Vina, ia adalah gadis piatu yang tinggal bersama bibinya, setelah lulus dari SMA, Vina dijodohkan dengan Andre, putra dari keluarga pengusaha sukses.
Vina tidak bahagia dengan pernikahannya, ibu mertuanya serasa seperti orang ketiga, dan suaminya juga tidak pernah peduli dengan keadaannya. Waktu terus berlalu, perlahan, Andre mulai menerima Vina sebagai istrinya. Namun keadaan kembali kacau saat kekasih Andre tiba-tiba muncul kembali dan menagih janji untuk dinikahi, mampukah Vina mempertahankan rumah tangganya? Atau dia akan berhenti dan mengakhiri semuanya? Penasaran dengan kisah mereka? Ayo ikuti kisah mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur...
Vina mengalah, dia sudah lelah dengan sikap Andre. Dia biarkan suaminya pergi dan membukakan pintu untuk Maya, mungkin saat ini pintu rumah yang dibuka untuknya. Bisa jadi setelah ini, pintu hatinya yang akan dibuka untuk Maya.
Vina berniat ingin menemui Aurel dan menumpahkan keluh kesahnya pada sang sahabat, tapi Andre tidak mengizinkannya untuk menghubungi Aurel, apalagi curhat soal rumah tangga mereka.
Andre mengatakan, bahwa dia tidak suka jika orang luar ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
Vina mencoba berdiri dengan bertumpu pada kaki meja kecil yang ada di dekatnya.
Ia berniat keluar untuk melihat apa yang dilakukan Andre dan Maya di bawah.
Vina menuruni anak tangga satu per satu, baru setengah jalan, mendadak langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap suaminya yang terlihat bahagia saat mengobrol dengan Maya, rasanya begitu sakit.
Vina tidak jadi turun, ia naik lagi ke lantai atas. Andre sudah melukai hatinya, perlahan Andre juga mulai melupakan janjinya. Apa mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan? Vina menginginkan hidup yang tenang, hanya berdua dengan suaminya, tidak ada Maya di dalamnya. Cerita ini hanya tentang mereka berdua, tidak ada yang lain.
Hatinya menjadi begitu gelisah, apalagi saat tawa mereka terdengar sampai ke kamarnya.
"Sebahagia itu kamu mas bisa bersama Maya? Apa benar kalau kamu masih mencintai dia?"
Lagi-lagi Vina menangis dalam diam, sesakit ini rasanya mencintai seseorang yang masih terjebak dengan cinta masa lalunya.
"Rasanya baru kemarin hari indah itu kita jalani, semua kebersamaan kita mendadak menjadi masa lalu yang tenggelam dengan bergantinya hari."
---
Ding dong...
Ding dong...
"Siapa, Ndre? Kamu ngundang teman ke sini?" tanya Maya heran. Perasaannya mulai sedikit was-was.
"Enggak, aku enggak ngundang siapa-siapa kok. Apa mungkin itu Aurel ya?"
"Aurel temannya Vina?"
"Iya, bisa jadi kan kalau Vina nyuruh dia datang ke sini. Ya udah, aku bukain pintunya dulu ya." Andre melangkah menuju ruang depan untuk membuka pintu.
Ceklek...
"Siap..."
Andre tidak bisa melanjutkan ucapannya, sontak sepasang mata Andre membulat sempurna, dia begitu kaget saat melihat sosok yang sekarang berdiri tegak dengan wajah garang di depannya.
Tidak ada senyuman ramah seperti biasanya, hari ini sang mama datang dalam keadaan suasana hati tidak baik, begitulah yang terlihat saat ini.
Andre melirik ke belakang mamanya, ternyata Lisa juga datang.
"Kenapa dengan wajah kamu? Kenapa jadi tegang gitu? Ngelihat mama kayak ngelihat hantu aja," celetuk bu Mira.
"Di depan ada mobil yang tidak aku kenal, apa pagi-pagi gini kalian udah kedatangan tamu?"
Pertanyaan Lisa jelas menyudutkannya, Andre diam seribu bahasa. Harus jawab apa dia sekarang?
"Mama ngapain ke sini?"
"Loh, bukannya nyuruh mama sama adek kamu masuk. Kamu malah nanyain untuk apa kami ke sini," omel bu Mira.
"Bukan gitu, Ma. Maksudnya aku gini... "
"Ah, kak Andre kelamaan. Minggir! Aku mau ketemu kak Vina." Lisa menerobos masuk ke dalam.
Andre hanya bisa pasrah sekarang, tak lama lagi pasti akan terjadi keributan besar.
Maya duduk dengan begitu santainya di ruang tengah, ia tidak tahu kalau yang datang itu adalah mamanya Andre.
"Lama banget Andre bukain pintunya, emang siapa sih tamunya itu?" Maya jadi bertanya-tanya.
"Maya?"
Bu Mira kaget melihat pagi-pagi Maya sudah datang ke rumah anaknya.
"Tante Mira, ya ampun Tante, aku udah kangen banget sama tante." Maya langsung berdiri menyambut kedatangan bu Mira. Dia pikir kalau ini adalah saat yang tepat untuk merebut hati calon mertuanya itu.
"Kamu ngapain pagi-pagi di sini?"
"Semalam Andre sakit, Tan. Tadi aku lihat dia juga enggak ke kantor, makanya aku datang ke sini," ujar Maya.
