Cerita ini lanjutan dari Pahlawan Terpilih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dani Sutisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Jangan Merendahkan Diri
Bab 23 Jangan Merendahkan Diri
Tombak angin Maria memang bisa menghancurkan benda apapun, kecuali makhluk hidup.
Tombak itu tidak bisa membunuh makhluk hidup, karena itu Maria mengkombinasikan jurusnya dengan jurus pedang taring salju milik Willy.
Apa bila musuh mereka membeku, sudah pasti orang itu dianggap benda mati dan setiap benda mati bisa di hancurkan oleh tombak angin, Sehingga prajurit tadi langsung berhamburan menjadi kabut darah.
Setelah selesai membantai para prajurit itu, Willy dan Maria kembali ke arah dimana gerobak dan para tahanan berada.
Mereka berdua melepaskan rantai yang mengunci kerangkeng dan mengeluarkan semua orang.
Beberapa orang yang terluka segera di obati oleh Willy dan dengan potion yang Willy berikan kepada mereka membuat mereka segera membaik.
"Pergi lah dari tempat ini, dan jangan kembali" ucap Willy.
"Tapi tuan muda, kemana kami harus pergi, rumah bahkan desa kami sudah di hancurkan oleh prajurit itu" ucap salah seorang korban.
Willy dan Maria pun menjadi bingung, karena tidak mungkin Willy membawa mereka semua dan melindungi mereka.
Sedangkan dirinya sendiri selalu di kejar oleh para prajurit penganut ajaran dewa.
Kalau saja daerah ini dekat dengan jalur hitam, mungkin mereka akan aman, tetapi jalur putih dan jalur hitam sangat jauh.
Maria pun memberikan ide "Hai bagai mana kalau mereka ke federasi bebas saja disana akan aman dan tidak ada perbudakan"
Willy menggelengkan kepalanya "jaraknya lumayan jauh, bisa mencapai beberapa hari perjalanan, itu juga kalau mereka berkuda, kalau jalan kaki mungkin akan sampai selama satu Minggu"
Kemudian Willy melanjutkan "Apalagi kalau mereka ketemu dengan prajurit yang mencari budak seperti mereka yang sudah kita bantai, mungkin mereka akan kembali dalam bahaya"
Willy dan Maria pun berdiskusi dan kemudian mereka berdua memutuskan untuk membangun desa yang baru, yang tidak akan terjamah oleh prajurit penganut ajaran dewa.
Mereka pun di bawa oleh Willy kesebuah lembah yang di bawahnya ada jurang dalam dengan air mengalir deras di jurang tersebut.
Willy menggunakan sihir elemen tanah untuk membuat jalan dan memandu mereka, hingga sampailah di sebuah lapang yang cukup luas.
Kebetulan di sana tidak ada monster tetapi banyak binatang kecil seperti kelinci untuk mereka buru sebagai bahan makanan.
Dalam beberapa hari Willy dan Maria membangun desa yang tersembunyi dan mengajarkan mereka bagai mana berburu, memancing dan mempelajari tentang ramuan obat serta berlatih beladiri.
Setelah mereka mapan dan bisa mandiri, Willy pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Semua orang berlutut kepada Willy dan Maria sebelum mereka meninggalkan desa tersembunyi itu "Tuan dan nona muda, terima kasih atas bantuan anda berdua, kami akan selalu menganggap anda sebagai pemimpin kami, suatu saat jika kamu bertambah kuat, kami siap membantu anda dengan mengerahkan jiwa raga kami"
Willy pun tersenyum "bangkitlah kalian semua, aku akan mengingat janji kalian, aku juga tidak akan melupakan kalian semua, suatu hari nanti aku akan datang lagi untuk menemui kalian lagi"
Kepala desa tersembunyi itu menjawab "Dengan senang hati kami akan menyambut anda berdua"
Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan desa tersembunyi dan jembatan penghubung yang Willy buat dengan sihir elemen tanah di hancurkan.
Itu sengaja Willy lakukan supaya tidak ada yang bisa memasuki desa tersembunyi kecuali Willy dan Maria.
Itu di maksudkan supaya mereka aman dari para prajurit yang mencari penduduk desa untuk di jadikan tumbal persembahan kepada dewa Astra dan budak.
Willy dan Maria pun melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya.
"Hai kita istirahat sebentar dan makan siang" teriak Maria.
Willy pun menyetujuinya dia memperlambat gerakannya dan berhenti di bawah pohon rindang.
"Baiklah ayo kita istirahat sebentar lalu lanjutkan perjalanan" ucap Willy.
Kemudian Willy mengeluarkan makanan dari dalam sihir dimensi dan membagikannya dengan Maria.
