Bagaimana jadinya jika kalian dipertemukan kembali dengan masalalu yang belum usai?
sering dihadapkan dengan situasi yang begitu ambigu nan membingungkan.
Airin Azalea Rustandi adalah perempuan sangat tangguh wanita dengn segala lukanya. berpacaran dengan kakak dari sahabatnya Kenzo malik arsenio. namun tak direstui oleh sang ibu dari kedua belah pihak. yang membuat mereka berdua akhirnya berpisah. Namun Azalea yang masih kukuh dengan hatinya. ia tak lagi mengenal laki-laki lain setelah putus dengan Kenzo.
tiba-tiba Azalea dihadapkan kembali bertemu dengan Kenzo setelah kian lama berpisah. Akan kah kisah mereka akan bersatu atau berpisah?
yuk kita ikuti kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riffzianur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6
Kenzo menatap adiknya, sungguh ia malu karena ketahuan memandang Zea. Ia takut gadis itu merasa risih karena Zea dan ia kini hanyalah masalalu.
"Heh !! Kan tadi kamu sendiri yang minta aa buat ngikutin Zea. Maen tuduh gitu aja !" seru Kenzo tak terima dengan tuduhan adiknya, meskipun kenyatannya Kenzo memang melakukan itu.
"Hellehh ... Bilang aja Aa malu, karena ketahuan sama Zea? Iya kan?" tuduh Nayla sambil memicingkan matanya menyelidik wajah Kakaknya.
Kenzo melotot pada adiknya, namun saat hendak membalas ucapan adiknya. Zea terburu bicara melerai mereka berdua.
"Hushh !! Udah, berantem aja, kebiasaan deh. Kek nya ga enak ya kalo gak berantem barang sehari aja." ujar Zea mencoba menengahi dua makhluk yang ada dihadapannya.
"Dia duluan," sahut mereka kompak.
Zea menghela nafasnya, kemudian ia memgang perutnya yang sudah meronta minta diisi.
"Udah, dari pada berantem, mendingan kamu ikut aku Nay, kita makan dulu yuk sebelum pulang." ajaknya
"Ayok!!" jawab Nayla
"Loh, Aa gimana atuh?" protes Kenzo karena ia tak diajak oleh Zea.
"Ya Aa ikut, Aa kan bonceng Nayla," terang Zea membuat Kenzo tersenyum.
"Yaudah, mau makan dimana? Biar aa yang bayarin," tawar Kenzo yang merasa senang telah diajak oleh gadis masalalunya.
"Widih, bos muda baru cair kek nya." sahut Nayla saat mendengar kakaknya menawarkan diri untuk membayar tagihan nanti.
"Giliran Zea yang ajak nawarin bayarin. Aku minta duit aja susah ngasihnya." lanjutnya seraya mendelik sinis pada Kenzo.
"Bawel !" decak Kenzo.
"Udang cepet naik," sambungnya.
Di cafe
"Yaudah kalian cepet pesen gih, panggilnya waitersnya," ujar Kenzo.
"Mbak," panggil Nayla. Sedangkan Zea menunduk fokus pada benda pipih yang ada ditangannya.
Tanpa Zea sadari Kenzo tak sedikit pun mengalihkan padangannya dari Zea. Pria itu memandang Zea dengan pandangan yang sulit diartikan. Sampai akhirnya pandangan mereka bertemu saat Zea mengangkat kepalanya.
Deg,
Zea sedikit terkejut mengetahui Kenzo sedang menatapnya seperti itu. Namun ia tak langsung mengalihkan pandangannya dari pria dihadapannya itu. Zea mencoba menelisik wajah laki-laki yang pernah singgah dihatinya.
"Aku harus bagaimana? Apakah kita bisa seperti dulu lagi?" batin mereka secara bersamaan.
Dan tentunya hanya author yang tau kalo mereka ngomong gitu dihatinya hehe. Mana tau mereka ngomont gitu wkwk.
"Ehem ... Ehem. Obat nyamuk abdi didieu teh," sindir Nayla. (obat nyamuk aku disini tuh).
Mereka segera memutuskan pandangan saat Nayla sengaja menyindir keduanya yang kepergok sedang saling adu pandang.
Kenzo mencebik saat lagi-lagi aksinya selalu diganggu oleh adiknya sendiri. Padahal ia sedang mencoba telepati dengan Zea.
"Makanya, kalo masih cinta itu, jangan tiba-tiba meninggalkan. Gini kan, jadinya, curi-curi pandang terus, cih !!" Kenzo mendelik sinis adiknya. Entahlah hari ini seperti hari sialnya mulai dari sekolah Nayla hingga sekarang ini. Hanya satu anugerahnya hari ini yaitu bertemu kembali dengan Zea.
"Hadeuh Nay ! Kebiasaan banget deh, elu tuh kenapa sih? Perasaan dari pagi sampai sekarang elu badmood mulu, heran gue." geram Zea. Pasalnya sahabatnya ini benar-benar membuat dunianya hari ini sedikit kacau. Meskipun ia sebenernya senang betemu dengan Kenzo. Tapi, ia pun merasa menyesal telah bertemu dengan laki-laki itu. Entah lah, Zea bingung dengan apa yang ia rasakan.