"Kamu tahu kan kalau Andre sudah punya istri? Seharusnya kamu bisa jaga jarak sama dia."
Maya jadi ciut melihat sikap dingin bu Mira kepadanya, dulu bu Mira begitu menyukai dirinya, tapi sekarang tidak lagi.
"Ma, Maya ke sini cuma mau jengukin aku," jelas Andre.
"Maya, maaf sebelumnya ya. Sebaiknya kamu pulang dulu, ada yang perlu tante bicarakan sama Andre."
"Oh iya, baik Tante. Dre, aku pulang dulu ya," ucap Maya, ia berpamitan sama Andre.
Lisa menatap Maya dengan ekor matanya, tatap tajam matanya membuat Maya tak berani membalas tatapannya. Sedangkan Andre, lelaki itu hanya bisa diam saja, tapi dia merasa tidak enak hati dengan sikap sang mama terhadap Maya.
"Ma, aku anterin Maya ke depan dulu ya."
"Nggak usah!" tegas bu Mira.
"Enggak usah, dre. Aku sendiri aja." Maya masih berusaha tersenyum, meski hatinya sudah dibuat kesal oleh mamanya Andre.
Usai kepergian Maya, bu Mira menyuruh Andre untuk memanggil istrinya.
Vina keluar dari kamarnya, menuruni tangga dan turun ke bawah. Matanya masih sembab saat itu, Lisa dan bu Mira saling tatap. Mereka heran kenapa Vina terlihat seperti habis nangis.
"Mama, Lisa. Kalian datang kenapa enggak ngabarin Vina dulu?"
"Duduk dulu, Vin! Ada yang mau mama omongin sama kalian berdua," ucap bu Mira.
Vina menoleh ke arah Andre yang berdiri di sampingnya, Andre hanya mengangkat kedua bahunya, tanda bahwa ia juga tidak tahu apa yang hendak dibicarakan oleh mamanya.
"Kak Vina habis nangis ya?" tanya Lisa begitu Vina dan Andre duduk.
"Enggak, siapa yang nangis?"
Vina mengusap wajahnya, mencari-cari sisa air mata yang mungkin saja masih ada di sekitar matanya.
"Matanya sembab gitu kok," ujar Lisa lagi.
"Kamu lagi berantem sama Andre?" tanya bu Mira.
"Kita baik-baik aja kok, Ma."
Vina duduk lebih dekat dengan suaminya, dia menggamit lengan Andre dan tersenyum manis. Dia berusaha untuk tidak membuat mereka mengetahui tentang masalah dalam rumah tangganya saat ini.
"Sudahlah, Vina. Jangan bersikap manis seperti itu, mama dan Lisa tahu kok kalau hubungan kalian berdua sedang diambang kehancuran," ucap bu Mira sengit.
Reflek Vina melepaskan genggaman tangannya dari Andre.
"Ma, Mama kok ngomongnya gitu sih?"
"Iya, kak Vina dan Kak Andre lagi ada masalah kan? Semua ini terjadi karena Maya, perempuan itu sudah merusak semuanya." Lisa menatap tajam sang kakak.
"Lisa, berhenti menyalahkan Maya!" ucap Andre dengan nada tinggi.
"Tuh kan, buktinya aja kak Andre ngebelain dia sampe segitunya. Jangan bilang kalau kak Andre masih cinta sama dia."
"Lisa, aku sama mas Andre baik-baik aja kok. Kamu sama mama dapat info dari siapa? Itu semua enggak benar."
Vina masih mencoba menyangkal omongan mereka.
"Nah, Mama dan Lisa dengar sendiri kan, kalau hubungan aku dan Vina baik-baik aja," cetus Andre membenarkan.
"Percuma kalian bohongi Mama, semalam om Danil datang ke rumah. Dia ngasih tahu ke Mama, kalau Andre sudah semakin dekat dengan Maya, om Andre juga ngelihat sendiri saat Andre pulang dianterin sama Maya semalam. Kalian sudah terlalu dekat, dan ini enggak bisa dibiarkan."
Andre menelan ludahnya susah payah, ternyata apa yang terjadi dalam rumah tangganya tidak luput dari perhatian adik papanya itu.
Vina bungkam, percuma juga dia menyangkal. Toh semuanya juga sudah diketahui oleh om Danil, jadi dia hanya bisa mengangguk mengiyakan.
"Vina, sekarang jujur sama mama, apa kamu cemburu melihat kedekatan Maya dan Andre?" tanya Bu Mira.
Vina menatap suaminya, lalu mengangguk pelan.
"Vin, Maya sama aku enggak ada hubungan apa-apa, berapa kali aku harus ngejelasin ini sama kamu."
Andre mulai terlihat gusar.
"Ini soal hati, Mas. Kamu sudah janji sama aku, kalau kamu tidak akan menyakiti perasaan aku. Tapi sekarang apa? Dengan kesadaran penuh kamu sudah menyakiti perasaan aku, kamu anggap kedekatan kamu sama Maya itu adalah hal biasa. Mungkin biasa bagi kamu, tapi tidak bagi aku. Perempuan mana yang tidak cemburu melihat suaminya dekat dengan wanita lain, apalagi wanita itu pernah menjadi orang terkasih dalam hidup suaminya sendiri." Vina menghela nafas berat.
Bersambung...
siapa yang datang tuh?
semangat menulis
kisahnya sudah bagus