Dicky, adalah cowok kaya raya yang terkenal cerdas di sekolah SMA-nya. Sayangnya, ia mempunyai sifat playboy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soraya Shifa Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 : Basket Cinta
Saat makan siang, Bisma hanya makan sedikit. Tidak biasanya. Di cafe, biasanya Bisma memesan es krim istimewa kesukaannya. Namun, tidak hari ini. Ia hanya minum es teh manis biasa. Sedangkan Rafael, Morgan, dan Rangga makan cemilan mewah dan minuman jus dengan hiasan coklat leleh.
"Loe kenapa, Bis? Kayak es batu beku yang di kutub aja," tanya Rangga.
"Iya, Bis. Loe dari tadi minum-beku, minum-beku. Kenapa, sih?" tanya Morgan.
"Gue cuman mikirin tentang...Rani," jawab Bisma sedikit lemas.
Dengar jawaban Bisma, Morgan dan Rangga bersamaan berseru, "APA?! RANI?" Sedangkan Rafael malah mencipratkan es sirup dengan coklat lelehnya itu ke arah kirinya. Beruntung tidak ada orang disebelah kirinya. Jika ada, pasti orang itu kotor kena cipratannya.
"Loe...loe serius, Bis?" tanya Rafael tak percaya.
"Gue serius, Coh!" jawab Bisma tegas.
Morgan terdiam sejenak, dan berkata, "Jangan-jangan, menurut gue ini, loe sebagai boss ada perasaan sama Rani."
"Gue sependapat sama Morgan, Bis! Bisa jadi, loe ada rasa...cinta buat Rani," tambah Rangga.
"Gimana, ya?! Gue juga bingung," Bisma malah gelisah.
"Tembak aja! Mumpung masih jomblowati ini dianya juga," Rafael memberi saran sambil membersihkan area mulutnya yang belepotan karena menyipratkan es sirup tadi.
Morgan dan Rangga malah dengan semangat menyetujui saran Rafael tadi. Bisma dengan malu-malu mengakui bahwa ia memang ada rasa dengan Rani.
Tapi, Bisma masih tidak mau mengakuinya. Ia hanya berdiam diri dan tersenyum kecil melihat 3 sahabatnya, yang bukannya memberi solusi malah mendukung hubungannya dengan Rani.
...***...
Besoknya, Dicky membawa tas punggungnya dari lantai atas. Ia menuruni tangga dan menuju meja makan untuk sarapan. Begitu sampai, langsung saja ia duduk di kursi makan dan melahap sarapannya dengan cepat. Cara makannya pun aneh dan ganas, seperti harimau yang tengah mengoyak daging mangsanya dengan giginya.
Bisma yang sedang makan dengan tenang, melihat adiknya dengan menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Bisa nggak kalau makan nggak kayak harimau gitu?" tanya Bisma tegas.
"Sorry, bukannya aku marah, Kak! Tapi buru-buru," jawab Dicky sambil terus memakan rotinya dengan ngebut. Bahkan kunyahan rotinya saja belum ditelan, Dicky malah sudah menggigit lagi. Begitu seterusnya, sampai rotinya tinggal satu gigitan lagi.
"Keselek nanti, nggak tahu, ya!" seru Bisma tegas.
"Nggak akanlah," balas Dicky santai.
Baru saja Bisma bilang kata 'keselek', apapun yang dikatakannya benar terjadi. Dicky benar-benar tersedak. Ia sampai batuk tak henti-henti. Segera saja ia meminta pelayan dapur untuk mengambilkannya air putih. Hingga akhirnya, ia merasa tenang kembali.
"Udah dibilangin juga apa, akhirnya terjadi 'kan," Bisma menegaskan adiknya.
"Justru gara-gara Kak Bisma, jantung aku nyaris berhenti karena keselek tadi!" keluh Dicky kesal.
