia tidak mau panglima itu mendengar kegaduhan. Dia lalu berjalan ke arah pintu kiri, pintu itu adalah pintu kayu yang di cat hijau, ada plat nama besi di pintu itu. Ajax menendangnya dengan keras
*Brak*
Pintu terbanting dengan kencang, panglima yang sedang santai terkejut melihat seorang manusia yang berada di depannya. Ajax yang melihat panglima itu langsung melilit kan rantai kirinya ke leher panglima itu. Dan membanting nya dengan keras ke lantai kayu, sesaat dia menjambak ke lantai tentara itu langsung melonjak keatas tubuhnya dan mencekik leher panglima itu. Dia berkata dengan nada serius "Jelaskan, semua" Jendral itu tidak bisa berkutik, dia masih mengambil nafas tetapi Ajax menguatkan lilitan rantainya, panglima itu berusaha untuk melepaskan rantai itu tetapi rantai itu sudah tertekan kedalam lehernya.
Panglima itu lalu berkata dengan suara serak "B-baiklah nama dari koloni kami adalah Parable Colony. Kami menjajah dan mengambil sumber daya alam Bubble lain. Koloni kami awal nya yang paling lemah. Tetapi ada seseorang yang sangat kuat dan memberikan kami senjata dan sumber daya alam. Stasiun utama kami bernama Fortuna Station" Dia memberikan informasi itu dengan cepat, cekikan leher nya di perkuat oleh tentara itu "Nama pemimpin utama kami adalah Dhoh'uds dia pemimpin yang sangatlah kuat. Untuk seberapa banyak pemimpin kami sebenarnya aku kurang tahu jumlah pastinya. Sementara itu nama dunia kami adalah CoRoT O, Sekarang apa kau puas brengsek" Ajax lalu mematahkan lehernya.
Pria itu perlahan berdiri dan berjalan mendekati meja kayu yang diselimuti oleh kertas. Dia lalu melihat sebuah laporan dari tumpukan kertas itu “Queebrn telah menaklukan sepuluh Bubble dan telah dilantik menjadi jendral di universe 2055 QZ” Dia mengambil laporan itu lalu melipatnya menjadi kecil, dia mengambil buku catatannya dan menyelipkan kertas itu ke dalam buku. Dia lalu menaruh buku itu ke balik rompinya. Tentara itu lalu beranjak untuk pergi tetapi dari ujung matanya ada laporan lagi “Penyerapan energi Teohudolon akan segera dilaksanakan, makhluk-makhluk hidup yang tinggal di sana akan di musnahkan bulan depan” Melihat itu dia menjadi kesal, dia mengulur rantai kanan sampai menyentuh lantai.
Ajax lalu keluar dari tempat itu. Dia melihat kalau orang-orang di sekitar nya sangat lah bahagia. Anak-anak ada yang bermain layangan dengan serasi tanpa memperdulikan ras, bapak-bapak gotong royong sedang membuat bangunan baru dengan serasi. Dan ibu-ibu menyiapkan bahan makanan untuk para pekerja.
Dia melihat kebahagian mereka menjadi kesal. Dibenaknya mereka bahagia di dunia yang akan dimusnahkan adalah tindakan yang sama seperti setan. Tetapi tentara itu tidak terlalu peduli dengan dunia ini, dia bahkan tidak peduli konsekuensi yang disebabkannya. Yang ia pikirkan adalah sifat mereka saat ini harusnya mirip saat mereka menghancurkan dunianya. Tentara itu berjalan kedepan, badanya disinari oleh matahari yang terik. Penduduk desa menatap pria itu dengan kebingungan. Lalu dengan cepat dia melesat ke arah sekumpulan pekerja dengan kilat.
Dengan mudah dia membelah 5 orang sekaligus, dengan sekejap desa itu dipenuhi oleh teriakan dan tangisan, para penduduk desa kebingungan. Mengapa ada manusia yang membunuh mereka semua? Salah kita apa? Pertanyaan itu dilontarkan ke arah pria itu, dia tidak menjawab, dia tidak peduli. Dan terus membunuh mereka semua sampai habis.
Setelah 10 menit, desa menjadi hening dan hancur. Tidak ada api yang berkobar tetapi desa itu kosong dan dilumuri oleh darah dan dipenuhi oleh tumpukan mayat. Pria itu berada di dalam bar meminum alkohol ringan, di bar itu dilapisi oleh dari dan banyak mayak yang terpenggal duduk di kursi. Dia meminum alkohol itu dan menelan apa yang telah terjadi. Pria membersihkan tenggorokannya dan akan pergi. Lalu dia langsung menoleh ke samping kanan dengan cepat.
Matanya melebar, tangannya mengepal dengan kencang, giginya menggertak keras. seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Dia melihat seorang kakek yang duduk disebelahnya, pria itu ketakutan setengah mati dia yakin betul kalau kakek itu tadinya tidak ada disebelahnya.
Kakek itu memakai jubah berwarna hitam pekat layaknya seorang biksu, janggut dan rambutnya panjang dan acak-acakan dan kotor. Dia tidak mengenakan alas kaki, kulitnya keriput dan memiliki corak berwarna hitam pekat. Kakek itu berbicara dengan nada serak “Kau pasti anak muda itu yah... Semua orang sedang membicarakan mu tau…” Ajax terkejut setengah mati, dia meragukan pandanganya sendiri kalau kakek yang berada di depannya itu nyata atau hanya tiruan.
Kakek itu seakan tau kalau Ajax terkejut dia tersenyum lebar dan berkata “Bagus. Bagus lah, tidak salah aku-” Sebelum kakek itu selesai berbicara Ajax langsung berlari keluar dari bar itu. Instingnya menyuruhnya untuk menjauhi kakek itu sejauh mungkin. Dia lalu berlari dari desa itu menuju ke pesawatnya. Larinya begitu cepat dia melewati kerajaan yang sudah hangus menjadi abu, tetapi dia tidak memperhatikan dan terus berlari.
Dalam waktu 1 jam saja dia sampai ke pesawat itu, pintu belakang langsung terbuka. Dia melompat kedalam dan berteriak “Pergi dari dunia ini sekarang!!” AI itu tidak berbicara dan langsung pergi dari Bubble itu.
BERSAMBUNG
1. apa alien yg berhasil menginvasi bumi gk pnya senjata sendiri
2.kenapa masih menggunakan desert eagle buatan israel untuk membunuh makhluk experimen yg bisa hidup 50.ribu tahun. wkwkkwk