Perjalanan seorang gadis remaja untuk mencari sang ayah yang tidak pernah ditemuinya sejak ia masih di dalam kandungan sang ibu.
Akankah dia bertemu dengan ayahnya? atu tidak akan pernah bertemu selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode ~ 9
Satu hari berlalu. Rasanya seperti 1 jam. Sepulangnya mereka ke desa, guru Zayn langsung meminta mereka segera kembali ke rumah masing-masing.
Ibu Amora menyambut Amora dengan baik saat Amora sampai di rumahnya. Dia tidak khawatir karena mendapatkan pesan dari guru pembimbing muridnya melalui surat merpati.
"Syukurlah kau pulang dengan selamat, Amora" sambut sang ibu dengan wajah senang serta gembira.
"Apakah ibu khawatir padaku saat aku tidak pulang?"
"Awalnya iya. Ibu panik dan menanyakannya kepada orang tua teman-temanmu. Tapi untunglah surat dari guru pembimbingmu datang dengan cepat. Ibu merasa lega sekali setelah membaca isi suratnya"
"Aku meminjam buku ini di perpustakaan desa" Amora menunjukkan sebuah buku dengan warna kertas kecoklatan.
Ibu Amora terdiam sejenak. Kemudian ia terbahak.
"Kau ingin apa dengan buku ini, Amora? ingin mengetahui sejarah peradaban Aoxy?" sembari bertanya kepada Amora.
"Iya, aku membaca salah satu kisah. Dimana ada seorang pria yang menguasai sihir Hyacintho Fulgur. Sihir itu berdasar pada Fulva Fulgur" jelas Amora dengan raut wajah sedih.
Ibunya kembali terdiam tanpa satu kata pun. Sepertinya ia tidak lagi bisa berkata-kata mengenai penjelasan yang dilontarkan putrinya.
"Apa mungkin aku adalah keturunan pria ini bu? catatan di desa mengatakan bahwa pemilik sihir Fulva Fulgur saat ini hanya 5 orang termasuk aku. 2 diantaranya telah terbukti sebagai pengguna sihir Rubrum Fulgur. Lalu 3 yang lainnya belum terbukti"
Kini ibunya semakin tidak bisa berkata-kata. Apa yang bisa ia ucapkan pada putrinya?
"Apa pria itu adalah ayah? apa itu benar bu? jawab aku!" Amora menaikkan nada bicaranya. Semakin lama dia membaca sejarah, dia semakin mengerti bagaimana dan siapa sosok pemberontak miterius itu.
"Amora..." air mata berlinang di mata sang ibu. Bagaimana lagi jika sudah begini?
Amora kini merasa bingung. Ia ingin mendapatkan jawaban tentang keberadaan sang ayah. Tetapi itu jelas akan melukai ibunya juga.
"Ibu... maafkan aku bu. Aku tidak bermaksud..." Amora memegang lembut tangan sang ibu. Ia tidak ingin membuat ibunya menangis tersedu-sedu.
"Katakan bu... dimana ayah berada?" nada bicara Amora berangsur tenang.
"Ayahmu menghilang, Amora. Dia menghilang dan tidak kembali hingga hari ini" Amora membuang muka dari ibunya. Setiap kali ia bertanya soal ayahnya, ibunya selalu menjawab jika ayahnya menghilang.
"Kenapa ibu selalu menjawabnya seperti itu?"
"Karena memang kenyataannya seperti itu" Ibu tidak kalah dalam berkata-kata. Bagaimana pun caranya, dia harus membantah dan menyanggah setiap ucapan Amora tentang ayahnya.
"Apa maksud ibu ayah menghilang?" Amora masih belum lega karena tidak mendapat jawaban yang pasti.
"Ayahmu tidak pernah kembali setelah perang besar pecah pada awal peradaban Aoxy" jelas ibu agar Amora tidak lagi bertanya lagi dan lagi.
Mereka yang sekarang hidup pada pertengahan peradaban. Awal peradaban terhitung masih tahun-tahun lalu.
Amora berdiri mematung membelakangi ibunya. Masih menggenggam erat buku sejarah di tangannya. Ibunya tidak pernah menjelaskan secara detail soal hilangnya sang ayah selama ini. Baru hari ini ia tau kenyataannya tidak seperti yang dipikirkannya bahwa sang ayah akan kembali suatu hari nanti.
Hatika seperti tersayat-sayat. Betapa sakitnya mengetahui kenyataan yang berbalik 180 derajat.
"Kenapa ibu tidak pernah mengatakannya secara detail kepadaku?" dengan posisi membelakangi sang ibu, matanya mulai berlinang air mata.
