Indonesia
NovelToon NovelToon
MAWAR

MAWAR

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lalan SeungHo

Kematian orangtuanya membuat Mawar kecil tumbuh dengan penuh rasa dendam.

Ketika memasuki usia remaja Mawar bertemu dengan Levin, pertemuannya dengan Levin berhasil menggoyahkan tujuan hidup Mawar.

Roy yang tidak menyukai kedekatan mereka membuat rencana, dan rencana itu berhasil mengubah jalan hidup Mawar dan Levin.

di usianya yang sudah matang Mawar kembali bertemu dengan Levin. Pertemuan mereka kali ini akan mengungkap semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalan SeungHo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

Sosok pria yang di hadapannya membuat nafasnya terhenti sepersekian detik.

"Mawar." Suara yang selama ini membuatnya terasa sesak.

"Mau mencari bunga mawar?." Mawar mencoba menenangkan dirinya.

"Apa kau tidak mengenaliku?." Levin mencoba meyakinkan sosok yang ada di hadapannya adalah wanita yang selama ini ia cari.

"Maaf, saya tidak mengenali anda," Mawar menyimpan kebohongan di balik senyumannya.

"Permisi, apa disini ada bunga lili?." Tanya salah satu pengunjung yang baru saja datang.

"Tentu saja ada, mohon tunggu sebentar." Sahut Mawar sebelum kembali menatap Levin

"Apa anda akan membeli bunga ini?."

Levin terdiam sebentar sebelum membayar bunga yang ada di tangannya.

"Terimakasih." Ujar Mawar.

Mau tidak mau Levin pergi meninggalkan toko, saat masuk ke dalam mobil Levin masih memperhatikan Mawar yang sedang berbicara dengan pembelinya. Levin sangat yakin kalau itu adalah Mawar yang selama ini ia cari.

Setelah pembelinya pergi dan melihat mobil Levin juga sudah tidak ada, Mawar menjatuhkan tubuhnya mencoba mengatur nafasnya yang tersengal segal karena dadanya yang terasa sakit, perasaan yang ia simpan selama ini kembali mencuat dan membuatnya merasakan rasa sakit yang tidak bisa di ungkapan.

****

Levin telah sampai di rumah kediaman orang tuanya, Levin di sambut dengan pelukan hangat sang ibu yang sudah lama ia tidak ia temui.

"Aku sangat merindukan mu." Ujar sang Ibu yang bernama Rita.

"Aku juga merindukan Ibu," Levin melepaskan pelukan sang Ibu dan memberikan bunga yang tadi ia beli. "Maaf aku hanya bisa membawakan ini untuk Ibu."

"Terimakasih sayang," Rita mengambil bunga itu. "Ibu sudah memasak makanan kesukaan mu."

"Ayah dimana?." Levin tidak melihat sosok Ayahnya.

"Dia sedang menerima telepon, akhir akhir ini ayahmu sangat sibuk." Jelas Rita yang menuntun anaknya menuju meja makan.

Sampai selesai makan malam pun sang Ayah tidak keluar untuk menemuinya, Levin yang penasaran masuk ke ruang kerja Ayahnya seraya membawa makanan.

"Sesibuk apapun Ayah tidak boleh lupa makan." Levin menaruh nampan yang ia bawa di meja ayahnya.

"Anakku." Ayah Levin yang bernama Rudi memeluk anaknya. "Ayah tidak tahu kalau kau akan datang."

"Kalau Ibu tidak menelpon mungkin aku masih sibuk dengan pekerjaan ku." Ujar Levin.

"Kau seperti ayahmu, gila kerja," Rita yang baru masuk langsung mengomel.

Ayah dan anak itu tersenyum mendengar ucapan sang Ibu. Mereka pun duduk di sofa.

"Levin, bulan ini Ayah akan sangat sibuk membuat Ayah tidak akan memiliki waktu untuk menemani ibumu. Bisakah kau tidak terlalu sibuk untuk bisa menemani ibu mu." Pinta Rudi.

"Tinggallah disini bersama kami." Pinta Rita.

Levin berpikir sejenak sebelum menjawab, "Untuk saat ini Aku akan tinggal di asrama karena pekerjaan," Levin menggenggam tangan Ibunya. "Aku janji akan sering mengunjungi Ibu."

"Baiklah," Rita mengerti. "Ohya Ibu akan mengadakan pesta teh bersama teman teman Ibu di hotel, Ibu juga ingi memperkenalkan kamu pada salah satu anak teman Ibu. Kau harus datang yah." Rita memaksa.

"Akan aku usahakan." Jawab Levin dengan enggan

Mereka pun menghabiskan waktu mereka dengan mengobrol.

