Karena sekeras apapun aku berfikir tentangmu hanya satu hal yang ku pahami bahwa kau adalah hal terindah yang pernah ku temui dan kumiliki di dalam hidup ini!...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Les07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB
Dan seperti kisah yang tiada akhirnya, uang selalu menjadi masalah. Sehingga banyak orang selalu mencari uang dengan jalur yang salah, bahkan ada yang saling memperebutkan harta demi kepentingan diri sendiri.
Bahkan masih banyak manusia yang mencari uang dengan cara instan melalui jalur haram. Karena demi uang mereka bisa melakukan segalanya, bahkan tak memikirkan konsekuensi yang akan di terima.
"Ya nasib jadi orang miskin, tiba tiba nyokap gue kena penyakit, kemarin udah gue bawa ke puskesmas pas di periksa katanya sih tumor ringan dan harus cepat di operasi. Tau sendiri kan biaya operasi berapa, nyokap gue harus di operasi secepatnya supaya penyakitnya tidak menjadi terlalu parah, makannya gue butuh duit. Malah minggu ini lagi apes nggak ada pelanggan sama sekali."
Jelas perempuan itu putus asa dan di iringi dengan helaan nafas panjang di ujung kalimatnya, tentu saja dia sangat sedih. Bagaimana caranya mencari uang dengan cepat, supaya ibunya segera di tangani segera dia takut terjadi sesuatu yang lebih serius karena ia hanya mempunyai sang ibu di dunia ini.
Mendengar ucapan Anna yang panjang lebar, entah mengapa Indra merasa iba dan ia dapat merasakan bahwa wanita itu tidak sedang bercanda apalagi mengarang cerita.
Indra membayangkan bagaimana kalau dirinya berada di posisi perempuan yang sedang berada di sampingnya. Belum tentu dia bisa sekuat dan setegar itu.
Sejujurnya dia bingung harus menjawab seperti apa, dia sama sekali tidak bisa menghibur ataupun memberikan kata kata penenang. Dia menjadi serba salah di sini.
"Eh mbak, kalau boleh tau nama mbak siapa ya?." tanya Indra penasaran, dia sedari tadi berbicara namun belum tau siapa namanya. Perempuan itu langsung menatap dirinya.
"Elianna, panggil aja Anna, kalau kamu?."
"Aku Indra!" sahutnya tersenyum tipis, nama yang cukup bagus dan cocok dengan parasnya yang cantik. Yah namun sayangnya penampilannya yang kurang pantas untuk di lihat menurutnya.
Anna menganggukkan kepala lalu ia terdiam setelah tahu nama lelaki muda itu, Anna mengubah air mukanya. Gadis itu terlihat sangat sedih, Indra yang melihatnya merasa serba salah.
"Kalau mbak Anna butuh duit aku bisa bantu, tapi mungkin nggak banyak. Katakan saja mbak, kira kira butuh berapa buat biaya operasi nyokap mbak Anna?".
Anna menatap Indra dengan lekat, "Panggil gue Anna aja, gue nggak suka di panggil mbak, kesannya gue udah tua banget, lagian umur kita cuma beda tiga tahun." kata Anna sambil menyeruput teh botol yang lelaki itu berikan kepadanya tadi.
Indra hanya mengangguk pelan lalu tersenyum tipis, karena ia sudah bisa menebak bahwa umur Anna saat ini adalah 20 tahun. Memang masih terlihat muda, namun tetap saja dia tidak terbiasa memanggil orang yang lebih tua darinya dengan sebutan nama.
"Hem, oke Anna."
"Eh, lo kan baru umur 17 tahun? mau dapet uang dari mana coba kekurangan gue nggak banyak cuma 2 juta doang. Udahlah nggak usah di pikirin deh nanti juga gue cari sendiri gimana menutupi kekurangannya." Celetuk Anna merasa tidak yakin bahwa Indra bisa membantu dirinya.
Dia tau lelaki itu masih sekolah mana mungkin bisa mempunyai uang sebanyak itu, ya kecuali dia anak orang berada pasti duit jajannya banyak.
