Indonesia
NovelToon NovelToon
Maria

Maria

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: fatmawati320

"Maria, tahukah kamu bahwa saya sangat mencintai Laila?" Telak. Langit seperti terhempas ke badannya yang mungil. Seperti tersambar petir di siang bolong. Maria tak berkutik, mulutnya hanya sedikit terangah.

Ya, dia adalah Christina Maria, gadis dengan bola mata cokelat itu tak sengaja menaruh rasa pada seorang pria pemilik pesantren ternama. Benih-benih cinta itu tumbuh tatkala, pria itu mulai mensyiarkan agama Islam di diskotik, tempat Maria kerja.

Namun, sayang. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan, Maria pun belum memulainya. Ya, cintanya tak berbalas. Ia harus menerima kenyataan pahit ketika mengetahui bahwa pria yang dicintai ternyata menaruh rasa pada gadis lain.

Akankah mereka dapat terikat dalam benang merah yang sakral walaupun keyakinan menjadi penghalang dari keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmawati320, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Lari Laila!

^^^"Jangan mengejar cinta. Jadilah yang diperebutkan oleh cinta."^^^

..._Mario Teguh. ...

Gemuruh petir menyambar saling bersahutan satu sama lain. Pagi ini tidak secerah biasanya, langit yang biasanya membentang dengan warna biru kini berubah diselimuti warna kelabu. Begitu juga dengan hati Amar, sudah tiga hari berlalu setelah kejadian di depan kos. Namun, pria itu tidak bisa melupakannya. Wajah Maria masih terbayang-bayang di pikirannya. Ah, ampunilah Ilahi. Ia paham jika ini adalah kesalahan besar. Dengan memandang dan memikirkan seseorang sehingga menimbulkan nafsu syahwat itu adalah zina.

"Cepat dimakan, keburu bengkak itu mie ayamnya." Hanya dengan suara bariton dari Gus Idrus, lamunan singkat Amar buyar. Pria itu mengerjap beberapa kali dan menatap sejenak wajah sang kakak yang duduk di hadapannya.

Amar menghembuskan napas lelah. Pria itu kembali menyantap makanan yang sudah beberapa menit yang lalu dipesan. Entah mengapa, nafsu makannya menurun.

"Cepat habiskan, jangan membuang-buang makanan. Mubazir. Orang yang suka membuang-buang makanan adalah temannya setan. Kamu mau berteman dengan setan?" Amar memutar bola matanya kesal. Ah, hari ini kakaknya itu cerewet sekali. Tidak seperti biasanya. Bukan. Kakaknya memang cerewet, tetapi kali ini berbeda.

"Kemana saja kamu kemarin? Janjinya sebentar, tapi lebih dari dua jam." Tidak ingin berniat menjawab pertanyaan dari Gus Idrus, Amar terus melanjutkan memakan seporsi mie ayam miliknya.

"Atau jangan-jangan kamu--"

"Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Jangan suku suudzon. Jangan suka menyimpulkan sesuatu jika Kakak tidak tahu hal yang sebenarnya." Seperti tidak ingin mengizinkan Gus Idrus meneruskan perkataannya, Amar memotong kalimat tersebut dengan sangat cepat. Bahkan, sumpit yang berisi mie ayam tengah mengambang di udara.

"Iya-iya, maaf."

Amar berdiri setelah menghabiskan semangkuk mie ayam. Pria itu meninggalkan kakaknya yang masih menyesap es jeruk. "Amar, tunggu."

"Astagfirullah." Seorang gadis dengan kerudung putih berlari dari arah berlawanan tanpa melihat sekeliling sehingga menabrak dengan keras tubuh Amar.

Gadis itu tersungkur ke lantai, beberapa buku yang didekapnya berserakan memenuhi sebagian lantai. Gadis itu meringis kesakitan, ia memegangi lengan tangan bagian kirinya seraya memejamkan mata.

