Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Denting bel yang menandakan berakhirnya jam kuliah statistik sosial disambut dengan helaan napas lega masal dari seluruh penjuru kelas. Dosen pengampu segera merapikan buku materinya dan melangkah keluar, diikuti oleh para mahasiswa yang berhamburan merapikan tas mereka.
Di barisan tengah, Gino langsung menyampirkan tas ranselnya ke satu bahu dengan wajah yang sengaja dibuat semerana mungkin [Gino]. Ia berdiri di depan meja Shirin, melipat lengan kirinya ke dada sembari meringis dramatis.
"Fiks, Rin. Kulit lengan gue yang suci ini udah resmi membiru," keluh Gino dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar Aurel dan Reyhan yang berjalan mendekat dari barisan belakang bisa mendengar. "Ini namanya cedera dalam pengerjaan tugas kelompok. Pokoknya sore ini lo wajib bertanggung jawab mengobati lengan gue di kantin bawah! Nggak mau tahu, minimal beliin es cendol jumbo buat kompres dalam!"
Shirin yang sedang memasukkan tempat pensilnya ke dalam tas hanya bisa memutar bola matanya malas. Namun, melihat wajah memelas Gino yang terlihat begitu kocak, sudut bibirnya tidak bisa berbohong untuk tidak terangkat geli. "Lebay banget sih lo, Gin. Cuma dicubit begitu aja lagaknya udah kayak habis pulang dari medan perang."
"Yee, kecil-kecil gitu tangan lo setara sama tang kepiting raksasa tahu nggak!" balas Gino tidak mau kalah.
Aurel yang berjalan di sebelah Reyhan langsung meledak dalam tawa cemprengnya yang khas begitu sampai di dekat mereka. "Hahaha! Sukses bener emang karma instan lo, Gin! Makanya, lain kali kalau mau jadi makelar gosip meja belakang, urat takutnya dipasang dulu."
Reyhan yang berdiri tenang di samping Aurel dengan tas denimnya hanya terkekeh renyah sembari menggelengkan kepala, ikut terhibur melihat tingkah ajaib sahabatnya.
"Udah, Rin, turutin aja maunya. Kasihan itu maba buaya kalau nggak dikasih asupan es cendol bisa mogok kerja buat draf bab empat besok," timpal Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang lempeng, memicu Gino langsung mengacungkan jempol setuju.
"Nah! Dengerin tuh kata Pangeran Denim! Suara elite kelompok udah mendukung!" seru Gino heboh.
Shirin akhirnya mengembuskan napas panjang sembari menggendong tasnya. "Yaudah, iya! Ayo ke kantin. Gue beliin es cendol, tapi lo sendiri yang tempelin gelasnya ke lengan lo, ya. Emang dasar manja!"
Mereka berempat akhirnya berjalan beriringan keluar dari ruang kelas menuju koridor kampus yang mulai temaram dinaungi pendar senja. Di sepanjang jalan, Gino terus-terusan mengoceh tentang taktik pengobatan es cendol versinya, sementara Shirin sesekali menimpali dengan kalimat ketus yang mengundang tawa Aurel.
Aurel tersenyum tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam, menyelaraskan langkah kakinya di samping Reyhan. Rasa sesak, cemburu, dan luka getir akibat cinta sepihak masa lalunya bersama Bang Edward yang sempat mengungkungnya dalam jalan buntu, sore ini bener-bener telah larut sepenuhnya. Di bawah sinaran matahari senja yang hangat, dikelilingi oleh riuhnya komedi dari para sahabat setianya dan samudera kesabaran yang selalu ditunjukkan oleh Reyhan, Aurel sadar hidup mabanya telah resmi membuka lembaran baru yang dipenuhi oleh kehangatan nyata.
Suasana di kantin seberang kampus sore itu terasa jauh lebih rileks dibandingkan jam istirahat siang tadi. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma manis dari stan es cendol tempat Shirin terpaksa memenuhi tuntutan pertanggungjawabannya kepada Gino. Di meja kayu panjang sudut kantin, sebuah gelas es cendol jumbo dengan nangka melimpah akhirnya mendarat di depan Gino.
