Sinopsis:
"Zian, apa kamu sudah jatuh cinta pada ku?"
"Teruslah bermimpi. "
"Baiklah, aku akan berjuang sampai kau jatuh cinta pada ku. "
Kisah cinta tak biasa, saat wanita yang lebih dulu mengejar cinta laki-laki yang sudah lama di sukainya. Lyra jasmine tak menyangka perjodohan yang terjadi padanya mempertemukan gadis sederhana itu dengan cinta pertamanya, Laki-laki yang selama ini selalu Lyra idam- idamkan.
Ziandra Grayson, tumbuh dalam keluarga tak utuh, akibat dari pertengkaran dan perceraian yang terjadi pada orang tuanya membuat ia skeptis terhadap perasaan yang bernamakan cinta.
Saat bakti kepada ayahnya memintanya untuk menikahi gadis berisik bernama Lyra, membuat hidup Zian yang semula tenang mulai terguncang.
Zian yang selalu bersikap dingin dan Lyra yang selalu menjalani hidup dengan ceria dan optimistis, akankah perbedaan sifat yang sangat menonjol itu bisa mempersatukan mereka? akankah Lyra bisa mendapatkan cintanya?
Ikuti kisah manis mereka ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park alra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 07
Paginya, sinar mentari menyorot masuk ke sela-sela jendela hingga mengusik tidur seorang gadis yang kini terbangun dengan mata melebar sempurna.
"Astaga! aku ketiduran, ehh--"
Lyra melongo sesaat lalu menyadari jika dirinya sekarang bukan lagi di meja kerja Zian melainkan tempat tidurnya.
"Seingat ku, tadi malam aku ketiduran saat menjalani hukuman kok tahu-tahu sudah ada di sini ya?" ia bermonolog sambil mengetuk keningnya yang bingung.
"Siapa yang memindahkan ku ya? masa iya Zian ku yang kutub itu, rasanya tidak mungkin. Apa pak Charlie?"
Lama-lama berfikir membuat Lyra pusing sendiri, akhirnya ia bangkit dari ranjang baru menyadari jika luka-lukanya mendapatkan penyembuhan, saat ia melewati cermin di situ Lyra baru tahu jika keningnya yang luka sudah di taruh perban begitupun di jemari tangannya.
"Fiks ini sih kayanya semalam my Zian yang melakukan ini." hati Lyra berbunga-bunga. Memang ia tak sadar saat itu tapi entah kenapa instingnya yang tajam mengatakan jika Zian yang mengobati lukanya dan memindahkannya ke kamar.
Ck- ck ternyata diam-diam kamu tuh perhatian ya, dasar! suamiku yang dinginnya mengalahkan es kutub antartika.
Langkah Lyra menjadi riang, ia keluar kamar masih dengan memakai baju tidurnya. Dengan rambut panjang yang kusut masai dan wajah bantal belum di bilas. Hari ini ia tersenyum sangat bahagia.
"Yuhuuu! suami ku my Zian honey, sweetie, bunny!"
Lyra berteriak kegirangan sambil melompat-lompat hingga saat ia berputar tubuhnya, lalu tiba-tiba saja ia terbujur kaku ketika menyadari di hadapannya dua laki-laki tengah memandang aneh padanya.
"Halo kakak ipar." seorang pria menyapa sambil tersenyum meringis, lain halnya dengan Zian yang berdiri di samping lelaki itu, ia hanya menghela nafas lalu memasang wajah datar. Seperti sudah biasa dengan tingkah konyol gadis di hadapan mereka saat ini.
"OH MY GOD!!"
Lyra tidak menyembunyikan rasa malunya, ia dengan cepat berbalik sambil menutup mata dengan kedua telapak tangan.
"Aduh muka ku masih ileran gini, kenapa jadi bertemu mereka dengan keadaan seperti ini sih." Ia jadi panik sendiri.
Mathew menoleh ke arah Zian. "Sepertinya perkataan mu memang benar, dia wanita yang unik."
"Bukan unik lagi, tapi ajaib, plusnya sintting." Zian menggeleng pelan. "satu hari saja tidak berteriak, seperti dia akan sekaratt!" lelaki itu menggeleng pelan.
Mathew tertawa. "Dia sungguh cocok dengan mu yang kaku dan dingin." Kemudian pria itu menghampiri Lyra, sementara Zian cukup terkejut dengan apa yang di katakan sepupunya tersebut.
"Halo kakak ipar, salam kenal. Apa kau mengenal ku?"
Lyra sontak berhenti panik. "Eh, aku tidak tahu, memangnya kau siapa?"
Mathew tersenyum kaku, ingin rasanya ia melempar wanita ini ke Palung Mariana, dari cara pengucapannya wanita itu ternyata cukup tengil.
