Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Sejarah Masa Lalu
Para murid kelas X mulai melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis, memadati area lobi museum yang luas dengan gelombang keramaian. Suasana di dalam sana masih begitu riuh oleh suara langkah kaki, gelak tawa, dan bisik-bisik antusias dari para siswa angkatan mereka.
"Wah... jadi ini bentuknya museum, ya?" gumam Rio takjub, menengadah mengagumi tinggi bangunan berplafon kaca besar tersebut.
Zahra melirik sinis ke arah temannya itu. "Lu kenapa sih, Rio? Kayak baru pertama kali seumur hidup masuk museum aja. Belum pernah ke sini emangnya?"
"Pakai nanya... ya jelas belum lah!" jawab Rio tanpa rasa bersalah.
Hahaha... tawa kecil Putri lepas begitu saja mendengar kepolosan Rio.
Rio yang merasa jadi pusat perhatian langsung mengalihkan topik. Ia menoleh ke arah sisi kanannya dan menepuk bahu Reno. "Oh iya, kalau lu sendiri gimana, Reno? Pernah ke museum? Lu kan terkenal anak orang kaya!" tanyanya penasaran.
"Emm... jujur aja, malah belum pernah sih," jawab Reno santai sambil memasukkan tangannya ke kantong celana.
Nadia, si anak baru yang sejak tadi berjalan di dekat mereka, langsung menyela dengan mata membelalak kaget. "Ehh, tunggu dulu... lu anak orang kaya?"
Reno menoleh, mengerjap pelan. "Eh, iya... emangnya kenapa, Nad?"
"Hmm... nggak papa, cuman nggak nyangka aja. Biasanya kan anak orang kaya gayanya sok sombong atau jaim gitu," komentar Nadia blak-blakan.
Reno terkekeh pelan. "Ha-ha-ha, iya sih, stereotipnya emang gitu. Tapi ya... aku kaya karena hasil kerja keras bapakku, bukan dari hasil pamer harta atau hal lain."
"Ouhh... pantesan pembawaannya santai," angguk Nadia paham. "Kalau lu sendiri, Nadia, pernah ke museum?"
Nadia mendengus ringan. "Hmm, pernah sekali waktu zaman SMP dulu, pas ada acara wajib."
"Wihh, serius?! Kok masa SMP gue beda sendiri ya?" keluh Rio dramatis. "Waktu SMP sekolah gue malah ngajaknya ke pantai mulu. Panas, woy! Gosong kulit gue!"
Zahra memutar bola matanya malas. "Eleh... bukannya bagus ya kalau piknik ke pantai? Bisa sekalian berjemur, main voli pantai, cuci mata..."
"Ha-ha-ha... ya itu sih plusnya, tapi kalau tiap tahun ke pantai kan bosan!" balas Rio sewot.
Di tengah obrolan riuh itu, Danu menghela napas pelan sambil merapikan tali tasnya. "Kalian enak ya... bisa santai menikmati study tour begini, sedangkan aku... ahh, sudahlah, nggak usah dipikirkan," gumamnya lirih.
Zahra yang mendengar ucapan itu langsung menepuk lengan Danu pelan. "Ehh... ya gapapa kali, Danu. Yang penting sekarang lu udah di sini dan ikutan study tour kan?"
Danu tersenyum tipis, rasa hangat perlahan menjalar di dadanya. "Hehe... iya juga ya," tawa kecilnya menyusul.
"Apalagi, acara study tour ini biayanya gratis ditanggung sekolah! Makin semangatlah jalan-jalannya!" seru Rio mengobarkan semangat kelompoknya.
Setelah sekitar lima menit mereka menunggu sambil bercanda, seorang staf museum berompi khusus yang bertugas sebagai pemandu melangkah ke depan barisan rombongan.
"Halo, teman-teman semuanya!" sapa sang pemandu dengan senyum ramah.
"Halo!" balas para siswa serempak.
"Perkenalkan, nama saya Tasya! Saya yang akan menemani dan menjelaskan sejarah apapun yang ingin kalian tanyakan sepanjang tour kita hari ini!" ucap Kak Tasya penuh energi. "Dan di sebelah saya, ada rekan saya yang namanya Ferri!"
Kak Tasya menyenggol bahu pria di sampingnya dengan siku. "Sapa dong, woy," bisiknya setengah berbisik namun masih terdengar oleh barisan depan.
Ferri mendongak lesu, menatap kerumunan murid dengan mata setengah terpejam. "Hai... saya... Ferri... salam kenal..." suaranya terdengar datar tanpa nyawa.
Hahaha...! Tawa langsung pecah di antara para siswa.
"Wah, lucu banget! Si cowok itu kayak orang nggak ada kehidupan aja!" komentar Rio tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi datar Ferri.
Zahra langsung menyikut pinggang Rio pelan. "Sttt! Jangan suka ngurusin hidup orang, pamali!" peringatan dari Zahra membuat Rio buru-buru menutup mulutnya sambil nyengir.
"Ehm... baiklah, Kak Tasya akan memandu kalian. Nah, di sebelah sini ada..."