"Ahhh, ini baru namanya penawar racun kepiting raksasa!" seru Gino dramatis sembari menempelkan dinding gelas yang dingin dan berembun itu ke lengan kirinya yang habis dicubit Shirin. Wajahnya seketika memasang ekspresi lega yang sangat kocak.
Shirin yang duduk di seberangnya mendengus geli sembari mengaduk es jeruknya sendiri. "Lebaynya nggak ilang-ilang ya lo, Gin. Buruan diminum, keburu cendolnya mekar kayak otak lo pas ngerjain rumus tadi."
Aurel yang duduk di sebelah Shirin meledak dalam tawa cemprengnya yang khas, merasa terhibur dengan interaksi ajaib kedua sahabatnya. Sementara itu, Reyhan duduk dengan tenang di sebelah Aurel, menikmati es kopi susunya sembari sesekali tersenyum tipis mendengarkan ocehan Gino. Sifat jahil nan lempeng dari cowok berjaket denim itu terbukti menjadi jangkar yang aman, membuat atmosfer pertemanan kelompok mereka terasa begitu cair dan nyaman tanpa ada kecanggungan.
Bzzzt! Bzzzt!
Tiba-tiba, ponsel Aurel yang tergeletak di atas meja kayu bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp mencuat langsung di bagian atas layar kunci, menampilkan nama pengirim yang seketika membuat fokus Aurel terputus. Itu dari Bang Edward.
Jantung Aurel mendadak melompat dari ritme normalnya, memicu sensasi deg-degan keras nan familier yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya. Dengan jemari yang mendadak sedikit kaku, ia menyambar ponselnya.
Bang Edward: Bocil, kelas lo udah bubar belum dari tadi? Lo udah posisi di rumah apa masih kelayapan di kampus?
Bang Edward: Buruan balik, jalanan arah kompleks mulai padat sore ini. Awas ya kalau sengaja nongkrong lama-lama nggak jelas. Kasih tahu gue kalau udah sampai rumah.
Membaca untaian kalimat perintah yang dikemas posesif penuh perhatian dari cowok yang dicintainya dalam diam itu, wajah Aurel dalam hitungan detik langsung kembali memerah padam sempurna. Salah tingkah gila-gilaan merajai dirinya, menciptakan rona merah yang matang hingga ke hulu telinga. Aurel refleks memeluk ponselnya di dada dengan senyum manis yang tertahan kuat di sudut bibirnya.
Gino yang memiliki radar gosip tingkat dewa, langsung menghentikan sedotan es cendolnya. Sepasang matanya menyipit jenaka menatap perubahan drastis pada ekspresi Aurel. "Waduh, waduh... lirik instan ke layar terus mukanya langsung berubah jadi kepiting rebus bumbu padang lagi. Fiks, ini mah dapet chat instruksi protokol dari kating intel sayur kita!"
"Gino! Diem deh lo!" semprot Aurel salah tingkah, buru-buru menundukkan kepala demi menyembunyikan senyumnya di balik layar ponsel sembari mengetik balasan kilat: Udah bubar kok, Bang. Ini lagi di kantin bentar sama Shirin Gino. Bentar lagi gue langsung meluncur pulang kok. Cerewet bener.
Di sebelah Aurel, Reyhan perlahan meletakkan gelas es kopinya. Sepasang mata teduh milik cowok denim itu menangkap dengan sangat jelas bagaimana binar mata Aurel mendadak menjadi begitu hidup dan penuh debaran hanya karena sebuah pesan teks. Sebagai cowok yang memiliki samudera kesabaran dan keikhlasan yang besar, Reyhan tahu betul posisi hatinya saat ini. Ia paham bahwa namanya tidak akan pernah bisa menggeser bayang-bayang Bang Edward secepat itu. Namun, Reyhan memilih untuk tetap bersabar, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat hangat dan tulus demi menjaga kenyamanan hati partnernya.
Aurel mengembuskan napas panjang yang hangat setelah menekan tombol kirim. Di tengah riuhnya ledekan Gino dan Shirin yang kembali menggema di sudut kantin sore itu, rasa cemburu masa lalu akibat Kak Anita perlahan melunak tanpa sisa. Didekap oleh perhatian manis dari Bang Edward lewat chat barusan, dan dilindungi oleh luasnya kesabaran dari Reyhan di sebelahnya, Aurel sadar lembaran hidup mabanya akan tetap berjalan dengan penuh kehangatan yang mendalam.
