Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
BAB 2: Anatomi Sebuah Topeng
[Sudut Pandang: SURA]
Aula kuliah "Retorika Dasar" berbentuk seperti arena bedah mayat.
Barisan kursi kayu tersusun melingkar dan bertingkat curam, mengelilingi sebuah podium kecil di tengah-tengah lubang. Tidak ada jendela. Satu-satunya cahaya berasal dari chandelier lilin raksasa yang menggantung rendah, menciptakan bayangan panjang di wajah setiap murid.
Sura duduk di barisan paling belakang, di sudut tergelap. Ia berusaha menjadi bayangan. Namun, sulit untuk tidak terlihat ketika kau adalah satu-satunya orang yang memakai sepatu bot kulit usang di antara lautan sepatu beludru dan sutra.
"Kau lihat anak baru itu?" bisik seorang gadis berambut pirang ikal di dua baris depannya. "Katanya dia dari Valerine. Kudengar ayahnya punya kebun anggur seluas ibukota."
"Valerine?" teman di sebelahnya mendengus. "Aku belum pernah mendengar nama itu. Pasti bangsawan udik dari pinggiran."
Sura menahan senyum miring. Rumor bekerja lebih cepat daripada wabah penyakit. Kebohongannya di gerbang tadi pagi sudah bermutasi menjadi "fakta" di telinga para siswa.
Tiba-tiba, pintu utama di dasar ruangan terbanting terbuka.
Seorang pria tua bertubuh kurus kering masuk. Jubahnya kelabu, menyeret lantai. Ia tidak membawa buku. Ia hanya membawa sebuah tongkat kayu yang ujungnya hangus.
Itu Master Vargus. Guru paling ditakuti di tahun pertama. Rumornya, dia pernah membuat seorang pangeran menangis hanya dengan tiga kalimat kritik.
Vargus berjalan tertatih ke tengah podium. Ia tidak menyapa. Ia hanya mendongak, matanya yang cekung menyapu seluruh ruangan.
"Politik," suara Vargus parau namun bergema keras, "adalah seni menyembunyikan bangkai di bawah karpet sutra."
Hening. Tidak ada yang berani bernapas.
"Kalian semua di sini adalah anak-anak manja," lanjut Vargus, menunjuk acak ke arah murid-murid. "Kalian pikir karena ayah kalian Duke atau Menteri, kalian punya bakat? Omong kosong. Di ruangan ini, nama keluarga kalian tidak ada harganya. Di sini, mata uangnya adalah persepsi."
Vargus memukulkan tongkatnya ke lantai. TUK!
"Tugas pertama," katanya. "Aku butuh dua sukarelawan. Satu pembohong, dan satu penilai."
Tangan-tangan terangkat antusias. Anak-anak bangsawan itu haus perhatian. Namun, mata Vargus tidak melihat mereka. Tatapannya terkunci pada dua titik yang berjauhan.
"Kau," Vargus menunjuk ke barisan paling depan, tepat ke arah pemuda berambut hitam yang duduk dengan postur sempurna. "Tuan Muda Arselio. Sang Jenius Emas."
Kian berdiri. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi. "Siap, Master."
"Dan lawanmu..." Vargus menyipitkan mata, menelusuri barisan kursi hingga berhenti di sudut paling gelap di belakang. "...Kau. Gadis dengan sepatu bot lumpur. Turun ke sini."
Jantung Sura mencelos. Dari seratus murid, kenapa harus dia?
Sura berdiri perlahan. Ia bisa merasakan tatapan Kian dari bawah sana—tatapan tajam yang seolah menelanjanginya. Sura menegakkan bahu, mengangkat dagunya tinggi-tinggi (seperti yang dilakukan Baroness sombong yang pernah ia lihat di pasar), lalu menuruni tangga menuju podium.
Bunyi langkah kakinya yang berat—duk, duk, duk—terdengar kontras dengan keheningan ruangan.
Sura sampai di podium, berdiri berhadapan dengan Kian. Dari jarak sedekat ini, Sura bisa mencium aroma Kian: wangi kertas tua, tinta mahal, dan sedikit mint. Dingin dan bersih.
"Tugasnya sederhana," kata Vargus, berdiri di antara mereka. "Tuan Arselio, kau adalah penilai. Tugasmu adalah melakukan bedah karakter terhadap Nona ini. Katakan pada kelas siapa dia sebenarnya, hanya dengan melihat penampilannya."
Vargus menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Dan kau, Nona Valerine... tugasmu adalah bertahan. Bantah dia. Pertahankan topengmu."
Kian menoleh ke arah Sura. Matanya yang berwarna abu-abu gelap bergerak cepat, memindai Sura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Itu bukan tatapan menggoda. Itu tatapan seorang pemburu yang sedang memeriksa kualitas kulit mangsanya.
"Namanya Sura," Kian memulai, suaranya tenang namun terdengar jelas ke seluruh penjuru aula. "Dia mengaku anak seorang Baron dari Selatan. Tapi tubuhnya menceritakan kisah lain."
Kian melangkah satu langkah mendekat.
"Pertama, tangannya," Kian menunjuk tangan kanan Sura yang terkepal di sisi tubuh. "Ada kapalan tebal di ibu jari dan telunjuk. Bukan kapalan akibat memegang pena bulu angsa atau cangkir teh, tapi kapalan akibat memegang benda kasar berulang-ulang. Mungkin cangkul, atau pisau dapur."
