Indonesia
NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Kartu, Pesan, dan Detak Jantung

Belum lama berselang, pintu ruang tindakan terbuka lebar. Tim dokter keluar sambil mendorong brankar yang diduduki oleh Tante Mila. Wajahnya terlihat tenang, meski masih terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di lengan kanannya.

Dokter yang berjalan di samping brankar tersenyum lega saat melihat mereka yang menunggu dengan cemas.

"Syukurlah, tindakan berjalan lancar," ucap dokter itu lembut.

"Kondisi pasien sekarang sudah stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Untuk saat ini, dua orang diperbolehkan menengok sebentar saja. Ingat, pasien butuh istirahat yang cukup."

Rasa lega seketika menyelimuti hati mereka. Meloudy menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia mengalir di pipinya. Nadine di sampingnya ikut meneteskan air mata, mengusap bahu keponakannya dengan lembut.

Vano tersenyum tulus, ikut merasa lega. Ia melangkah mundur sedikit, memberi ruang bagi mereka berdua.

"Silakan masuk berdua," ucapnya pelan.

"Aku akan menunggu di luar sini."

Meloudy menoleh padanya, matanya berbinar penuh rasa terima kasih yang tak terucapkan. Ia mengangguk pelan, lalu berjalan masuk bersama Nadine ke ruang perawatan tempat ibunya beristirahat.

Tiga puluh menit berlalu…

Meloudy keluar dari ruang perawatan dengan langkah yang lebih tenang, senyum tipis masih tersungging di bibirnya. Namun saat matanya menyapu lorong yang tadinya ditempati Vano, tempat itu sudah kosong.

Hanya seorang pria yang berdiri di dekat pintu keluar — Reino, asisten pribadi Tuan Vano. Ia menundukkan pandangannya ke layar ponsel sesekali, memastikan tidak ada pesan yang terlewat, namun matanya tetap waspada, menunggu sosok yang ditunggunya keluar dari ruang perawatan. Saat melihat Meloudy melangkah keluar, ia segera menutup ponselnya, berdiri tegak, lalu berjalan mendekat dengan langkah yang sopan namun pasti.

"Maaf, Nona Meloudy," ucapnya sopan sambil menyodorkan sebuah kartu ATM. "Tuan Vano menitipkan ini untuk Anda."

Meloudy tersentak sedikit, lalu mendorong pelan tangan itu kembali.

"Maaf, Kak… tapi saya tidak bisa menerimanya. Terima kasih sudah menyampaikan niat baik Tuan Vano, tapi ini terlalu berlebih. Saya tidak pantas menerimanya," ucapnya lembut namun tegas.

Reino tersenyum canggung, namun tangannya tetap terulur di tempatnya.

"Saya mohon pengertiannya, Nona. Ini perintah langsung dari Tuan Vano. Beliau pesan, kartu ini harus ada di tangan Anda sebelum saya meninggalkan rumah sakit. Kalau Anda tidak menerima, saya yang akan repot, Nona. Beliau tidak suka jika perintahnya tidak terlaksana."

Meloudy terdiam, melihat ketegasan sekaligus keberatan di wajah pria itu. Sebelum sempat berpikir lebih jauh, ponsel di tangannya bergetar — notifikasi pesan masuk dari WhatsApp. Ia membukanya perlahan:

'Aku menitipkan kartu ATM-ku pada Reino. Kamu ambil dan gunakan untuk membeli beberapa makanan yang kamu, Kak Nadine, dan Ibu suka. Jangan khawatir soal batasnya, isinya cukup untuk membeli satu apartemen — kau boleh kok menghabiskan semuanya. Maaf ya karena aku tidak pamit langsung. Semoga Ibumu cepat sembuh. — Vano.'

Jari-jemari Meloudy bergetar membaca pesan itu. Akhirnya, dengan napas panjang, ia menerima kartu itu dari tangan Reino.b

"Baik… terima kasih, Kak Reino. Saya akan menjaganya, dan akan saya kembalikan langsung kepada Tuan Vano."

Reino menghela napas lega, tersenyum tulus.

"Terima kasih banyak, Nona. Semoga Ibu Anda lekas sembuh."

...****************...

Di dalam mobil yang melaju pelan di jalanan malam yang sepi, ponsel di dasbor tiba-tiba berdenting pelan. Vano melirik sekilas, lalu tersenyum tipis saat melihat nama pengirimnya. Ia menepi sebentar ke pinggir jalan, lalu membuka pesan itu:

'Terima kasih banyak, Tuan. Saya hanya akan membeli buah-buahan, beberapa cemilan, dan 1 bungkus rokok — hadiah buat saya karena Tuan sampai mengancam Asisten Reino! 😋'

Deg...

Satu detik berlalu, dan senyum di bibirnya perlahan melebar. Hatinya terasa hangat, begitu hangat hingga ia tak sadar mengapa. Emotikon kecil di akhir pesan itu seakan menatapnya, seakan Meloudy sedang tersenyum tepat di hadapannya.