Suasana ruang makan di kediaman keluarga Reyhan malam itu terasa begitu menyejukkan. Aroma harum dari ayam panggang rosemary dan sup krim jamur buatan Mama Catherine mengepul hangat di atas meja makan kayu jati, berpadu dengan pendar lampu gantung kekuningan yang temaram.Reyhan yang sudah berganti mengenakan kaus rumahan santai abu-abu duduk dengan posisi tegap andalannya. Ia menyendok supnya dengan gerakan tenang dan lempeng tanpa beban, mendengarkan obrolan ringan kedua orang tuanya.
Di ujung meja, Papa Damian meletakkan sendoknya perlahan. Pria paruh baya bertubuh tegap dengan pembawaan matang itu menatap sang istri dan anak bujangnya secara bergantian. Sebuah senyuman penuh rencana yang hangat seketika terbit di wajahnya.
"Catherine, Reyhan," panggil Papa Damian, suaranya yang berat memecah keheningan meja makan. "Tadi sore di kantor, Wira sempat telepon Papa lagi setelah dia koordinasi sama Tom dan Viktor. Rencana agenda liburan keluarga besar bersama ke Bali akhir bulan ini ternyata sudah fiks seratus persen disetujui oleh semua pihak."
Papa Damian menjeda kalimatnya, menyesap teh hangatnya sejenak sebelum menatap lekat-lekat ke arah sang istri. "Nah, Wira sama Crish tadi nekat menodong Papa. Mereka bilang, dinasti keluarga sahabat lama kita nggak akan lengkap kalau kita nggak ikutan gabung. Jadi, Papa mau nanya sama kamu dan Reyhan... apa kita mau ikut liburan nanti bersama keluarga Aurel dan yang lainnya?"
Mendengar pertanyaan itu, Mama Catherine langsung meletakkan garpunya dengan binar mata yang seketika berbinar cerah penuh kegembiraan. "Aduh, Mas, kalau aku sih jelas setuju banget! Sudah lama sekali kita nggak kumpul komplit sama Zeline, Olivia, dan Amy buat jalan-jalan sekalian arisan keluarga besar. Apalagi ini momennya pas sekali buat syukuran pulihnya perusahaan Tom dari luar negeri."
Mama Catherine kemudian mengalihkan pandangan penuh artinya ke arah anak laki-laki tunggalnya yang masih sibuk mengunyah dengan wajah luar biasa lempeng tanpa dosa. "Kalau kamu gimana, Rey? Kamu mau ikut, kan? Kan di sana nanti ada Shirin sama Aurel juga, teman-teman satu kelompok tugas kuliah kamu."
Mendengar nama Aurel diseret ke dalam obrolan meja makan malam ini, gerakan sendok Reyhan sempat terhenti sesaat di udara. Namun, sebagai cowok yang memiliki intuisi tajam dan kedewasaan yang luar biasa, ia langsung menguasai ekspresi wajahnya kembali menjadi sangat tenang.
Reyhan tahu betul, liburan keluarga besar nanti akan menjadi panggung di mana Aurel akan terus berada dekat dengan Bang Edward. Ia paham bahwa ia mungkin harus menyaksikan bagaimana binar mata Aurel selalu dipenuhi debaran manis hanya untuk kating siaga satu itu sepanjang waktu. Namun, alih-alih menolak atau menghindar karena cemburu, samudera kesabaran dan keikhlasan di dalam dada Reyhan justru membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang teramat teduh dan tulus.
"Reyhan ikut aja, Pa, Ma," sahut Reyhan santai dengan nada suara beratnya yang stabil dan suportif. "Kebetulan jadwal pengumpulan draf bab empat Pak Baskoro digeser pasca-liburan. Jadi Reyhan bisa sekalian mantau biar draf tugas kelompok kami tetap aman dan nggak hanyut terbawa ombak pantai Bali."
