Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 : Dia benar-benar akan membunuhmu

Napas Diana tertahan.

Kakinya bergerak mundur tanpa sadar, satu langkah kecil yang tak luput dari perhatian Blair. Alis Blair terangkat tipis, menangkap reaksi itu dengan cepat.

“Jadi itu alasannya?” tanya Blair, suaranya datar namun menusuk.

“Kau menarik gugatan karena takut dia akan memukulmu lagi? Menendangmu lagi?”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada keheningan yang mencekik.

“Laporan itu kau buat karena kau lelah,” lanjutnya pelan. “Lelah menahan semuanya sendirian.”

“Tapi sekarang,” nada suaranya mengeras sedikit, “kau menariknya kembali karena ancaman.”

Diana terdiam.

Tangannya mengepal erat di sekitar gagang payung. Bahunya menegang, alisnya mengerut dalam, namun bibirnya tetap terkunci. Hujan terus turun, membasahi ujung mantel dan sepatunya.

Blair menghela napas panjang.

Ia berbalik, membelakangi Diana. Beberapa langkah menjauh, lalu berhenti. Blair menoleh setengah, menatap Diana dari sudut matanya.

“Pindah dari apartemenmu,” katanya dingin. “Setidaknya selama masa persidangan.”

Diana tersentak. “Apa—”

“Jika tidak,” Blair memotong tanpa menoleh penuh, suaranya rendah namun tegas, “jangan salahkan aku, jika setelah sidang besok… dia benar-benar membunuhmu.”

Kata-kata itu jatuh seperti palu.

Blair melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.

Suara langkah sepatunya menjauh, bercampur dengan hujan yang makin deras. Diana tertinggal sendirian di gang sempit itu, payung masih tergenggam, tubuhnya kaku, pikirannya kosong.

Malam menelannya perlahan, bersama rasa takut yang kini tak bisa lagi ia sangkal.

Setelah kehadiran Blair benar-benar menghilang di ujung gang, bibir Diana yang sejak tadi terkunci rapat akhirnya terbuka.

Napas berat lolos dari dadanya, seolah ia baru saja diizinkan bernapas kembali setelah terlalu lama menahannya. Bahunya turun pelan, tubuhnya sedikit bergetar.

“Apa… seorang hakim boleh mengatakan hal seperti itu?” gumamnya lirih.

Gang sempit itu tetap diam. Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang memantul di aspal dan dinding, mengisi kekosongan yang menekan.

Diana menggeleng pelan, berusaha menepis kata-kata Blair yang terus berputar di kepalanya. Ia menarik napas dalam, lalu melangkah pergi untuk memaksa dirinya kembali pada rutinitas, seolah malam itu tidak pernah terjadi.

Apartemennya menyambut dengan lorong yang gelap dan sunyi.

Lampu-lampu di sepanjang koridor mati. Tidak ada suara langkah lain, tidak ada pintu yang terbuka. Keheningan membuat Diana mempercepat langkah, hampir berlari kecil menuju unitnya di ujung lorong.

Ia memasukkan kunci dengan tangan sedikit gemetar. Pintu terbuka.

Di dalam, suasana hening menyelimutinya. Tidak ada suara televisi. Tidak ada bayangan yang berdiri menunggu di depan pintu.

Kosong.

Diana menghela napas lega tanpa sadar.

Ia menutup pintu, menyimpan payung di samping, lalu melangkah masuk. Mantel basah dilepaskannya dan hendak ia gantung, namun sesuatu terjatuh dari saku mantel itu.

Cling.

Sebuah kunci terjatuh ke lantai.

Diana tersentak. Ia menunduk cepat, mengambilnya. Sebuah kunci kecil dengan gantungan bernomor menggantung di sana.

Alisnya mengerut.

“Sejak kapan aku punya ini…?” gumamnya bingung.

Ingatan tentang Blair langsung menyusup, perkataannya yang dingin, tatapannya yang tajam.

"Pindah dari apartemenmu."

Diana menelan ludah.

Ia menatap kunci itu lama, lalu perlahan menyimpannya ke dalam lemari. Kepalanya menggeleng kecil, seolah menolak kemungkinan yang terlalu menakutkan untuk diterima.

“Kalau selama ini dia tidak pernah sampai membunuhku…” bisiknya pelan,

“apa sekarang… dia benar-benar bisa melakukannya?”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan apartemen yang menatapnya balik lebih sunyi dari sebelumnya, dan jauh lebih menakutkan untuknya.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!