Fatimah Azzahra seorang gadis cantik, sholehah, ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Dia hidup berdua bersama adiknya, Nandini yang memiliki penyakit Leukimia.
Karena tuntutan kehidupan dan harus membayar biaya pengobatan Nandini, Fatimah terpaksa menerima tawaran pekerjaan dari teman nya menjadi pekerja ***.
Beruntung Fatimah dipertemukan dengan Kyai Syamsudin yang membuatnya berubah menjadi pribadi muslimah yang taat pada agama dan dia tidak melakukan pekerjaan itu lagi.
Kemudian Fatimah bertemu dengan Sarah gadis kecil cantik yang menganggapnya seperti Ibu Kandungnya.
Akankah Azam, Ayah dari Sarah menerimanya sebagai istri dengan segala masa lalu kelamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Yuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Fatimah tersenyum dan segera berucap.
"Tidak apa-apa Ummi. Pasti Mas Hamzah begitu merindukan Ummi selama ini. Makannya Mas Hamzah bersikap manja sekarang." ucap Fatimah.
"Hhmmm kamu benar Fatimah. Selama lima tahun di Amerika, baru hari ini baru hari ini Ummi dapat memeluk anak Ummi ini." ujar Ummi Salma setuju pada ucapan Fatimah.
Hamzah pun yang masih menahan rasa malu nya, segera mencairkan suasana dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh iyah, Ummi. Hamzah mau berangkat ke mesjid bersama Abi. Kata Abi nanti Ummi nyusul yah ke mesjid." ujar Hamzah.
"Iyah Hamzah. Kamu sedang mengalihkan pembicaraan bukan?." tanya Ummi yang paham dengan akal putra sulungnya.
"Bukan Ummi. Hamzah hanya menyampaikan pesan Abi." tolak Hamzah.
"Iyah sudah, nanti Ummi ke mesjid bersama dengan Fatimah." ucap Ummi sambil melirik Fatimah.
Fatimah begitu kaget saat Ummi Salma mengajaknya ke mesjid.
'Aku masih belum mengerti bagaimana cara sholat, mana mungkin aku ikut Ummi sekarang. Bisa-bisa nanti rahasia ku terbongkar, aku belum siap untuk jujur kepada mereka tentang siapa aku.' batin Fatimah.
Ummi Salma memang baru pertama kali ini mengajak Fatimah ke mesjid selama Fatimah tinggal bersama mereka. Karena Ummi Salma berpikir jika Fatimah akan tetap melaksanakan sholat walaupun dirinya sedang berduka, tidak tahu jika sebenarnya Fatimah sama sekali tidak pernah melaksanakan sholat.
"Bagaimana Fatimah kamu mau ikut bersama Ummi ke mesjid?. Setahu Ummi malam ini akan ada acara di mesjid." ucap Ummi Salma yang masih mendesak Fatimah untuk ikut dengan nya ke mesjid.
"Acara? ada acara apa di mesjid Ummi?, kajian malam?." tanya Hamzah meneguk segelas air putih.
"Iyah kajian malam, di sana juga akan ada sepupu kamu, sudah lama kan kalian tidak bertemu. Terakhir mungkin saat dia menikah." ujar Ummi Salma.
"Benarkah Ummi Azam di sini?, Setahu Hamzah dia setelah menikah merantau ke kota." ucap Hamzah yang ragu jika sepupu nya ada di sini.
"Iyah emang setelah menikah dia pergi merantau bersama istrinya ke kota. Tapi setelah istri nya meninggal dunia saat melahirkan putrinya, Sarah. Azam balik ke sini, supaya putrinya bisa di rawat oleh Ibu nya."
Fatimah hanya diam saja mendengar percakapan antara Ibu dan Anak ini, karena dia tidak mengenal siapa yang di maksud oleh mereka. Dan Fatimah juga tidak ingin ikut campur.
"Aku sungguh tidak menyangka dengan apa yang menimpa Azam. Mungkin sudah menjadi takdir yang maha kuasa dan dia sekarang harus mengasuh putrinya seorang diri." ucap Hamzah.
"Itulah Takdir Allah siapa yang tahu. Kita sebagai hambanya hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada nya." ucap Ummi Salma.
"Iyah Ummi." Jawab Hamzah.
Fatimah mendengar setiap kata atau obrolan antara Ummi Salma dan Hamzah, dia paham betul bagaimana rasanya kehilangan orang yang dia sayangi. Dan kita yang di tinggalkan harus menerima dengan ikhlas segala ketentuan yang sudah di tetapkan oleh sang pemilik nyawa.
Tidak lama setelah itu, Kyai Syamsudin masuk ke ruang makan. Dirinya segera memanggil Hamzah.
"Hamzah!, Ayo kenapa kamu masih di sini?. Kamu harus bantu Abi untuk mempersiapkan semuanya di mesjid." ujar Kyai Syamsudin ketika berjalan mendekat ke meja makan.