Papa Damian meledak dalam tawa renyah, menepuk pundak anak laki-lakinya dengan penuh rasa bangga selaku sesama lelaki. "Hahaha! Bagus kalau begitu! Alasan analisis kelompok lo emang selalu taktis, Rey. Fiks ya, Catherine, kita ambil bagian dalam rombongan dinasti liburan akhir bulan ini!"
"Yes! Nanti Mama langsung kabari Zeline malam ini juga!" timpal Mama Catherine penuh semangat.
Di balik riuhnya kesepakatan hangat kedua orang tuanya malam itu, Reyhan perlahan meneguk air putihnya hingga kandas. Di dalam hatinya yang paling dalam, janji sunyi yang ia pegang teguh sejak dari kafe tempo hari terasa semakin mantap. Kesabarannya untuk tetap tinggal sebagai pelindung yang suportif bagi kenyamanan hati Aurel terbukti tidak pernah goyah. Bagi Reyhan, melangkah mundur secara teratur bukan berarti ia harus menghilang, melainkan bersiap menjadi benteng terkuat yang menjaga senyum ceria gadis itu agar tetap utuh sepanjang liburan nanti.
Di dalam kamarnya yang bernuansa pastel, Aurel sedang tengkurap di atas kasur empuknya. Sisa-sisa debaran manis dari video call Bang Edward semalam masih terasa, namun malam ini otaknya yang usil mendadak memikirkan rencana lain yang jauh lebih seru.
Aurel menatap layar ponselnya, lalu sebuah senyuman jahil yang sangat lebar seketika terbit di bibirnya. Ia teringat bagaimana Gino tadi sore meratapi nasibnya di kantin karena merasa terzalimi tidak diajak liburan keluarga besar ke Bali.
"Bentar, kalau dinasti maba kita mau komplit, si buaya satu ini jelas nggak boleh ketinggalan," gumam Aurel riang.
Tanpa ba-bi-bu, Aurel langsung membuka kontak Gino dan menekan tombol panggilan suara. Ia sengaja menghubungi Gino secara diam-diam tanpa memberi tahu Shirin terlebih dahulu. Ia sengaja ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Shirin nantinya di bandara jika mendapati Gino tiba-tiba ikut dalam rombongan. Pasti wajah sahabat karibnya itu akan sangat kocak dan salah tingkah tingkat tinggi.
Hanya butuh dua kali nada sambung sampai suara Gino menyahut dengan nada malas khasnya dari seberang telepon. "Halo, Rel? Ada apaan malam-malam telepon? Lo mau minta ganti rugi kertas memo yang diremas tadi di kelas?"
"Bukan, Gino! Ini jauh lebih penting dari itu!" sela Aurel menggebu-gebu, menahan tawa gembiranya agar tidak bocor. "Gini, Gin. Barusan banget bokapnya Reyhan, Om Damian, fiks konfirmasi kalau keluarganya ikut gabung liburan keluarga besar kita ke Bali akhir bulan ini. Rombongan kita udah komplit parah!"
"Yaelah, Rel... lo telepon gue cuma buat pamer keadilan sosial lagi? Sumpah ya, dada gue makin perih denger kalian semua bersenang-senang di pantai," keluh Gino dramatis di seberang sana.
"Makanya dengerin dulu, Buaya Kompleks!" potong Aurel gemas. "Gue telepon lo ini murni mau ngajak lo ikut liburan juga ke Bali! Tapi ada syaratnya. Lo jangan lupa ajak Tante Sarah dan Om Alvin sekalian, biar orang tua lo bisa gabung arisan dan bincang bisnis bareng Daddy Wira, Papa Crish, dan Om Tom!"
Di seberang saluran, Gino sempat terdiam selama tiga detik penuh karena syok, sebelum akhirnya suara pekikan hebohnya pecah merusak keheningan malam. "DEMI APA PUN, REL?! Gue diajak?! Bokap nyokap gue juga diajak bergabung?!"
"Iya, serius! Daddy Wira tadi sore emang bilang kalau dinasti keluarga kita bakal lebih seru kalau makin ramai. Makanya, lo buruan rayu Om Alvin sama Tante Sarah malam ini juga biar langsung urus tiketnya bareng Bang Gavin!" perintah Aurel taktis. "Tapi inget ya, Gin. Lo harus tutup mulut rapat-rapat! Jangan sampai Shirin tahu tentang rencana ini. Gue sengaja pengen lihat ekspresi mukanya dia nanti pas ngelihat lo tiba-tiba muncul di bandara membawa koper!"
