Seorang gadis yatim-piatu bernama Clara Paradista terpaksa beradaptasi kembali dengan situasi baru namun familiar saat tante Imelda membawanya pulang untuk tinggal bersama. Lalu untuk menyemangati Clara yang tampak sedih tak berkesudahan, tante Imelda memberikan boneka sebagai pelipur lara tanpa tahu Clara membenci boneka. Tapi dibalik kesalahan tersebut, mereka tidak tahu bahwa boneka usang dari kain fanel itu membawa pesan penting. Boneka itu tahu rencana busuk para iblis untuk menghancurkan umat manusia dengan memanfaatkan kekuatan jiwa.
Akhirnya, Clara dan boneka terkutuk bernama Ethan melakukan petualangan berbahaya untuk menghentikan rencana para iblis yang bersemayam di rumah terkutuk bekas seorang pengrajin mainan sambil bertahan hidup dari permainan maut yang tercipta dari pikiran yang berantakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naura G. A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 – Boneka Yang Aneh (2)
“Hei! Aku juga tidak mau hal ini terjadi, tapi jika kita tidak mematahkannya seluruh daerah ini akan dikuasai iblis, monster, atau apapun itu. Kumohon Clara”
Tiba-tiba Clara bangun lagi dari kasurnya dan berjalan kearah meja belajar dan mengambil kunci lemari laci meja. Setelah itu, dia berjalan ke lemari sambil bawa kuncinya. Dengan perasaan kesal, Clara memutar kuncinya dilubang lemari lalu membuka pintunya. Tangan Clara dengan geram menarik paksa kain dari jumpsuit boneka Ethan hingga mereka bisa saling berhadapan secara ‘langsung’ satu sama lain. Dengan mata tertutup, Clara berkata setengah teriak, “Kau gila?! Aku hanya seorang manusia! Bisa apa aku?” Walaupun nada suaranya dibuat untuk mengintimidasi, Clara tidak bisa menahan tangannya yang gemetar. Semua keberanian dia kumpulkan untuk saat ini.
“Dan aku ada dalam boneka. Untuk berkomunikasi denganmu saja sangat sulit. Jadi kita akan kesulitan bersama. Menyenangkan bukan?” Clara yang jengkel dengan ucapan Ethan melemparnya ke kasur karena tidak bisa menahan emosinya. “Gak! Gak! Enggak!” Ucap Clara memburu. Ethan dapat melihat kegelisahan dimata Clara, jadi dia menunggunya untuk tenang dan sebisa mungkin tidak membicarakan topik ini lagi.
Tapi jauh didalam hati Ethan, dia ingin ada seseorang yang dapat membantunya karena masalah ini sangat penting. Dekade telah berlalu dan siapa tahu sudah sekuat apa lawannya. Ethan juga tidak bisa melawan secara maksimal dengan keadaanya yang sekarang. Walaupun ada para ‘penjaga’ yang mengawasi bumi dan kemungkinan dapat menghancurkan kutukan ini dengan mudah, Ethan masih ragu karena kutukan ini dijalankan oleh sekelompok iblis yang memiliki kecerdasan tinggi. Lalu semakin lama, semakin kuat juga dugaan terburuknya. Kutukan ini harus dihancurkan selagi mereka memiliki kesempatan.
“Atau kita coba minta tolong tantemu.” Clara yang dari tadi mondar – mandir terteguh karena ucapan Ethan. “Jangan libatkan keluargaku.” Balas Clara kesal. Jika Ethan bisa mengendalikan bonekanya, dia akan mengacak – acak wajah dan rambutnya gusar karena perkataan Clara. Tapi dia tidak bisa menyalahkan seorang anak gadis yang berusaha melindungi keluarganya dari kejahatan tersembunyi. Dengan nada pasrah, Ethan berkata, “Clara, kita semua sudah terlibat. Semua daerah di kompleks Sari Madu, Sari Kurma, dan Banana Field terhubung dengan kutukan itu. Jika kita tidak menghancurkannya, bukan hanya keluargamu yang akan ada dalam bahaya. Tapi semua makhluk hidup disekitar sana!"
Clara terkejut saat Ethan menyebut nama – nama tempat didaerah sini. Dia pikir makhluk halus seperti Ethan tidak akan up-to-date dengan perkembangan manusia zaman sekarang. Sebelum Clara bertanya ‘Bagaimana kau tahu nama tempat tersebut?’, Ethan sudah membaca pikirannya. “Aku tahu namanya karena sering jalan – jalan bersama Siska.” Jelas Ethan yang murung karena menjadi korban stereotipe sempit. Clara menghembuskan nafas kasar dan memegang keningnya yang panas karena frustrasi. Pikirannya sedang memproses informasi dan kejadian aneh ini. Setelah itu berkata, “Hah, astaga! Apa aku bisa percaya perkataanmu?”
“Baiklah, kau benar. Tapi apa kau percaya apa yang sekarang kau saksikan sekarang? Boneka yang berbicara dengan telepati.” Balasan Ethan membuat otak Clara berpikir kembali. “Kalau kau butuh bukti, pergi saja ke rumahnya. Nama manusiaku Tirta Samsudin. Dia tinggal di kompleks Sari Kurma, jalan Semanggi nomor 127.”
