Indonesia
NovelToon NovelToon
Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Dewa Lukis Kecantol Siluman Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Suami amnesia / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Musang_Galau

Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa-sisa Masa Lalu

Di ambang pintu utama galeri yang terhempas terbuka lebar, debu dan gulungan angin perlahan menyusut. Di sana berdiri seorang lelaki paruh baya berjubah putih sederhana, tetapi wibawanya terasa begitu kuat. Wajahnya penuh peluh, dadanya kembang-kempis setelah mengerahkan gelombang angin berskala besar untuk menghentikan serangan maut Yueji.

Melihat adegan mengerikan di depannya, ketika kepala seseorang hampir saja terpisah dari tubuh, mata lelaki itu membelalak. Tanpa membuang waktu, ia langsung menjatuhkan diri dan berlutut rendah di ambang pintu.

"Saya Bagas, Leluhur! Murid pertama Guru Katara!" serunya dengan suara bergetar. "Mohon tahan tangan Anda!"

Yueji menghentikan sabetannya tepat beberapa senti dari leher Dandi. Angin tajam yang berputar di jemarinya perlahan menghilang, meninggalkan keheningan yang mencekam. Kedua alis cantiknya terangkat sedikit, lalu aura membunuh yang sejak tadi memenuhi ruangan lenyap begitu saja.

Dalam hitungan detik, wajah Yueji kembali netral. Sosok iblis haus darah tadi seolah tidak pernah ada, berganti menjadi seorang wanita cantik yang anggun. Hanya saja, kaki kanannya masih santai menginjak dada Dandi, menekan tubuh pemuda itu ke lantai marmer.

Yueji memiringkan kepala, menatap lelaki paruh baya di ambang pintu dengan pandangan menyelidik. "Katara punya murid?" gumamnya.

Bagas tidak berani menatap langsung wajah sang leluhur. Ia menundukkan kepala semakin dalam, kedua tangannya menangkup di atas marmer. "Betul, Leluhur. Hamba adalah murid pertama sekaligus satu-satunya murid yang dituntun langsung oleh Guru Katara sebelum beliau berpulang."

"Hmm... begitu?" Yueji mengetuk-ngetukkan jarinya di atas paha. Rasa penasarannya mulai muncul. "Jurus apa yang dia ajarkan kepadamu semasa hidupnya?"

Bagas menarik napas panjang, berusaha menata energi yang masih berantakan. "Sebelum wafat, Guru memberikan sebuah warisan ilmu rahasia. Ilmu Transformasi Segel Rubah. Melalui ajaran beliau, hamba dapat mengeluarkan jurus dan teknik elemen rubah tanpa harus berwujud siluman sepenuhnya."

Tatapan Yueji menajam. Ia sangat mengenali nama ilmu itu, salah satu variasi teknik turunan dari klannya sendiri yang pernah ia ajarkan kepada Katara ribuan tahun lalu.

"Benarkah?" Nada suaranya terdengar setengah ragu, setengah menguji.

"Betul, Leluhur. Jika Leluhur berkenan, hamba bisa langsung memperlihatkannya sebagai bukti."

"Coba kamu perlihatkan."

Bagas mengangguk tegas. Ia berdiri perlahan dan mengambil jarak dua langkah. Kedua tangannya disilangkan di depan dada, lalu jemarinya bergerak cepat membentuk serangkaian segel rumit dengan presisi. Dalam sekejap, aura energi spiritual berwarna keemasan merebak memenuhi ruangan hingga dinding-dinding galeri bergetar halus.

Dari balik punggung Bagas, muncul dua bayangan semu berbentuk rubah dengan ekor yang lebat. Wujud spiritual itu menggeram pelan, memancarkan hawa murni yang sangat familiar bagi Yueji.

Yueji memperhatikan wujud energi itu tanpa berkedip sebelum senyum tipis mengembang di bibirnya. "Ah, benar. Warna aura dan pola segelnya tidak bisa berbohong. Ternyata kau memang murid Katara."

Mendengar pengakuan itu, Bagas langsung kembali berlutut hingga dahi dan kedua tangannya menyentuh lantai marmer.

"Leluhur... mohon maaf hamba baru bisa datang dan bersujud hari ini. Selama beberapa dekade terakhir, hamba bermeditasi di kota seberang. Dari kejauhan, hamba sudah merasakan aura kebangkitan Leluhur kembali hadir di dunia ini. Namun, butuh waktu bagi hamba untuk melacak jejak pasti keberadaan Anda."

Yueji mengibaskan tangan kirinya dengan santai. "Tidak apa-apa. Tak perlu merasa bersalah. Lagipula, aku memang tidak berniat mengunjungi atau mengumpulkan sisa-sisa jejak masa lalu. Zaman sudah berubah."

Bagas agak mendongak. "Maksud Leluhur?"

