Dr. Isaac, seorang fisikawan dan astrolog muda, yang bekerja di ISAR (International Society for Astrological Research) dipaksa melakukan sebuah penelitian yang tidak disukainya oleh atasannya. Penelitian ini dinamakan DreamSpace Exploration Initiative (DESI). DESI adalah program kerjasama antara ISAR dan IASD, lembaga internasional yang mempelajari mimpi, yang bertujuan untuk melakukan penjelajahan luar angkasa melalui mimpi.
Meskipun Isaac ragu dengan kesuksesan proyek mereka, namun siapa sangka jika proyek ini pada akhirnya berhasil dan mengantarkannya ke sebuah planet asing yang sangat maju bernama Eryndor yang berjarak puluhan tahun cahaya dari Bumi. Sayangnya kedatangannya di Eryndor bukan pada saat yang tepat, ada masalah yang sedang terjadi di sana.
Bisakah Isaac melewatinya? Bisakah dia membantu untuk menyelesaikan masalah di Eryndor? Dan bagaimana proyek DESI bisa sukses?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadlan Noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: KABAR BURUK
KOSMIS Bibliotek adalah sebuah toko buku yang terletak di jantung kota Nova Lux, dengan arsitektur yang luar biasa dan futuristik.
Bangunan toko buku ini terdiri dari kombinasi material-metal eksotik dan panel kaca transparan yang menghadap langsung ke angkasa, memberikan pemandangan spektakuler dari langit yang berwarna-warni khas Eryndor di latar belakang.
Ketika memasuki toko buku, Isaac langsung terkesima oleh tampilan interior yang sangat modern dan estetik. Dinding-dinding toko buku tersebut dihiasi dengan panel-panel kaca yang dipancarkan oleh cahaya plasma yang berubah-ubah, menciptakan suasana yang magis. Rak-rak buku terbuat dari material kristal yang mengkilap, memberikan kesan mewah pada toko buku ini.
Buku-buku yang ditampilkan di rak-rak tersebut juga sangat unik dan eksotik. Tidak hanya buku-buku tentang teknologi mutakhir, seperti panduan perjalanan antariksa, ensiklopedia galaksi, atau panduan tentang teknologi Eryndor, tetapi juga terdapat buku-buku yang berisi tentang legenda dan mitologi yang belum pernah ditemui sebelumnya. Kulit buku-buku tersebut terbuat dari bahan-bahan eksentrik namun eksotik, seperti kulit binatang khas Eryndor atau kertas yang terbuat dari serat tumbuhan aneh yang berkilau.
Selain itu, di tengah toko buku terdapat area yang dirancang khusus untuk membaca dan bersantai. Area ini dilengkapi dengan kursi yang ergonomis dan meja-meja yang terbuat dari material berkelas dengan sentuhan teknologi tinggi. Terdapat pula beberapa kabin kaca transparan yang memberikan pemandangan penuh ke langit Eryndor, sehingga pengunjung dapat membaca sambil menikmati pemandangan kosmos yang menakjubkan.
Tak jauh dari ruang baca, terdapat layar hologram interaktif yang mengapung di udara, yang memungkinkan pengunjung untuk mengakses informasi tambahan tentang buku-buku yang tercetak dalam bentuk hologram tiga dimensi yang menarik. Ada pula perangkat pencarian buku otomatis yang menggunakan teknologi pemindaian otak, sehingga pengunjung dapat menemukan buku yang mereka cari hanya dengan berpikir.
"Teknologi di sini benar-benar gila. Butuh berapa puluh tahun bagi manusia untuk bisa menciptakan ini?" Gumamnya.
Tak lama kemudian Sariel terlihat sedang berjalan ke arahnya dengan langkah yang indah. Pakaian canggih yang dikenakannya itu bisa menyesuaikan diri dengan tubuh langsingnya secara otomatis. Tampak di tangan kanannya memegang 2 buku yang cukup tebal.
"Udah dari tadi?" Tanya Sariel sembari mempersilakan Isaac duduk di kursi perak panjang yang tak jauh dari mereka.
