Indonesia
NovelToon NovelToon
Beautiful Pain

Beautiful Pain

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kontras Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Atri Aulia

Katanya, jatuh cinta adalah rasa sakit yang indah. Namun apa jadinya jika yang mencintai hanya satu pihak?
Ralia adalah salah satunya, ia menjadi korban sebuah perasaan indah namun menyakitkan bagi dirinya. Dimana, Ia harus menikah dengan seseorang yang Ia cintai diam-diam, namun tak tahu apakah cinta itu terbalaskan atau tidak.

Pernikahan yang harus Ia jalani dengan Alvan, ternyata memang bukan sebuah perjodohan, bukan pula sebuah perjanjian bisnis.
Pernikahan mereka terjadi karena ibu dari Alvan menginginkan Ralia sebagai menantunya. Karena tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, maka Alvan pun bersedia menjadi suami Ralia, meskipun Ia masih mengharap cinta dari Dara, mantan kekasihnya.

Akankah cinta sesungguhnya hadir dalam pernikahan mereka, atau bahkan cinta itu akan berubah menjadi kebencian dari keduanya?


Ig @atri.auliaa304

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atri Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Ketika malam sudah larut, Alvan masih memainkan ponselnya dengan satu tangan. Sementara itu Ralia sudah tertidur tepat di sampingnya. Alvan mengelus lembut kepala Ralia dan sesekali menoleh memastikan jika Ralia sudah terlelap.

Niat hati ingin tidur, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama sang mantan di layar. Alvan cepat-cepat menekan tombol power untuk sekedar menghilangkan suara dering ponselnya. Biarkan Dara terus meneleponnya dan tak Ia hiraukan. Alvan memilih untuk memeluk Ralia dan ikut terlelap agar Ia tidak kesiangan untuk bangun pagi.

Di waktu yang sama, Dara terlihat kesal karena panggilannya tak kunjung mendapat jawaban. Ia benar-benar hilang kesabaran menghadapi Alvan yang masih menggantung hubungan dengannya. Dara sudah mengatakan kata putus, namun Alvan bersikap seolah belum menerima keputusan Dara. Hingga sekarang, Dara belum tahu apakah Alvan masih menginginkannya atau tidak.

"Apa kurangnya aku? Kenapa Ibunya Alvan tidak suka padaku?" Keluhnya mulai penasaran akan semua yang Ia alami. Tidak mendapat restu dari Ibu Alvan, dan di cap sebagai perempuan matre hanya karena selalu belanja memakai uang Alvan. Tidak salah, namun tidak benar juga. Dara sering kali menyalah gunakan uang Alvan yang dipercayakan padanya. Alvan sebenarnya ingin Dara menyimpan dan hanya dipakai kebutuhan saja, bukan untuk belanja yang tidak perlu seperti baju-baju, tas, sepatu, bahkan ponsel baru. Meski begitu, Alvan tak pernah marah padanya. Itu karena Alvan terlalu memanjakannya, dan Alvan sudah buta karena perasaannya.

Singkatnya, pagi menyapa, dan seperti biasa Ralia selalu berada di dapur ketika jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Alvan yang tertidur setelah shalat subuh pun mendadak kalap karena Ia harus berangkat ke tempat kerja sepagi mungkin.

"Ra... kok gak bangunin aku?" Teriak Alvan seraya sibuk mencari pakaian.

"Loh kan tadi udah bangun Mas. Emangnya tidur lagi?" Ralia sama-sama berteriak karena berbeda ruangan dan terlihat heran, pasalnya Ia memang melihat Alvan sudah bangun dan bahkan sudah mandi sebelum subuh. Terdengar di dalam kamar begitu gaduh, dan saat Ralia menengok, Ia terkejut melihat Alvan yang hanya memakai celana saja, dan masih sibuk mencari baju. Efek mengantuk membuat Alvan kalap dan tak bisa fokus. Ralia mematikan kompor terlebih dahulu, lalu membantu Alvan bersiap. Ralia mengeluarkan kemeja, jas, dan dasi Alvan dari dalam lemari. Ia membantu Alvan mengenakan kemeja agar Alvan bisa fokus dan sadar sepenuhnya.

"Sebaiknya Mas cuci muka dulu biar gak ngantuk." Ucap Ralia memberi saran. Alvan mengangguk kemudian bangkit untuk membasuh wajahnya. Rasa kantuk masih menempel pada matanya yang terasa sayu.

"Maaf ya Mas. Aku gak tahu kalau Mas ada pekerjaan pagi. Biasanya Mas berangkat jam 7 lebih, bahkan kadang jam 8."

"Gapapa Ra. Aku yang salah. Semalam gak langsung tidur, jadi efeknya ngantuk." Jawaban Alvan ini malah membuat wajah Ralia bersemu merah seperti tengah menahan malu. Ah benar, semalam mereka memang melakukan ritual, dan pagi ini Ralia masih merasa kedinginan karena rambutnya basah.

