Anara, memiliki seorang sahabat lelaki yang mengharuskan keduanya untuk berpisah setelah kepindahan sahabatnya ke Belanda karena permasalahan keluarga yang di alaminya. Anara yang tak biasa tanpa Sahabatnya itu harus rela beradaptasi dengan teman sekelasnya lagi agar bisa berteman dengan mereka lebih dekat. Di rumah yang besar itu, Nara adalah anak terakhir dari 5bersaudara. Keempat kakaknya sudah bekerja dan memiliki kesibukan masing-masing, begitupun dengan kedua orang tuanya. Bagaimana Nara melanjutkan kehidupannya di sekolah dan di rumahh, mari simak cerita lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olipiaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yogyakarta
"Askaaaaaaa~~~"Seruku sembari berlari menggapai aksara yang kian menjauh dan tak bisa ku gapai.
sosoknya yang hilang di tengah keramaian mulai, nampak olehku. Ia menabrak salah seorang siswi yang hendak masuk ke dalam bisnya.
Kami hendak pergi ke Jogja sebagai tour kali ini. Ujian sudah kami lewati pembagian nilai serta perbaikan nilai juga sudah di laksanakan. Serta pembagian rapor sudah di lakukan. Free day yang berlangsung selama semingguan akhirnya sudah selesai di lewati.
Sesuai janji sekolah, kami akan pergi karyawisata setelah kegiatan di semester ini berakhir. Kami resmi berada di kelas akhir di jenjang SMA ini. Serta kelas yang sama akan di berlakukan karena menurut sekolah, untuk pengacakan kelas akan diberlakukan saat tryout saat pagi hari. Sepanjang minggu
"Aksara balik ke bis mu, 15menit lagi kita berangkat. Kamu jangan sampai tertinggal loh ya" Bu Inay memarahinya setelah kebetulan berada disekitarnya dan melihat ia menabrak siswi itu tadi.
dari jauh aku hanya menahan tawaku sembari berjalan ke arahnya.
"Dibilang jangan aneh-aneh. Balik sini." aku meraih tanganya dan berjalan agak cepat. Aku merasa seperti induk ayam yang memarahi anaknya karena bermain terlalu jauh.
kami sampai didepan bus setelahnya, mendapati Bian dan Maya berdiri sembari menatap kami kesal. Mungkin lebih ke aksara kesalnya.
"really?"
kekecewaan aksara berada di puncaknya, karena jelas ia yang kena marah. "Sudahlah, mari kita naik bus sekarang. Kalian sudah mendapatkan tempat duduk bukan?" ujarku sembari mendorong keduanya untuk masuk ke dalam bus.
Kami akan menempuh 8jam lebih perjalan. Dan itu waktu yang cukup lama untuk mencapai tujuannya. Namun aku harap kita sampai dengan selamat selama perjalanan nanti.
kami mencapai tempat duduknya, aku dengan Maya dan Tentunya bian dengan aksara. Kami berada di depan aksara dan bian. Jadi tak ada habisnya kami berdua dijaili Aksara yang entah bagaimana ia jadi seiseng sekarang.
"Anak-anak sebelum perjalanan dimulai, ada baiknya kita berdoa bersama agar diberi keselamatan sampai tujuan hingga pulang nanti maka dari itu. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing dimulai"
kami berdoa dengan khidmat,
"Selesai"
Rombongan bis sekolah kami mulai berjalan dan menuju kota Jogja. Sesuai yang aku inginkan. Jogja lagi, namun dengan orang yang berbeda.
...****************...
Kami sampai sekitar jam 3sore. Mencapai penginapan dan bebersih disana. Tujuan setelahnya adalah Malioboro Yogyakarta, kami diberi waktu hingga jam 6 malam sebelum keberangkatan kita nanti.
Aku sekamar dengan Maya, menghabiskan waktu bersama dan mulai membenahi barang bawaan serta membersihkan diri.
Aku bergantian dengan Maya, aku mengecek apakah sein sudah meilhat pesanku apa belum. Dan ternyata ia sudah membalasnya juga, memberi pesan untuk sentiasa menjaga kesehatan dan istirahat yang cukup untuk melakukan kegiatan wisata kali ini.
Ia berkata jika kali ini, ia akan mempunyai kesan berbeda dari Jogja karena tak ada sosoknya. Itu benar. Akupun setuju akan hal tersebut, itulah alasan kenapa aku memilih Jogja sebagai tempat tujuan kali ini. Mau berapa kali, aku hanya ingin merasakan banyak hal berkesan untuk pengalaman dan kenang-kenanganku.
"Nar, buru gih habis itu bisa rehat dengan nyenyak setelahnya." ujar Maya yang sudah bebersih diri. Ia terlihat lebih menarik setelahnyaa.
sebuah ketukan pintu terdengar, aku tak bisa menggapai lubang intip pintu itu. Begitupun dengan Maya. Aku hanya beranjak dari pintu dan menggapai kamar mandi setelahnya, karena aku mendengar suara bian di baliknya. Biar Maya saja yang menanggapinya.
hampir setengah jam aku berada di dalam kamar mandi. Entah bagaimana bisa selama itu aku berada di dalamnya. Namun aku sudah mendapati Bian dan Aksara yang sudah rebahan di atas ranjang kami.
