Indonesia
NovelToon NovelToon
Rainbow In July

Rainbow In July

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Teen School/College / Identitas Tersembunyi / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: alsha_

Ini bukan soal pelangi, ini tentang Calista Natalie, yang kehadirannya selalu dinanti oleh seorang laki-laki bernama Gavin Nathaniel.

Calista sempat menghilang setelah kasus pembunuhan yang beredar mengenai dirinya dan dia kembali menjadi orang lain yang tidak dikenal oleh siapapun, layaknya terlahir kembali.

Akankah takdir mengharuskan dirinya untuk pergi lagi layaknya pelangi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alsha_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Alasan terkuat untuk bertahan

"Lihatin terus Zeline dari tadi," ujar Ratu pada Gavin.

Lamunan Gavin terbuyarkan, ia langsung menoleh ke arah Ratu begitu pun dengan semuanya. Zeline terbatuk sengaja untuk mencairkan kembali suasana yang menjadi hening. Detik berikutnya, Zeline melotot tajam ke arah Gavin dan berakhir memutar bola matanya malas.

"Vin, gue ke toilet dulu ya," ujar Zaky yang diangguki oleh Gavin.

Tinggal beberapa langkah lagi Zaky tiba di toilet. Akan tetapi, langkahnya terhenti setelah melihat Vani yang tengah tertidur di meja makan. Hal itu membuat Zaky lupa dengan tujuannya ia berjalan mendekati Vani, lalu terduduk di sampingnya.

Senyuman mengembang di bibir Zaky sebab baru kali ini Zaky bisa menatap wajah Vani dengan dekat.

"Van, tidurnya di kamar. Di sini dingin," ucap Zaky sembari mengusap lembut rambut Vani.

Zaky telah membuat tidur Vani terusik hingga ia terbangun dari tidurnya. Nyawa Vani belum full terkumpul, tapi ia memaksakan untuk berdiri dengan mata yang masih tertutup.

Tanpa diduga Vani duduk di pangkuan Zaky dengan tangan yang melingkar pada leher Zaky. Sontak wajah Zaky seketika memerah, matanya membulat.

"Va-Vani–"

"Gendong Vani ke kamar, Kak. Vani malas jalannya," ucapnya dengan suara bangun tidur, Vani meletakkan wajahnya di pundak Zaky.

"Kak Gavin ganti parfum? Kok beda sih wanginya?" tanya Vani.

Zaky pikir Vani sudah terbangun dari tidurnya. Ternyata cewek itu baru setengah sadar. Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan Vani, Zaky memutuskan untuk menggendong Vani ke kamar. Ia sengaja melambatkan jalannya agar Vani kembali tertidur hingga tak sadar siapa orang yang kini menggendongnya.

'Gue baru tau nih anak manja sama Kakaknya. Kirain berantem mulu.'

Setelah berhasil menidurkan Vani, Zaky meringis kecil sembari memijat-mijat lengannya yang terasa kesemutan. Aura cantik Vani terlihat saat tertidur membuat Zaky enggan untuk keluar dari kamarnya. Ia memilih menatap wajah Vani sembari mengusap kepala Vani.

"Cantik banget jodoh gue," ucap Zaky sembari hendak mencium kening Vani, tetapi hal itu gagal setelah mendengar Gavin berteriak dari luar kamar.

"Vani! Ayo makan bareng di sana,", teriak Gavin.

Sontak Zaky celingukan mencari tempat untuk bersembunyi. Bisa-bisa malam ini ia dihabisi oleh Gavin jika ketauan dia sedang di kamar Vani. Tak ada pilihan lain selain bersembunyi dibalik pintu.

"Van, mau ma–"

"Loh, tumben jam segini udah merem. Biasanya masih melek pantengin oppa-oppa Korea di laptop," ucap Gavin.

Gavin berjalan masuk ke dalam kamar Vani ia menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya. Selagi Gavin terfokus pada Vani, dengan cepat Zaky mengendap keluar dari kamar Vani, lalu ia berkumpul kembali bersama teman-temannya.

"Huh! Selamat," ucap Zaky sembari mengusap dada.

...***...

Gavin melepas helm bersamaan dengan anggota The Feared lainnya. Sebelum turun dari motor, Gavin memutuskan untuk merapikan rambutnya yang cukup berantakan. Pandangannya menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sampingnya. Jika kalian mengira Zeline, itu salah. Orang yang berdiri di samping Gavin ialah Cathline.

"Vin, gue butuh teman buat curhat. Lo mau gak dengerin cerita gue? Kalo lo gak mau–it's oke," ujar Cathline.

Baru kali ini Gavin melihat raut wajah Cathline berbeda dari biasanya. Yang biasa hari-harinya penuh dengan keceriaan, walaupun ia selalu sendiri tanpa seorang teman. Akan tetapi, kali ini cewek yang berdiri di sampingnya terlihat penuh kesedihan yang dipendam sendirian.

"Boleh aja. Gue mau kok dengerin curhatan, kenapa? Beda banget raut wajah lo gak kayak biasanya," ujar Gavin.

