Sequel Billionaire Obsessed of Martine
Pernikahan antara Kevin Martine Abraham dan Sarah Nicole Marley memiliki dua anak tampan dan juga cantik. Anak pertama mereka bernama Freederic Alexander Martine dan anak keduanya bernama LiLuna Alexandria Martine. Sejak Freed dan Luna beranjak dewasa, Kevin dan Sarah semakin mengatur kehidupan anak-anaknnya, termasuk menjodohkan putra pertamanya itu dengan salah satu anak teman Kevin sewaktu sekolah menengah pertama dulu, Kevin telah berjanji pada sahabatnya untuk menjodohkan putra putri mereka nanti agar keluarga semakin dekat dan kebetulan anak keluarga sahabatnya adalah seorang putri yang sangat cantik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyu Ela Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
“Harvey berteman dengan Luna sejak kecil, Luna selalu bercerita apapun dengan Harvey, sebenarnya Nathan sering membuli Luna di kampus”. Ucap Harvey yang membuat kedua orang tua Luna sangat terkejut “saat aku kembali keapartemen bersama Luna, saat itu kami bertemu untuk pertama kalinya. Nathan bersama seorang wanita, temannya yang juga membully Luna, Luna mengatakan pada Harvey kalau tidak perlu membalas ucapannya, karena memang setiap hari seperti itu pada Luna”.
“dad”. Panggil nyonya Martine lirih
“apa kau serius Harvey?”.
“aku tidak pernah berbohong, aku berteman sangat lama dengan Luna, aku tau dia sangat sedih”.
“aku akan membatalkan pertunangan mereka jika benar seperti itu kenyataannya”.
♫
Luna dan Nathan duduk di salah satu meja, beberapa makanan yang berbeda-beda tersedia dimeja.
“cobalah ini sangat enak”. Ucap Nathan sambil mengambilnya sate daging ayam dan memberikannya pada Luna “namanya sate, makanan khas Indonesia”.
Luna mencobanya “ini sangat enak”.
“benar apa kataku”.
Mereka menikmati makan malam diantara orang-orang sederhana yang ada disana sambil melihat bintang yang bertebaran dilangit. Untuk pertama kalinya Nathan sangat bahagia dan nyaman berada di samping seorang wanita, berbeda dengan Queen, dia merasa hanya sebuah formalitas karena mereka sama-sama popular dikampus.
“kau ingin pulang malam ini atau besok pagi?”. Tanya Nathan
“apa kau tidak masalah jika menyetir dimalam hari, bagaimana kalau besok pagi saja?”.
“kalau begitu aku akan memesankan kamar hotel yang ada didekat sini”.
Setelah menghabiskan makan malam di pantai, mereka kembali kemobil untuk mencari penginapan. Hingga berhenti disalah satu hotel, di hotel yang ada di sana hanya ada satu kamar yang tersisa karena semua sudah full dan sudah di pesan orang lain.
“bagaimana? Hanya tersisa satu kamar?”. Tanya Nathan
“tidak apa-apa, toh semalam tidak masalah juga”.
“baiklah saya ambil”. Ucap Nathan pada resepsionis yang menjaga meja depan.
Mereka berdua pergi ke kamar nomor 14 dimana Nathan sudah cek in disana, sampai dikamar Luna lebih dahulu pergi kekamar mandi, sebelum mereka sampai di hote, mereka sempat membeli baju baru lagi untuk ganti saat sudah sampai dihotel. Kaos yang mereka pakai mirip dengan sebelumnya, hanya saja warnanya berbeda, yang ini peach.
Beberapa menit kemudian Luna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berbeda dari sebelumnya dengan hotpants yang juga dibelinya saat berada di pasar pakaian. Sekilas Nathan terperangah dengan penampilan Luna, namun pria itu kembali sadar dari lamunannya dan pergi ke kamar mandi.
Luna duduk di ranjang, dia sama sekali belum mengabari keluarganya kalau dia bersama Nathan, Luna hanya berharap kedua orang tuanya mengetahui kalau dia bersama Nathan sedang baik-baik saja. Kebetulan kamar hotel tersebut memiliki telepon rumahan, bisa digunakan sebentar untuk menghubungi ibunya.
Sambungan terhubung, dia bisa berbicara dengan ibunya. Nyonya Martine sangat senang bisa mendengar suara putrinya, dan dia juga sangat lega jika Luna baik-baik saja dengan Nathan. Namun, ibunya mengatakan kalau kembali dari sana langsung pulang kerumah sekaligus bersama Nathan.
Bersamaan dengan Nathan keluar dari kamar mandi, Luna selesai berbicara dengan ibunya. “siapa?” tanya Nathan penasaran
“mommy”.
“kau menghubunginya? Apa yang dia katakan?”.
“tidak ada, aku hanya mengatakan untuk tidak khawatir karna aku bersamamu”.
“lalu?”.
