Airin adalah gadis yang manis dan cantik .
Dia bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan besar yang dipimpin oleh seorang CEO muda yang sangat tampan.
Dan diam diam CEO tersebut menaruh hati kepada Airin yang hanya seorang staf bawahan di kantornya.
Akankah cintanya bersambut dan bisakah Airin menerima cinta seorang pemuda kaya raya yang merupakan bosnya di perusahaan.
Hingga suatu hari ada sebuah peristiwa besar , yang menjadi awal perubahan dalam hidupnya..
Nah , peristiwa apa saja yang terjadi pada Airin, dan perubahan besar apa yang akan terjadi...
Mari langsung saja ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewidewie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari yang berbeda
Hari berganti waktu berlalu, setelah 6 bulan kepergian Bryan ke Singapura semua tampak berbeda.
Di ruang kerja Bryan Mahendra tampak sepi namun semua masih tertata rapi, karena setiap hari kaesang meminta Nadya untuk mengecek kebersihannya.
" pak kae , apa yang anda pikirkan" tanya Nadya.
" aku memikirkan Bryan Nad" jawab kaesang membuat Nadya terkejut dan mengeryitkan keningnya.
"Maksud pak kae, pak Bryan Mahendra, apa jangan jangan..oh tidak..pak kae merindukan pak Bryan ya...hahhhh" ucap Nadya sambil menutup mulutnya dan nampak kaget.
Kaesang seketika menatap Nadya tajam.
" apa yang kamu pikirkan " ketus kaesang.
" pak kaesang normal kan?" tanya Nadya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah kaesang .
kaesang pun tersentak, melotot tajam, langsung meraih dagu Nadya dan ******* bibir merah Nadya.
Nadya pun terkejut dan melotot tajam sambil meronta minta dilepaskan,tapi kaesang tak mau melepaskan malah menggigit bibir Nadya dan semakin mencengkram tengkuk kepala Nadya untuk memperdalam ciumannya..
kaesang terus menghukum Nadya, kaesang melepaskan sebentar ciumannya namun kembali dia menyambar bibir merah Nadya yang manis, yang membuat kaesang tak mau berhenti.
Setelah dirasa cukup puas, kaesang pun melepaskan Nadya dengan senyum smricknya.
"hhhhh...gila ..." gumam Nadya yang ngos ngosan.
Kaesang tersenyum sambil memegangi bibirnya yang masih terasa manis karena bibir Nadya.
" masih meragukan" tanya kaesang dengan senyum liciknya.
Nadya hanya melotot tajam..
"dasar bos gila, satu pergi ,satunya tambah gila" gumam Nadya sambil melangkah pergi meninggalkan ruangan kaesang.
Kaesang hanya menandangi Nadya berlalu..
" Nad, Nad.. manis banget sih bibir lo, kenapa gak dari dulu gue cium lo.." gumam kaesang sambil tersenyum miring.
Nadya yang kesal pun berlari keluar dari ruangan kaesang.
Dia pun duduk di tempatnya sambil memegangi bibirnya yang agak perih...
deg...deg...
jantung Nadya jadi berdetak lebih cepat ketika mengingat kejadian barusan, karena baru pertama kali juga Nadya berciuman dengan seorang pria.
" ihhh .. perasaan apa ini, kok gue jadi berdebar gini ya ,pak kaesang memang gila, " gumam Nadya sambil tersenyum tipis.
Kaesang yang melihat dari balik tirai pun tersenyum puas ..
" tenang saja Nadya, sebentar lagi aku akan memilikimu seutuhnya, kamu akan mejadi pengantinku." batin kaesang yang sudah lama memendam perasaannya terhadap Nadya.
" Nadya, laporan dari PT.perkasa sudah selesai ini tinggal kamu minta tanda tangan sama pak kaesang." ucap Sari, teman kerja Nadya.
Nadya kembali mengingat kejadian barusan dan menutup wajahnya seakan tak percaya.
" eh ..lo kenapa sih nad , lo pucat gak pakai lipstik lo hari ini, bibir lo juga agak bengkak..lo sakit.." tanya Sari penasaran.
" eh..gak Sar, gue gue cuma gak enak badan aja.." jawab Nadya kelicutan sambil menunduk agar Sari tidak curiga kalau baru saja bibirnya yang bengkak akibat ulah kaesang.