Bisma tertawa sinis. Dicky jadi tambah kesal. Ia meminum susunya, dan segera meninggalkan area makan.
Ketika keluar rumah, Dicky melihat ada Bisma sedang memakai sepatunya di halaman. Dicky mengambil sepatunya dan berjalan ke sebelah Bisma. Ia memakai sepatu itu bersamaan dengan Bisma. Baginya, ini kesempatan dirinya bicara dengan Bisma, agar kakaknya itu mau membantu mengajarinya bermain basket.
"Kak Bisma!" seru Dicky memanggil.
"Hmmm!" balas Bisma sambil mengikat tali sepatunya.
"Mmm...Kakak mau nggak ajarin aku, Reza, sama Ilham tanding basket?"
Bisma terdiam sejenak. Tapi tangannya tetap sibuk mengikat tali sepatunya yang sebelahnya lagi. Dicky beranggapan kalau kakaknya pasti sedang sibuk di pabrik akhir-akhir ini. Jadi, Dicky pun melemas.
"Kalau nggak bisa, nggak apa-apa, deh. Aku tahu Kakak sibuk di pabrik," katanya pasrah.
Dicky pun selesai memakai sepatunya. Dan ia segera berjalan meninggalkan kakaknya yang malah masih duduk, walau sepatunya sudah selesai diikat talinya.
Belum juga Dicky berjalan jauh, Bisma memanggilnya. Dicky menghentikan jalannya dan menoleh.
Kemudian, Bisma mendekatinya dan berkata, "Insyaa Allah, hari Minggu ini bisa ngajarin kamu basket."
"Benar nih, Kak? Serius?" tanya Dicky masih tak percaya.
Bisma menjawab dengan angguk dan senyuman.
Melihat kakaknya mengangguk pertanda serius, Dicky langsung senang bukan kepalang. Cowok itupun segera bersalaman tangan dan mengucapkan kalimat salam lalu masuk ke mobil yang sudah disiapkan supir pribadi di halaman.
Bisma menjawab salam adiknya dengan senang. Mobil yang membawa adiknya pun keluar dari area rumahnya dan pergi jauh ke sekolah. Sedangkan Bisma mulai menuju garasi untuk mengambil mobilnya sendiri.
...***...
Waktu istirahat, Dicky dan 3 sahabatnya sedang makan siang. Dicky memakan mie goreng itu sambil bercanda-tawa dengan ketiganya. Namun ketika sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba datang Emir bersama empat sahabatnya yang tidak diketahui namanya.
"Oh, jadi ini yang nantang basket ke gue itu!" serunya geram.
Dicky dkk berhenti memakan cemilan masing-masing. Mereka saling beradu pandang. Tak hanya Dicky dkk. Satu kantin yang melihat kejadian itu ikut terusik. Termasuk junior dan senior mereka yang makan atau sekedar nongkrong disana.
Namun, Dicky tidak takut. Ia malah bersantai dan membalas, "Iya. Emang kenapa? Takut?"
"Jangan sok ngancam loe ya, Dik!" seru Emir dengan geramnya. Ia malah menggenggam tangan kanan Dicky dan menariknya lalu malah memutarnya.
Dicky merintih kesakitan. Bahkan merasa tangan kanannya sudah sedikit lagi mau patah.
Dengan amarah memuncak Emir berseru, "Jangan mentang-mentang loe ganteng, kaya raya, dan terkenal, tapi loe bisa ngambil Via dari gue! Ngerti?"
Reza yang semula diam, jadi geram besar melihat sahabatnya disiksa jadi seperti itu. Sementara Ilham dan Irwan masih sangat ketakutan setengah mati. Tanpa diam diri lagi, Reza segera melepaskan genggaman Emir dari tangannya Dicky yang baru sembuh dari pukulan mejanya kemarin. Dan apa yang terjadi?
Reza dengan jantannya menonjok hebat pipinya Emir sampai cowok itu jatuh dan pipi kirinya membiru.