"Perkenalkan aku Mathew Kendrick, sepupu Zian. Karna aku lima tahun lebih muda dari Zian dan sekarang dia menikah dengan mu aku akan memanggil mu kakak ipar."
Lyra manggut-manggut mengerti. "Baiklah, salam kenal Mat--"
"Mathew." pria itu berucap seolah mengoreksi.
"Mamat." Lyra tersenyum tanpa dosa.
Mathew memicing sambil memasang wajah merengos seperti banteng yang siap menerjang.
Pria itu menoleh kepada Zian, dari wajahnya seolah ingin mengatakan "Zian, istri mu ini cukup menyebalkan ya. Aku ingin menerkamnya boleh tidak?'
Seperti itulah kira-kira yang Zian tafsiran dari ekspresi kesal Mathew.
Sementara Zian dengan masih tampang datarnya hanya menggidikkan bahu acuh seolah mengatakan. "Terserah! asal jangan melibatkan ku!" yang langsung di mengerti oleh Mathew hingga pria itu mendessah kesal.
"Baiklah Mamat sebentar ya, aku akan mandi dulu, kamu duduklah. Nanti aku akan menyiapkan teh untuk kalian."
"Baiklah. Terimakasih." Mathew menjawab setengah dongkol.
...----------------...
Setelah mandi dan berdandan rapi, Lyra menyiapkan teh dan kudapan ringan untuk Mathew dan Zian di ruang tamu.
"Silahkan di nikmati, jangan sungkan-sungkan Mamat."
Dalam hati Mathew berdecih.
'Sebelum kau datang pun aku tak pernah sungkan. Aku bahkan sudah mengganggap mansion ini seperti rumah ku sendiri.'
"Ah, Iya. Ngomong-ngomong kau terus saja memanggil ku Mamat padahal namaku Mathew, alangkah baiknya kamu memanggil orang dengan namanya yang benar." Mathew mengulas senyum terpaksa.
"Tidak apa-apa itu panggilan kesayangan ku untuk mu adik ipar, lagipula namanya kan nyambung. Mat lalu tinggal di tambahin jadi Mamat ya kan?"
"Ah iya, haha terserah kau saja."
Mereka hanya cengar-cengir tak jelas sampai deheman dari Zian menghentikannya.
"Sampai kapan kalian terus tertawa seperti orang gila begitu?"
"Oh iya ya, ayo silahkan di minum tehnya adik ipar. Aku membuatnya sendiri jadi ku harap kau menyukainya."
Mathew mengangguk. "Baiklah." lalu mengambil cangkir miliknya, baru saja ia menyeruput sedikit tiba-tiba saja ....
Fyuuhh!
Mathew tak sengaja menyemburkan teh itu dari mulutnya dan sialnya cairan tehnya itu tepat mengenai wajah Lyra!
Satu detik, dua detik! suara tawa membahana puj mengudara kencang.
"Aduh maafkan aku kakak ipar, pfft aku tidak sengaja."
Mathew merasa bersalah tapi tak bisa menahan diri untuk tertawa saat melihat wajah Lyra apalagi make up nya yang luntur karena semburan teh.
"Sialan! lelaki ini memang minta di tebass!"
Lyra menatap horor, ingin sekali ia berkata-kata kasar.
"Tidak apa-apa adik ipar ini hanya ketidaksengajaan." pada akhirnya itulah yang keluar dari mulutnya sambil menunjukkan senyum tulus yang sebenarnya ingin sekali ia mencekik lelaki kurang ajar ini.
"Sepertinya aku harus ke belakang dulu, kalian nikmatilah waktu santai berdua."
"Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf!" ucap Mathew yang masih menahan kekehan.
Zian menggeleng geli, sebenarnya cukup terkejut dengan apa yang terjadi " Aku tidak menduga ini." ia terkekeh kecil.
"Ya maaf, habisnya teh buatannya ini gak enak banget. Itu makanya aku tak sengaja menyemburkannya tadi, eh malah mengenai wajahnya."
"Apa benar seenggak enak itu?"
"Iya coba saja kau cicipi."
Zian mengernyit penasaran, ia pun mencoba teh itu dan doeeng! ia menyerah. Teh itu benar-benar tak enak.
"Benarkan, rasanya seperti air comberan," ujar Mathew saat melihat ekspresi Zian.
"Pelayan, siapkan teh yang baru." tanpa mempedulikan ucapan Mathew, Zian memerintahkan seorang pembantu untuk menyiapkan teh yang baru.
"E-eh kenapa kau mengganti tehnya. Oh apa jangan-jangan kamu tidak ingin membuat gadis itu malu ya? kau ingin melindungi kehormatannya?"
Mathew mengulas senyum mencurigakan.