Meski Clara tidak dapat melihatnya, dalam boneka, Ethan sedang cemberut karena kesal dengan apa yang terjadi dengan rumah yang biasa ditinggali manusia dulu, sekarang menjadi sarang para jin dan hantu liar. Rumah itu juga telah menjadi tempat terciptanya kutukan mengerikan yang akan menghancurkan segalanya. Ethan sangat mengerti kenapa manusia lainnya menganggap rumah Tirta angker. Rumahnya dibuat dari uang haram, kemudian terjadi kemaksiatan didalamnya. Wajar saja jika pada akhirnya ternodai.
Setelah memikirkan ucapan Ethan baik – baik, Clara akhirnya pasrah dengan takdirnya. “Oke, aku akan minta tante sama om.” Saat itu Clara tidak sadar betapa berartinya perkataan itu untuk Ethan. Dengan hati yang bersemi, Ethan kembali mengucapkan rasa terima kasihnya untuk Clara. “Tapi, boleh tidak aku bilangnya besok aja?” Dan Ethan mengizinkan Clara untuk menunda misinya untuk besok.
Karena itu Clara kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Tapi karena dia lupa boneka Ethan ada di kasur, Clara hampir jatuh ke lantai sambil menjerit histeris. “Clara, ini aku, Ethan...” Ucap sosok boneka kecil itu sedih. Tidak biasanya sesosok malaikat sepertinya ditakuti karena dilihat manusia pun tidak pernah. Yang sering ditakuti manusia hingga menjerit histeris hanya iblis dan hantu. Ethan merasa jengkel karena keberadaannya disamakan dengan makhluk rendahan itu.
Dengan tangan yang berusaha dikendalikan, Clara mencubit tangan kiri boneka Ethan dan mengembalikannya ke lemari. “Maaf, aku tidak kuat melihatmu.” Tapi sekali lagi, dia tidak bisa menyalahkan Clara yang fobia terhadap boneka. Lalu dengan langkah gontai, Clara kembali ke kasur.
Hari sudah malam, waktunya semua untuk istirahat. Melepas penat dan mengisi kembali energi yang habis hari ini. Tapi kini, Clara semakin tidak bisa tidur setelah berbicara dengan Ethan. Dia mengedipkan mata berkali – kali dan masih terjaga. Efek tidur siang membuat tubuhnya segar kembali dan walaupun Clara memaksakannya, dia tidak akan tidur lagi dalam waktu dekat.
Tidak ada rencana untuk turun ke bawah dan berkumpul dengan keluarga juga. Dia sudah lelah bertemu banyak orang sejak hari pemakaman, lalu sekarang gadis tak berdaya ini diwajibkan mematahkan kutukan rumah tua. Dunia seakan tidak mau memberinya waktu untuk memproses tragedi. Padahal yang Clara inginkan adalah berbaring tanpa memikirkan apa – apa. Mungkin lebih menyenangkan kalau sendirian, tapi sekarang dia punya teman sekamar. Seperti orang rasional lainnya, Clara mungkin harus menciptakan suasana yang kondusif dengan Ethan agar tidak terjadi skenario bencana, berhubung dia bukan manusia.
“.... Hey, apa kau punya sihir ngantuk?” Gumaman acak Clara.
“Tidak. Tapi aku bisa sesuatu yang lainnya.”
“Kayak apa? EH TUNGGU! Gak bahaya ‘kan?”
Jika Ethan tidak bisa mengatur amarahnya lagi, dia akan segera meledak. Ini sudah ke sekian kalinya dia disangka mirip sosok durjana dari neraka. “Hahaha, tidak sayangku, manusiaku yang lucu, rapuh, dan mudah takut. Kau masih ingat sebelum kita berbicara, kau sedang bersedih bukan? Lalu tiba – tiba saja perasaan sedih itu hilang.” Kemudian Clara teringat kembali perasaan janggal sebelumnya. Rasanya seperti melompat karena pijakan tak terlihat. Bebas tanpa beban. “Itu karena aku bisa melenyapkan pikiran negatif walaupun hanya sementara. Tapi kau merasa lebih baik, bukan?” Clara mengangguk. “Terima kasih, ... Umh, siapa namamu?” Tanpa dia sadari senyuman kecil mengembang diwajahnya.
Hal itu membuat hati Ethan menjadi hangat. Perasaan jengkelnya hilang untuk sementara. Meski dia tidak bisa melihatnya secara langsung, malaikat kikuk itu senang karena Clara tidak terbebani pikiran karena dirinya. Malah bersyukur atas bantuannya.
“Ethan! Lalu apa pun yang akan kita hadapi nanti, ayo lakukan yang terbaik.”
“I-iya... Tapi jangan berharap banyak dariku.”
Clara bangun dari kasurnya dan merenggangkan tubuh. Rencananya dia akan cuci muka untuk memperbaiki wajahnya yang kusut. “Ethan, kamu beneran tidak ada sihir tidur?” Tanya Clara sebelum pergi dan Ethan menjawab, “Negatif. Lagipula akan terjadi bencana jika bermain sihir sembarangan.”
“Benar juga.” Clara pun membuka pintu kembali untuk menghadapi kenyataan. Setelah itu, dia berusaha tetap tenang karena harus menahan kecanggungan diantara dirinya dan anggota keluarga lainnya.