"Maaf, saya tidak sengaja. Apakah kamu baik-baik saja?" Amar mengambil buku milik gadis itu yang berserakan dan memberikan kepadanya. Namun, ekspresi Amar berubah ketika gadis tersebut menampakkan raut wajahnya yang polos dan ia mengenalinya.

"Laila." Suara itu begitu kencang sehingga Gus Idrus dapat mendengarnya. Pria itu menghampiri Amar dan Laila. Ia melihat netra adiknya tengah beradu pandang dengan seorang gadis yang sepertinya tak asing bagi Gus Idrus.

"Amar." Kembali, suara itu mencairkan suasana. Netra Amar mengerjap, gadis itu memutuskan pandangan sepihak dan memilih untuk menunduk dalam. Lengannya? Bagaimana dengan lengan tangan gadis itu?

"Loh, kamu. Sedang apa di sini?" Amar berdiri dan mensejajarkan posisi tubuhnya tak jauh dari Gus Idrus. Ia kembali menatap wajah mungil Laila yang terduduk di lantai seraya memijat pelan lengannya.

"Buku itu? Dapat dari mana kamu? Atau jangan-jangan...." Laila mendongak dengan cepat. Seperti paham akan maksud perkataan Gus Idrus, Laila langsung menggeleng cepat. Kedua telapak tangannya pun digerakkan seperti kepalanya yang kini kian menggeleng. Benar. Gadis itu menyangkal tuduhan Gus Idrus, bagaimana bisa ia menuduh Laila mencuri sedangkan ia mendapatkan buku itu dengan membeli menggunakan uang tabungannya di toko buku.

"Kakak mengenalnya?" Gus Idrus mengangguk. Tunggu. Apakah Gus Idrus sudah pernah bertemu secara langsung dengan Laila kecuali di rumah sakit?

"Dia adalah salah satu santriwati di pondok pesantren milik Abah. Dia santri ceroboh yang saat ini tengah kakak hukum." Laila bangkit dengan menundukkan pandangan. Malu. Ah, mengapa pria itu harus mengatakannya di hadapan Amar? Tidak bisakah ia menyembunyikan aib itu?

Amar mengernyitkan dahi, menyatukan kedua alisnya. Ceroboh? Apa kesalahan Laila sehingga Gus Idrus sampai menghukum gadis lugu itu? Setahu Amar, dia adalah gadis baik. Ya, memang dia sedikit ceroboh dan polos.

"Hukuman yang saya berikan sepertinya sudah selesai sampai-sampai kamu berani untuk keluar dari pondok pesantren." Laila mendongak dan menggeleng cepat. Tubuh gadis itu gemetar hebat. Jantungnya berdebar di batas normal. Ah, tabiat Gus Idrus beda sekali dibandingkan dengan Amar. Terlalu kaku.

Lutut Laila terasa lemas. Bagaimana ini, ia harus menjawab apa? Bibirnya, mengapa mendadak kaku? Kamus dalam otaknya seperti hilang sehingga ia tidak bisa merangkai kalimat.

"Itu, Mas. Laila--disuruh Nyai pergi ke pasar membeli beberapa sayur dan lauk-pauk untuk makan malamnya--santri." Laila tidak berani menatap langsung netra Gus Idrus. Pun dengan suaranya, terdengar begitu gemetar sehingga membuat ia mengatakan kalimat yang sudah ia rangkai dengan terbata-bata.

"Kamu ke sini sama siapa, Laila?" Kini giliran Amar yang bertanya pada gadis lugu itu. Hening. Tidak menjawab, gadis itu hanya membisu dan terpaku. Berdiri diam dengan meremas tas anting yang dibawanya.

"Jangan berdiri saja, sana--cepat pergi dan beli barang yang sudah diamanahkan Umma!" Laila tersentak. Di detik yang sama, gadis itu mengangguk cepat. Tidak ingin terlalu lama di dekat Gus Idrus, Laila langsung lari terbirit-birit untuk masuk ke dalam pasar.