"Loe sendiri juga! Jangan mentang-mentang loe terkenal dengan julukan loe itu, loe bisa sombong dan seenaknya sama sahabat gue, ya!" seru Reza karena saking marahnya, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Emir yang sudah jatuh ke lantai. "Kalau loe macam-macam sama Dicky, kakaknya, atau adek gue, langkahin dulu mayat gue!"
Emir yang berganti jadi ketakutan sekarang. Ia dibantu berdiri dan dibawa pergi oleh kawa-kawannya yang merupakan anak buahnya.
Satu kantin langsung bertepuk tangan melihat aksi Reza dan Dicky tadi. Mereka hanya tersenyum melihat semua itu.
"Thanks ya, Brow! Loe udah belain gue!" kata Dicky dengan bangganya sambil menepuk pundak kanannya Reza.
"Don't worry, Dik! Insyaa Allah, gue, Ilham, sama Irwan akan berada di samping loe!" balas Reza dengan tersenyum.
Keduanya berpelukan. Ditambah juga Ilham dan Irwan yang ikut memeluk keduanya. Satu kantin kembali bertepuk tangan melihat keempat remaja pria yang kompak itu.
...***...
Hari Minggu pun tiba. Bisma sudah membawa Morgan, Rafael, dan Rangga ke rumah. Dicky juga sudah membawa Ilham, Reza, dan Irwan ke rumah. Mereka melakukan pemanasan dan barulah berlatih sekuat tenaga. Betapa bersemangatnya 6 pria yang bermain jadi lawan dan kawan itu. Sementara Irwan berlatih jadi wasit. Irwan sudah merasa senang menjadi wasit. Karena dia juga tak bisa basket dan hanya bisa sepak bola atau futsal.
"OPER, DIK!" seru Bisma pada Dicky.
Dicky menurut. Bolanya yang akan direbut oleh Reza sebagai lawannya berhasil di dapat oleh Bisma. Bisma pun memantulkannya ke lantai sambil berlari-lari membawa bolanya menuju ring. Karena dicegat Morgan dan tidak ada pilihan lain, Bisma mengopernya pada Rafael. Rafael mendapat bola itu lalu memasukannya ke dalam ring hingga akhirnya gol. Ilham hanya jadi pemain cadangan. Jika di tim-nya Bisma atau Morgan ada yang kelelahan, maka Ilham bertanggung jawab untuk mengganti posisi pemain. Hingga akhirnya, ia menggantikan Reza di tim-nya Morgan yang harus buang air kecil dulu. Setelah dua menit di gantikan Ilham, barulah Reza kembali bermain. Dan begitupun di tim-nya Bisma. Ilham menggantikan posisi Rafael yang harus beristirahat dengan minum dan duduk selama dua menit. Setelah dua menit, Rafael kembali bermain.
Waktu pun selesai. Pemenang basket ini adalah tim-nya Bisma. Ia memang jago basket dengan gayanya yang luar biasa. Itupun memang hobinya sejak dulu. Tapi sejak kuliah dan menggantikan ayahnya mengerjakan bisnis di Jerman, ia tak pernah bermain basket lagi.
Meskipun begitu, tapi cara bermain basketnya masih tetap baik, tanpa ada kekurangan satupun.
"Haduh! Akhirnya menang juga!" seru Bisma sambil duduk lemas karena kelelahan.
"Teman kalian bagus juga jadi wasit!" puji Rangga pada Ilham, Reza, dan Dicky sambil melirik Irwan.
"Emang udah biasa, Kak. Hehehe!" Irwan tersipu malu.
Semua tertawa melihat tingkah Irwan. Sampai mereka istirahat sejenak dan barulah semuanya pulang meninggalkan rumahnya Bisma.
Setelah bermain basket, Bisma dan Dicky meminum jus di meja makan. Sebenarnya hanya Bisma yang meminum jus. Sedangkan Dicky hanya minum es teh manis. Kedua minuman itu sudah disediakan oleh pelayan rumah mereka.
