Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Permintaan Maaf
Pagi itu, Devan tidak pergi ke kantor. Pria itu tiba-tiba mengambil jatah liburnya, ia sudah duduk di sofa ruang tengah sejak pukul enam pagi dengan dua cangkir kopi hitam yang sudah dingin di atas meja. Lingkaran hitam di bawah matanya makin jelas.
Sepanjang malam, Devan sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kata 'cerai' yang diucapkan Aira semalam terus bergema di kepalanya.
Ketika pintu kamar Aira perlahan terbuka sekitar pukul sembilan pagi, Devan langsung berdiri dari duduknya.
Aira keluar dengan pakaian kasual, rambutnya dikuncir asal, dan raut wajahnya benar-benar datar tanpa emosi. Cewek itu berjalan menuju dapur buat mengambil segelas air putih, seolah-olah tidak ada Devan yang sedang berdiri menatapnya dengan raut cemas di dekat meja bar.
Devan mengambil napas panjang, mencoba memberanikan diri. "Ra... bisa kita bicara sebentar?"
Aira menghentikan gerakan tangannya yang baru saja menuang air dingin. Ia melirik Devan lewat sudut matanya, lalu menyunggingkan senyuman miring.
"Bicara apa lagi, Pak Argawinata?" sahut Aira dengan nada sarkas andalannya yang tajam. "Mau ngobrolin berkas perceraian kita? Atau mau pamer koleksi oleh-oleh dari cewek luar negeri lu yang lain?"
Meski hatinya tercubit mendengar sindiran menusuk itu, Devan merasa sangat lega. Syukurlah... setidaknya cewek ini masih mau ngomong dan merespons, walau lewat kalimat sarkas. Daripada Aira diam membisu seperti seminggu kemarin, Devan jauh lebih memilih menghadapi Aira yang menyemprotnya dengan kalimat pedas.
Devan melangkah pelan mendekati Aira. Matanya menatap Aira lurus.
"Soal gelang itu..." suara Devan meluncur pelan.
"Gue bohong, Ra. Gelang ini... beneran gelang pemberian lu waktu ulang tahun gue ke-17. Gue cuma... gengsi waktu lu ledekin malam itu. Gue minta maaf, Ra. Sumpah, gue beneran minta maaf udah ngomong kasar dan bikin lu sakit hati."
Aira terkekeh pelan. Ia meletakkan gelasnya di atas meja dengan dentingan pelan.
"Oh, gitu?" balas Aira, melipat tangannya di dada sambil menatap Devan sinis. "Terus kalau lu udah minta maaf, gue harus langsung sujud syukur dan bilang 'gak apa-apa kok, Devan'? Lu pikir sakit hati gue cuma sekelas drama anak TK yang selesai cuma gara-gara kata 'maaf'?"
Devan menelan ludahnya. "Gue tahu kata maaf aja gak bakal cukup, Ra. Gue sadar gue salah banget. Tapi tolong... kasih gue kesempatan buat memperbaiki semuanya. Kita coba lagi dari awal, pelan-pelan."
Aira menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak, Devan. Keputusan gue udah bulat," tegas Aira. "Ayo kita cerai. Kita urus baik-baik ke Papi sama Mami. Nanti gue yang bakal ngomong dan tanggung jawab ke Papi karena ini murni kemauan gue."
Mendengar kata 'cerai' kembali meluncur dengan mudahnya dari bibir Aira, raut wajah Devan seketika mengeras. Pria itu menyapu rambutnya ke belakang dengan jari-jemarinya, lalu menegakkan tubuhnya.
"Enggak, Aira. Gue tegasin sekarang... kita gak akan pernah cerai," ucap Devan penuh penekanan di setiap katanya.
Aira mengernyitkan alisnya, emosinya mulai terpancing naik. "Lu gak bisa egois gini ya! Pernikahan ini dari awal cuma paksaan Papi! Buat apa diterusin kalau cuma bikin kita berdua menderita?!"
"Gue gak merasa menderita!" potong Devan cepat, matanya menatap Aira tajam. "Gue gak akan pernah nandatanganin surat cerai apa pun yang lu sodorin. Sampai kapan pun, lu tetep istri gue, Aira."