" oke, ya udah lo diam saja di situ biar gue yang antar laporan ini ke ruangan pak kaesang." ucap Sari kemudian berjalan menuju ruangan kaesang.
Nadya tersenyum lega, tapi tiba tiba Sari kembali dan memanggil Nadya untuk ke ruangan kaesang segera, katanya ada masalah penting.
Nadya tersentak, dan dengan berdebar Nadya terpaksa masuk lagi ke ruangan kaesang.
Dengan pikiran campur aduk dan takut akan dipaksa melayani kaesang.
ceklekkkk...
Dengan gugup dan muka merah karena ketakutan Nadya masuk tak berani menatap kaesang.
Kaesang pun berdiri dan mendekati Nadya yang sangat menggemaskan.
" hei...kamu kenapa" tanya kaesang sambil berkacak pinggang dengan senyum manisnya.
" aku aku aku gak apa apa , kenapa pak kae memanggilku kemari" tanya Nadya dengan gugup.
" duduk , ayo duduk , aku mau ngomong serius sama kamu " pinta kaesang.
Nadya pun duduk di sofa.
" Nad, kamu masih ingat gak dengan temanku pak Andrew pemilik rumah makan ***** di kota B, tujuh tahun silam " tanya kaesang.
" memangnya kenapa pak, ya saya ingat sih walaupun gak begitu jelas , saya juga masih menyimpan surat kontraknya.." jawab Nadya.
Kaesang pun tersenyum
" wah...pinter kamu, gak rugi Bryan memilihmu sebagai sekertarisnya , dan sebentar lagi akan menjadi.." ucap kaesang tak meneruskannya.
" jadi apa pak " tanya Nadya yang polos.
kaesang mendekatkan wajahnya ke bibir Nadya dan mengecupnya singkat.
" hahhhh...dasar ...lagi lagi anda mencuri ciumanku, ciuman pertamaku sudah kau curi pak , sekarang masih hahhhh...awas kau pak kae" ketus Nadya dengan muka kesal .
Kaesang terkekeh" kamu harus membiasakan Nad, karena sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Kaesang Joseph." ucap kaesang dengan percaya diri.
" hahhh..apa maksutmu pak " tanya Nadya penasaran.
" mau gak kamu menjadi istriku, ibu dari anak anakku.."
" uhukkk uhukkk..." seketika Nadya tersedak.
" eh...kanapa sih kamu Nadya?" tanya kaesang.
" ehm.... secepat itu.." tanya Nadya sambil menunduk dengan sedikit tersenyum tipis.
Karena sebenarnya Nadya juga menaruh hati pada kaesang, yang awalnya dia suka sama Bryan, karena Bryan yang dingin kepadanya dan cintanya hanya pada Airin, jadi membuat Nadya berpindah mengagumi kaesang yang lebih humoris dan perhatian.
" Nadya, jawab dong, malah bengong" gertak kaesang yang membuat Nadya tersentak.
Nadya tersenyum menatap kaesang..
" kita lihat saja nanti " jawab Nadya sambil berlari keluar dari ruangan kaesang.
" hehh..nad, tunggu, belum selesai ngomong..awas ya kamu..." ucap kaesang sambil tersenyum senyum sendiri.
Nadya pun tampak senyum senyum sendiri di meja kerjanya.
Mereka berdua sama sama dimabuk cinta.
Sementara berbeda dengan cerita Airin, Bryan dan Alif, mereka sama sama saling memikirkan satu sama lain.
Bryan berpikir, Airin dan Alif saat ini sudah hidup bersama bahagia, sedangkan dirinya masih sama dengan cintanya yang besar dan sedetikpun tak mampu melupakan bayangan Airin di matanya.
Alif pun sama, dia berpikir saat ini Airin dan Bryan sudah hidup bahagia.
sedangkan Airin merasa dirinya tak lagi dihargai sebagai seorang wanita, Alif yang diharapkan menjadi pelabuhan terakhirnya malah menyerah begitu saja dan tak mau memperjuangkan cintanya, sedangkan Bryan... entahlah apa yang Airin rasakan untuk Bryan hanya Airin sendiri yang tau.