Namun tak lama kemudian, dadanya kembali berdenyut kencang. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, seakan hendak melompat keluar. Ia memegang bagian kiri dadanya, napasnya sedikit terhenti.

Lagi… lagi… batinnya berbisik, bingung sekaligus tak berdaya.

Kenapa aku begini lagi? Kenapa setiap kali namanya muncul, setiap kali ada senyum di pesannya… jantungku berdebar tak menentu seperti ini? Tenanglah… tenanglah, jantungku…

Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak mau diam. Namun di sudut hatinya yang lain, ia tak bisa menyangkal — ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan lagi.

Vano tersenyum masih menatap layar ponsel itu, bergumam pelan pada dirinya sendiri:

"Kalau saja tidak ada yang memanggilku pulang… aku pasti akan menemani mu lebih lama lagi, Meloudy."

...----------------...

Flashback — 30 menit yang lalu

Vano berdiri sendirian di lorong rumah sakit, menunggu Meloudy di dalam ruang perawatan. Pikirannya tenang, hatinya terasa damai hanya dengan tahu bahwa ia ada di dekatnya. Namun ponsel di saku jasnya tiba-tiba berdering nyaring — nama yang tertera di layar membuatnya menegang seketika. Kakek Darman.

"Ya, Kek…"

"Sedang apa kau di rumah sakit!" Suara berat di seberang sana langsung memotong, tidak ada sapaan, langsung bertanya tegas.

Vano terkejut, berhenti berjalan seketika. Kakek tahu dari mana aku di sini?

"Aku… hanya menemani seorang teman, Kek."

"Segera datang ke kediaman utama sekarang. Seluruh keluarga sudah berkumpul. Jangan membuat mereka menunggu." Panggilan diputus sepihak.

Vano menatap layar yang gelap, dahinya berkerut dalam. Ia berpikir sejenak, lalu satu nama terlintas di benaknya,

Ina Marlina.

Pasti Ina sudah mengatakan semuanya pada Damian, tentang dirinya yang telah tidur dengan adik sepupunya sendiri. Namun… Vano sudah tidak peduli lagi.

Biarlah terjadi apa pun, batinnya mantap.

Kalau Damian membenciku, tak apa. Aku sudah lelah hidup dalam ancaman ini. Biar kebenaran terungkap, sekalipun itu menyakitkan semua orang.

Tanpa membuang waktu, ia segera menekan nomor Reino.

"Reino, kau sudah sampai di depan rumah sakit? Segera ke lorong utara sekarang. Aku akan menunggumu sebentar — ada kartu ATM yang harus kau sampaikan kepada Nona Meloudy segera setelah beliau keluar dari ruang perawatan. Jangan sampai beliau menolaknya. Bilang ini perintahku. Aku harus pergi sekarang."

Ia menutup telepon tepat saat Reino berlari mendekat. Setelah menyerahkan kartu itu dan berpesan singkat namun tegas, Vano melangkah pergi — meninggalkan tempat itu dengan hati yang berat, tanpa sempat berpamitan langsung.

...----------------...

Kembali ke masa kini, di dalam mobil yang terparkir di pinggir jalan, Vano menghela napas panjang, menyimpan ponselnya kembali ke saku.

"Baiklah… sampai jumpa besok, Meloudy."

^^^ Bersambung...^^^

1
Miranda.
terus kalo lu awalnya ga suka sama elona, kenapa berhubungan sama dia jir?😡😡
Miranda.
Vano brengsekk. mentang² kaya aja mempermainkan wanita kau jingan!!😡😡😡
Miranda.
yep. sadar juga nih orang/Smug/
Miranda.
gajelas jir si Vano. aku kalo jadi elona kek eughh
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Tak ada yang bisa mengalihkan pikiran Vano dari sosok gitaris yang terus membayangi pikirannya. Ya, meskipun disekelilingnya penuh dengan suara musik, tapi pikirannya tetap tertuju pada Laudys
Xlyzy
Alhamdulillah semoga ibu lekas membaik dan puluh supaya melody ga sedih lagi
Xlyzy
dengarkan ibu mu mel pasti itu pertanda baik
Isma Iis
gak sekalian aja orangnya langsung bawa pulang suruh main gitar di depan anda Tuan Vano
Isma Iis
gak bisa Tuan, meloudy harus menyembunyikan lengannya terutama dari anda Tuan Vano
Isma Iis
pas tau ternyata meloudy itu Laudy, nyesal tau rasa
Isma Iis
galak amat
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Arni Arlinawati Pratiwi💃: weh.. emak langsung pindahan ke sana.. kalo semua mua serba 10 ribu, pindah tempat tinggal.. asal jangan pindah alam aja! 🗿
total 1 replies
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!