“besok mereka menunggu dirumah jadi pulangnya kerumahku”.
“baiklah”.
♫
Mobil Nathan berhenti di depan rumah keluarga Martine sangat pagi, nyonya Martine keluar dari dalam rumahnya menghampiri Luna dan memeluknya erat.
“kenapa tidak mengabari mommy sayang”. Ucap Nyonya Martine sambil memeluk putrinya
“ponselku dan Nathan mati mom”.
“masuklah, kau juga Nat”.
Mereka semua menghabiskan sarapan terlebih dahulu sebelum tuan Martine membuka mulut soal perilaku Nathan pada putri semata wayangnya.
“daddy dan mommy ingin menanyakan suatu hal pada kalian berdua”. Ucap tuan Martine yang membuat Luna dan Nathan melihat bersamaan kearahnya “Nathan, apa yang sudah kau lakukan pada Luna di kampus?”.
“maksud daddy?”. Tanya Luna bingung
“daddy sudah tau kalau kau sering dibully oleh Nathan dan teman-temannya”.
“dad, itu hanya bercandaan anak jaman sekarang”. Jawab Luna menyanggah ucapan ayahnya
“iya benar”. Nathan membuka mulutnya, terlihat jelas tuan Martine menahan amarah dengan tangannya yang sudah mengepal
“dad, tidak seperti itu, Nathan hanya bercanda”. Ucap Luna
“diam Luna!”. Bentak tuan Martine “bisa kau perjelas Nathan?”.
“iya benar, aku sering membully Luna di kampus, tapi sungguh aku sangat menyesalinya sekarang”.
Luna melihat kearah Nathan, bahkan dia tidak percaya Nathan akan mengatakan hal tersebut.
“aku sangat menyesal hingga saat ini, karna Luna telah membuatku jatuh cinta”. Ucap Nathan yang menambah terkejut Luna, dalam bayangan wanita itu Nathan hanya ingin melindungi dirinya dengan mengatakan kalau dia mencintai Luna
“apa buktinya kalau kau mencintai putriku?”.
“aku tidak bisa memberikan bukti, tapi aku siap mendapatkan hukuman apapun dari daddy untuk menebus semuanya dan aku meminta maaf pada Luna karena telah menyakitinya”.
“sudah tidak apa-apa Nathan, mommy harap kau tidak menyakiti putri mommy lagi, kau sama saja menyakiti kami kalau kau lakukan itu dan kami tidak akan segan-segan membatalkan pertunangan kalian”. Ucap nyonya Martine dengan senyuman lembutnya.
Setelah makan dan membicarakan hal tersebut, Nathan berpamitan pulang. Luna tiba-tiba masuk kedalam mobil Nathan.
“apa yang kau lakukan?”. Tanya Luna
“maksudmu?”.
“kita bisa membatalkan pertunangan itu dengan mudah, tapi kau malah membuat orang tuaku percaya padamu".
“apa yang aku katakan sudah jelas, aku menyukaimu”.
“apa kau gila?”.
“ya, aku sudah gila karena tertarik dengan gadis nerd sepertimu”.
“kau”.
“aku ingin mengenalmu lebih jauh”.
“bagaimana dengan Queen, aku tidak akan menyakiti nya, jadi jangan harap aku bisa membalas ucapanmu, kita hanya bertunangan didepan keluarga saja, ingat itu”. Luna keluar dari mobil Nathan dengan wajah kesal, hampir saja pertunangan mereka batal sesuai keinginan tapi gagal.
Saat mobil Nathan meninggalkan rumahnya, Luna melihat gelang yang berada di pergelangan tangannya, gelang sama dengan yang dipakai Nathan. Dia sangat bahagia bisa melakukan itu, rasanya sangat nyaman berada di samping Nathan, tapi dia wanita dan dia mengerti perasaan Queen. Pertunangannya hanya formalitas, soal perasaannya, dia tidak ingin melebihkan terhadap Nathan.
Nathan berhenti dilampu merah, saat melihat kearah samping kanannya, tanpa sengaja melihat Queen yang tengah berada di mobil yang biasanya mengantarkannya ke kampus, itu mobil milik ayahnya. Tapi yang membuat Nathan semakin penasaran adalah apa yang dilakukan ayahnya pada Queen, tangan pria paruh baya itu menyentuh dada wanitanya.
“daddy? Apa dia gila jika itu ayahnya”.
Lampu hijau, Nathan mengejar mobil tersebut dan menghentikannya di pinggir jalan. Buru-buru Nathan keluar dari mobilnya dan mengetuk kaca mobil Queen.
“keluar!”. Teriak Nathan yang kemudian Queen keluar dengan wajah kesal
“apa kau gila! Aku sedang bersama daddy ku!”.
“daddy? Yang menyentuh dadamu seperti itu? Kau yakin?”.
#sudahdirevisi
semangat terus..mampir di karyaku juga ya..😊
Update biasa jumat dan sabtu
Thank you