Niat baik Juwita yang ingin membantu sahabatnya malah membuat salah paham Kakek dari sahabatnya itu. Karena kesalah pahaman itu, mereka di paksa untuk menikah. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benak mereka untuk menikah dengan sahabat apalagi di usia yang terbilang muda. Bagaimana mereka akan menjalani pernikahannya, akankah mereka bahagia??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xlucyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Kamu juga lupa tadi?" tanya Juwita tidak percaya.
Raka lantas mengangguk dan membelai kepala juwita dengan penuh kasih sayang
Mata Raka tanpa sengaja melihat jam di dinding yang sudah hampir jam delapan, Raka lalu mengajak Riska untuk bersiap turun
kebawah. Memikirkan, jika mereka berdua tadi sama-sama melupakan pernikahan mereka,
membuat Raka terkekeh geli sendiri.
Juwita menatap Raka dengan tatapan bingung
"Kenapa kamu tertawa seperti itu?" tanya Juwita
Raka hanya menggeleng sambil tersenyum. "Bukan apa-apa. Sana, kamu cuci muka, dan gosok gigi dulu! Mandinya nanti saja!" Raka mendorong pelan Juwita menuju kamar mandi.
"Kenapa nggak mandi saja sekalian sih Rak?"
protes Juwita
"Udah sana! Aku juga belum cuci muka Lihat! Sudah jam delapan lebih," ucap Raka sambil
menunjuk jam di dinding.
Juwita sontak langsung melihat jam di dinding. Memang benar, sudah jam delapan lebih.
"Kamu jangan sampai telat makan Ta, Ingat kan?" ucap Raka mengingatkan.
"Masa mau sarapan belum mandi sih Rak, Nggak banget deh," gerutu Juwita
"Lebih baik sarapan tanpa mandikan, daripada nanti masuk rumah sakit lagi?" ucap Raka
"Udah sana cepetan!" lanjutnya sambil membuka pintu kamar mandi yang ada di kamarnya.
Sedangkan di bawah, para orangtua sudah selesai sarapan, dan sedang duduk santai di ruang keluarga, Raka dan Juwita yang baru saja turun langsung menghampiri mereka di sana.
"Kalian sudah bangun," sapa Tania yang melihat mereka akhirnya turun juga.
"Kalian sarapan dulu sana, pasti kalian lapar kan Tania langsung mendorong Raka dan Juwita tanpa menunggu jawaban mereka.
"Belum juga ucapin selamat pagi, udah di dorong saja, disuruh cepat sarapan," batin juwita
Selesai dengan sarapan mereka ikut berkumpul dengan yang lain.
"Papa" Riska langsung mendekati Papanya, dan mencium pipinya seperti biasanya
"Pagi Pa " Melihat Juwita yang menyapa dan mencium Papanya, secara tidak sadar Raka merasa cemburu.
"Beda sekali perlakuannya padaku. Bahkan, tadi pagi sapaannya mendorongku hingga jatuh lantai " pikir Raka
"Sayang masa cuma Papamu saja yang disapa kita nggak disapa juga? Tania merasa ini, karena tidak pernah sekalipun Raka bersikap manis seperti yang dilakukan Juwita sekarang
Selamat pagi Kakek Om dan Tante sapa Juwita sambil tersenyum.
"Lho, kok panggilnya masih Om dan Tante sih Papa dan Mama dong sayangkan kamu sekarang sudah jadi menantu mama " Juwita terdiam sebentar
"Maaf Ma Riska masih belum terbiasa " Jawab Juwita malu-malu.
" Tidak apa-apa, mulai sekarang panggilnya Mama dan Papaya. Sini dong Ta, cium Mama juga Tania meminta ciuman selamat pagi pada
menantunya
Tania dulu ingin sekali memiliki anak perempuan. Tapi tuhan hanya memberikan kepercayaan padanya untuk merawat satu anak saja Tania ingin memiliki anak perempuan juga yang manis seperti juwita, Tapi tidak disangkanya ternyata malah mendapatkan Juwita menjadi menantunya
"Pagi Ma" juwita mendekat dan mencium pipi Tania dengan sayang
"Duduk sini Ta," ucap Tania sambil menepuk sofa di sebelahnya.
Riska menurut, dan duduk di sebelah mertuanya. Raka yang melihatnya merasa iri mungkin karena dia merasa bahwa sapaan Juwita padanya berbeda dengan yang dilakukan Juwita pada orang tuanya
"Oh ya Ka, kapan kalian akan bulan madu? tanya Kakek
Raka dan Juwita kaget dengan pertanyaan Kakek
"Belum kepikiran Kek, jawab Raka mencoba untuk tetap tenang.