"Lumayan. Aku jalan-jalan sebentar di sekitar toko buku ini. Hanya mau melihat-lihat."
"Aku kaget kamu tiba-tiba menelepon. Kamu dapat lunar itu dari mana?" Sariel melihat sebuah perangkat logam canggih berbentuk pentagon yang terpasang di pergelangan tangan kanan Isaac. Itu adalah lunar - alat komunikasi yang umum digunakan di Eryndor.
"Ini aku pinjam dari Danika. Ngga maksudnya ini lunar yang dia kasih. Katanya ini adalah lunar pertamanya, dan dia udah ngga pake lagi," jawab Isaac sembari mengelus-ngelus teknologi Eryndor pertama yang dia punya itu. Dia begitu menyukainya seperti anak 5 tahun yang menyukai sepatu merah pertamanya.
"Oh gitu. Terus gimana kartu identitasnya?"
"Udah. Luar biasa. Aku jadi ngga ngerasa seperti kriminal lagi di sini," jawabnya dengan nada guyon.
Sariel tersenyum senang.
"Oh ya, ini buku yang kau minta." Sariel mengambil dua buku yang dia letakkan di sampingnya. "Aku yang traktir. Dan..."
"Iya-iya, nanti aku ganti!" Ujar Isaac seolah tahu benar apa yang akan diucapakan wanita Eryndor itu. Isaac lalu mengambil buku tersebut. Keduanya adalah buku ensiklopedi yang masing-masing berjudul "Kryshtul: An Eryndor Encyclopedy" dan "Xalgor: Kryphtic Chronicles of the Void."
Isaac meminta Sariel untuk membelikannya kedua buku itu agar dia bisa lebih mengenal planet maju dan asing ini. Sebab di situasinya saat ini, informasi adalah hal yang sangat penting.
"Aku harap dua buku itu bisa membantu," ujar Sariel.
"Ya, malam ini aku bakal menyelesaikannya," balas Isaac sembari menekan beberapa perintah di lunar. Sebuah cahaya hologram pun tiba-tiba muncul dari telapak tangannya yang tersambung langsung ke lunarnya. Cahaya itu menyelimuti buku tersebut dan hanya dalam hitungan detik saja, dua buku itu langsung mengecil dan tertarik masuk ke dalam lunar melalui garis cahaya putih yang dipancarkan.
"Kau sepertinya mudah beradaptasi dengan teknologi kami," ujar Sariel tersenyum melihat apa yang dilakukan pria Bumi di sebelahnya itu.
"Ngga semudah kelihatannya. Aku harus ngulang beberapa kali waktu diajarin Danesi cara make benda ini. Aku kira ini hanya untuk komunikasi aja, ternyata ngga."
"Ya, fungsinya banyak. Salah satunya untuk tempat penyimpanan." Tentu, hanya benda-benda ringan dan tidak terlalu besar saja yang bisa disimpan.
Ketika mereka berdua asik mengobrol, tiba-tiba ada panggilan yang masuk ke lunar Sariel yang terhubung langsung dengan telinganya. Dia lalu menerima panggilan tersebut.
"Ya, kenapa dek?"
Yang menelepon adalah Danesi.
[KAKAK, PAPA DI RUMAH SAKIT. DIA KRITIS!]
Isaac bisa samar-samar mendengar suara Danesi di ujung telepon itu. Mereka berdua sangat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka saling menatap dengan raut wajah yang menegang dan tanpa aba-aba langsung pergi meninggalkan toko buku itu. Dengan ekspresi ketakutannya, Sariel berlari secepat yang dia bisa untuk segera menyusul adiknya di Rumah Sakit.
Papa!
...***...
Medixor Prime Health Center
Ruang perawatan di Rumah Sakit ini terlihat sangat eksklusif, mencerminkan teknologi medis yang sangat maju dan kemewahan yang hanya bisa ditemui di Eryndor.
Sariel yang baru saja tiba di kamar tempat ayahnya dirawat langsung berlari. Tangisannya pecah tak tertahan.