"Mau bawa bekal gak Mas?" Tanya Ralia seraya masih sibuk membantu Alvan mengenakan pakaian.

"Takut gak ke makan Ra. Soalnya habis dari kantor, Mas mau ke toko, cek karyawan sama stok produk. Paling nanti beli aja."

"Loh... jangan nunda-nunda makan Mas. Atau enggak gini aja, Mas makan 2 atau 3 suap. Biar ada tenaga sedikit, ya?" Alvan melirik jam di tangannya sesaat, Ia mungkin akan terlambat beberapa menit, namun demi Ralia yang sudah membuatkannya sarapan, Alvan mengiyakan saja. Bukannya 3 suap, justru Alvan meminta lebih. Entah karena lapar atau masakan Ralia yang enak. Sampai ia tersadar, Alvan buru-buru mengambil minun dan berangkat.

"Mas... memarnya belum di kompres." Teriak Ralia saat Alvan sudah membuka pintu depan.

"Gapapa Ra. Gak sakit kok." Jawab Alvan segera menutup pintu. Ralia menghela nafas dalam sesaat. Bisa-bisanya Alvan berkelahi karena marah pada Dikta yang menginginkan dirinya. Benar dugaan Ralia, Dikta memang menyukainya. Setiap mereka bertemu, sikap Dikta sangatlah manis. Jauh dengan sikap Alvan yang jutek dan memperlihatkan rasa tidak sukanya. Ralia melanjutkan aktifitasnya untuk sarapan dan membereskan beberapa ruangan. Sejenak Ia terpaku pada sebuah foto yang terpajang di ruang tamu. Ia baru melihatnya pagi ini. Sejak kapan foto itu ada di sana? Kembali Ralia dibuat heran dengan perubahan Alvan yang terasa drastis. Ralia tersenyum begitu lega karena Alvan yang memasangnya sendiri. Mungkin semalam atau tadi subuh saat Ia tengah mandi. Ah itu tidak perlu dipikirkan. Yang jelas, Ralia senang karena foto pernikahannya sudah berada di tempatnya. Samar terdengar suara ponsel yang tak asing di telinga Ralia. Ia memasuki kamar tempat benda pipih itu tersimpan.

"Aih... ponsel Mas Alvan ketinggalan?" Tanyanya pada diri sendiri. Dengan ragu Ralia melihat siapa yang menghubungi. Dan Ia merasa lega saat mendapati nama Dikta tertera di layar ponselnya.

"Hallo kak." Sapanya memulai pembicaraan.

"Loh. Ra... Alvan belum berangkat?" Tanya Dikta keheranan.

"Udah kak. Tapi ponselnya ketinggalan. Kenapa ya?"

"Wah kacau. Itu datanya ada di ponsel Alvan. Udah lama berangkatnya?"

"Sekitar 5 menit yang lalu. Tapi kalau penting, Ralia bisa antarkan ke tempat kerja Mas Alvan. Tapi, Ralia gak tahu dimana lokasinya."

"Nanti kamu kerepotan Ra."

"Gapapa kak. Daripada nanti Mas Alvan bolak-balik. Katanya sekarang ada pekerjaan mendesak di kantor. Makanya Mas Alvan berangkat pagi-pagi."

"Aku aja ngambil ke situ Ra."

"Enggak kak. Jangan. Takut Mas Alvan salah faham. Nanti kalian berantem lagi." Keluh Ralia semakin membuat Dikta tak ingin menjauh darinya.

"Ya udah. Nanti aku kirim lokasinya ya. Aku tunggu di depan gerbang."

"Iya kak. Sebentar, Ralia ganti baju dulu."

"Iya Ra. Jangan lupa di foto ya!"

"Hah? Apanya kak?"

"Eh maksudnya nanti kalau kamu bingung sama lokasinya, kamu foto aja kamu dimana, terus hubungi aku." Jelas Dikta.

"Ohhh... iya kak." Setelah menanggapi demikian, Ralia mematikan panggilan dan Ia segera bersiap untuk mengantarkan ponsel Alvan.

Di waktu yang sama, Dikta memukul-mukul kepalanya pelan dan Ia mendadak malu sendiri. Bisa-bisanya keceplosan begitu.

"Bego bego bego. Duh.. untung Ralia gak salah paham. Gila sih gue. Kenapa tiba-tiba bilang gitu." Dikta terus memaki dirinya sendiri.