Pemandu ramah itu mulai menjelaskan lembaran demi lembaran sejarah masa lalu secara runtut. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong pameran, Kak Tasya dengan sabar menanggapi berbagai pertanyaan acak yang dilontarkan oleh para murid, sementara Ferri mengekor di belakang dengan langkah gontai sambil membawa papan catatan seolah nyawanya tinggal setengah.
Kegiatan berkeliling dan mendengarkan penjelasan di dalam museum itu berlangsung cukup seru selama kurang lebih tiga puluh menit.
Hingga akhirnya, rombongan tiba di area istirahat (rest area) yang sejuk dan luas. Seketika itu juga, anak-anak kelas X langsung berhamburan mencari tempat duduk, merebahkan punggung mereka yang pegal di kursi-kursi panjang yang dingin.
"Haa... capek juga ya jalan muter-muter begitu. Enaknya sekarang mau ngapain nih?" keluh Rio sambil mengipasi lehernya dengan brosur museum.
"Hmm... gimana kalau kita cari jajanan dulu? Yuk!" seru Danu bersemangat.
Rio melirik takjub. "Wih, kalau urusan makan atau jajan aja, semangat lu langsung 45 ya, Dan!"
Danu hanya nyengir lebar. "Hehe..."
"Ayo deh, gas! Gue juga mau beli es jeruk nih, tenggorokan rasanya kering banget gara-gara ngobrol terus," balas Zahra ikut berdiri.
Mereka berenam pun mulai melangkah beriringan menuju area kafetaria museum yang terletak di sudut ruangan.
Di tengah jalan, Nadia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya berbinar menatap salah satu stan makanan ringan di ujung lorong kafetaria.
"Hmm, guys... gue ke sebelah sana dulu sebentar ya!" pamit Nadia. Tanpa menunggu jawaban, cewek tomboy itu langsung berlari kecil menghampiri stan jajanan yang sepertinya menjual makanan kesukaannya.
Namun, sebelum benar-benar melangkah jauh, Nadia berbalik badan sejenak. Ia melambaikan tangan, memanggil Reno yang berjalan agak di belakang agar tidak tertinggal dan terjebak rasa canggung di tengah squad mereka yang super bising ini.
"Reno! Sini ikut gue sebentar!" panggil Nadia.
"Mau ngapain ke sini? Nggak ikut gabung mereka aja?" tanya Reno bingung sambil mengikuti langkah kaki Nadia.
"Udah, sini ikut saja," jawab Nadia santai tanpa menoleh.
"Oke, oke."
Mereka berdua akhirnya tiba di sebuah gerobak stan kecil yang berada di sudut kafetaria. Aroma daging panggang yang harum langsung tercium menggugah selera. Ternyata, stan itu adalah penjual kebab turki hangat.
"Bang, beli satu kebab ya," pesan Nadia ramah.
"Oke, duduk dulu ya sebentar," balas sang penjual.
"Ya."
Nadia memilih duduk di kursi kayu panjang di sebelah Reno. Gadis itu menatap lurus ke depan sambil menunggu pesanannya dibuat.
"Jadi... ngajak kesini mau ngapain?" tanya Reno penasaran.
"Hmm, nggak ada apa-apa sih, cuma mau ngobrol aja sama lu. Mumpung di sekolah kemarin-kemarin udah ada kejadian apa aja emangnya?" tanya Nadia balik menyelidik.
Reno berpikir sejenak. "Hmm... nggak ada kejadian aneh-aneh sih. Ya... paling cuma pertengkaran kecil antara gue sama Danu dkk gara-gara masalah biasa."
"Pertengkaran macam apa tuh?"
"Ya... kayak adu nyanyi siapa yang suaranya paling bagus. Eh, pas giliran didengerin, ternyata suara mereka memang jauh lebih bagus dari gue, ya udah akhirnya gue milih nyerah," cerita Reno sambil tertawa kecil.
"Oh..."
"Kenapa lu tiba-tiba penasaran begitu?" selidik Reno balik bertanya.
"Hmm... penasaran aja sama dinamika kelompok kalian," jawab Nadia enteng.
Reno mengangguk-angguk. Namun sedetik kemudian, Nadia mendengus pelan sambil melipat tangan di dada. "Haa... bosenin banget ya ternyata ngobrol sama lu, kaku banget."
Reno langsung salah tingkah. "E-eh... maaf, gue memang tipikal orang yang kurang bisa cair kalau ngobrol."
Nadia terkekeh renyah melihat ekspresi panik Reno. "Yaelah, santai saja kali, muka lu jangan tegang gitu."
Sementara Reno dan Nadia sibuk mengobrol santai di stan kebab, situasi di meja kafetaria tempat keempat teman mereka berada justru jauh berbeda—malah berakhir dengan kekacauan yang mengundang gelak tawa.
Keempat anak itu ternyata sedang asyik bermain game Ludo di ponsel Rio untuk menentukan hukuman siapa yang kalah taruhan. Dan sialnya, Zahra lah yang harus menerima kekalahan telak.
Kini, di tengah kafetaria yang ramai, Zahra terpaksa harus menuruti perintah konyol dari Rio sebagai bentuk hukuman, membuat meja mereka mendadak jadi pusat perhatian satu angkatan.
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...