Banida Afshari gadis yang akan dijodohkan oleh orang tuanya dengan lelaki yang menjadi cinta dalam diamnya.
Davin Al-Farizi terpaksa menerima perjodohan dengan Nida demi sang keponakan yang berusia 2 tahun agar mempunyai orangtua lengkap. Apalagi Kayla selalu memanggil Nida dengan sebutan 'Mama'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad nikah
Hari yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Kediaman Pak Jaya kini sudah ramai oleh datangnya para tamu yang di undang. Rombongan dari pengantin putri juga baru tiba di rumah besar itu dan tak lama lagi akad nikah akan segera di langsungkan.
Dan di antara tamu yang sudah hadir itu, tentu saja ada Irvan dan Fahmi. Meski bagi mereka sangat berat untuk melihat wanita yang di cintai akan berganti status tapi kedua laki-laki itu tetap hadir juga. Mereka menghargai kedua calon pengantin yang telah mengundang mereka untuk datang di tempat, terlebih lagi bagi Fahmi karena bagaimana pun Davin adalah sahabat dari semasa kecil. Dan ia juga harus ikhlas menerima jika Nida memang bukanlah jodoh untuknya.
Sembari menunggu penghulu yang belum tiba Davin duduk di sofa ruang tengah, berbincang dengan Deni. Ia sudah menggunakan stelan jas berwarna hitam lengkap dengan pecinya. Deni tak henti-hentinya menggoda Davin yang sebentar lagi akan bergelar menjadi suami dan juga mendapat julukan Papa bagi Kayla.
"Gimana, Lo gugup nggak?" Tanya Deni, karena biasanya selain calon pengantin wanita, calon pengantin pria juga akan mengalami kegugupan sebelum melakukan ijab kabul.
"Tidak, aku biasa saja." Jawab Davin dengan santainya. Meski sebenarnya ia cukup gugup tapi Davin masih bisa bersikap tenang.
"Hebat Lo. Tapi gue masih nggak nyangka aja. Sebentar lagi Lo akan melepas masa lajang Lo, Vin." Ungkap Deni setengah tidak percaya.
Davin tersenyum tipis. "Iya, dan setelah ini giliran kalian berdua." Ucap Davin.
"Haha, pacar aja nggak punya gimana mau nikah! Ya nggak Fa?" Kekeh Deni sembari melempar pertanyaan kepada Fahmi.
Namun laki-laki itu tidak mendengar karena pandangan nya sedari tadi hanya menatap pintu kamar Kayla yang di gunakan untuk merias calon pengantin wanita.
Davin dan Deni pun saling pandang akan arah pandangan mata Fahmi.
"Fa?" Deni menepuk bahu laki-laki itu menyadarkan nya. Ia tahu mungkin Fahmi masih belum bisa melupakan Nida.
Fahmi pun memutar lehernya dan bertanya. "Ada apa?"
"Ck, Lo liatin kamar Kayla terus sampai gue bertanya tapi Lo nggak nyadar." Ucap Deni sambil geleng-geleng kepala.
Fahmi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Sorry.." Ucapnya seraya tersenyum simpul menyadari tingkahnya barusan.
"Fa, kamu belum bisa move on dari Nida ya?" Tanya Deni dengan nada serius membuat Fahmi seketika menggeleng.
"Sudah, aku sudah ikhlas melepas Nida untuk Davin. Aku harus sadar kalo Nida memang bukan untukku." Jawab Fahmi.
"Syukurlah." Deni merasa lega seraya mengusap dadanya. Deni tidak ingin persahabatan mereka bertiga retak hanya karena masalah wanita saja.
"Tapi jika sedikit saja Davin menyakiti Nida atau membuat Nida menangis, maka aku tidak akan segan-segan untuk merebut Nida dari tangan Davin." Ucap Fahmi lagi.
Davin yang mendengarnya hanya tersenyum miring lain dengan Deni.
"Fa, kenapa Lo ngomong seperti itu. Davin juga tidak akan sejahat itu sama Nida?" Tanya Deni heran.
"Aku cuma memberi peringatan saja karena kita sendiri tidak akan tahu, apa yang akan terjadi nanti." Jawab Fahmi dengan entengnya.
"Sayangnya aku tidak akan membiarkan-mu mengambil Nida dariku, karena itu tidak akan pernah terjadi." Ucap Davin.