Gino langsung meledak dalam tawa puas yang sangat menyebalkan di seberang telepon, insting jahilnya seketika menyala di level maksimal. "Hahaha! Gila, Rel! Ide lo berkelas banget, spek dewa! Fiks, malam ini juga gue bakal pasang mode anak berbakti demi ngerayu Nyokap sama Bokap biar dapet lampu hijau. Gue bayangin muka Shirin melongo di bandara aja udah bikin lengan gue yang habis dicubit tadi mendadak sembuh total!"
"Nah, mantap! Pokoknya eksekusi malam ini ya, Gin. Kabari gue secepatnya kalau Om Alvin udah setuju. Bye, rekan konspirasi!" pamit Aurel puas sebelum akhirnya memutus sambungan telepon dengan senyum kemenangan yang merekah sempurna di bibirnya.
Aurel melempar ponselnya ke atas kasur, lalu berguling ke tengah tempat tidur sembari tertawa geli sendiri membayangkan kehebohan bandara akhir bulan nanti. Di bawah pendar lampu kamarnya yang temaram malam itu, rasa cemburu dan sesak akibat cinta sepihak masa lalunya kepada Bang Edward perlahan tersamarkan sepenuhnya oleh riuhnya rencana liburan rahasia ini. Bersama plot konspirasi kocak yang ia susun bersama Gino malam ini, Aurel tahu lembaran hidup mabanya akan berjalan dengan penuh warna kehangatan yang tak terlupakan.
Sementara Aurel sedang senyam-senyum sendiri menanti hasil konspirasi mereka di kamarnya, atmosfer ketegangan tingkat tinggi justru sedang melanda kediaman keluarga Gino. Begitu sambungan telepon dari Aurel terputus, Gino tidak membuang waktu sedetik pun. Ia langsung merapikan rambutnya, memasang wajah paling alim yang ia punya, dan melangkah turun menuju ruang tengah.
Di sana, Om Alvin sedang duduk santai membaca berkas laporan bisnisnya, sedangkan Tante Sarah sedang menikmati teh hangat sembari memotong beberapa buah segar.
Gino berdehem pelan, lalu melangkah dengan ritme yang sangat sopan—sebuah gestur langka yang langsung membuat kedua orang tuanya mendongak dengan kening berkerut curiga.
"Papi, Mami... Gino yang ganteng dan berbakti ini mau menyampaikan sebuah amanah mahapenting dari dinasti para kolega Papi," buka Gino dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, langsung mendaratkan bokongnya di karpet bulu tepat di dekat lutut ibunya.
Tante Sarah menurunkan garpu buahnya, menatap anak lanangnya penuh selidik. "Ada apa sih, Gino? Kalau datang-datang mukanya dilempeng-lempengkan begitu, biasanya ada maunya. Nilai tugas kamu turun lagi?"
"Yee, sembarangan! Nilai tugas kelompok Gino kemarin dapat predikat sempurna dari Pak Baskoro ya, Mi!" protes Gino bangga, sebelum kembali ke mode merayu [Gino]. "Ini tuh soal Om Wira, Om Crish, Om Tom yang baru balik dari luar negeri, sama Om Viktor. Barusan banget Aurel telepon Gino, katanya akhir bulan ini rombongan keluarga besar mereka fiks mau liburan syukuran bersama ke Bali."
Om Alvin langsung menurunkan berkasnya, mulai tertarik. "Oh, Wira sama Crish jadi mengeksekusi rencana liburan itu? Tom juga ikutan?"
"Ikutan banget, Pi! Malah barusan Om Damian, papanya Reyhan, juga udah konfirmasi kalau keluarganya ikut gabung lengkap!" seru Gino menggebu-gebu, memajukan tubuhnya dengan binar mata memohon yang sangat dramatis. "Nah... Om Wira tadi nekat menodong lewat Aurel. Katanya, liburan dinasti persahabatan kalian nggak akan sah dan bakal sepi banget kalau Om Alvin sama Tante Sarah nggak ikut bergabung. Mami sama Papi diajak resmi, nih! Ayo dong, Pi, Mi, kita ikut! Kapan lagi kumpul komplit sekalian syukuran perusahaannya Om Tom?"