"Karena kau tidak akan mengerti, Amora. Ibu tidak tau bagaimana cara menjelaskannya kepadamu yang masih kanak-kanak. Maafkan ibu, Amora. Ibu tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Cepat atau lambat kau juga akan mengetahuinya" ucap ibu dengan nada menenangkan. Mungkinkah dia menyesal karena memberitahu Amora?
Amora berlari meninggalkan rumahnya. Pergi ke sebuah bukit berumput hijau segar. Siang berganti dengan senja.
Dari atas bukit, pemandangan indah tersaji. Matahari yang mulai condong ke arah barat memancarkan sinar jingganya. Desa juga terlihat dari sini. Kesibukan penduduk belum usai walau matahari akan tenggelam.
Amora meneteskan air matanya. Walaupun dia belum tau pasti kemana ayahnya pergi terakhir kali dan apa alasannya dia pergi, tetapi itu saja sudah berhasil mensayat-sayat hatinya.
"Dimana kau ayah? aku akan mencarimu" Amora masih terduduk diantara hamparan rumput hijau bukit dekat rumahnya. Tangisnya sudah reda, tetapi rasa sakit hatinya belum hilang sepenuhnya.
Amora berdiam di atas bukit, memandangi matahari hingga tenggelam sempurna. Sore berganti dengan malam. Amora masih duduk disana sendirian.
Langkah kaki seperti berjalan kearah Amora dari belakang. Amora pikir itu adalah ibunya yang hendak menyuruhnya pulang kerumah.
"Amora" suara itu terlontar begitu saja. Itu bukan suara ibunya. Melainkan sosok seorang yang dekat dengan Amora.
Amora seketika menoleh. Bagaimana bisa dia ada disini malam-malam?
"Vel" ucap Amora kemudian.
"Kenapa kau disini sendirian? sedang bertengkar dengan ibumu?" Vek duduk disamping Amora. Dia selalu mengerti perasaan sahabatnya itu.
Amora masih terdiam. Tidak menjawab walau sepatah kata pun. Vel juga tidak bertanya lagi. Dengan sabar menunggu Amora mau menceritakan suatu hal kepadanya.
Angin berhembus menerpa paras mereka berdua. Dingin. Namun nikmat sekali. Dibawah bukit tidak lagi terlihat rumah-rumah karena gelap. Hanya cahaya tipis yang ada disana. Seperti cahaya lampu lilin.
Mereka berdua masih saling diam. Tidak ada satupun yang memutuskan untuk mengeluarkan kata-katanya. Amora akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Vel,... kau ingin tau aku kenapa kan?"
"Iya, ceritakan semuanya. Jangan memendam ini sendirian"
"Saat aku pulang dari perjalanan kita, ibu menyambutku setelah masuk kedalam rumah. Dia bilang khawatir kepadaku. Aku hanya ingin bercerita kepadanya tentang buku sejarah yang kupinjam dari perpustakaan desa," Amora mengawali ceritanya.
"Lalu?" karena Amora tidak melanjutkan ceritanya, Vel pun berkomentar.
"Aku bilang kepada ibu, jika aku membaca sebuah kisah tentang pria pemberontak pengguna sihir Hyacintho Fulgur,"
"Pria yang kemarin itu?"
"Iya"
"Bagaimana reaksinya?"
"Aku pikir pria itu mungkin adalah ayahku yang menghilang beberapa tahun lalu. Tapi entahlah. Ibuku tidak menjelaskannya lebih dalam lagi"
"Hipotesis yang bagus. Aku akan selalu berpihak kepadamu, Amora. Untuk mendapatkan jawabannya, kau harus berpetualang" Vel mengutarakan pendapatnya.
"Berpetualang?"
"Ya, pergi menjelajah hingga kau tau sejarah dunia tanpa hanya sekedar membaca buku saja" tambahnya lagi.
"Baiklah, kita akan pergi kemana?"
"Kemanapun. Aku akan menemanimu. Tapi sepertinya tidak hanya aku. Inai dan Sera juga akan ikut"
Amora tersenyum lebar. Dia berpikir akan segera berpetualang bersama ketiga sahabatnya. Oh, itu akan sangat menyenangkan.
Amora akhirnya pulang kerumah diantar oleh Vel. Dia tidak lagi marah maupun merajuk pada ibunya. Karena dia punya rencana akan menggali semuanya sendiri.
...----------------...
•
•
•
•
•
•
•
...Halo readers... kalian telah sampai pada akhir Episode ~ 9. Nantikan lanjutannya ya!!!...
...Harap sabar menunggu karena author bukan orang rajin ;)...
...Sampai jumpa di Episode ~ 10 ya!!!...
...Jangan lupa tinggalkan jejak kalian jika suka dengan ceritaku....
...Bakalan ada kisah petualangan baru mereka nih. Gimana ya? untuk penonton setia novel ini harap sabar menunggu 😇🤗....