Nadia pindah ke sekolah Ana dengan satu tujuan. Dia ingin membalaskan dendam Ana, anak panti yang selalu mendapat perlakuan tidak baik dari teman-temannya. Sampai akhirnya Ana memutuskan untuk bunuh diri, dan meninggalkan surat permintaan tolong untuk membalaskan dendamnya.
Namun ada banyak hal yang mencurigakan, Nadia tau persis apa yang dialami Ana. Membuat pelaku perundungan juga menyelidiki latar belakang Nadia yang sebenarnya.
Lantas, apakah Nadia berhasil membalaskan dendam Ana? Ataukah justru Nadia yang mendapat perlakuan tidak baik dari target balas dendamnya Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ajoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Ana kembali fokus mengikuti pelajaran selanjutnya. Dia tidak menghiraukan Elsa dan teman-temannya lagi. Terserah mereka mau bilang apa dan mau berbuat apa. Ana memilih untuk tidak peduli.
Sampai akhirnya jam pelajaran telah berakhir. Elsa tidak melakukan apa-apa lagi pada Ana. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Semua murid dipersilahkan untuk pulang, setelah selesai berdo'a.
Namun, saat guru meninggalkan kelas, tiba-tiba saja Mario si ketua kelas mememberikan larangan pulang.
"Jangan pulang dulu!" Mario menghentikan teman-temannya yang tak sabar ingin pulang.
"Kenapa lagi?" Murid kelas X IPS 2 protes, mereka tidak sabar untuk segera meninggalkan ruang kelas itu. Ingin segera melepas penatnya setelah belajar.
"Seperti yang dikatakan oleh Bu Lilis tadi. Silahkan diperiksa lagi lacinya. Jangan meninggalkan benda apapun di laci! Entah itu buku, alat tulis, atau yang lebih parahnya meninggalkan sampah di dalam laci. Silahkan bawa semua yang tertinggal di laci! Besok pagi kita akan berpindah tempat duduk, seperti apa yang diperintahkan oleh Bu Lilis tadi." Mario kembali mengingatkan teman-temannya.
"Astaga! Apa nggak bisa besok aja? Udah sore ini! Mau cepet pulang!" Mario mendapat protes daei teman-temannya.
"Nggak! Semuanya harus membersihkan lacinya sekarang juga. Aku nggak mau, besok pagi ada keributan. Gara-gara menempati tempat duduk temannya yang kotor. Jadi protes sana sini." Mario tetap bersikap tegas.
"Aku bakalan cek satu-satu laci, kalau yang udah bersih, bilang sama aku! Kalau emang beneran bersih, aku kasih ijin untuk pulang duluan." Mario menambahkan.
Sebagian anak mengeluh, karena terpaksa menunda kepulangan mereka. Meskipun sebenarnya membersihkan laci tidak perlu waktu yang lama. Sedangkan Ana, dia sangat santai. Dia terbiasa meninggalkan mejanya dalam kondisi bersih.
"Mario! Laciku udah bersih! Silahkan dicek!" Ana mengangkat tangan, memanggil ketua kelas.
"Oke, sebentar!" Mario berjalan menuju ke meja Ana. Dia memeriksa isi laci Ana yang memang bersih.
"Oke, kamu boleh pulang!" Mario memberikan ijin pada Ana untuk meninggalkan kelas.
"Trimakasih." Ana mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berjalan keluar kelas. Meninggalkan teman-temannya yang masih menunggu giliran untuk diperiksa mejanya oleh Mario. Ana bergegas untuk pulang, dia berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar untuk menuliskan apa yang dia alami hari ini.
Sesampainya di panti, Ana terpaksa menunda niatnya untuk menuliskan apa yang terjadi hari ini dalam buku diary-nya. Karena ternyata keadaan tidak memungkinkan. Adik-adik di kamarnya, tidak pergi keluar dari kamar. Ana tidak mau, saat menuliskan curhatannya di diary, ada orang lain yang melihatnya. Ana tidak mau terlihat rapuh di mata adik-adik satu kamarnya itu.
Ana bersikap seperti tidak ada masalah, saat berada di panti. Dia bisa tertawa bahagia saat bersama teman-teman pantinya. Tidak seperti saat di sekolah, dimana dia selalu sendiri. Dikucilkan oleh teman-temannya, tanpa dia tau, apa kesalahannya yang sebenarnya.
Sebenarnya tidak sepenuhnya dikucilkan. Lebih tepatnya, tidak ada yang mau berteman dengan Ana. Meskilun tidak semua berbuat jahat pada Ana, tapi kenyataannya, Ana tidak punya teman sama sekali.