Tante Sarah melirik suaminya, mulai goyah karena tergoda agenda kumpul arisan bersama Mommy Zeline dan Mama Olivia. "Mas, kalau dipikir-pikir menarik juga ya. Sudah lama sekali kita nggak jalan-jalan komplit antarkeluarga besar."
Om Alvin tampak memijat dagunya perlahan, menimbang-nimbang jadwal kerjaannya di awal bulan. Melihat sang ayah yang masih ragu, Gino langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia memeluk lutut Tante Sarah dengan wajah memelas yang super kocak. "Ayo dong, Mami Sayang, rayu Papi! Kasihan anak maba lo yang berprestasi ini, butuh refreshing biar otaknya nggak kaku gara-gara rumus statistik. Lagian kalau Papi ikut, kan bisa sekalian bahas perluasan proyek properti baru bareng Om Wira di pinggir pantai. Efisiensi kerja sambil menyelam minum air, Pi!"
Mendengar argumen taktis berbasis sosiologi bisnis yang meluncur dari mulut anak bujangnya, Om Alvin seketika tidak bisa menahan tawa renyahnya. Ia geleng-geleng kepala, lalu menepuk pundak Gino dengan gemas.
"Hahaha! Dasar kamu ya, Gin. Alasan proyeknya bisa pas banget dimunculin," kekeh Om Alvin, senyum lebarnya akhirnya terbit sepenuhnya menandakan kemenangan mutlak bagi Gino. "Ya sudah, Papi setuju. Kebetulan jadwal audit akhir bulan bisa Papi delegasikan ke sekretaris. Nanti biar Papi langsung telepon Wira buat urus penyelarasan tiketnya."
"YES! Hidup Papi Alvin kating terbaik sepanjang masa!" sorak Gino heboh, langsung melompat berdiri melakukan selebrasi udara yang sangat rusuh hingga memicu tawa dari Tante Sarah.
"Tapi inget ya, Gin. Di Bali nanti kamu jangan nakal dan harus jagain anak-anak gadis orang dengan bener, terutama Shirin," goda Tante Sarah penuh arti, membuat Gino langsung menyengir lebar dengan kedipan mata yang sangat misterius.
Di dalam hatinya, Gino sudah tertawa puas membayangkan plot konspirasi jebakan yang ia susun bersama Aurel semalam. Lampu hijau sudah resmi didapatkan, orang tuanya fiks ikut, dan sekarang tinggal menghitung hari untuk melihat bagaimana wajah Shirin akan melongo sempurna penuh salah tingkah di bandara nanti saat melihat kehadirannya. Bersama riuhnya tawa di ruang tengah malam itu, Gino tahu akhir bulan nanti Bali akan dipenuhi oleh warna komedi keluarga besar mereka yang teramat seru.
Hari H yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Bandara Internasional Soekarno-Hatta pagi itu terasa begitu riuh dan padat oleh lalu lalang calon penumpang. Di area terminal kedatangan dan keberangkatan internasional, rombongan dinasti keluarga besar sudah berkumpul lengkap. Mulai dari keluarga Daddy Wira, Papa Crish, Papa Viktor, hingga keluarga Om Tom—papa dari Shirin—yang baru pulih dari krisis bisnisnya.
Shirin berdiri di dekat tumpukan koper keluarganya dengan memegang paspor, tampak berseri-seri. Di sebelahnya, Aurel berkali-kali melirik jam tangan dengan senyum misterius yang terus tertahan di bibir.
"Rel, lo kenapa sih dari tadi jelalatan mulu kayak intel sayurnya Bang Edward?" bisik Shirin heran, menyenggol lengan sahabatnya.
Sebelum Aurel sempat berkilah, dari arah pintu masuk terminal, sebuah kehebohan tak terduga mendadak pecah. Suara tawa lantang yang sangat akrab membelah kerumunan.
Tiba-tiba