"Emangnya .. Dari pagi dia begini neng?" tanya Kenzo pada Zea.
"Iya, dia tadi pagi. Tiba-tiba mewek ga jelas. Pas ditanya kenapa. Katanya gamau Aa nikah, apa lagi sama si Vaol." papar Zea.
"Lemes beud dah tuh mulut, ya jelas lah gua kaga mau punya kakak ipar kek nenek sihir gitu. Dadanan udah kek tante-tante girang. Bahkan tante-tante aja zaman sekarang ada cakep-cakep nyamain ama perawan," sanggah Nayla.
"Jadi, yang bikin kamu jadi berubay begini itu gara-gara Aa bilang mau nikah sama Vaola?" tanya Kenzo
"Iya, Lagian Aa kok seleranya jadi kayak gitu sih ihh jijay marinjay," Nayla bergidik jijik mengingat wajah Vaola.
"Udah atuh, lagian kan, Aa juga udah putus sama dia. Aa gamau nikah sama cewek yang kasar sama adik aa," ujar Kenzo.
"Asal aa tau ya, dia itu sering nyiksa aku sama Zea. Terutama Zea, dia itu sering banget ngerjain Zea. Cuma Zea nya aja yang oon mau-maunya di begoin sama nenek lampir itu," ketus Nay.
"banyak banget julukannya," ujar Kenzo karena selalu mendengar julukan aneh dari mulut adiknya.
"Ooo ya jelas, dia mah apa aja pantes di sebut mau dari hewan sampe dedemit julukan dia semua,"
"Terus Aa juga ada julukannya gitu dari kamu?"
"Ada,"
"Apa coba Aa mau tau,"
"Buaya darat cap kelong,"
Zea yang malas berdebat dengan Nayla memilih diam, membiarkan kakak beradik itu berargumen alot karena Nayla yang masih saja mengomeli kakaknya. Zea melihat itu hanya bisa menghela nafasnya sambil meggelengkan kepalanya. Ia tak habis fikir dengan Nayla yang hobby sekali marah-marah jika sesuatu itu tak sesuai dengan keinginannya.
Zea kembali pada benda pipihnya, ia berusaha menyelesaikan pekerjaanya disela waktu senggang meski sedikit. Karena Zea tak ingin menumpuk pekerjaanya. Meskipun Zea tergolong perempuan yang cenderung pemalas.
Tak banyak yang tau tentang Zea yang sekolah sambil bekerja. Karena pekerjaan Zea hanya diurus di hp nya. Zea adalah penulis novel online yang sudah beberapa bulan lalu ia mulai. Hasilnya memang tak banyak. Hanya saja, lumayan untuk uang saku Zea dan kebutuhan pribadinya.
Zea memang mandi sejak lulus SD, dia sudah belajar berniaga. Karena keluarga besarnya mayoritas mempunyai usaha toko. Zea sudah belajar jualan pulsa, berdagang makanan door to door dan dari sekolah ke sekolah , dari teman ke teman. Jadi dia sudah terbiasa dengan mencari uang. Zea banyak belajar darinya yang dulu sangat boros tentang mengatur keuangan jadi lebih hemat setelah keluar dari pondok. Sebenernya selain masih sekolah karena tertinggal Zea sering jadi asisten mengajar dipondoknya dan ia sering diberi sedikit uang saku oleh abi pondok atau umi pondok. Apa lagi Zea sering berada di dapur umum yang bersebelahan dengan dapur rumah kyainya.
Dan dari hasil yang ia dapatkan selalu ia berikan pada ibunya dan kedua adiknya. Baru setelahnya ia pakai dan sebagian ada yang ia berikan juga pada anak-anak jalanan entah itu berbentuk makanan yang buat atau sekedar membelikan mereka jajanan.
Tentu yang ia rasakan saat ini, bukan semata karena dirinya sendiri. Ada seseorang dimasa lalunya yang membuat Zea termotivasi untuk benar-benar berubah. Tidak lagi ketergantuangan pada orang lain.
"Aa udah lah, dari pada Aa nyari-nyari lagi perempuan yang ga pernah jelas. Dan seenaknya Aa tinggalin terus. Mendingan Aa balikan aja sama Zea. Lagian Zea juga jomblo mulu semenjak Aa tinggalin. Terlalu setia nungguin Aa nih anak. Tadi aja dia seneng banget denger Aa mutusin si nenek lampir,"
"Udah balikan aja susah amat," dengus Nayla sambil memandangi Kenzo dan Zea.
Zea yang mendengar itu sontak mengangkat kepalanya dan pas dengan Kenzo yang sedang memandangnya. Akhirnya Zea menjawab Nayla
"Gak semudah itu Nay,"
"Kenapa? Bukannya Lo masih punya perasaan sama kakak gue Ze?
Zea menghela nafasnya, lalu memandang keduanya.
"Elu ga bisa narik kesimpulan kaya gitu Nay,"
"Butuh proses yang panjang untuk mengembalikan kaca kembali utuh. Sekalipun utuh. Serpihan yang tertinggal akan tetap ada Nay."
Deg,