Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Benar saja, Adit memang mulai curiga kalau istrinya selingkuh.Ia berniat membuntutinya malam itu dan ingin menangkap basah kelakuan bejatnya, tapi sia sia karena Saskia tidak kunjung keluar dari rumahnya.
Adit emosi dan meluapkannya dengan minuman keras, ia ajak teman temannya minum minum di bar.
Pukul 3 dini hari ia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat.
Sementara itu Andriana dan Devan yang masih berada di dalam kamar pun mulai membuka matanya.
"Ada apa Van?'' Tanya Andriana mempererat pelukannya.
"An, sebaiknya aku pergi sekarang atau semua akan selesai" Devan mulai meregangkan dekapannya namun tidak diijinkan oleh Andriana yang mulai merasa nyaman berada di dalam pelukan hangat pria itu.
"Van, jangan pergi, jangan tinggalkan aku" Pinta Andriana manja tanpa melepaskan pelukannya.
Devan tersenyum tipis lalu mencium lembut pucuk rambut wanitanya itu" Tunggu sebentar lagi sayang, sabar ya ?".
Ceklek ....
Tiba tiba pintu dibuka dari luar membuat Devan dan Andriana terkesiap, dengan gerakan cepat menutupi tubuh masing masing dengan selimut.
"Van kamu sembunyi di balik selimut!" Gertak Andriana dengan panik.
Devan pun dengan senang hati segera menyusup di balik selimut.
Tangannya pun mulai jail menjamah tubuh yang disuguhkan untuknya dengan leluasa.
"Tante " Panggil Diego polos, ,ia berdiri di ambang pintu sambil mengucek kedua matanya.
"Diego sayang, kenapa nak?"
"Tan, Diego takut tidur sendirian"
Andriana mengambil nafas panjang dan membenarkan pakaiannya yang memang nyaris terlepas semua karena kegiatan panasnya semalam.
"Sayang mau tidur sama tante?" Tanya Andriana lembut.
"Iya tan, Diego mau ke kamar mama tapi pintunya dikunci "
"Ya udah, tapi Diego balik lagi ke kamar, nanti tante susul ya"
"Oke" Jawab anak laki laki menggemaskan itu kemudian berjalan balik ke kamarnya.
Andriana pun bisa bernafas lega, ia segera menyingkap selimutnya dan meminta Devan untuk segera keluar.
"Van, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini".
"Bukannya tadi kamu yang melarangku untuk pergi"Jawab Devan dengan senyum liciknya.
"Van, ayolah kamu mau kita tertangkap basah, lalu Arnold menceraikanku dan aku keluar dari sini tanpa membawa apapun" Gertak Andriana.
Devan mengeryitkan keningnya " Oh itu alasannya selama ini kamu enggan bercerai dari pria mesum itu".
"Ya bukan itu juga, dia sudah membuatku kehilangan masa mudaku, membiarkanku tidur sendirian kesepian sementara dia malah enak enakan dengan wanita lain.Semua kerugian ini harus ada bayarannya".
Devan kembali mengungkung tubuh Andriana, mendekatkan wajahnya dan nyaris menyentuh bibir merahnya.
"Semua yang tidak kamu dapatkan dari Arnold telah aku berikan, sekarang jadilah milikku seutuhnya ".
Andriana tersenyum tipis dan meraih tengkuk kepala Devan.
Cup
Ciuman lembut ia berikan pada laki laki tampan itu tapi cuma sebentar namun berkali kali.
"Kenapa terburu buru sayang, aku masih belum puas bermain main, permainan baru dimulai, tidak seru kalau harus berakhir sekarang " Ucapnya di sela sela kecupannya.
Devan tersenyum tipis kemudian beranjak dari tubuh Andriana"Baiklah, kamu sendiri yang mengatakan permainan ini baru dimulai, jadi bersiap siaplah untuk mendapatkan kejutan dalam setiap permainan ".
"Maksud kamu apa Van?"
"Kalau aku kasih tahu sekarang jadinya bukanlah kejutan dong sayang" Jawab Devan sambil mencubit hidung Andriana.