Sambil meminum jus-nya, Bisma bertanya, "Tumben kamu suka basket. Emang ada pertandingan di sekolah?"
"Oh...bukan. Bukan pertandingan sekolah." jawab Dicky dengan senyum PD tingkat dewanya.
"Terus, buat apa tanding basket ini?"
"Ngerebutin cewek, Kak. Yang menang, dia yang dapat."
Bisma kaget mendengar jawaban adiknya tadi. Namun, ia akhirnya mendukung apa yang adiknya inginkan.
...***...
Besoknya, Dicky tak langsung kelas. Ia menuju klub genk-nya Emir yang sedang nongkrong di kantin.
"Hei! Kita tanding basket 2 minggu lagi. Gue dan tim gue tunggu sepulang sekolah hari Sabtu," tantang Dicky.
"Siap! Ayo aja! Tapi kalau sampai nggak jadi, gue pastiin loe bisa mampus di tangan gue!" balas Emir tegas.
"Gue setuju."
Dicky pun pergi meninggalkan Emir dan genk-nya. Emir malah tersenyum sinis.
...***...
2 minggu kemudian ...
Pertandingan basket dimulai. Dicky sudah membawa tim-nya. Begitu juga Emir. Lapangan basket sekolah sudah lengkap dengan para chillydears-nya. Via juga ikut menonton bersama Verari, Fifiey, Salsa, dan Meila. Sisanya penonton sebagian senior dan junior mereka. Banyak yang mendukung Emir. Tapi, tak sedikit juga yang mendukung Dicky dan tim-nya.
"Via! Kamu tahu nggak, tujuan pertandingan ini?" tanya Verari.
"Aku tahu. Tapi walau aku jadi taruhan mereka, sudahlah. Aku ikhlas! Lagipula, aku malah ada rasa juga dengan Dicky," jawab Via panjang dan lebar.
Verari kaget mendengar jawaban Dicky tadi. Akan tetapi, ada Miani mendengar jawabannya Via. Ia merasa geram dan naik darah.
Muak dengan Via yang sungguh jujur pada Salsa, Meila, Verari, dan Fifiey, Miani memutuskan untuk pergi dan tidak menonton pertandingan basket itu.
Hingga Miani mempunyai pikiran haram. Ia malah berkata, "Gue lebih baik santet loe, Dik. GUE SANTET LOE!" Setelah menjerit begitu, Miani pun pergi meninggalkan sekolah.
Pertandingan masih berlangsung. Ajaibnya, Dicky selalu memenangkan tim-nya bersama Bisma. Hingga tim Dicky-lah yang menang. Via dan yang lainnya tentu senang bukan kepalang.
Emir yang melihat Dicky dan tim-nya menang, jadi mengalah juga. Apalagi, ia malah minta maaf pada Dicky dan tim-nya karena pernah menyombongkan dirinya. Ia juga merupakan penggemar Bisma. Karena Bisma, Rafael, Morgan, dan Rangga adalah alumni sekolah ternama ini. Itulah sebabnya kenapa Dicky masuk ke sekolah SMA ini.
"Dik! Sorry, ya! Gue udah jahat sama loe, Reza, Ilham, dan Irwan," katanya dengan halus.
"Gue sama yang lainnya udah maafin, kok. Gue juga minta maaf pernah gebughkin loe di kantin," Reza yang membalas.
"It's ok, Za! Gue udah mau maafin yang hari itu."
Akhirnya, semuanya berdamai. Dan Emir mengikhlaskan Via untuk Dicky.
...***...
Sementara itu, Miani membawa mobilnya. Ia sudah membawa fotonya Dicky. Dan ia bukan hanya berniat untuk menyantet. Tapi juga untuk mengguna-guna Dicky (santet dan guna-guna beda, bukan?).
...^^^...