"Lu tuh gila ya?!" sembur Aira frustrasi, menunjuk dada Devan dengan telunjuknya. "Lu gak suka sama gue, Devan! Lu benci sama gue, dan gue juga benci setengah mati sama lu! Buat apa kita pertahanin hubungan kaya gini?!"
"Siapa bilang gue gak suka sama lu?!" bentak Devan pelan, gemas setengah mati dengan pemikiran cewek di depannya ini.
Aira mengepalkan kedua tangannya, matanya mulai memerah menatap Devan dengan tatapan menuntut.
"Kalau lu emang suka sama gue... kenapa delapan tahun lalu lu tega mutusin gue secara sepihak, Devan?!" jerit Aira, suaranya mulai bergetar saat memori pahit masa SMA itu menerobos keluar. "Kenapa waktu itu lu tinggalin gue gitu aja di tengah hujan pas hari ulang tahun gue?! Kenapa lu ngomong 'bosen' dengan muka lu yang tanpa dosa itu, terus lu menghilang ke luar negeri bertahun-tahun tanpa kabar?!"
Dada Aira naik-turun menahan sesak yang menghimpit dadanya.
"Jelasin ke gue sekarang, Devan!" tuntut Aira dengan napas memburu, air mata mulai menumpuk di pelupuk matanya. "Jelasin ke gue alasan sebenarnya kenapa lu mutusin gue waktu itu! Kalau lu bisa jelasin dengan alasan yang masuk akal... gue bakal mikir dua kali buat cerai!"
Devan membeku di tempatnya.
Mendengar tuntutan Aira soal kejadian delapan tahun lalu. Pria itu mengepalkan jemarinya di samping tubuh. Ia membuang pandangannya ke samping, menolak menatap mata Aira yang penuh harap dan luka itu.
Pria itu menghela napas panjang, lalu kembali menatap Aira.
"Masa lalu gak usah dibahas lagi, Ra," kata Devan dingin. "Kejadian delapan tahun lalu itu udah lewat. Gak ada yang perlu dijelasin lagi. Yang penting sekarang itu masa kini... kita yang sekarang."
Jleg!
Aira terpaku di tempatnya. Senyuman miris dan penuh kekecewaan terukir di bibirnya.
'Masa lalu gak usah dibahas lagi...'
'Gak ada yang perlu dijelasin lagi...'
Kalimat penolakan dari Devan itu bagaikan siraman air es yang memadamkan sisa-sisa harapan kecil di dalam dada Aira. Aira terkekeh pelan, menepuk dahi sendiri sambil menggelengkan kepala tak percaya.
Kejengkelan dan rasa sakit di hati Aira meledak mencapai puncaknya. Di dalam pikiran Aira sekarang... semuanya terasa makin masuk akal dan makin beralasan.
Devan menolak menjelaskan masa lalu karena pria itu memang tidak pernah punya alasan yang baik! Devan memutuskannya dulu murni karena benci atau bosen, dan sekarang... Devan mempertahankan pernikahan ini karena gengsi, tuntutan bisnis, atau perintah dari Papi Surya! Pria ini sama sekali tidak pernah menyukainya dengan tulus.
"Lu bener-bener jahat ya, Devan..." bisik Aira, suaranya bergetar penuh kemarahan. "Lu yang mulai semuanya, lu yang hancurin perasaan gue delapan tahun lalu, dan sekarang lu minta gue buat lupain gitu aja tanpa ada penjelasan?!"
Devan melangkah maju, meraih bahu Aira. "Ra, bukan gitu maksud gue—"
"LEPASIN GAK!" Aira menepis tangan Devan dengan kasar, melangkah mundur menjauh dari pria itu.
"Gue gak bakal pernah sudi fokus ke masa kini kalau lu sendiri masih simpen rahasia dan bersikap sok berkuasa kayak gini!" tegas Aira. "Terserah lu mau bilang apa. Mau lu gak mau tanda tangan, mau lu mau tahan gue di sini... niat gue buat cerai dari lu udah seratus persen! Lu gak bakal bisa ubah itu!"
Tanpa memberikan kesempatan bagi Devan untuk membalas sepatah kata pun, Aira berbalik melangkah menuju kamarnya.
Brak! Klek!
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