"Kali ini gue tunjukkin diri gue yang sebenarnya. Kemarin-kemarin itu bukan diri gue, Vin," jawab Cathline.

Gavin mengernyit tak mengerti atas jawaban Cathline. "Hah, maksud lo gimana?" tanya Gavin.

"Jadi, gue tuh sebenarnya–" Entah mengapa Cathline tiba-tiba menghentikan ucapannya setelah pandangannya menatap ke arah samping.

"Mm, nanti aja gue ceritanya ya, bye Gavin!" ucap Cathline, lalu ia pergi dari parkiran.

"Loh, Cath! Kenapa gak jadi?" tanya Gavin setengah teriak, tetapi sia-sia karena Cathline sudah berjalan begitu jauh.

"Cathline kenapa, Vin?" tanya Andrian dan yang lainnya pun ikut menatap ke arah Gavin.

"Gak tau gue juga. Tiba-tiba pergi gitu aja, padahal belum selesai dia ngomong," jelas Gavin.

Tak mau membuat dirinya pusing Gavin mencoba menghiraukan Cathline, ia memilih menatap layar ponselnya. Matanya terbelalak saat melihat Zeline memposting sebuah  surat yang kemarin Gavin beri bersamaan dengan susu kotak.

Bibirnya melengkung membentuk senyuman, tetapi tak lama senyuman itu memudar saat seseorang menempelkan minuman dingin di pipinya.

"Dingin, Ra ..." ucap Gavin sembari memegang pipinya yang terasa dingin.

"Gavin! Kita ke kelas duluan ya," pamit semua anggota The Feared serentak.

"Yoi bro, nanti istirahat jangan lupa kumpul lagi di sini!" teriak Gavin kepada teman-temannya.

Setelah teman-teman Gavin tak terlihat lagi. Ratu menyerahkan sebuah minuman cokelat pada Gavin. Dengan senang hati Gavin menerima minuman tersebut karena kebetulan ia sedang merasa haus. Ratu tersenyum sembari terus memperhatikan Gavin yang tengah meneguk minumannya.

"Kenapa, Ra? Biasa aja kali lihatin gue nya. Dari dulu lo paling bisa bikin gue salah tingkah," ujar Gavin sembari mengacak rambut Ratu.

"Tapi gak bisa bikin gue bahagia," batin Gavin.

Di sisi lain Zeline dan Calandra tiba di parkiran. Seperti biasa Zeline tak sengaja bertemu dengan Calandra di gerbang sekolah. Maka dari itu, kini Zeline bersama Calandra.

Pandangan Zeline melirik ke arah Gavin yang sedang duduk di atas motor. Mungkin Zeline lupa soal keadaannya sekarang, tiba-tiba ia melangkahkan kakinya berniat menghampiri Gavin. Sampai-sampai Calandra berbicara pun ia hiraukan.

"Kenapa sih? Ada yang salah sama penampilan gue hari ini?" tanya Gavin sembari bercermin pada spion motor.

Ratu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Tangannya terulur meraih dedaunan kecil yang berada di rambut Gavin. "Gue cuma ngerasa bahagia setelah lo kembali perhatian sama gue lagi. Jujur, gue masih cinta sama lo, Vin," ujar Ratu, lalu ia memeluk tubuh Gavin dengan erat.

Langkah Zeline terhenti setelah melihat Gavin bersama Ratu. Pemandangan itu berhasil membuat hati Zeline sakit, padahal tinggal dua langkah lagi Zeline menuju Gavin.

Mungkin Zeline sudah terbiasa dekat dengan Gavin. Sampai kini ia belum terbiasa jauh darinya. Gavin tersadar akan kehadiran Zeline, sontak Zeline membalikkan tubuhnya dan menghampiri Calandra kembali.

"Antar gue ke kelas," pinta Zeline dengan manja sembari memeluk tubuh Calandra.

Tubuh Calandra membeku sejenak saat tubuhnya dipeluk oleh Zeline. Wangi rambut dan parfum Zeline menusuk ke dalam hidungnya. Seketika indera penciuman Calandra terasa nyaman.

Gavin tersentak melihat Zeline memeluk Calandra. Ingin rasanya ia menarik Zeline agar melepaskan pelukannya, tetapi itu tidak mungkin.

'Tahan Vin! Gue tau lo sakit lihat ini, gue tau lo gak terima lihat ini, tapi ini demi Zeline.', Seketika Gavin berbicara pada dirinya sendiri.

...***...

Kini semua telah berubah. Semua telah kembali menjadi seperti awal bertemu. Selama di kelas Zeline enggan berbicara pada Gavin, ia memilih membungkam mulut saat berpapasan dengan Gavin.

Terkadang saat dirinya tak sengaja satu kelompok dengan Gavin, Zeline meminta bertukar dengan temannya. Sekarang pun di saat jam pulang Zeline tak melepaskan gandengan tangannya pada Calandra.