"Sepertinya Zian yang kaku dan berhati dingin ini mulai memperdulikan seseorang."
"Diamlah Mathew, aku hanya kasihan padanya."
"Oho baiklah, kasihan ya, aku akan anggap seperti itu."
Senyum selidik Mathew tak juga luntur, mengingat cerita Charlie tentang bar-bar nya Lyra yang ingin mengambil hati Zian, sepertinya sekarang Mathew akan berada di kubu gadis itu.
"Halo semua, maaf jika menunggu lama." Lyra kembali dengan wajah segar.
"Oh kakak ipar sudah datang, maaf ya untuk yang tadi." Mathew tersenyum hangat padanya.
Lyra memicing curiga.
'Ada apa lagi dengan lelaki ini? kenapa sikapnya berubah manis. Awas saja dia ingin mengerjai ku lagi.'
"Ah ya tidak apa-apa adik ipar, tidak usah kau pikirkan."
Lyra meminum teh yang di buatnya.
'Padahal teh ini enak, sebenarnya lelaki ini memang sengaja mengerjai ku, sialan!'
Batin Lyra bersorak ingin memaki pria di sampingnya ini jika saja ia tidak mengingat jika lelaki ini adalah keluarga dari suaminya.
"Baiklah terimakasih Lyra, oh ya ngomong-ngomong--" grepp!
Lyra tercengang, tiba-tiba saja laki-laki itu merangkul pundaknya untuk lebih mendekat.
'Apa-apaan lelaki ini! hey upil kuda apa yang kau lakukan? kau benar-benar minta di buat jadi sapi guling ya?!'
Sementara Mathew melirik ke arah Zian sambil tersenyum jahil.
'Kita lihat apa rasamu pada gadis ini hanya sebatas peduli atau kau memang mulai menyukainya.'
Mathew memiliki rencana untuk memancing rasa cemburu Zian dan boom! ia berhasil saat melihat tatapan tajam pria itu ketika ia dengan sengaja menggoda Lyra.
'Hohoho terus lanjutkan ekspresi cemburu mu itu Zian, kau memang tidak bisa membohongi perasaanmu.'
Sementara Lyra sudah ketar-ketir di tempatnya, ia tak pernah di sentuh seperti ini oleh seorang pria selain ayahnya, apalagi ia baru mengenal pria ini, Lyra merasa sangat risih ingin menghindar namun Mathew malah semakin sengaja menarik bahunya untuk mendekat.
Zian mencengkeram kepalan tangannya. "Bukankah tidak etis merangkul istri orang di depan suaminya sendiri." matanya semakin menyorot tajam.
Yes! berhasil, Mathew bersorak dalam hati.
"Ah benarkah, maaf habisnya aku sudah menganggap kakak ipar seperti kakak ku sendiri."
"Kita di sini untuk membicarakan bisnis, jangan membuat ku kesal."
Zian tertegun. Mendapati wajah Lyra yang terlihat ketakutan.
"Oh benarkah jadi kau kesal ya? kau cemburu?"
Sementara Lyra yang tak sepenuhnya paham seperti orang cengo menatap perdebatan dua lelaki itu.
"Lyra kembali ke kamar mu!" titah Zian begitu tajjam.
Suasana berubah menjadi mencekam. Dan tunggu, apa Lyra tidak salah dengar? Zian baru saja memanggil namanya? sejak awal menikah lelaki itu tak pernah memanggil namanya dengan benar, baru kali ini Lyra mendengar namanya di sebut, hal sederhana seperti itu tapi membuat Lyra sangat bahagia.
"Lyra, apa kau tidak mendengar kata suami mu ini?"
"Ah, baiklah. Aku akan kembali."
Setelah kepergian Lyra suasana jadi lebih mencekam.
"Apa maksud tujuan begitu?"
"Wah sepertinya kau sangat cemburu hingga--"
Grepp! Mathew tersentak kaget saat Zian tiba-tiba saja sudah menarik kerah bajunya, pria itu menatap bengis seolah akan menelannya bulat-bulat.
"Aku tidak main-main Mathew! apa kau tidak lihat gadis itu risih saat di sentuh olehmu? ini bisa termasuk tindak pelleccehan!"
Zian terlihat sangat marah seperti baru saja meminum darrah ibliss, lelaki itu seperti akan menghancurkannya saat ini juga.
Mathew speachless sampai tak bisa mengatakan apa-apa.
Dari sini dia mulai mengerti, jika Lyra Jasmine sudah berhasil mengambil alih kewarasan seorang Zian.
Tatapan bengis Zian yang tak pernah Mathew lihat sebelumnya, seolah mengisyaratkan.
"Jangan menyentuhnya atau kau akan matti!"
***
Bersambung ...