*****

Langit sudah berubah menjadi gelap dan hanya ada beberapa bintang yang menghiasi malam ini, Mawar duduk di sebuah taman dengan mengunakan masker dan topi. Muncul lah Ardi dari balik pohon dengan mengunakan topi dan masker yang sama, Ardi duduk di samping Mawar dan memberikan sebuah amplop.

"Target kita seorang wanita paruh baya, klien ingin kematiannya tidak menimbulkan keributan, dan tidak meninggalkan jejak di tubuh targetnya." Ardi menjelaskan.

"Waktunya?."

"Satu minggu dari sekarang," Jawab Ardi. "Ohya satu lagi, Roy menyuruhmu mu untuk menemuinya."

"Aku tidak punya waktu." Mawar menepuk-nepuk amplop cokelat yang ada di tangannya.

"Roy ingin membicarakan tentang temanmu." Mendengar itu tangan mawar berhenti menepuk-nepuk.

"Aku akan menemuinya setelah tugas ku selesai." Mawar pergi meninggalkan Ardi.

Mawar duduk di meja kerjanya, membuka amplop cokelat yang tadi di berikan Ardi. Mawar membaca biografi dan foto targetnya yang bernama Rita, kemudian ia melihat jadwal kegiatan Rita untuk seminggu ke depan, setelah membacanya Mawar menemukan satu cara untuk membunuh targetnya di acara pesta teh yang akan di lakukan di sebuah hotel. Mawar menyalakan komputernya dan mulai mencari racun yang bisa di gunakan untuk membunuh Rita.

****

Foto foto korban pembunuhan dan TKP berserakan di atas meja kerja Levin, Levin melihat foto foto kasus yang lain berharap ada kesamaan dalam metode pembunuhan atau cara korban di eksekusi, namun sayang kematian korban ini tidak memiliki pola yang sama, tidak ada treatment yang sama dimana korban di eksekusi. Levin membuang tubuhnya kebelakang seraya memijat keningnya yang terasa berat, ia memutar kursinya merasa kesal akan dirinya yang belum bisa menemukan satupun clue untuk kasus yang ia tangani.

"Istirahat saja dulu, hirup dulu udara segar di luar sana." Ujar Dodi salah satu rekan kerja Levin.

Levin membuang nafas beratnya. "Aku akan pergi keluar sebentar."

"Nikmati saja waktumu." Seru Dodi.

Levin melangkahkan kaki tanpa arah, bertujuan untuk menjernihkan pikiran yang kusut. Ketika kakinya sudah mulai terasa lelah Levin pun duduk di kursi yang ada di pinggir jalan, matanya bergerak melihat ke sekeliling, saat sedang asyik memperhatikan matanya membesar ketika ia melihat Mawar tengah berjalan ke arah nya. Levin bangkit dari duduknya untuk menghadang Mawar.

"Hai." Ucap Levin seraya tersenyum.

Mawar melangkah mundur dan melihat wajah Levin yang sumringah karena bertemu dengannya.

"Mawar." Panggil Levin.

"Maaf, saya tidak mengenal anda." Sahut Mawar sebelum ia berjalan melewati Levin.

Levin melihat punggung Mawar yang berjalan menjauh dari posisinya, Levin menuruti instingnya untuk mengikuti setiap langkah yang Mawar ambil. Levin memperhatikan cara Mawar berjalan masih sama persis dengan Mawar yang ia kenal 12 tahun lalu, Levin berhasil mengantar Mawar sampai ke toko bunganya. Levin memperhatikan Mawar yang ada di dalam toko, Levin tersenyum lega mengetahui kalau Mawar masih hidup dan menjalani kehidupannya dengan baik, Levin melambaikan tangannya sebelum ia pergi.

Mawar melihat siluet Levin sudah tidak lagi berdiri di dekat tokonya, Mawar berjalan keluar toko sebentar untuk melihat punggung pria yang sangat ia rindukan menghilang di tengah keramaian ibu kota.

****

Hari pesta teh sudah tiba, Mawar mengikat rambutnya seperti pegawai hotel, mengandalkan make up untuk sedikit menutupi wajahnya dan mengunakan kaca mata, Mawar mendorong troli makanan sebagai alat agar ia bisa masuk kedalam kamar target.

"Room service." Mawar mengetuk kamar.

Pintu kamar itu terbuka, dan memperlihatkan Rita yang baru saja selesai mandi, dengan hanya menggunakan kimono dan handuk di atas kepalanya Rita mempersilahkan Mawar masuk kedalam kamar.

"Saya di perintahkan mengantarkan makanan dan teh ini untuk anda nilai," Ujar Mawar sopan. "Manager saya meminta saya untuk mendengarkan penilaian dari anda."

