Seorang Gadis berusia 22 tahun bernama Alsava Khairunnisa harus rela menandatangani kontrak kerja selama setahun dengan seorang CEO kaya bernama Kevin Anggara 27 tahun demi melunasi hutang ayahnya. Tidak disangka Kevin dan Alsa mempunyai hubungan yang cukup kuat di masa lalu.
Bagaimana nasib Alsava selanjutnya, akankah Ia bisa menyelesaikan kontrak kerjanya selama setahun tanpa bayaran ditambah majikannya terkenal sangat kejam?
Simak terus kisahnya!
Happy Reading😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nasya Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Alsa terjaga dari tidurnya setelah tidur cukup lama.
"Aku lapar." Alsa memegangi perut yang terus bergemuruh karena melewatkan makan siang karena tertidur. Alsa yang kembali mengingat membeli jajanan pasar tadi segera mencari Kevin untuk menanyakan.
"Nona kau sudah bangun?" Dinda yang hendak masuk kamar itu bertepatan dengan Alsa yang ingin keluar.
"Hem," jawab Alsa dengan bergumam.
"Nona mau kemana, jika ingin makan biar saya yang ambilkan," tawar Dinda.
"Aku mau Jajan pasar yang aku beli tadi, dimana tuan Kevin?"
"Tuan di ruang ker- " Belum juga selesai menjawab, Alsa sudah lebih dulu melangkah pergi. Ya karena Ia sudah tidak sabar ingin melahap habis makanan yang benar-benar ingin di makannya.
Breekkk
Alsa masuk ke ruangan itu penuh semangat hingga mendorong pintu dengan kuat membuat dua orang di ruangan itu menatap tajam ke arahnya.
"Tuan dimana makanan yang aku beli tadi?" Alsa mengabaikan tatapan tajam kedua orang itu karena yang ada dalam pikirannya hanya ingin segera memakan makanan itu saja.
"Aku sudah berikan makanan itu pada pelayan, tidak baik untuk makan makanan seperti itu apalagi kau sedang hamil!" tegas Kevin.
"Apa?" Alsa tertegun mendengar jawaban enteng dari Kevin. Tanpa disadari air mata Alsa menitik lalu melangkah pergi dengan tertatih-tatih. Ya dalam sekejap Alsa yang tadi begitu bersemangat terlihat sangat kecewa.
"Apa yang terjadi padanya, kenapa gara-gara makanan Ia bisa sesedih itu bahkan menangis?" Kevin menatap penuh tanya Bastian.
"Nona sedang hamil Tuan dan biasanya wanita hamil menginginkan makanan tertentu itu dinamakan ngidam," jelas Bastian.
"Tapi sikapnya itu sungguh keterlaluan." Kevin bangkit dari duduknya beranjak pergi.
Di kamar Alsa, Dinda tengah membujuk nonanya itu untuk makan.
"Nona, ayo makan nanti Tuan memarahi saya jika Nona tidak mau makan," bujuk Dinda.
"Aku tidak mau makan dan tidak akan makan," pekik Alsa disela air matanya yang terus menitik.
Kevin yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengar jelas obrolan keduanya. Kevin mendorong pintu dengan keras hingga membentur dengan keras membuat fokus keduanya langsung tertuju ke arah pintu.
"Tuan maafkan saya." Dinda menunduk merasa bersalah karena jelas terlihat tuannya itu sangat marah karena tidak berhasil membuat nonanya makan.
Kevin menunjuk marah pintu memberi isyarat Dinda untuk keluar. Tanpa berlama-lama, Dinda segera pergi sebelum tuanya lebih marah lagi.
"Kenapa tidak makan, kau mau bayiku kelaparan!" bentak Kevin meluapkan amarahnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap kekanak-kanak Alsa.
Hiks ... hiks.
Alsa menangis cukup keras karena bentakan Kevin membuat Kevin hanya bisa menggeleng. Ya, dia selalu bisa luluh dengan Alsa yang menangis dan begitu terlihat sedih.
"Jangan menangis, aku tidak bermaksud membentakmu." Kevin duduk tepat disamping Alsa lalu menyeka air mata Alsa dengan lembut.
"Tapi kau membentakku!" kesal Alsa memukul dada pria di sampingnya itu.
"Makan makanan ini dulu baru kau boleh makanan yang kau inginkan," bujuk Kevin. Perlahan Ia menyendok makanan hingga masuk ke mulut wanitanya.
Baru beberapa suap Alsa sudah menggeleng membuat Kevin hanya bisa menggeleng. Disaat yang bersamaan pintu kamar itu di ketuk dari luar. Mira membawakan sepiring jajanan pasar yang sudah di beli Alsa tadi. Tanpa menunggu lama Alsa langsung melahap habis makanan itu tanpa sisa.
"Wah kau ini rakus sekali, hanya hitungan detik, piring ini sudah kosong." Kevin menunjuk piring yang sudah kosong. Menanggapi hal itu Alsa hanya tersenyum nyengir membuat Kevin gemas mengacak kasar rambut wanitanya itu.
"Tuan apa tidak ada yang ingin kau lakukan padaku?" Alsa mengelus perutnya sebagai bahasa isyarat maksud dari pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan dari Alsa, Kevin tahu kearah mana pembicaraan itu namun bukannya jawaban pria itu malah menghembuskan nafas kasar.
Bukannya tidak ingin bertanggung jawab menikahi wanita yang kini sedang mengandung benihnya itu namun bukan masalah mudah baginya menikah mengingat keluarganya pasti tidak akan menyetujui. Kevin tidak masalah jika keluarganya tidak setuju tapi hidup Alsa bisa dalam bahaya jika itu Ia lakukan tanpa perhitungan yang matang.
"Siapa aku, kenapa aku berharap pria ini akan menikahiku," gumam Alsa. Ia merasa terlihat konyol dengan pertanyaan yang seharusnya Ia sudah tahu jawabannya tanpa bertanya langsung.
Drt ... drt.
Ponsel Kevin bergetar membuatnya langsung fokus ke ponselnya. Nama Cherlyn yang tertera di layar ponselnya membuat enggan menjawab. Berkali-kali Kevin mengabaikan telepon dari ibu kandungannya itu hingga membuat Cherlyn mengirimkan pesan singkat tentang kedatangannya ke Indonesia bersama calon tunangan Kevin.
"Oh sial!" umpat Kevin setelah membaca pesan singkat itu.
Kevin harus segera membawa Alsa pergi dari rumahnya sebelum Mommynya sampai.