Netra Amar tak bisa lepas dari gadis di depannya itu yang tengah lari ketakutan. Ah, seperti melihat hantu saja. Padahal, Gus Idrus tak semenakutkan yang ia kira. Sebenarnya pria itu baik, hanya berpura-pura galak saja supaya tidak ada yang semena-mena kepadanya.

"Ayo pulang," ajakannya.

Senyum simpul Amar sirna, begitu pula dengan lamunannya. Ia menoleh dan menatap wajah Gus Idrus. Pulang? Lantas, gadis itu bagaimana?

"Pulang? Lalu, Laila--bagaimana?" Gus Idrus berdecak pelan dan sedikit melotot pada adiknya.

"Dia sudah besar, pastinya dia sudah tahu arah jalan pulang." Telapaknya menggamit lengan tangan Amar. Pria itu menatap ke arah pasar. Namun, ia tak mendapati siluet tubuh Laila. Sepertinya gadis itu sudah masuk ke dalam pasar.

Amar masih tak bisa mengalihkan netranya. Pria itu tetap menatap di mana ia terakhir kali melihat Laila. Berat, entah mengapa. Ini adalah ketiga kalinya ia bisa berjumpa dengan gadis polos itu. Sayangnya, Amar tak pernah bisa berbincang terlalu lama dengannya.

***

Hujan turun begitu lebat. Sementara, senja telah bertahta. Kemilau jingga perlahan menggores warna langit semakin kentara. Gemericik suara air yang menetes dari atas membuat hati Amar semakin lama semakin khawatir. Bukan karena suatu alasan yang jelas. Namun, sesosok gadis yang beberapa jam lalu telah bersemayam di benaknya membuat ia gelisah dan gugup. Segudang pertanyaan bersarang di pikirannya. Bagaimana bisa gadis itu, sampai apakah dia sedang baik-baik saja telah tersusun rapi.

Berkali-kali ia menghembuskan napas berat. Pria itu tak kunjung beranjak dari depan jendela ruang tamu. Siapa yang sedang ia tunggu? Abahnya?

"Sudah dari tadi kamu diam di situ, sedang menunggu siapa?" Suara bariton nan serak dari seseorang di belakangnya mencairkan suasana. Amar menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang pria paruh baya yang duduk di atas kursi roda dengan sesosok wanita paruh baya tengah menatap Amar.

Pria itu berjalan menghampiri sumber kebahagiaannya dan duduk tak jauh dari Abah Abdurrahman. "Tidak Abah."

Pria paruh baya itu mengelus puncak kepala Amar. Seperti paham akan apa yang tengah dipikirkan oleh putra bungsunya, Abah Abdurrahman mengatakan sesuatu yang membuat Amar mendongak cepat. "Apakah kamu sedang memikirkan Laila?"

Telak. Membatu. Bagaimana abahnya bisa mengetahui isi pikirannya? Ah, ia jadi malu. Namun, mengapa harus malu? Sedangkan dirinya dan Laila tidak memiliki hubungan spesial.

"Tadi Amar ketemu Laila di pasar. Amar hanya khawatir apakah--"

"Dia sudah pulang beberapa jam yang lalu dengan selamat." Amar kembali mendongak. Rasanya lega mendengar bahwa gadis itu telah kembali dengan selamat. Tak lama, senyum itu kembali terbit. Tunggu. Pulang dengan siapa? Apakah dia naik angkutan umum di cuaca yang seperti ini?

"Dengan siapa? Apakah dia pulang menggunakan angkutan umum?" Abah Abdurrahman dan Umma Maryam terkekeh. Geli melihat raut wajah putra bungsunya. Sejak kapan Amar jadi khawatir berlebihan kepada seorang gadis?

"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan Laila. Apakah kamu suka dengan gadis lugu itu?" Amar membulatkan mata, pria itu dibuat salah tingkah dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh abahnya.

"Ah, tidak--Abah. Siapa juga yang suka sama Laila."Pria itu memalingkan wajah. Di detik yang sama, ia menenggelamkan wajahnya pada kedua lutut Abah Abdurrahman yang saling bersejajar. Malu. Wajahnya memanas, begitu pula dengan rona merah itu, bagaimana bisa sampai melekat di pipinya?