Rita mengangguk dan mengambil gelas teh yang Mawar sodorkan, setelah Rita meminumnya Mawar mengambil gelas yang tadi ia berikan, Mawar menundukkan kepalanya ketika racun itu mulai bereaksi. Tubuh Rita terjatuh dan mulai kejang-kejang tangannya menjulur ke arah Mawar berharap Mawar akan membantunya, setelah melihat Rita tidak lagi bernapas Mawar meninggalkan sepucuk bunga mawar putih di atas troli.

Setelah menyelesaikan misinya, Mawar menganti seragam hotel yang tadi ia pakai dengan pakaian casual saat meninggalkan hotel. Mawar berhenti sejenak di depan pintu masuk hotel, memberikan kode pada Ardi yang berada di dalam mobil di sebrang jalan untuk melakukan tugasnya menghapus jejak Mawar yang terekam di cctv.

Setelah melihat kode dari Ardi Mawar melanjutkan langkahnya ke arah kiri, sedangkan di sebelah kanan Levin berjalan masuk ke dalam hotel untuk menemui Ibunya.

Levin mencoba menelpon Ibunya namun tidak ada jawaban, Levin melihat teman teman Ibu sudah menunggu kehadirannya. Levin berinisiatif menjemput Ibunya di kamar.

Sudah beberapa kali Levin mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Ibunya, perasaan Levin mulai tidak karuan dan meminta karyawan hotel untuk membuka pintu kamar Ibunya. Berapa terkejutnya Levin ketika melihat Ibunya sudah terbujur kaku di lantai.

"Ibu.. Ibu.." Levin memeriksa denyut nandi Ibunya yang sudah tidak berdenyut. "Tolong panggilkan ambulance." Titah Levin pada karyawan hotel yang tadi membantunya membuka pintu.

"Ibu..Ibu.." Air mata mulai berjatuhan dari mata Levin yang memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Ibu.."

****

Setelah 3 hari pasca kepergian ibunya, Levin memutuskan untuk kembali berkerja berharap ia bisa mendapatkan bukti penyebab kematian Ibunya. Levin memeriksa hasil penyelidikan rekan kerja nya.

"Kami tidak bisa menemukan jejak atau alat yang di gunakan untuk meracuni korban, dan tidak ada juga keanehan atau kejanggalan di TKP." Dedi menyerahkan foto foto TKP pada Levin.

Levin meremas foto yang ada di lengan dan menghempaskannya ke lantai, dia begitu kesal karena tidak bisa menemukan apapun di kasus kematian Ibunya. Levin pergi meninggalkan kantor dengan amarah dan kekecewaan yang harus ia tanggung.

Levin memberhentikan mobilnya di depan toko Mawar, ia ingin sekali berlari ke arah Mawar dan menangis di pelukannya meluapkan semua yang sedang ia rasakan.

Hari sudah mulai gelap, saatnya Mawar menutup toko bunganya dan di saat itu juga Levin keluar dari mobil dan mendekati Mawar.

"Mawar." Rintih Levin.

Mawar yang tahu Levin sedang berdiri di belakangnya memilih untuk tidak menoleh.

"Berhentilah berpura pura kau tidak mengenalku." Pinta Levin.

Mawar masih tidak menghiraukan Levin.

"Aku mohon Mawar." Levin membalikan tubuh Mawar ke arahnya.

Terlihat keputusasaan di raut wajah Levin.

"Lepaskan tangan saya!" Mawar acuh dengan keadaan Levin.

"Ibu ku sudah pergi Mawar. Dia pergi meninggalkan ku untuk selamanya," Ujar Levin pahit. "Tolong pinjami aku pundakmu, hanya kau sandaran yang aku punya."

Mendengar itu Mawar terdiam sejenak.

"Aku sangat lelah Mawar." Mawar hanya bisa terdiam dan membiarkan Levin memeluk tubuhnya dengan erat di iringi tangisan yang terdengar begitu pilu.

To be continued~~

ditunggu kritik dan sarannya. ^^

1
Yusria Mumba
ceritanya bagus sampai aku nangis membantu,
Lalan Seungho: makasih Kak, di tunggu di cerita aku yang lain yah kak.
total 1 replies
Yusria Mumba
jangan2ayah ny lengan yang membunuh orang tua mawar,
Yusria Mumba
bagaimna kalau tau lenvi pe, bunun ibunya adalah mawar,
Yusria Mumba
kasiang mawar,
Yusria Mumba
dari kecil mawar sudah drasuki jebencian,
Andi Fitri
Luar biasa
Andi Fitri
apa jangan2 yg membunuh ortunya mawar suruhannya ayahnya levin y..msh teka teki
Andi Fitri
bukan hanya tau levin tpi mawar lh pembunuhnya..
Andi Fitri
makax mawar jgn jatuh cinta dulu krn bikin kmu ribet dan susah cari pembunuh ortu mu...😁
Andi Fitri
menarik
kayla
semangat min. 😊😊
kayla
ceritanya seru..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!