"Oo jadi kurangnya 2 juta ya? Tenang aja Na kalau uangnya segitu aku ada kok, tapi nggak bisa sekarang karena aku gak bawa uangnya. Gimana kalau besok?,"
Indra dengan yakin ingin membantu Anna. Karena hatinya tergerak untuk menolong, siapapun orang yang sedang dalam masalah pasti ia tolong asalkan dia bisa dan mampu.
Anna tertawa kecil, "Kamu jangan bercanda ya Indra, uang 2 juta itu nggak lah sedikit lo dapet mau dari mana coba."
Kekehnya sambil menyilangkan kaki, lagian dia tidak berharap lebih kepada pemuda yang ada di sampingnya ini.
"Gue sih udah sering banget mendapat gombalan sama pelanggan, tapi baru kali ini gue mendengar gombalan dari seorang brondong kayak lo, mana masih sekolah lagi." Anna tertawa pelan meledek Indra.
"Ehh nggak percaya juga ni cewek, sumpah ya gue nggak gombal apalagi bercanda!,"
Cetus Indra sedikit kesal, karena ia tidak ingin di anggap berbohong. Niatnya murni ingin membantu, anggap saja seperti memanusiakan manusia.
Terkadang memanusiakan manusia itu emang sulit, makanya adab lebih tinggi dari pada ilmu. Tapi kebanyakan orang yang tinggi ilmu namun minim adab.
Tapi tetap saja dia tidak terima jika niatnya ingin menolong hanya di anggap sebatas gombalan, kesannya kan dia seperti memberikan harapan palsu.
"Hem gini aja deh, mana nomor handphone kamu? besok aku hubungin kamu buat kasih uangnya kalau tidak percaya bahwa aku bisa membantu, tapi nggak di sini di tempat lain aja." ucap Indra dengan sungguh sungguh.
Anna mendelik mendengar ucapan Indra. Dia awalnya tidak mengharapkan bantuan Indra, namun lelaki itu berkata serius ingin menolong.
Bahkan ngotot mengatakan dia tidak berbohong, lantas apakah dia harus berharap lebih kepada lelaki muda ini yang katanya bisa membantunya?.
"Hah lo serius?."
Anna tercengang tak percaya, karena ia merasa belum yakin dan takut bahwa Indra hanyalah main main apalagi mereka baru saling kenal beberapa menit yang lalu. Indra menganggukkan kepala dengan yakin dan serius.
"Terserah lo deh, mau di mana aja asal nggak bohong sih." cetus Anna tersenyum miring.
Melihat Anna yang seakan akan meremehkan dirinya Indra merobek buku yang dia bawa tadi, sebagai alasan kepada mamanya bahwa ia belajar bersama sahabatnya. Indra menyodorkan pulpen kepada Anna untuk menuliskan angka nomor ponsel nya.
Tanpa basa basi Anna langsung meraihnya dari tangan Indra, dan menulis dengan cepat. Lalu dia memberikan lembaran kertas itu kepada Indra.
"Eh ingat ya Indra, gue ini bukan orang yang baik, jadi pikir pikir aja kalau mau bantuin gue, lagian ya gue sama sekali nggak maksa kok lo mau bantuin gue atau nggak." Anna tersenyum menarik sebelah bibirnya. Indra mendengarkan ucapan Anna lalu terdiam sesaat.
"Dengar ya, aku bukan orang baik dan bukan juga orang yang jahat. Kita hanya takdirkan untuk mengenal dengan baik atau buruknya diri kita sendiri, dan yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada solusinya, dan janganlah berputus asa dan terus berikhtiar kepada yang maha kuasa. Dan yakinlah tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambanya." ia berucap sok bijak.
"Sok tau lo!." Anna menatap datar ke arah depan.
"Tapi memang benarkan, ada pepatah Tionghoa yang mengatakan. Jika masalah mu besar, jadikanlah lebih kecil. Setiap masalah pasti ada solusinya, sampai sini paham."
_To Be Continued_