Gumam-gumam terdengar dari bangku penonton. Sura tetap diam, wajahnya datar.
"Kedua, postur tubuhnya," lanjut Kian. "Dia berdiri dengan tumpuan berat di kaki kiri, posisi siaga untuk lari. Bahunya tegang. Ini bukan postur seorang bangsawan yang terbiasa aman, ini postur seseorang yang terbiasa hidup dalam bahaya."
Kian tersenyum tipis, menatap tepat ke mata Sura.
"Dan terakhir, sepatunya. Itu kulit sapi murahan yang sudah disemir ulang tiga kali untuk menutupi retakannya. Lumpur di solnya adalah jenis tanah liat merah—tanah liat yang hanya ditemukan di distrik kumuh di tepi sungai ibukota, bukan di perkebunan anggur di Selatan."
Kian menoleh ke arah Vargus.
"Kesimpulan saya: Dia bukan bangsawan. Dia kemungkinan besar pelayan yang mencuri pakaian majikannya, atau penipu jalanan yang mencoba peruntungan."
Keheningan di aula itu mematikan. Semua mata tertuju pada Sura. Tatapan mereka berubah dari rasa ingin tahu menjadi jijik.
Vargus mengangkat alis, menatap Sura. "Pembelaan, Nona Valerine? Atau kau mau mengakui dosa dan keluar dari pintu itu sekarang?"
Sura menarik napas panjang. Kian benar dalam semua hal. Analisisnya sempurna secara logika.
Tapi ini bukan kelas Logika. Ini kelas Retorika. Dan dalam retorika, kebenaran bisa dibengkokkan.
Sura tertawa.
Tawanya renyah dan keras, membuat beberapa murid tersentak kaget. Kian mengerutkan kening, senyum kemenangannya sedikit goyah.
"Analisis yang brilian, Tuan Arselio," kata Sura sambil bertepuk tangan pelan. "Benar-benar textbook. Persis seperti yang diajarkan di buku panduan detektif murahan."
Sura melangkah maju, menyerang balik ruang pribadi Kian.
"Kapalan di tangan saya?" Sura mengangkat tangannya, memamerkannya dengan bangga. "Ayah saya, Baron Valerine, percaya bahwa seorang pemimpin harus tahu cara memanen anggur sendiri. Saya memotong tangkai anggur sejak usia tujuh tahun. Kami menghargai kerja keras, bukan tangan halus yang hanya bisa menunjuk pelayan."
Sura menunjuk kakinya.
"Sepatu bot tua? Tentu saja. Saya berjalan kaki dari penginapan ke sini untuk melihat kondisi jalanan kota kalian yang menyedihkan. Dan tanah merah itu?" Sura tersenyum mengejek. "Itu tanah dari distrik kumuh yang baru saja saya lewati. Saya memberi sedekah pada pengemis di sana sebelum masuk gerbang. Sesuatu yang mungkin tidak pernah Anda lakukan seumur hidup Anda, Tuan Muda."
Sura berbalik menghadap penonton, merentangkan tangannya.
"Tuan Arselio menilai saya berdasarkan standar bangsawannya yang sempit: Bahwa bangsawan harus halus, bersih, dan tidak tersentuh kotoran. Tapi di Valerine? Bangsawan adalah mereka yang berani kotor demi rakyatnya."
Sura kembali menatap Kian, matanya berkilat menantang.
"Jadi, kesimpulan Anda salah, Tuan Arselio. Saya bukan pelayan. Saya adalah tipe bangsawan yang belum pernah Anda temui di menara gading Anda."
Sura berhenti bicara. Napasnya teratur.
Seluruh ruangan terdiam mencerna kata-kata itu. Lalu, perlahan, Master Vargus mulai bertepuk tangan. Plok. Plok. Plok.
"Luar biasa," gumam Vargus. "Dia mengubah kelemahannya (kemiskinan) menjadi kelebihan moral (kerendahan hati). Dia tidak membantah fakta fisik yang kau temukan, Kian. Dia membantah maknanya."
Vargus menatap Kian. "Kau kalah ronde ini, Arselio. Matamu tajam, tapi kau tidak punya imajinasi."
Rahang Kian mengeras. Untuk pertama kalinya, wajah tenangnya retak. Ada kilatan amarah di sana, tapi juga... rasa hormat.
Kian menundukkan kepalanya sedikit ke arah Sura—sebuah gerakan ksatria yang dipaksakan.
"Kata-kata yang indah, Nona Valerine," kata Kian dingin. "Mari kita lihat berapa lama cerita dongeng itu bisa bertahan."
"Selama yang kubutuhkan," balas Sura pelan, hanya untuk didengar oleh Kian.
Bel berbunyi nyaring, menandakan akhir kelas.
Sura berbalik dan berjalan menaiki tangga. Kakinya terasa lemas. Punggungnya basah oleh keringat dingin. Dia baru saja menang debat melawan jenius terbaik akademi dengan bermodalkan omong kosong.
Saat dia mencapai pintu keluar, dia tahu satu hal: Dia baru saja membuat musuh. Atau mungkin, sesuatu yang jauh lebih rumit daripada itu.