Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Hujan di Seoul tidak pernah meminta izin sebelum turun. Ia datang begitu saja, deras dan dingin, membasahi kaca-kaca gedung pencakar langit di distrik Gangnam yang berkilau di malam hari. Di lantai paling atas Menara Kim Corp, dunia terasa jauh lebih sunyi, terisolasi oleh ketebalan kaca anti-buru dan kemewahan yang mencekam.
Kim Seokjin menatap pantulan dirinya di jendela besar itu. Jas Armani berwarna navy yang dikenakannya tampak sempurna, kemeja putihnya licin tanpa kerutan, dan dasinya terikat rapi. Dari luar, ia terlihat seperti definisi kesuksesan: muda, tampan, dan berkuasa. "Worldwide Handsome", begitu julukan yang sering dilontarkan media, meski Jin sendiri selalu tertawa geli mendengarnya.
Tapi di balik topeng emas itu, ada retakan yang tak terlihat siapa pun.
Rasa sakit itu datang lagi. Bukan rasa sakit yang tajam seperti ditusuk pisau, melainkan denyutan berat di belakang mata kanannya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang berkembang di dalam kepalanya, mengambil ruang yang bukan miliknya. Jin mengedipkan mata beberapa kali, mencoba mengusir kabut hitam yang sesekali menyelimuti pandangannya.
"Cuma stres," bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak karena seharian memimpin rapat negosiasi dengan investor Jepang. "Kau cuma butuh kopi. Dan mungkin tidur empat jam."
Ia meraih botol kecil dari laci mejanya. Isinya bukan permen mint, melainkan pil pereda nyeri dosis tinggi yang ia beli secara online tanpa resep dokter tiga bulan lalu. Ia menelan dua butir sekaligus tanpa air, membiarkan rasa pahitnya menempel di lidah sebagai pengingat bahwa ia masih hidup. Masih berjuang.
Pintu ruang CEO terbuka pelan. Min Yoongi masuk sambil membawa tablet dan segelas air hangat. Ekspresi wajah asisten pribadinya itu datar, khas Yoongi, tapi matanya yang tajam selalu memperhatikan setiap detail.
"Hyung," panggil Yoongi singkat. Ia meletakkan gelas air di atas meja mahoni yang mengilap. "Minum. Kau terlihat seperti mayat yang baru dibalsem."
Jin tertawa kecil, tawa yang dipaksakan agar terdengar ringan. "Aigoo, Yoongi-ah. Mulutmu memang semakin tajam saja. Apakah ini bagian dari deskripsi pekerjaan barumu? Menjadi kritikus penampilan bos?"
Yoongi tidak tersenyum. Ia menyilangkan tangan di dada. "Ini bagian dari tugas menjaga aset perusahaan agar tidak rusak karena kebodohan pemiliknya. Jam menunjukkan pukul 23.15. Hoseok sudah pulang sejak dua jam lalu. Namjoon juga sudah menelepon, menanyakan apakah kau masih berniat hadir di acara makan malam keluarga minggu depan."
Sebutan nama Hoseok dan Namjoon membuat dada Jin sedikit sesak. Hoseok, sepupunya yang kini menjadi Direktur Operasional, selalu khawatir. Namjoon, sekretaris pribadi Hoseok yang cerdas, selalu mengingatkan Jin tentang janji-janjinya. Dan Tae... adik kandungnya yang satu-satunya alasan Jin bertahan di posisi melelahkan ini.
"Aku akan datang," jawab Jin, meski ia tahu itu bohong. Jika kondisinya memburuk, ia tidak akan mampu berpura-pura bahagia di depan Tae. "Beritahu Joon-ah, aku akan menghubunginya besok."
Yoongi menghela napas panjang, suara frustrasi yang jarang ia keluarkan. "Hyung, kau berjanji pada Taehyung minggu lalu akan menonton pertunjukan teaternya. Dia sudah membeli tiket untukmu. Dia menunggu pesan darimu sejak pagi."
Wajah Jin mengerut sejenak. Rasa bersalah itu menusuk lebih dalam daripada sakit di kepalanya. Tae. Adik kecilnya yang polos, yang berpikir kakaknya adalah sosok dingin yang hanya peduli pada angka dan saham. Jin ingin berkata jujur. Ingin berkata, "Tae, kakakmu sakit. Kakakmu takut. Kakakmu butuh pelukanmu."
Tapi ia tidak bisa. Jika Tae tahu, dia akan meninggalkan kuliahnya. Dia akan meninggalkan mimpi-mimpinya untuk merawat Jin. Dan Jin tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika itu terjadi. Orang tua mereka telah pergi terlalu dini, meninggalkan Jin sebagai satu-satunya pelindung bagi Tae. Jin harus kuat. Harus sempurna. Harus menjadi tembok beton yang tak tembus.