Ketika malam hari tiba, saat semuanya sudah tertidur, Ana mengambil buku diary-nya yang tidak nampak kalau itu adalah buku diary itu. Dia membuka halaman yang masih kosong, kemudian mulai menuliskan isi hatinya di dalam buku istimewanya itu.
[Dear Diary
Hari ini aku benar-benar merasa sangat rendah dan hina. Elsa dan teman-temannya lagi-lagi berbuat hal semena-mena. Dari pagi, mereka sudah membuat gara-gara. Mereka menghadangku di depan gerbang, meminta aku memberikan buku PR matematika yang susah payah ku kerjakan sendiri.
Aku tidak mau memberikannya. Aku berusaha menasehatinya dengan berbagai macam alasan, kenapa aku tidak mau memberikan jawabanku pada mereka. Tapi ternyata mereka tidak terima. Sampai akhirnya bel berbunyi. Mau tidak mau, mereka meninggalkanku.
Ternyata, mereka bertiga memang benar-benar tidak mengerjakan. Entah apa yang mereka lakukan, sampai tidak mengerjakan PR secara kompak. Pak Maher menghukum mereka, membuat mereka bertiga merasa malu di depan teman-teman sekelas.
Tapi entah kenapa, tetap saja aku yang mereka jadikan sasaran kemarahan mereka, terutama Elsa. Dia benar-benar tidak terima, karena aku secara tidak langsung membuatnya terkena hukuman.
Saat jam istirahat, aku berusaha menghindari mereka bertiga. Aku sengaja pergi ke perpustakaan yang tidak akan mereka jamah. Aku benar-benar aman, di perpustakaan.
Tapi ternyata aku tidak cukup beruntung. Sekembalinya dari perpustakaan, aku berjalan terburu-buru. Sampai tidak sengaja menabrak Elsa di sudut ruangan.
Tentu saja Elsa marah besar, sepatunya kotor karena terkena es krim yang jatuh, akibat tertabrak aku. Aku berusaha meminta maaf, aku ingin membersihkannya.
Ternyata, Elsa dan teman-temannya sangat kejam. Mereka menyuruhku untuk menjilati noda es krim di ujung sepatu Elsa. Mereka tidak menerima penolakanku. Kadi dengan sangat terpaksa, aku menjilati sepatu Elsa. Aku merasa lebih buruk daripada hewan berkaki empat yang suka menjilat.
Mereka tertawa bahagia, melihatku melakukan itu. Linda bahkan merekam aksiku, supaya bisa melihatnya lagi suatu saat, untuk bahan hiburan.
Beruntung mereka tidak memaksaku untuk menjilati bekas es krim di lantai juga. Padahal awalnya, Elsa sangat ingin aku menjilati lantai yang kotor itu juga.
Setelah puas melihatku tersiksa, akhirnya mereka meninggalkanku. Aku segera memuntahkan kembali isi perutku, meskipun terasa menyiksa. Aku tidak mau kalau sakit, gara-gara hal ini.
Sampai di kelas, aku terlambat. Untungnya Bu Lilis tidak marah. Sampai akhir pelajaran, beliau menawarkan konsultasi, kalau ada yang menemukan kesulitan saat di sekolah. Hal itu kugunakan dengan sebaik-baiknya.
Aku meminta untuk pindah tempat duduk, tanpa mengatakan alasan yang sebenarnya. Bu Lilis mengadakan voting, dan ternyata lebih banyak yang setuju, untuk duduk berpindah tempat setiap hari.
Akhirnya Bu Lilis memutuskan, kami berpindah tempat duduk setiap hari. Aku sangat bersyukur. Aku berharap bisa bebas dari siksaan Elsa dan teman-temannya, yang seperti tidak ada habisnya.
Entah kenapa, aku tidak bisa begitu saja memaafkan apa yang mereka lakukan padaku. Bahkan, kalau saja aku punya kekuatan lebih, aku akan membalas semua perbuatan mereka padaku. Mungkin suatu saat nanti. Kalaupun bukan aku yang membalas, aku benar-benar berharap ada seseorang yang bisa membalaskan dendamku.]
"Aku akan membalas perbuatan Elsa yang benar-benar keterlaluan itu. Meskipun dengan cara yang berbeda dan terkesan tidak seimbang, setidaknya dia harus menerima balasan. Tidak cuma Elsa, tapi Dewi juga Linda. Aku akan membalas perbuatan mereka bertiga!" Nadia menggenggam erat buku diary Ana. Dia benar-benar bertekad dalam hati.
***