Maria pun makan dengan lahap sambil mengobrol dengan Willy.
"Hai pangeran bodoh, kenapa kamu tadi bergerak dengan cepat, apa kamu ingin cepat sampai ke kerajaan Varanus ?" Tanya Maria.
Willy tersenyum "dari sini kita akan melewati 2 kerajaan besar dan beberapa kota, aku belum pernah memasuki kerajaan tersebut karena batas sampai kerajaan Varanus ada hutan lebat yang di diami banyak monster, sehingga aku ingin segera memasuki hutan tersebut dan monster apa yang ada di sana"
Maria menyeringai "Hai.... Hai.... Kamu kira aku bodoh, aku tahu hutan itu perbatasan 3 negara antara kerajaan Jovalavia, kerajaan Varanus dan kerajaan Arapaima, sedangkan hutan itu sendiri wilayah kekuasaan Raja iblis Garuda, aku yakin kamu ingin segera menemui Elvina, bukan begitu"
Willy tersenyum canggung, karena Maria tahu apa yang ada di pikiran Willy.
Dia sangat merindukan sosok cantik bernama Elvina, wanita yang menemaninya di saat sedih maupun susah.
Bahkan Elvina rela balas dendam kepada Hendi waktu di dunia mereka berada hanya untuk membalas kematian Wildan yang sekarang bernama Willy di dunia ini.
Cinta abdi yang di pertemukan kembali walaupun sudah berpindah dunia dari planet bumi sekarang di pertemuan kembali di planet zoltus ini.
Mereka berdua sama sama rengkarnator dengan ingatan yang masih ada dari masa lalu.
Maria pun mendengus kesal melihat seringai Willy yang membayangkan Elvina.
Maria berdiri kemudian melangkahi Willy yang sedang duduk bersandar, kemudian Maria pun berjongkok di depan Willy dan memegangi wajah Willy.
"Hai pangeran bodoh, apa di hati mu hanya ada Elvina saja, bahkan cinta untuk ku kamu tidak ada?" Tanya Maria.
Willy pun mendongakkan wajahnya ke arah wajah Maria, dagu Maria di pegang oleh Willy, kemudian Willy mendekat kan wajahnya ke bibir Maria.
"Tentu saja aku juga mencintaimu, kalian berdua selalu ada dalam hati ku, kamu adalah wanita ku yang pertama di dunia ini, tidak mungkin aku mengabaikan mu.
Sedangkan Elvina sendiri adalah cinta sejati ku, kami tidak terpisahkan walaupun maut sudah memisahkan kami tetapi sang pencipta mempertemukan kembali di dunia ini"
Kemudian Willy mencium bibir Maria dan mereka pun saling melumat, meskipun Willy masih kecil belum saatnya untuk melakukan hal tersebut.
Tetapi jiwa di dalam tubuh Willy sudah dewasa, dan Maria yang baru menginjak dewasa, menurut dunia ini dia sudah matang.
Mereka berdua sebenarnya sering berhubungan, meskipun belum adanya ikatan pernikahan, karena sejak kecil ratu Elisia sudah menjodohkan Maria dengan Willy.
Dan setelah Willy di akui oleh raja Hendrik Jovanka, sebagai anaknya sendiri hubungan Maria dan Willy di sahkan dan mereka sudah bertunangan.
Secara tidak langsung Maria sudah milik Willy, sehingga apa pun yang di inginkan Willy, baik itu berhubungan atau pun yang lain, Maria selalu melayani Willy dengan senang hati.
Meskipun kata kata Maria selalu kasar dan selalu menyebut Willy sebagai pangeran bodoh, tetapi di dalam hatinya Maria pun sangat mencintai Willy.
Di tengah hutan yang sepi ini, Maria dan Willy saling menyulam kasih dan menyatukan asmara dan sudah sampai klimaks mereka pun berhenti.
Maria bersandar di dada Willy sambil berkata "Perlakuan aku dengan adil setelah pulang nanti, aku tidak mau di abadikan"
Willy mengelus rambut Maria "Tidak akan mungkin aku mengabaikan mu, aku tahu rasanya di abaikan, kamu tahu menderitanya ibunda ratu Elisia yang di abadikan ayahanda raja Hendrik Jovanka, aku tahu sakitnya itu, sehingga aku akan berusaha bersikap adil nantinya"
Maria semakin erat memeluk Willy "Terima kasih karena kamu sudah mencintai budak seperti ku"
"Hai kamu ini bukan budak, kamu ini jenderal divisi khusus kerajaan Lareagon, kamu ini keturunan klan hebat dari benua bagian selatan, jangan merendahkan diri seperti ini tau" ucap Willy.
***
* Bersambung