Banyak orang telah dipanggil ke dunia baru yang mirip dengan bumi untuk mengikuti sebuah permainan.
Dalam permainan itu mereka diberi dua buah sistem. Sistem Pengawas dan sistem informasi.
"Keren. Kayaknya aku bakalan jadi op kayak MC di komik-komik."
Tapi sayangnya...
"Sistem, bagaimana cara aku bisa bertahan hidup di dunia ini?"
[Ya mana aku tahu. Aku sistem pengawas bukan pembantuku.]
"Sistem, berikan aku informasi dari item legendaris ini."
[Mohon maaf, level anda terlalu rendah.]
"Sama-sama gak guna rupanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy_k1910, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. perjalanan
Angin berhembus kencang di bagian atas bangunan. Noza terlihat melompati satu bangunan ke bangunan lain berkat bantuan skillnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha agar tidak terlalu bergantung pada skillnya. Beberapa kali ia melakukan lompatan parkour yang hanya bisa dirinya lihat di film atau video di internet.
Di depannya ada Ryo dan Abi yang juga melakukan hal serupa. Hanya saja terdapat beberapa perbedaan.
Pemuda berambut putih panjang yang sekarang diikat gaya ekor kuda itu memiliki pergerakan yang simpel tapi penuh efisiensi. Sedangkan untuk Abi, pria itu lebih sering melakukan lompatan tinggi dan penuh tenaga.
Untuk Noza sendiri, dia masih kalah jauh dari mereka kalau tidak menggunakan skill.
'Yah sudahlah, toh tugas kita sekarang cuma perlu menangkap Ikan Terbang.'
[Ikan Terbang lv 1
Deskripsi: monster ikan kecil dengan sirip yang lebih besar dan tajam.
Skill:
- Pisau angin lv 1
- Hidup di dua alam lv 1
Kelemahan: suara ultrasonik]
Deg!
Noza menghentikan langkahnya dan mundur satu langkah. Tempat ia berpijak tadi langsung terkena serangan pisau angin dari Ikan Terbang.
"Mereka sudah ada di sini!" Perempuan itu berteriak.
Suara angin berhembus kencang terdengar. Noza berdecak kesal karena lupa mengikat rambutnya yang panjang.
Mata merah dan hitam Noza melihat Ryo yang membuat semacam pisau dari udara kosong. Jumlahnya puluhan, dan meski dilempar secara sembara pasti akan ada yang mengenakan monster incaran mereka ini.
[Misi sampingan: Ikan yang harusnya ada di air.
Deskripsi: tangkap minimal satu Ikan Terbang dan taruh mereka ke dalam air yang merupakan habitat alami mereka.
Waktu: 48 jam
Hadiah: 50 poin per ikan
Kegagalan: tidak bisa berenang selamanya.]
Di titik ini Noza kembali ke dirinya yang lama.
"Ryo, aku serahkan sisanya padamu!" Perempuan itu berteriak. Dia jelas menikmati posisinya sebagai ketua yang hanya perlu menyuruh anggotanya.
'Sekarang aku tahu kenapa orang-orang jaman dulu suka punya budak.'
Perempuan berambut hitam itu melompat mundur beberapa langkah agar aman dari pertarungan Ryo serta Abi melawan sekumpulan Ikan Terbang.
"Yah, Noza yang pemalas udah datang. Kenapa Noza yang gila gak muncul aja? Hei, kau bisa memilih mana saja alter egomu yang mau muncul kan? Tolong munculkan Noza yang gila dong. Aku penasaran hal gila apa lagi yang mau dilakukan olehnya."
Komentar Nimbus itu Noza abaikan sepenuhnya.
Perempuan itu memeriksa salah satu itemnya yang paling tidak biasa.
[Item: Kerang Serbaguna
Deskripsi: Kerang yang menghasilkan mutiara ajaib yang bisa mengabulkan permohonan jika diberi makan yang banyak.
Efek saat ini: menghasilkan Mutiara Kehidupan
Makan: (9/10) ]
'Hmm, aku bisa menjadikan Ikan Terbang sebagai makanan bukan? Semoga saja Ryo membawakan lebih banyak.'
Noza memperhatikan dari kejauhan di mana Ryo dan juga Abi sibuk mengambil Ikan Terbang dengan memakai item dan skill yang mereka miliki.
Ryo menggunakan kalung rantai dan kemampuan telekinesis miliknya. Dalam kurung waktu kurang satu menit ia berhasil menangkap sekitar 5 ekor ikan.
Untuk Abi, pria itu juga luar biasa. Dia menangkap Ikan Terbang dengan tangan kosong.
Meski anak buahnya ini memiliki kekuatan untuk meregenerasi seluruh anggota tubuhnya, Noza masih ngeri ketika membayangkan pria itu rela menahan rasa sakit demi menang dari Ryo.