Andriana mendengus malas, lalu ikut berdiri dan mendorong tubuh Devan agar segera pergi melalui pintu utama. Mumpung masih sepi dan terlalu pagi belum ada satupun dari anggota keluarga yang bangun dan akan melihatnya.
Devan pun mengikuti saran Andriana untuk segera keluar dari rumah itu.
Sementara itu ia berjalan menuju kamar Diego yang berada di depan kamar Saskia.
Devan berjalan menuju pintu utama, begitu ia membuka pintunya terlihat Adit sudah berdiri di depannya namun ia sedang mabuk berat, hampir saja jatuh terjungkal ke depan, beruntung Devan sigap menangkapnya.
"Tuan Adit"
Adit menatap wajah Devan lalu tersenyum tipis " Anda tuan D-Devan, kebetulan bertemu di sini mari kita bicarakan proyek kerja sama kita" Ucapnya meracau.
Devan pun terlihat sedikit panik "Sialan dalam kondisi mabuk dia masih mengenaliku".
Devan segera membantu Adit duduk di sofa lalu bergegas keluar dari rumah itu sebelum ada yang bangun dan melihatnya di sana.
Karena terdengar suara berisik dari luar, Saskia pun ikut keluar dari kamarnya, melihat Adit berada di sofa, ia segera meminta Arnold untuk keluar dari kamarnya.
Saskia melihat ke arah Adit dengan senyum miring seakan jijik, ia menutup kembali pintu kamarnya, membiarkan suaminya tertidur di sofa sendirian.
Adit yang masih berada di sofa dalam kondisi mabuk berat pun segera bangkit dan berjalan ke arah kamarnya.
Tapi bukannya kamarnya yang ia masuki, melainkan kamar Diego yang memang berada di depan kamarnya.
Ceklek....
Adit mengucek matanya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Di dalam penglihatannya ia melihat sosok wanita cantik dan seksi sedang memeluk tubuh kecil Diego yang tertidur pulas. Ditambah lagi pakaian wanita itu yang memang terlalu terbuka nyaris memperlihatkan yang tidak seharusnya.
Adit yang berada di bawah pengaruh alkohol pun tidak bisa mengontrol dirinya. Ia mendekati tubuh wanita itu dan menciumi tubuhnya dengan lembut, bahkan kedua gundukan itu pun dengan mudahnya keluar dari bajunya yang memang memiliki kerah sangat rendah dan berbahan elastis menjadikannya mudah untuk menyingkapnya.
Karena terlalu lelah wanita itu masih terlelap dalam tidurnya meskipun tubuhnya sedang dijamah oleh orang lain.
Adit tetap memainkan benda kenyal itu dengan mulutnya dan sesekali menyesapnya membuat pemilknya menggeliat sambil mendesah meskipun dalam keadaan terpejam (mungkin ia merasa sedang bermimpi basah dengan laki laki yang ia cintai).
Adit mulai tidak tahan dan segera melepaskan pakainnya, ia menggendong tubuh wanita itu dan meletakannya di lantai yang beralaskan karpet.
Wanita itu pun membuka matanya begitu merasakan benda padat menusuk di bagian bawahnya.
Wanita itu membelalakan matanya, ia sangat terkejut dan berniat untuk berteriak sambil mendorong tubuh Adit tapi Adit membekap mulutnya dengan telapak tangannya lalu kembali melanjutkan aksinya.
Pada awalnya wanita itu memang meronta ronta dan menolaknya tapi karena kekuatannya tidak bisa menandingi tenaga Adit, iapun pasrah dan membiarkan laki laki itu menggenjot tubuhnya sepuasnya.
Setelah beberapa ronde Adit memainkan tubuh wanita itu dan meluapkan hasratnya, iapun merasa lemas, tidak bertenaga lagi, lalu membaringkan diri di samping Diego, memeluknya dan ikut terlelap.
Wanita itu membersihkan dirinya di kamar mandi sambil menangis sesenggukan setelah keluar dari kamar Diego.
Ia merasa dirinya sangat lah kotor dan berlumur dosa, tapi apalah daya semua sudah terjadi.
Tapi yang tidak dilihat wanita itu, seseorang tersenyum licik di balik tirai, seakan puas rencananya telah berjalan dengan sempurna.