" mom, mulai hari ini mommy Jangan bersedih lagi, clay sudah janji sama papi tidak akan membiarkan mommy menangis lagi" ucap Clay sambil memeluk erat mommynya.
" baiklah sayang, nanti kita jalan jalan ya kita makan dan bermain main di Timezone sepuasnya... mau" ucap Airin yang membuat Clayton bersorak bahagia...
" ye.... maulah mom..." jawab Clayton dengan girang.
***
Akhirnya Airin dan Clayton pun bermain sampai petang, mereka puaskan diri mereka.
" clay, mommy capek ..kita istirahat yukkkk" ucap Airin sambil ngos ngosan dengan keringat menetes di mana mana.
" yah... mommy masa segitu saja capek, bentar lah mi...lagi nanggung nih " jawab clayton.
" bu Airin " panggil Cintia.
" oh...iya Cin, maaf ya aku nyusahin kamu, harus jauh jauh ke sini...sini duduk dulu Cin, aku pesenin makan ya " ucap Airin yang selalu baik dengan pegawainya.
" terimakasih bu Airin, tapi maaf saya baru saja makan, kebetulan saya juga baru saja bertemu dengan dokter Alif beliau mengajak saya makan" jawab Cintia.
" o..begitu.. Alif tanya apa saja Cin" tanya Airin.
" pak Alif menanyakan kabar bu Airin dan pak Bryan "
" terus kamu jawab apa"
" aku bilang tidk tahu bu"
" bagus Cin, lebih baik dia tidak tau apa apa, aku tidak ingin memikirkan masalah itu lagi aku akan fokus dengan bisnis kita, sebentar lagi aku akan membuka pabrik garmen dengan produk produk bed cover, sprei dan selimut.." ucap Airin sambil tersenyum.
" bu Airin sungguh hebat" ucap Cintia.
" ehm....ini bukan apa apa dan tidak akan menjadi apa apa tanpa kalian " ucap Airin kemudian tersenyum.
" o iya Cin, kamu sering ya ketemu sama dokter Alif " tanya Airin.
Cintia kelicutan takut kena marah , karena takut bu Airin akan cemburu.
" ehm... kamu pasti takut aku cemburu ya ?..tenang aja Cin aku tidak akan cemburu lagi aku sudah mengikhlaskan semuanya aku ikhlaskan takdirku, aku ikuti jalanku, kalau memang jodoh kamu dokter Alif yang nggak apa apa aku Sudah ikhlaskan semuanya" ucap Airin dengan senyum manisnya.
Cintia pun tampak berbinar dengan pipi memerah karena malu.
tiba tiba seseorang memanggil..
" Cintia...."
dan itu membuat Airin dan Cintia menoleh bersamaan.
deg deg...
Alif dan Airin saling menatap, dalam untuk mencari sebuah jawaban.
" Airin bagaimana kabarmu ?" tanya Alif.
" Alhamdulillah aku sehat dan bahagia Alif" jawab Airin dengan senyum manisnya.
" maaf ya , ehm..ehm..Airin, aku ..aku..
aku dan Cintia, kami...kami...kami..." ucap Alif gugup .
" iya Alif, kamu gak usah gugup gitu, aku sudah tau semuanya, Cintia adalah gadis yang baik, jangan pernah kau permainkan dia.. " ucap Airin sambil menggenggam tangan Cintia yang menunduk.
Alif tersenyum getir..
" maafkan aku Cintia, kalau kamu hanyalah pelarianku, karena cinta masih tetap sama untuk Airin, tapi seiring berjalannya waktu semoga Tuhan bisa merubah perasaanku padamu" batin Alif.
" pak Dokter, aku tau kamu hanyalah menjadikan aku pelarian cintamu, tapi aku rela asal kau bahagia, aku tulus mencintaimu, semoga suatu hari nanti Tuhan mendengarkan doaku dan merubah perasaanmu padaku,menjadi tulus mencintaiku.."
batin Cintia sambil terus menatap Alif yang sesekali mencuri pandang ke arah Airin yang sudah tak memperdulikannya.
Dan suasana pun mulai mencair ( tidak canggung lagi) saat Clayton datang mendekat dan ikut bercanda serta mengajak Alif dan Cintia ikut bermain dengan nya.