Ingin sekali Noza berkata bahwa untuk mengalahkan orang gila seperti Ryo, maka dia juga harus menjadi jauh lebih gila.
'Omong-omong aku penasaran apa hasil yang sebenarnya dari pertarungan pertamaku dengan Ryo. Apa dia benar-benar kalah dariku?'
Noza menghela nafas panjang. Ingin sekali ia mengabaikan keanehan Ryo dan fokus bertahan hidup di dunia ini
Tetapi karena dirinya yang bersikeras untuk tetap waspada maka Noza tak punya pilihan lain.
'Jadi pengen mie ayam.'
Tap!
Noza menoleh ke arah suara dan melihat Ryo dengan senyuman lebar serta lima ekor Ikan Terbang yang terikat di item sejenis rantai.
Noza tersenyum lebar. "Selamat, kau makin hebat saja, Ryo."
Ryo menggaruk rambutnya sembari tersipu malu. Dia belakang Abi melayangkan tatapan tajam seperti seseorang yang ingin melakukan pembunuhan.
'Yah, selagi yang diincar bukan aku gak masalah sih.'
Noza mengambil dua ikan dari Ryo. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Icha.
Benar. Wanita berambut coklat itu tidak muncul karena sedang menjaga alat transportasi kelompok ini. Sebuah mobil van yang telah dimodifikasi sedemikian rupa.
Untuk tugas jaga biasanya dilakukan bergiliran, akan tetapi Icha telah terserang oleh sesosok monster yang sekarang membuatnya terbaring lemah tak berdaya.
Noza tak marah. Lagi pula kalau tidak ada Icha yang berdiri dibelakangnya waktu itu, Noza yakin bahwa dirinyalah yang akan terbaring dalam mobil.
Melihat Noza yang mengambil sebagian buruan Ryo pun membuat Abi mau tak mau juga memberikan sebagain buruannya.
Kini remaja itu memiliki tiga ekor.
"Ayo pulang, sudah lama aku mau masak ikan bumbu pedas manis."
Ada sedikit perubahan dalam ekspresi Abi.
Setelah bersama kurang lebih satu Minggu, Noza yang menjadi ketua mau tak mau harus memperhatikan setiap anggotanya.
Mulai dari makanan kesukaan.
Icha dan Abi suka makanan pedas. Terutama untuk Abi yang bisa nyemil cabai selama seharian penuh tanpa sakit perut.
Kalau Icha, dia suka makanan pedas tapi yang tidak berkuah.
Untuk Ryo, pria itu sangat-sangat suka makanan manis.
Noza ingat dia pernah melihat Ryo menggabungkan nasi dan juga roti coklat. Alasannya sih agar makan jadi lebih cepat selesai.
Dan banyak lagi informasi yang sudah ia kumpulkan.
Tap!
Noza menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke sebuah arah di mana bangunan-bangunan tinggi berada.
Ryo dan Abi langsung bersiap-siap. Ini adalah tanda bahwa Noza telah melihat bahaya di beberapa detik kedepan.
"Abi, perisai."
Abi mengangguk dan mengeluarkan item berupa cincin batu akik. Cincin tersebut langsung mengeluarkan semacam perisai hologram raksasa yang menutupi merek bertiga dari berbagai sisi.
Noza mengirimkan pesan pada Icha agar bersembunyi dan tidak keluar dari mobil.
Remaja itu mengeluarkan Belati Tanpa Tuan dan membuangnya begitu saja ke tanah. "Ayo lari."
Ding!
[Skill 'Trampolin' diaktifkan.
Waktu: lima menit.
Cooldwon: dua detik.]
"Kenapa kita tidak menghajar merek?" Abi dan sifat bar-bar nya pun bersuara.
"Simpel saja. Granat."
Tepat setelah Noza mengatakan itu sebuah ledakan besar terdengar jauh di belakang mereka.
Noza menghela nafas dalam diam. Dia bertanya-tanya, kenapa orang-orang suka bertarung satu sama lain di dunia ini dan tidak bekerja sama?
Kenangan buruk sepintas muncul dan benak Noza.
'Menyebalkan.'
Remaja itu mengeluarkan tas dari inventori, dalam tas itu Noza mengambil sebuah botol kaca kecil yang berisi seekor lalat.
Rencana Noza simpel, dia mengambil sepotong sirip Ikan Terbang dan menggunakannya sebagai makanan dari lalat dalam botol.
Pyar!
Botol itu pecah ketika Noza melemparkannya ke belakang.
Setelah mengamati tingkah laku lalat ini, Noza menyadari bahwa mereka hanya ada berada di dalam suatu wilayah dalam jarak 5 kilometer dan akan mati dalam waktu 24 jam tanpa makanan.
Meski sedikit merusak tapi Noza yakin bahwa wabah lalat ini akan mengganggu kelompok yang menyerangnya tadi.
'Untung saja aku menyembunyikan mobil van di tempat yang jauh.'
semangat terus berkarya nya🥰🥰