Sinopsis : Aku tak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan buruk oleh teman - teman sekolah ku, dari SD sampai SMA aku selalu mendapatkan bullying, entah apa yg mereka dapatkan setelah aku hancur, kesalahan apa yg aku pernah perbuat pada mereka? tanda tanya itu sering melintas di benak ku, aku sangat sedih karna aku selalu mendapatkan hal itu, aku terlahir dengan suara kecil, aku tidak seperti anak laki - laki pada umum nya, karna aku memiliki banyak kekurangan.hidup ku sangat menyedihkan, sampai aku menemukan bakat asli ku sebagai penulis . aku memulai karir di Pf yg aku coba . dan dari sana aku bisa menemukan teman baru. ikuti kisah ku ini .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon delita bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ep 22" Harapan
Aku berharap hidup ku bisa jauh lebih bahagia, di balik segala kekurangan ini aku ingin seperti kebanyakan orang di luar sana, yg bahagia mempunyai banyak teman, saling bertukar pikiran bermain bareng, semua memang tidak untuk ku karna kekurangan , harta , jabatan , tahta, latar belakang itu menjadi sebuah cermin untuk diri ku memikirkan kembali dalam bergaul, aku tidak pernah menginginkan lahir dengan segala kekurangan karna aku juga tidak menyangka akan lahir ke dunia ini, dunia yg amat menyenangkan bagi sebagian orang dan menyedihkan bagi sebagian lain nya, itu juga yg aku rasakan sekarang ini, hidup ku penuh penderitaan lahir dan batin, lahir ku selalu di bully, batin nya aku belum seperti orang lain yg memiliki sedikit harta yg bisa lebih di hormati. bukan nya diri ini ingin di sanjung dan di rajakan tapi aku ingin sedikit di hargai.
Kini hanya harapan yg aku harapkan, selebihnya semua itu tergantung pada takdir . Aku duduk di bawah guyuran hujan, aku ingin hujan - hujanan sekali saja, dari kecil mamah dan bapak tidak pernah mengizinkan ku tuk hujan - hujanan.
" Nih anak nakal juga ya!" Mamah berdecak sambil berjalan mendekati ku membawa payung pink .
" Aku mau hujan - hujanan mah , sekali aja, tolong izinkan" aku memelas sambil menyusut air yg membasahi pipi ku.
" Kamu itu gampang sakit No, mamah nggak mau kamu demam!" Mamah menarik tangan ku sambil menyeret tubuh kurus ini ke dalam .
" Iya nih mulai nakal!" kak Manda menekan jempol ku yg sakit , aku refleks berteriak karna sakit.
" Aaakkkhhh!" Aku berteriak sambil menyembunyikan jempol ku , darah keluar lagi menyatu dengan nanah berwarna kuning . Bau nya pun langsung menyeruak membuat hidung ku tak tahan.
Jderrr!" Suara petir membuat ku kaget, langsung memeluk mamah. Mamah dengan penuh kasih memeluk ku, tubuh berisi nya sangat empuk membuat ku nyaman .
" Kakak mau nutup jendela dapur dulu ya" Kak Manda melangkah sambil tersenyum menuju ke dapur. Setelah di tutup kakak kembali lagi ke ruang tengah memeluk tubuh ku dari belakang.
Langit sudah gelap , rintik hujan yg semula sedikit sekarang lebih deras lagi, angin ribut mengoyangkan daun, pohon mangga itu hampir tumbang karna angin nya sangat kencang, listrik pun padam , hingga aku semakin takut.
" Mamah , jangan ninggalin aku , aku takut" Aku mengeratkan pelukan ku sambil bergetar. Wangi parfum semerbak tercium ternyata itu parfum milik bapak. Pukul 16.00 bapak pulang dengan hujan - hujanan.
Tok....Tok....Tok...." Ketukan pintu pun terdengar dengan cepat kak Manda membuka nya. Bapak membawa satu plastik berisi gorengan yg di beli nya waktu mau pulang.
"Ceklekkk"Kak Manda membuka pintu dengan lebar, cipratan air hujan sudah masuk ke lantai dapur, dengan cepat kak Manda mengelap nya memakai pel lantai.
" Ini gorengan mah" Bapak membuka jaket mya sambil menaruh plastik gorengan itu di permadani.
" Iya, enak kalo lagi anget - anget kayak gini" Mamah memakan satu pisang goreng itu sambil mengelus lembut punggung ku.
" Mau" aku melepaskan pelukan mamah sambil tersenyum lega karna hati ini udah tenang. Pelukan mamah begitu hangat.
"Ini" Mamah menyuapiku sambil tersenyum, bibir merah nya basah, aku pun segera memakan nya sambil tersenyum.
Hujan masih deras , aku memakan gorengan sambil menikmati dingin nya hujan hari ini, angin itu menyelusup ke tubuh kurus ku, hingga terasa ngilu.
Setelah itu aku melangkah ke kamar, untuk salin karna baju ku basah. Dan mamah juga mengangkat bokong nya melangkah ke kamar untuk salin.
hanya karena perbedaan kasta aku dulu dikucilkan bahkan sring jdi bahan ejekan, aku inget smpe sekarang orgnya. dibilang dendam tidak, tp semoga dia mendapat karma atas perbuatannya dulu.
dulu sebelum menikah abangku slalu ada waktu untuk adiknya meski hanya sekedar cerita atu jalan.
tp smua berubah, harusnya tidak begitu tapi apalah dayaku