Indonesia
NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

BAB 4: Tangan Lebih Cepat dari Mata

[Sudut Pandang: SURA]

Kelas "Persepsi & Observasi" tidak diadakan di ruang kelas, melainkan di sebuah aula besar yang disulap menjadi replika Grand Ballroom istana.

Lantai marmer mengkilap, meja-meja panjang penuh dengan makanan palsu dari lilin, dan puluhan manekin (boneka peraga) berpakaian mewah berdiri kaku dalam berbagai pose: ada yang sedang berdansa, ada yang sedang berbisik, ada yang memegang gelas anggur.

Di tengah ruangan, berdiri Madame Morigan. Dia adalah wanita paruh baya dengan mata tertutup kain hitam tebal. Rumor mengatakan dia buta, tapi Sura curiga wanita itu bisa melihat lebih baik daripada elang.

"Selamat datang di Ilusi," suara Madame Morigan lembut namun menusuk, seperti jarum sutra. "Tugas kalian hari ini sederhana. Berjalanlah mengelilingi ruangan ini. Berbaurlah dengan para 'tamu' (manekin). Waktu kalian lima menit."

Sura berdiri di pinggir kelompok murid. Dia memeluk buku Sejarah Pengkhianatan Dinasti—buku curian semalam—di dadanya erat-erat. Dia sudah membacanya sampai bab 3 sebelum matahari terbit. Matanya perih kurang tidur, tapi adrenalin membuatnya tetap terjaga.

"Ingat aturannya," lanjut Madame Morigan. "Dilarang menyentuh properti. Dilarang berbicara. Dan yang paling penting... dilarang melewatkan detail sekecil apa pun."

"Mulai!"

Lima puluh murid berhamburan masuk ke area ballroom.

Anak-anak bangsawan itu berjalan dengan dagu terangkat, mencoba meniru gaya orang tua mereka di pesta sungguhan. Mereka sibuk mengamati manekin: Siapa yang memakai lencana pangkat jenderal? Siapa yang memegang surat rahasia?

Sura berjalan santai. Langkahnya ringan, nyaris tanpa suara. Kebiasaan lamanya sebagai pencopet mengambil alih. Matanya tidak terpaku pada wajah manekin, tapi pada saku, lipatan baju, dan... tangan murid-murid lain.

Di tempat seperti ini, bahaya bukan datang dari boneka lilin. Bahaya datang dari saingan.

Sura melihat Jarek, pemuda bertubuh besar yang kemarin mengejeknya di gerbang, berjalan mendekat. Jarek menyeringai. Dia sengaja mengubah jalur jalannya untuk memotong langkah Sura.

Brak.

Jarek menabrak bahu Sura dengan keras saat mereka berpapasan di dekat meja prasmanan.

"Ups," bisik Jarek mengejek. "Maaf, Nona Udik. Jalannya terlalu sempit untuk egomu."

Sura terhuyung sedikit, tapi dia segera menyeimbangkan diri. Dia tidak membalas. Dia hanya menunduk, merapikan mantelnya, dan terus berjalan.

"Dasar lemah," dengus Jarek pelan, lalu tertawa bersama teman-temannya.

Di sudut ruangan, bersandar pada sebuah pilar, Kian Arselio mengamati kejadian itu. Dia tidak ikut berjalan berkeliling. Dia hanya berdiri diam, matanya mengikuti setiap gerakan Sura.

"Waktu habis!" seru Madame Morigan.

Semua murid kembali berbaris di depan. Wajah mereka tegang, siap menjawab pertanyaan tentang manekin mana yang memegang pisau atau surat.

"Baiklah," kata Madame Morigan. Dia berjalan mondar-mandir di depan barisan murid. "Saya tidak akan bertanya tentang manekin. Itu terlalu mudah. Itu untuk anak TK."

Madame Morigan berhenti tepat di depan Jarek.

"Saya akan bertanya tentang apa yang terjadi di antara kalian."

Suasana menegang.

"Tuan Jarek," panggil Madame Morigan.

"Ya, Madame!" jawab Jarek percaya diri.

"Saat kau menabrak Nona Valerine tadi..." Madame Morigan menolehkan kepalanya yang tertutup kain ke arah Sura. "...kau mengambil sesuatu dari meja prasmanan dan menyelipkannya ke saku mantel Nona Valerine. Benar?"

Wajah Jarek memucat. "S-saya... tidak..."

"Jangan berbohong pada orang buta, Nak. Pendengaranku bisa menangkap gesekan kain sutramu melawan wol kasar mantelnya."

Seluruh kelas menoleh ke arah Sura. Jarek tersenyum licik. Rencananya terbongkar, tapi hasilnya tetap sama: Sura akan tertangkap basah membawa barang curian.