Tidak banyak yang mereka bicarakan, setelah itu terdengar azan yang berkumandang mengalun di telinganya. Terdiam, perlahan bibir Amar silih berganti menirukan asma Allah. Ya, apalagi yang bisa Amar lakukan kecuali menjawab seruan dari Sang Pencipta. Setelah azan berkumandang dan doa setelah azan selesai mereka lantunkan, Amar membawa abahnya untuk bergegas menuju masjid menunaikan salat maghrib berjamaah.

Gus Idrus, bagaimana dengan pria itu? Kemana perginya pria dingin itu? Entahlah, setelah pulang jalan-jalan dengan Amar, katanya ia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Memang, akhir-akhir ini Gus Idrus disibukkan dengan tugas akhir kuliah. Mengingat bahwa ia sudah memasuki semester akhir. Namun, Gus Idrus juga tidak pernah cuti dalam ikut abahnya mengajar di pondok pesantren.

***

Setelah selesai menjalankan kewajibannya, Amar memilih untuk duduk di teras masjid seraya menikmati suasana dingin dan bau tanah setelah diguyur hujan terlalu lama. Ia termenung dengan menatap langit yang nampak gelap gulita sama seperti hatinya. Tak ada satu pun bintang yang berkedip.

Amar kembali menundukkan kepala dan menghela napas berat. Namun, dari ujung netranya ia menangkap siluet sesosok gadis yang masih mengenakan mukena putih mondar-mandir kebingungan seperti mencari barangnya yang telah hilang.

Penasaran, pria itu berlalu untuk menghampiri gadis itu. Kini ia mulai paham, sepertinya gadis itu tengah mencari sandalnya yang kemungkinan besar telah hilang. Berinisiatif ingin membantu, Amar menelisik ke seluruh tepi masjid, mencari sepasang sandal jepit. Walaupun Amar tidak mengetahui warna sandal yang dipakai gadis itu.

Selang beberapa menit, atensinya menangkap sepasang sandal jepit merah yang tergeletak tak jauh dari area masjid. Amar bergegas mengambilnya. Kemudian, perlahan tanpa mengatakan sepatah kata, pria itu meletakkan sandal tersebut di depan gadis misterius itu.

"Astagfirullah haladzim." Sontak gadis itu terkejut saat mendapati seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya ketika ia membalikkan badan.

Ia menyipitkan kedua matanya, dan dirinya baru sadar jika pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu adalah Amar. Begitu pula dengan Amar, ternyata gadis yang kebingungan tengah mencari sandal jepitnya yang hilang adalah Laila.

"Mas--Mas Amar." Suaranya terbata-bata. Dengan cepat, Laila membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan Amar tanpa mengucapkan terima kasih.

"Laila. Tunggu." Pria itu berusaha untuk mengejar langkah Laila yang begitu cepat. Ah, mengapa gadis itu selalu menghindar? Ada apa dengannya?

"Jangan lari Laila, saya hanya ingin bertanya sesuatu kepada kamu." Laila menghiraukan panggilan itu. Seolah-olah ia telah menutup telinga dengan rapat sehingga ia tuli dan tak mendengar suara bariton Amar.

Laila terus berlari sampai gadis itu terjatuh di atas lantai yang masih basah akibat derasnya air hujan. Ya, gadis itu terpeleset. Bingung harus berbuat apa, Amar hanya terpaku saat melihat Laila yang meringis kesakitan.

"Innalillahi. Kenapa cuma dilihat saja? Ayo cepat bantu angkat!" Gus Idrus berlari kecil menghampiri Laila. Tubuh gadis itu diangkat dan segera dibawa ke kediamannya. Dari belakang, Amar menyamakan langkahnya dengan Gus Idrus.

Laila, apakah kamu baik-baik saja? Bertahanlah!

Bersambung....

Pasuruan, 12 Februari 2023

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!