Ralia mengganti pakaiannya dengan baju yang kemarin Alvan belikan untuknya. Semula Ia ragu, namun mengingat Alvan yang merupakan seorang direktur, Ia harus berdandan secantik mungkin agar suaminya tidak diolok-olok oleh bawahannya. Kali ini Ia tak ingin kalah dari Dara yang sudah terkenal sebagai pacar Alvan. Ralia memoles wajahnya sedikit lebih tebal agar bisa mengimbangi penampilannya. Rambutnya Ia rapikan dengan gaya model ponytail. Selanjutnya Ia merapikan poni yang menutupi alis kirinya. Sepatu hak setinggi 5 cm menambah kesan elegan untuk Ralia yang 'biasa saja'. Sudah siap! Ralia bergegas menyusul Alvan dengan mengikuti petunjuk lokasi yang dikirim Dikta ke ponsel Alvan.

Ketika di perjalanan, Ralia mendapati nama Dara memanggil ke ponsel suaminya itu. Wajahnya mendadak kesal, Ia langsung menekan tombol merah tanda menolak panggilan. Dara menjadi kesal karena baru pertama kali Ia mendapat hal semacam ini. Lagi, Dara mencoba menghubungi Alvan, namun tetap sama.

"Ihhh Alvan kenapa sih? Gak biasanya dia tolak panggilan dari aku." Dengan menghentakkan kakinya manja, Dara melempar ponselnya ke atas ranjang dan memikirkan kenapa Alvan terasa berbeda. Sebelumnya, meski Alvan sudah menikah, Ia masih bisa bertukar kabar dengan Alvan.

"Bego sih lo Van. Lupa terus kerjaan lo." Umpat Dikta benar-benar kehilangan kesabarannya pada Alvan.

"Ya gue lupa Dikta... gimana dong? Itu si bos udah stand by aja di meja." Alvan ikut kesal sendiri saat mendapati bos besarnya sudah berada di ruang meeting. Mereka berdua masih berada diluar dan saling memaki satu sama lain.

"Tapi lo tenang aja, tadi Ralia bilang mau anterin ponsel lo kesini." Ucap Dikta ketika mereka sudah saling diam beberapa detik.

"Lo masih hubungin istri gue?" Mendadak Alvan geram dan melemparkan tatapan sinis nan tajam pada Dikta.

"Enggak. Gue nelpon nomor lo. Tapi yang angkat Ralia." Tepat setelah Dikta menjawab demikian, Alvan mendengar namanya dipanggil dan mengharuskannya masuk ke ruang meeting.

"Lo tunggu di sini!" Tegas Alvan yang menahan langkah Dikta yang hendak kembali ke gerbang.

Ralia sampai di titik petunjuk yang dikirim Dikta. Ia berlari menuju gerbang, namun tak mendapati keberadaan Dikta di sana. Ralia mencoba menghubungi Dikta menggunakan ponsel Alvan, dan akhirnya mendapat jawaban.

"Ra... kamu udah di kantor?" Tanya Dikta bersembunyi di antara tembok ruangan.

"Sudah kak. Kakak dimana?"

"Aku di lantai 4 Ra. Kamu naik aja ke sini."

"Emangnya gapapa kak? Mas Alvan dimana?"

"Alvan lagi meeting sama owner. Kamu izin ke satpam aja, bilang kalau kamu ada urusan sama Alvan dan sudah membuat janji. Gitu aja! Nanti juga di izinin masuk kok."

"Terus kalau ditanya aku siapanya Mas Alvan, jawabnya apa?"

"Eh? Ya jelas istrinya lah.. kamu itu gimana sih? Lupa kalau kalian udah nikah, atau sengaja kasih kode buat aku?"

"Eng-enggak. Siapa yang kasih kode? Kan takutnya orang-orang kantor gak tahu Mas Alvan udah nikah."

Dikta tak langsung menjawab, sebenarnya semua karyawan kantor memang belum tahu jika Alvan sudah menikah.

"Gapapa Ra. Bilang aja gitu." Jawab Dikta akhirnya dituruti oleh Ralia.

Setelah mendapat izin dari satpam, Ralia bergegas menuju tempat yang dimaksud Dikta. Sampai akhirnya Dikta terpaku menatap Ralia yang berjalan mendekat ke arahnya. Ia seakan tak mengenali Ralia saat ini.

"Cantik!" Ucapnya pelan.

Alvan melirik keluar yang memang hanya berdindingkan kaca tebal dan Ia meminta izin untuk menghampiri Dikta dan Ralia.

"Mas. Ini ponsel Mas ketinggalan." Ucapnya dengan memasang wajah khawatir.

"Ra..." satu kata yang terucap dari mulut Alvan. Ia terpesona pada penampilan Ralia pagi ini. Baju, sepatu, tas, dan aksesoris yang Ia beli semuanya Ralia pakai. Mendadak muncul sebuah perasaan asing di hati Alvan, yakni perasaan senang karena merasa dihargai oleh istrinya sendiri.

Bersambung

1
si cilik nakal💢💢
semangat torr/Smile//Smile/
si cilik nakal💢💢: jang pantang menyerah ya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!