***
"Ya ampun, Nida! Kamu cantik sekali." Nabila berdecak kagum menatap penampilan Nida yang sudah selesai di rias. Balutan gaun pengantin beserta mahkota yang tersemat indah di atas hijab putih itu membuat Nida semakin anggun.
"Jadi nggak sabar pengen ngeliat betapa terpesonanya Kak Davin dengan penampilanmu ini." Goda Nabila membuat Nida seketika tersipu malu.
"Benarkah, tapi aku deg-deg'an nih." Ucap Nida sambil menunjukkan kedua tangannya yang sudah berkeringat dingin.
"Udah, dibuat santai aja jangan tegang." Ucap Nabila menenangkan.
"Penghulu nya belum datang ya?" Tanya Nida.
"Belum kayaknya, kalau sudah Ibu juga pasti ke sini bawa kamu keluar." Jawab Nabila.
"Bil, aku merasa ini seperti mimpi deh, Mas Davin sebentar lagi akan jadi suamiku." Ucap Nida. Ia tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba.
"Iya, dan nanti malam kamu harus siap-siap untuk malam pertamamu, hehe." Goda Nabila seraya terkekeh.
"Nabila.. jangan ngomong gitu dong? Kalau soal satu itu aku masih belum siap." Ucap Nida sambil menahan malu.
"Tapi kalau Kak Davin minta kamu nggak boleh nolak, bisa kena dosa kamu!" Seru Nabila.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu membuat Nida dan Nabila langsung menoleh, menghentikan obrolan mereka. Bi Dewi, bibinya Davin mengajak Nida untuk keluar karena penghulunya sudah tiba. Nida tak henti-hentinya menormalkan debaran dadanya yang berdebar-bedar semakin kencang. Dalam hitungan menit dirinya akan menjadi milik Davin seutuhnya.
"Rileks, jangan tegang ya." Bisik Nabila yang memegang tangan Nida membantu berjalan.
"Iya." Jawab Nida pelan lalu menghembuskan nafasnya sesaat.
Kini semua pasang mata memandang ke arah Nida yang di tuntun oleh Nabila dan Bi Dewi menuju ke meja akad tak terkecuali Davin. Gadis yang dalam hitungan detik ini akan menjadi istrinya itu sangat cantik sekali, jantungnya tiba-tiba berdegup tak beraturan saat Nida sudah duduk di sampingnya. Ada desiran aneh yang menyusup ke rongga hatinya saat ini.
Sebelum ijab kabul di mulai, Penghulu memberikan nasehat-nasehatnya sejenak. Nida yang di landa kegugupan hanya mampu menunduk, meremas kedua tangan di pangkuannya. Bahkan ia tidak sadar jika sang ayah sudah menjabat tangan Davin hingga kata SAH menggema di ruangan itu. Hanya dengan satu tarikan nafas Davin berhasil menjadikan Nida sebagai istrinya.
"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri, selamat!" Ucap Pak Penghulu kepada kedua mempelai.
"Terima kasih." Jawab Davin. Nida sendiri tak kuasa menahan haru, sampai-sampai ia meneteskan air mata.
"Jangan nangis." Ucap Davin pelan, tangannya memegang tangan Nida.
"Aku cuma terharu aja Kak." Jawab Nida seraya menampilkan senyum manisnya membuat Davin juga ikut tersenyum. Dan itu tak luput dari pandangan semua orang yang juga turut berbahagia.
Penghulu pun mengintruksikan untuk memasang cincin di jari manis pasangan. Setelah itu Nida mencium tangan Davin sebagai tanda bakti. Davin juga mencium kening Nida cukup lama membuat Irvan maupun Fahmi harus membuang muka, mereka tak kuasa melihat hal itu.
Nida memejamkan mata saat bibir itu menyentuh keningnya. Pertama kalinya ia mendapat ciuman, dan itu dari orang yang ia cintai yang kini telah berstatus menjadi suaminya.
"Ini seperti sebuah keajaiban. Bisa menjadi istrimu adalah hal terindah untukku. Aku sangat mencintaimu Davin Alfarizi, semoga setelah ini kamu membuka hatimu. Aku ingin mendengar kata-kata cinta keluar dari bibirmu. Jadikan aku satu-satunya milikmu." Bisik hati Nida yang saat ini sangat bahagia.
.
Bersambung...
.
terima kasih sdh update thor. semoga stlh ini update nya rutin