"Iyah Abi. Nih Hamzah berangkat. Ya sudah Ummi, Hamzah pamit ke mesjid terlebih dahulu." ujar Hamzah kembali menyalami tangan Ummi nya dengan begitu lembut.
"Assalamualaikum." salam Hamzah.
"Waalaikumsalam, hati-hati yah Hamzah!." ucap Ummi.
"Iyah Ummi." Jawab Hamzah.
Kyai Syamsudin pun sedang melangkah ke meja makan pun mendekat pada tempat istri nya berdiri dan segera berucap.
"Ummi, Abi pergi dulu." pamit Kyai Syamsudin pada istrinya.
"Iyah Abi hati-hati di jalan!." balas Ummi dengan menyalami tangan suaminya tersebut.
"Hhmmm."
"Ummi nanti ke mesjid yah?." ujar Kyai Syamsudin.
"Baik Abi. Nanti Umi ke mesjid bareng Fatimah." ucap Ummi Salma.
"Baiklah. Jika begitu Abi dan Hamzah berangkat duluan."
"Assalamualaikum." seru Kyai Syamsudin dan putranya Hamzah kompak keluar dari ruang makan.
Sekarang tinggal Fatimah dan Ummi Salma berada di ruangan itu.
"Fatimah kamu tidak cape kan? Kamu bisa ikut Ummi ke mesjid nanti?." tanya Ummi pada Fatimah.
"Bisa Ummi." Jawab Fatimah.
"Alhamdulillah, kalau begitu Ummi mau mandi dan bersiap-siap terlebih dahulu. Kamu tunggu di ruang tamu saja."
"Baik Ummi." balas Fatimah dengan tersenyum.
Ummi pun melangkah meninggalkan Fatimah.
Sementara Fatimah menatap punggung Ummi yang semakin menghilang.
'Aku memang tidak pantas untuk berada di rumah ini. Aku memang tidak pantas berada di lingkungan sebaik ini. Aku terlalu hina untuk mereka yang begitu sempurna, tapi izinkan aku untuk bisa berada di lingkungan ini setidaknya sampai aku bisa bertaubat kepadamu sebelum mereka tahu siapa aku sebenarnya.' batin Fatimah yang di penuhi dengan rasa bersalah karena sudah membohongi keluarga Hamzah, berpura-pura menjadi wanita baik-baik padahal...
Walaupun Fatimah adalah orang asing untuk keluarga Hamzah, tetapi mereka masih mau menerima kehadiran Fatimah di sini. Terutama Ummi Salma yang terlihat begitu menyanyangi Fatimah seperti anak kandung sendiri. Tanpa sadar Fatimah meneteskan air mata nya penuh haru.
"Terima kasih Ummi, terima kasih karena Ummi sudah menganggap Fatimah bukan seperti orang asing di keluarga Ummi. Ummi begitu membuat kasih sayang seorang Ibu yang sama sekali Fatimah tidak pernah merasakan nya sejak kecil. Terima kasih Ummi, terima kasih atas kebaikan Ummi yang mau menerima kehadiran Fatimah di rumah ini." gumam Fatimah sambil menyela air mata nya yang sudah terlanjur keluar.
Fatimah pun kembali melangkah menuju ruang tamu untuk menunggu Ummi.
Tidak berapa lama, Ummi nya Hamzah sudah selesai bersiap-siap. Ummi Salma sedang berkaca untuk terakhir kali sebelum berangkat ke mesjid.
Ketika sedang berkaca, entah kenapa Ummi Salma bergumam.
"Kenapa Fatimah bisa secantik itu yah?, wajah nya begitu bersih dan alami walaupun tanpa polesan make up sedikitpun." pikir Ummi Salma yang begitu kagum dengan kecantikan alami Fatimah.
"Apa karena aku ini sudah tua? makannya di poles begitu banyak make up akan tetap kusam?." ucap Ummi Salma seraya melangkah keluar kamar nya dan segera menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu,
"Fatimah mari kita pergi. Maaf jika membuat kamu menunggu lama." ucap Ummi Salma dan membuat Fatimah kaget.
"Ummi." ucap Fatimah terkejut karena Fatimah sedikit melamun dan sedikit gelisah memikirkan bagaimana jika mereka tahu Fatimah tidak pernah sholat.
"Maaf jika Ummi membuatmu kaget seperti ini, Fatimah." ucap Ummi Salma merasa bersalah karena sudah mengagetkan Fatimah.
"Tidak apa-apa Ummi." balas Fatimah yang masih begitu kaget dengan kedatangan Ummi Salma yang tiba-tiba.
"Ummi sudah selesai dandan?, Ummi cantik sekali dengan pakaian ini dan polesan make up Ummi juga begitu pas. Pasti Abi akan senang melihat Ummi nantinya." Puji Fatimah ketika melihat wajah Ummi Salma yang begitu mempesona dengan polesan make up.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wati meninggal
Fatimah??Azzam???dgn apa ygrnima mrk
awl nya kira'in Zidan jodoh Fatimah