"Aku sedang menikmati hidup baruku," sahut Yueji santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Aku suka jadi manusia biasa di zaman modern begini. Apalagi sekarang aku punya suami yang tampan, manis, dan sangat bertanggung jawab. Hidupku sudah sangat tenang."

Bagas tersentak. Seorang leluhur agung yang pernah ditakuti berbagai sekte di masa purba kini memilih hidup sebagai ibu rumah tangga biasa? Namun, mengingat amanat besar yang diembannya, Bagas memberanikan diri kembali bersuara.

"Tapi... Leluhur," sela Bagas hati-hati. "Sebelum meninggal dunia, Guru Katara pernah berpesan dengan sangat tegas. Jika suatu hari Leluhur bangkit kembali ke dunia fana, hamba diminta segera menjemput dan mengantar Leluhur tinggal di Sekte Bangau Putih. Kami sudah menyiapkan takhta tertinggi untuk Anda pimpin."

Yueji terkekeh pelan. Tawa renyahnya terdengar manis, tetapi tegas saat ia menggelengkan kepala.

"Aku tidak bisa mengabulkan permintaan itu, Bocah." Yueji sama sekali tidak ragu memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan bocah. "Aku tidak tertarik dengan urusan sekte, perebutan kekuasaan, atau pertapaan membosankan seperti dulu. Aku sudah damai hidup di sini bersama suamiku. Titik."

Bagas terdiam. Ketaatannya pada amanat almarhum gurunya berbenturan langsung dengan titah sang leluhur sendiri. Ia tidak berani membantah lagi.

Saat Bagas mengalihkan pandangan ke bawah untuk mengatur napas, matanya menyapu lantai marmer di bawah kaki Yueji. Seketika wajahnya berubah pucat.

"Dandi?!" Bagas menatap pemuda yang sejak tadi dijadikan alas pijakan oleh Yueji dengan mata melotot. "Kamu... kamu sedang apa di sini?!"

Dandi yang sedari tadi menahan napas sampai wajahnya kebiruan hanya mampu mengerang kecil. Tubuhnya gemetaran hebat, jas mewahnya sudah lecek dan kotor karena diinjak.

Yueji ikut menundukkan kepala. "Anak ini kelewat batas. Datang-datang bawa rombongan, kelakuannya tidak sopan, dan berani-beraninya berniat mencelakai kami."

Mendengar hal itu, wajah Bagas langsung mengeras. Aura mengintimidasi kembali memancar dari tubuhnya. "Lancang sekali kamu, Dandi! Berani-beraninya mengusik kediaman Leluhur! Biar aku sendiri yang mencabut nyawamu dan membersihkan namamu dari dunia ini!"

Bagas melangkah maju dengan telapak tangan terangkat.

"Bagas, tunggu!" Dandi buru-buru menyela. "Aku ke sini justru mau meluruskan kesalahpahaman!"

Bagas menghentikan langkahnya. "Maksud kamu apa?!"

"Tolong aku dulu!" Dandi melirik ketakutan ke arah kaki Yueji. "Dadaku mau remuk!"

Melihat situasi yang serba salah itu, Bagas akhirnya menarik napas panjang. Ia kembali menghadap Yueji, lalu menjatuhkan lutut dan bersujud di hadapan sang wanita.

"Leluhur... hamba memohon ampun atas kelakuan tidak beradab anak ini. Hamba memohon izin agar Leluhur sudi melepaskan Dandi terlebih dahulu. Setelah itu, masalah ini bisa dijelaskan."

Yueji mengembuskan napas malas sambil memutar bola matanya. "Baiklah."

Dengan santai, Yueji mengangkat kakinya dari dada Dandi. "Bagas, kamu yang urus anak ini. Jelaskan semuanya baik-baik. Jangan ada yang berani mengganggu ketenanganku lagi."

"Baik, Leluhur. Petunjuk Anda akan hamba laksanakan." Bagas tetap membungkuk sampai Yueji membalikkan badan.

Tanpa membuang waktu atau menoleh lagi, Yueji melangkah santai menuju pintu belakang, kembali ke halaman tempat suaminya berada.

Sepeninggal Yueji, tekanan gaib yang menindih ruangan seketika menguap. Dandi langsung terbatuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya sambil memegangi dada kirinya yang memar kebiruan. Empat pengawalnya di belakang menyapu keringat dingin dengan tangan gemetaran.

Bagas menghampiri Dandi dengan wajah masih dipenuhi amarah. "Dandi, ada apa sebenarnya ini?!" gertaknya.

"Bawa... bawa aku duduk dulu..." Dandi mengerang kesakitan sambil mengulurkan tangan yang gemetaran.

1
Lagu Teu Baleg
semangat Thor ya
Alinsyah 70: oke siap 👍
total 1 replies
Ruang Senddu
lumayan seru
Waaaaaa_
Hallo aku mampir
Alinsyah 70: Makasih loh udah mampir, maaf loh kalau ceritanya kurang bagus
total 1 replies
Ruang Senddu
seru, mari saling dukung
Doodle Music
semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!