"Papa, kenapa dek!?" Tanya Sariel kepada Danesi yang tepat berada di sebelahnya dengan air mata yang terus berlinang di pipinya. Danesi hanya menggelengkan kepalanya - tidak menjawab karena berusaha menahan tangisannya.
Bunyi mesin medis terus berdenting menciptakan ketegangan di udara. Thelonius Zygarthians terbaring kaku di tempat tidur. Wajahnya pucat dan tubuhnya penuh dengan luka dan memar.
Di sekitar tempat tidurnya, terdapat monitor berwarna yang menampilkan grafik detak jantung dan pernapasan Thelonius yang terus berfluktuasi, serta berbagai tabung dan kabel yang menghubungkan tubuhnya dengan peralatan medis. Terdapat pula mesin pencitraan holografik yang mengambang di udara, memindai tubuhnya dengan sinar biru yang aneh.
Isaac mengikuti mereka berdua dan melihat lebih dekat kondisi Thelonius. Dia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali berusaha menenangkan mereka. Tak berselang lama, seorang dokter dan perawat yang mengenakan pakaian khas pun masuk ke ruangan.
"Apa kalian keluarganya?" Tanya dokter tersebut.
"Iya," jawab Sariel dan Danesi serentak.
Tampaknya dokter itu tidak peduli dengan keberadaan Isaac di sampingnya.
"Pasien saat ini mengalami koma akibat cidera berat di kepalanya," ujar dokter dengan suara datar. Tentu saja itu mengejutkan mereka semua.
"A-apa yang terjadi dok!?" Tanya Sariel dengan suara yang gemetar.
"Pasien mengalami kecelakaan di tempat kerja," jawabnya sembari menekan beberapa tombol di piranti medis yang terhubung langsung dengan tubuh kaku Thelonius. "Itu kabar yang kami terima."
Itu tidak mungkin, pikir Sariel. Ayahnya telah berkecimpung dalam pekerjaan ini selama puluhan tahun dan selama itu juga Thelonius tidak pernah mengalami insiden kecelakaan apapun. Dia tahu bahwa ayahnya adalah orang yang sangat berhati-hati dan teliti saat melakukan pekerjaannya. Kecelakaan? Itu nyaris tidak mungkin!
"Selebihnya kami tidak tahu," sambung dokter
Sariel dan Danesi menunduk dan diam dalam tangisan yang mereka tahan dalam-dalam.
"Lalu, kondisinya saat ini bagaimana?" Tanya Isaac tiba-tiba.
Dokter itu langsung menengok ke arah Isaac dengan tatapan curiga, "Anda siapa? Apa Anda tidak tahu peraturan di Rumah Sakit kami bahwa selain keluarga dan atasan kerja, di larang masuk ke kamar rawat?"
Isaac terdiam dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, "A-aku..."
"DIA TUNANGANKU!" ujar Sariel lantang sembari mengusap air matanya.
"Tunangan?" Dokter itu sedikit terkejut. Dia lalu melihat data pasien yang dibawa oleh perawat di sebelahnya. "Tapi di sini tidak ada..."
"Kami bertunangan baru-baru ini!"
Isaac tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Kenapa dia berbohong? Tanyanya dalam hati.
Dokter itu tampak berpikir sebentar. Ada tanda keraguan di wajahnya, namun dia berusaha percaya jika itu yang dikatakan oleh wali pasien. "Baik kalau begitu," ujarnya, "Aku akan ke sini lagi - memeriksa keadaan pasien setiap dua jam. Kalian tidak perlu khawatir. Kami akan melakukan yang terbaik. Bersabarlah."
Mereka hanya mengangguk.
Sebelum pergi, dokter itu mengeluarkan sesuatu dari lunarnya. Itu adalah ballpoint milik Thelonius yang selalu dia bawa dan dia gunakan saat bekerja. "Ini," si dokter memberikan ballpoint berwarna putih itu, "Milik Tuan Thelonius."
Danesi mengambil ballpoint itu lalu memberikannya kepada kakaknya. "Terimakasih."
Dokter itu mengangguk dan lalu pergi meninggalkan mereka.