"Aku sibuk, Yoongi," kata Jin dengan nada dingin yang sengaja ia ciptakan. Nada yang membuat jarak. "Perusahaan sedang dalam tahap akuisisi penting. Urusan teater anak-anak bisa menunggu."
Mata Yoongi membelalak. Ia mengenal Jin lebih baik dari siapa pun. Ia tahu Jin mencintai Tae melebihi nyawanya sendiri. Kalimat itu terasa asing, kasar, dan menyakitkan.
"Urusan anak-anak?" ulang Yoongi pelan, suaranya rendah berisi amarah yang tertahan. "Taehyung bukan anak-anak, Hyung. Dia adikmu. Dan kau..." Yoongi menggelengkan kepala, kekecewaan jelas tertera di wajahnya. "Kau semakin mirip dengan mesin yang ayahmu bangun dulu. Dingin. Tak berperasaan."
Kalimat itu menghantam Jin lebih keras daripada pukulan fisik. Tak berperasaan.
Jin menunduk, menyembunyikan ekspresi sakit di wajahnya. Ia menggenggam tepi mejanya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sakit di kepalanya berdenyut lebih kencang, seolah merespons emosi negatif itu.
"Pergi, Yoongi," perintah Jin, suaranya gemetar halus. "Selesaikan laporan kuartalan. Aku ingin sendirian."
Yoongi menatap Jin lama. Ada keinginan untuk membantah, untuk memaksa Jin pulang, untuk memeriksa kondisi kesehatannya yang semakin buruk. Tapi ia tahu betapa keras kepala Jin jika sudah memutuskan sesuatu. Dengan langkah berat, Yoongi berbalik dan keluar dari ruangan, menutup pintu dengan bunyi klik yang terdengar final.
Ruangan kembali hening. Hanya ada suara hujan dan detak jantung Jin yang tidak teratur.
Jin melepaskan napasnya yang tertahan. Ia merosot ke kursi, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air mata panas menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya. Menangis tidak akan menghentikan rasa sakitnya-iya, ia curiga ada sesuatu yang salah sejak hasil MRI rutin enam bulan lalu yang ia sembunyikan rapi di brankas rumahnya-tapi menangis akan membuatnya lemah. Dan Kim Seokjin tidak boleh lemah.
Ia membuka laci bawah mejanya, mengambil foto bingkai kecil. Foto itu menampilkan dirinya, Tae, Hoseok, dan Yoongi saat mereka masih remaja, tersenyum lebar di pantai Busan. Wajah Tae bersinar cerah, lengannya melingkar di bahu Jin.
"Maafkan aku, Tae-ya," bisik Jin pada foto itu. "Hyung berjanji... hyung akan menyelesaikan semua ini. Hyung akan memberimu dunia. Tunggu saja."
Ia mencium foto itu sekilas, lalu memasukkannya kembali ke laci, mengubur kelemahannya bersama rahasia gelapnya.
Di luar, petir menyambar, menerangi wajah pucat Kim Seokjin untuk sesaat sebelum kembali tenggelam dalam kegelapan. Badai belum berakhir. Itu baru permulaan.
🥀🥀🥀🥀🥀
Hujan malam itu jatuh tanpa suara,
seolah langit pun tahu bahwa ada hati yang sedang berusaha tetap tegar.
Kim Seokjin berdiri di balik kemewahan yang tak mampu membeli kesembuhan,
tersenyum di balik rasa sakit yang tak pernah ia ceritakan.
Ia memilih menjadi tembok,
agar adiknya tak perlu tahu bahwa di balik tembok itu
ada seseorang yang sebenarnya sedang runtuh perlahan.
Ia memilih berbohong,
bukan karena tak mencintai,
melainkan karena terlalu mencintai.
Sebab terkadang,
orang yang paling takut kehilangan justru adalah orang
yang paling pandai menyembunyikan ketakutannya.
Dan malam itu,
di antara gemuruh hujan dan kilatan petir,
Seokjin hanya memiliki satu doa:
"Tuhan, kalau waktuku memang tidak panjang,
izinkan aku menyelesaikan tugasku sebagai seorang hyung terlebih dahulu."
Karena bagi Seokjin,
hidup bukan lagi tentang berapa lama ia bisa bertahan.
Melainkan tentang
berapa banyak kenangan indah yang masih bisa ia tinggalkan
sebelum waktunya benar-benar tiba.
bersambung......