"Lho, memangnya ada apa? Bukankah sebaiknya kalian segera bulan madu?" Tania
bertanya beran
"Itu Ma, Juwita masih ada kerjaan sampai minggu depan," jawab Juiwta asal
Ya Juwita dan Raka memilih langsung bekerja saat mereka dinyatakan lulus SMA 2 bulan lalu
Juwita Niatnya ingin menghindari pembahasan tentang bulan madu " apa tidak bisa di cancel Ta?" tanya Tania
"Tidak bisa Ma, itu sudah mundur satu minggu dari jadwal yang seharusnya Ma"
"Iya Ma, Raka juga masih ada pekerjaan yang harus segera Raka selesaikan nanti setelah pekerjaan kita selesai, Raka pasti akan bulan madu sama Juwita, Iya kan sayang" kata Raka dengan tersenyum manis
"Untung saja mulutku ini manis, Jadi bisa memberikan alasan yang bagus untuk mereka" batin Raka
Bulan dan hari berlalu begitu saja. Kehidupan rumah tangga Raka dan Juwita terbilang lancar, tanpak mereka kini tengah mendekatkan diri merka agar bisa lebih cepat untuk saling mencintal, Keinginan yang kuat untuk memperjuangkan pernikahan mereka, serta kedua keluarga yang sangat menyayangi mereka. Mungkin itu jugalah yang menjadi sebagai alasan mereka menjalan pernikahan dengan bahagia.
Tidak banyak perbedaan dalam hidup mereka setelah menikah. Mereka masih sangat saling menjaga kemana-mana selaku bertiga dengan Reno. Namun, frekuensinya lebih sering bersama Raka mungkin yang membedakan, mereka tinggal satu rumah, dan tidur satu ranjang setiap malam.
"Raka Boleh ya" bujuh Juwita dengan manja dan sedikit memaksa sudah menjadi suatu kebiasaan juwita sedari dulu ketika juwita menginginkan sesuatu maka Juwita pasti akan merengek manja pada siapa yang dinginkannya. Keluarga mereka juga memanjakan Juwita yang notabennya adalah satu-satunya anak gadis di antara mereka.
"Nggak boleh" jawab Raka dengan tegas
"Masa masih nggak boleh sih Rak. Kan daripada nanti kamu antar bolak balik pasti kamu capek kan? Lebih baik aku naik mobil sendir saja ya " rayu Juwita
"Sekali tidak, Tetap tidak Juwita Alexia!
Juwita lantas memalingkan wajahnya dari Raka
Raka menghela nafasnya dan sekarang Raka harus segera membujuknya, agar nanti tidak merembet kemana-mana.
"Ta, sini! Dengerin aku ngomong dulu." Raka mencoba menarik wajah Juwita agar menghadap padanya.
Juwita yang masih ngambek, tidak mau menatap Raka sama sekali. Juwita merasa kesal, karena masih tidak dizinkan juga untuk mengendarai mobil sendiri padahal dia sangat ingin menyetir sendiri.
"Juwita, madep sini suamimu mau bicara" ucap Raka memaksa Juwita agar mau menatapnya,
"Kamu mau menyetir sendiri?" tanya Raka
Lembut. Raka juga memegang wajah Juwita yang masih cemberut
"Iya, kan aku juga mau naik mobil sendiri, Nggak kemana-mana mesti di supirin terus"
Jawab Juwita jutek
Raka menghela napasnya "Kamu tahu kenapa kamu tidak diizinkan menyetir sendiri? Raka menatap langsung ke mata Juwita.
juwita mengangguk ragu. Walaupun juwita sadar, mengapa dia tidak diperbolehkan untuk menyetir sendiri. Namun, keinginannya untuk bisa mengendarai mobil sendiri sangat kuat.
" terus kenapa masih ingin menyetir sendiri?" Tanya Raka
"Aku kan juga pengen kayak kalian yang kemana-mana nggak perlu nungguin yang antar, Aku juga pengen bisa langsung pergi, tidak perlu nunggu Papa, atau satu diantara kalian yang ada waktu dulu baru aku bisa pergi" juwita menangis karena kesal dengan dirinya sendiri.
Raka yang melihat juwita yang menangis sungguh tidak tega. Raka kemudian langsung memelukya dan menenangkannya
mampir jg yu ke cerita ku. " love story in SMA "