Gavin hanya tersenyum tipis memperhatikan Zeline dengan Calandra. Setidaknya hatinya merasa tenang karena ada seseorang yang mampu menjaga Zeline dari incaran Leon, meskipun ia belum sepenuhnya yakin bahwa Calandra mampu melawan Leon.

Saat jam istirahat tadi. Dirinya mendapat telpon dari Leon, Leon berkata bahwa dirinya tak terima atas kekalahannya dan akan kembali mengincar Zeline.

"Mau pulang sekarang?" tanya Calandra yang langsung mendapati gelengan kepala dari Zeline sebagai jawaban.

"Loh, terus mau ngapain di sini?" tanya Calandra kembali.

"Lo pulang duluan aja, gue bisa pulang sendiri kok," jawab Zeline sembari melepaskan gandengan tangannya.

"Ya udah kalo gitu hati-hati pulangnya. Kalo ada apa-apa telpon gue, ya." Setelah berpamitan, Calandra melenggang pergi.

'Si setan! Baru gue ngerasa lega ada yang jagain Zeline malah ditinggal pulang.'

Zeline menghela napas dengan tatapan yang terus menatap ke samping. Sepertinya Zeline tidak mau menatap ke arah depan–di mana ada Gavin dan Ratu yang membuat hatinya sakit.

"Key, kayaknya gue gak bisa pulang bareng sama lo, gue ada urusan sebentar. Jadi, gue pulang duluan. Gak apa-apa, kan?" ujar Zeline.

Kirey mengangguk sembari tersenyum, lalu berkata, "Gak apa-apa kok, gue bisa pulang–"

"Kirey sama gue pulangnya," ucap Elvaro.

Sontak pandangan Kirey beralih menatap ke arah Elvaro yang ada di sampingnya. Begitu pun Zeline, Gavin dan Ratu sontak menatap ke arah mereka. Ada yang aneh di antara mereka berdua apalagi sikap Elvaro begitu jelas menunjukan kedekatannya dengan Kirey.

"Mm, ya udah gue titip Kirey ya, El. Awas lo jangan jahatin Kirey!" ketus Zeline sebelum berpamitan untuk pulang.

...***...

Ternyata Zeline tidak langsung pulang ke rumah setelah senja sudah menghiasi kota Bandung. Ia memutuskan pergi ke sebuah danau untuk menenangkan pikirannya sekaligus hatinya. Dari tadi hati Zeline tak henti-hentinya merasa sakit hati campur cemburu sebab melihat kedekatan Ratu dan Gavin.

Dirinya sudah berusaha keras untuk melupakan Gavin, tapi yang ada semakin dirinya melupakan, semakin merasa bahwa kehidupannya begitu hampa. Air mata Zeline lolos membasahi pipinya. Pada sore hari ini air danau dan langit yang akan menjadi saksi curahan hati Zeline tentang perasaannya pada Gavin.

Dirinya mendongak menatap langit. Melepaskan segala kesedihan dan rasa lelah menghadapi dunianya yang begitu rumit.

Setelah mengambil napas dalam-dalam Zeline berteriak, "Lo kenapa sih, Ze?! Bukannya lo yang ingin seperti ini? Bukannya lo yang ingin Gavin mencintai Ratu?"

"INIKAN KEPUTUSAN YANG LO MAU?! INIKAN?!"

"Setelah gue pikir–keputusan gua adalah kesalahan yang besar ... karena ternyata Gavin lah alasan terkuat untuk gue bertahan!" teriak Zeline di tengah isak tangisnya sembari memegang dadanya yang terasa sakit lebih dari biasanya.

"Dan sekarang gue merasa gak perlu lagi untuk melanjutkan kehidupan omong kosong ini. Yang pada akhirnya semua akan tau kebenarannya."

Zeline melepaskan tas yang sedari tadi berada di punggungnya, lalu ia melangkahkan kaki beberapa langkah untuk mendekati danau tersebut. Pandangannya menatap sejenak pada air yang begitu jernih.

Yang mampu membuat pikiran dan hati Zeline tenang seketika. Senyum kepalsuan tercetak di bibir Zeline, ia tau bagaimana caranya mendapatkan sebuah ketenangan yang abadi.

"Air ini membuat hati dan pikiran gue tenang. Dengan begitu, gue harus ikut bersama air ini."

Zeline menyeburkan dirinya ke dalam danau tersebut. Tentunya danau itu tidak dangkal, yang ada begitu dalam amat sangat dalam. Jantung dan pernapasan Zeline mulai melemah di saat dirinya sudah berada di dalam danau itu. Kini Zeline sudah tak sadarkan diri, ia benar-benar merasakan ketenangan.

Hanya gemuruh air yang ia dengar. Akan tetapi, tak lama suara gemuruh air itu menghilang begitu saja. Berganti menjadi suara seseorang yang memanggil-manggil namanya dengan cemas. Walaupun Zeline tak sadarkan diri, tetapi dirinya masih bisa mendengar suara orang tersebut.

"Zeline bangun!"

"Zeline!"

" .... "

"Calista, bangun Calista!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!