"lama banget, entar lagi mau berangkat loh" Bian protes dengan sedikit cemberut.
Aku tertawa lirih, kemudian duduk di sebuah kursi yang terdapat kaca besar serta hairdryer yang sudah tersedia disitu. Aku mengeringkan rambutku sembari berbincang sebentar dengan yang lainnya.
"Ntar beli apaan ya disana?" ujar aksara, "Mau nyoba kuliner sih, jajanan pasar. Eh tapi ada ga ya malem-malem gini?"ujar Maya.
"Makan mulu May."seruku.
"Di angkringan aja, mau coba ronde di deketnya. Katanya enak banget" Bian menambahi setelahnyaa.
Aku mengangguk setuju, ngomong-ngomong hampir sama seperti rencana Sein waktu itu. mencoba ronde di dekat angkringan di Malioboro, entah sekarang masih ada seperti dulu atau tidak. Karena setidaknya sudah beberapa tahun yang lalu.
Setelah selesai siap-siap. Kami berempat mulai turun dan berusaha mencapai bis kami. Sudah ramai yang lain disini, bahkan untuk mencapai lantai dasar. Kami harus bergantian menunggu hingga 10menit lamanya.
Terbilang banyak siswa dan siswi seangkatan kami yang ikut jadi ini sudah menjadi resiko bagi kami.
"Rame banget, udah kayak mau tawuran"
Entah siapa yang berkata demikian, tapi itu juga tidak ada salahnya. Betulan seperti orang yang mau berbondong-bondong menonton bola atau konser musik.
bis kami sudah terisi penuh, gerombolan murid di luar juga sudah mulai menipis. Keputusan untuk segera berangkat adalah tepat. Karena malam sudah hampir larut. Jadwalnya agak mundur sendikit. tapi kami tetap antusias karena bisa berangkat bersama-sama dengan teman sekelas kami.
ditengah perjalanan mencapai Malioboro, kami bernyanyi bersama. Menikmati jalanan Jogja yang padat namun tak macet seperti di jakarta.
15menit setelahnya kami mencapai Malioboro, ini tidak tepak di jalannya. Kami berhenti di daerah yang sudah di khususkan untuk parkir bis besar dan untuk wisatawan.
Dekat dengan bank dan kami harus menyebrang agar sampai di titik nol dan terus berjalan hingga mencapai Malioboro.
Begitulah, kami tetap berempat seperti sebelumnya. Berjalan menyusuri keramaian. mencoba berbagai berbagai hal dan membeli beberapa pernak pernik serta jajanan yang ada disana.
Ketentuan awal kami balik di jam 10 malam. Tapi karena kami berangkat lebih lama dari jadwal awal, jadi kami memutuskan untuk pulang selepas jam 12 malam.
Malioboro masih ramai di jam segitu. Kami berempat duduk, 'mengemper' membawa beberapa tas kresek hitam. kami duduk karena tak sanggup berjalan, kami duduk semabri melihat orang-orang berlalu lalang di hadapan kami. tak luput seorang murid dari sekolah kami juga dan bahkan kenalan dari salah seorang dari kami.
"Kalian sanggup?"tanyaku, nafasku sudah teratur dan tak ngos-ngosan seperti sebelumnya.
"ngomong-ngomong sudah jam berapa? Mau balik sekarang aja?"ujar Maya, yang melihat jamnya.
"masih jam 11!?"serunya sedikit kaget. "gila mau ngapain sejam lagi?"ujarku.
"bungkus makan yuk, sedari tadi emang banyakan ngemil. dan sekarang keroncongan lagi karena kita udah muter-muter dari tadi" ujar aksara yang sedikit memohon kepada kita
"oke...bungkus makanan, pecel lele aja gimana?"
anggukan serentak dari kami bertiga, aku, Maya, dan aksara menjadi jawaban singkat dari kita bertiga.
Kami berempat beranjak, dan mencapai kedai makan yang sebetulnya sudah kami incar sejak tadi. Kami memesan menu yang sama, agar tak ribet dan kebingungan nantinya. Serta bian dengan sukarela memakai uangnya terlebih dahulu. Sebetulnya kedai ini sangat ramai sedari kami duduk mengemper. jadi wajar jika kami memilih praktisnya saja agar menghemat waktu dan tenaga.
tepat jam 12 kurang, kami sudah mencapai bis. Antrinya tak begitu lama namun, cukup cepat bagi kami ketimbang saat kami duduk diam seperti anak hilang.
Hari itu ditutup dengan kami yang akhirnya makan bersama-sama lagi di kamarku dan Maya. Kami berbicara mengenai stamina kami yang tak begitu banyak hingga lemahnya orang jakarta untuk berjalan menyusuri Malioboro.
Tidak kami hanya berdalih dan mencari pembelaan. Fisik kami saja yang kelelahan. Bahkan kami bisa mendapati satu dua orang teman kita yang lewat didepan kita hampir 5 kali.
Salam dari Biru si ketos bad boy dan Love My Stepbrother 😄