"Nona Valerine," perintah Madame Morigan. "Kosongkan saku kanan mantelmu."

Sura maju selangkah. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

Dia merogoh saku kanannya yang besar. Jarek menahan napas, menunggu Sura mengeluarkan sendok perak kerajaan yang tadi ia selipkan diam-diam untuk memfitnah gadis itu.

Tangan Sura keluar.

Kosong.

Hanya ada segumpal benang wol.

"Lho?" mata Jarek melotot. "Tidak mungkin! Aku memasukkannya! Aku yakin!"

"Memasukkan apa, Tuan Jarek?" tanya Sura polos. "Sendok perak dengan ukiran naga yang hilang dari meja nomor tiga?"

Jarek ternganga. "Iya! Sendok i—"

Dia buru-buru menutup mulutnya. Dia baru saja mengaku.

Sura tersenyum miring. Senyum serigala.

"Ah, kau mencari ini?"

Sura mengangkat tangan kirinya. Dia tidak memegang sendok. Tapi dengan gerakan cepat, dia menepuk saku celana Jarek sendiri.

Tring!

Bunyi logam beradu terdengar jelas dari saku celana Jarek.

Wajah Jarek merah padam. Dia merogoh sakunya sendiri dengan panik dan mengeluarkan... sendok perak itu.

"Bagaimana..." Jarek gagap, menatap sendok di tangannya seolah itu adalah ular berbisa. "Bagaimana bisa ada di sakuku? Tadi aku memasukkannya ke sakumu!"

"Tangan lebih cepat dari mata, Tuan Jarek," bisik Sura dingin.

Sura mendekat sedikit, berbisik hanya agar didengar Jarek. "Saat kau menabrakku, aku merasakan tanganmu masuk ke sakuku. Dalam detik yang sama saat kau menarik tanganmu, aku mengambil sendok itu kembali dan memasukkannya ke saku celanamu yang terbuka. Kau terlalu sibuk tertawa sampai tidak sadar kau sedang dicopet balik."

Sura mundur kembali ke barisan, wajahnya kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa.

Aula itu hening.

Madame Morigan tersenyum lebar. Sangat lebar.

"Luar biasa," desis wanita buta itu. "Refleks pencuri... ah, maaf, maksud saya refleks 'bangsawan pekerja keras'. 100 poin untuk Nona Valerine."

Madame Morigan berbalik ke arah Jarek.

"Dan untuk Tuan Jarek. Kau gagal bukan karena kau mencoba menjebak temanmu. Di akademi ini, menjebak teman itu dianjurkan. Kau gagal karena... kau tertangkap. Keluar dari kelasku. Lari keliling lapangan sepuluh kali."

Jarek menunduk malu, wajahnya merah padam saat ia berlari keluar ruangan diiringi tawa tertahan murid-murid lain.

Sura menghela napas lega. Tangannya di dalam saku sebenarnya gemetar. Itu tadi hampir saja. Jika refleksnya melambat sedikit saja, dia yang akan berlari di lapangan.

Saat kelas bubar, Sura merasakan seseorang berjalan di sampingnya.

"Aku melihatnya," kata suara tenang di sebelahnya.

Sura tidak perlu menoleh. "Melihat apa, Kian?"

"Kau tidak hanya memindahkan sendok itu," kata Kian, matanya lurus ke depan. "Kau juga mengambil dompetnya."

Sura tersedak ludahnya sendiri. Dia berhenti berjalan dan menatap Kian.

Kian menyodorkan tangannya.

"Bagi dua," kata Kian datar. "Atau aku teriak."

Sura menatap Kian tak percaya. "Kau... kau pewaris Duke terkaya di negara ini! Untuk apa kau butuh uang receh Jarek?!"

"Prinsip," jawab Kian santai. "Kau melakukan kejahatan di depan mataku. Sebagai saksi, aku berhak dapat hush money (uang tutup mulut). Itu pelajaran Bab 5 buku Dasar Korupsi & Suap."

Sura mendengus kesal, tapi sudut bibirnya terangkat. Dia merogoh saku dalamnya, mengeluarkan dompet kulit Jarek yang berat, mengambil setengah koin emas di dalamnya, dan melempar sisanya ke Kian.

Kian menangkap dompet itu dengan satu tangan.

"Senang berbisnis denganmu, Partner," kata Kian, lalu berjalan pergi sambil memutar-mutar dompet curian itu di jarinya.

Sura menggelengkan kepala, menatap punggung Kian.

Dia menyadari satu hal mengerikan: Dia mulai menikmati permainan gila ini. Dan yang lebih parah, dia mulai merasa nyaman dengan keberadaan si ular emas itu.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!