Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG MERAH YANG TERSAMAR*
Tiga tahun telah berlalu sejak pesawat yang membawa Ziva Adriana membelah langit malam Jakarta menuju benua biru.
Kini, di London yang dingin dan selalu basah oleh rintik gerimis, Ziva berdiri anggun di depan jendela kaca apartemennya yang menghadap langsung ke panorama Sungai Thames.
Ia bukan lagi gadis cegil yang gemar memakai pakaian mencolok, bersikap liar, atau nekat melakukan aksi bar-bar demi perhatian seorang pria.
Ziva yang sekarang adalah sosok wanita dewasa yang amat memikat seorang lulusan magister Hukum Internasional dengan predikat terbaik yang sedang meniti karier cemerlang di salah satu firma hukum ternama di Inggris.
Namun, di balik setelan kerja berpotongan mahal dan senyum profesionalnya, ada satu sudut gelap di dadanya yang terkunci rapat.
Sebuah ruang hampa yang hingga detik ini hanya berisi bayangan pria tegap berseragam loreng dengan bintang tiga di bahunya.
"Ziva, melamun lagi?" suara hangat itu memecahkan lamunannya.
Seorang pria muda berpenampilan rapi bernama Aris melingkarkan tangannya dengan lembut di bahu Ziva, menyandarkan dagunya di sana.
Aris adalah definisi pria idaman yang sempurna lembut, cerdas, berpendidikan tinggi, dan teramat mencintai Ziva dengan seluruh kesabarannya.
Mereka pertama kali bertemu di perpustakaan universitas dua tahun lalu, saat Ziva sedang berjuang melarikan diri dari ketakutan akan kesepian.
Ziva menerima kehadiran Aris bukan karena ia telah berhasil membunuh bayangan Gibran dari hatinya, melainkan karena ia lelah terus-menerus berlari.
Aris adalah tempat berteduh yang tenang, meski pria itu bukanlah pemilik api cinta yang membakar jiwanya.
Ziva tidak pernah tahu dan Aris pun tidak pernah secara spesifik membeberkan bahwa nama belakang "Mahendra" yang amat jarang Aris gunakan di lingkungan akademis Eropa adalah karena Aris merupakan keponakan kandung kesayangan Gibran Mahendra.
Aris adalah putra tunggal dari kakak perempuan Gibran yang telah lama menetap di luar negeri.
Bagi Ziva, Aris hanyalah Aris.
Takdir sedang merajut lelucon paling kejam dan rumit bagi mereka semua.
"Aku cuma lagi teringat suasana Jakarta, Aris," alibi Ziva sambil mengukir senyum tipis yang memikat.
"Mungkin ini sudah saatnya kita pulang, Sayang.
Paman terkasihku di Jakarta baru saja naik jabatan lagi di Markas Besar, dan dia secara khusus memintaku pulang untuk membantu mengelola beberapa aset bisnis keluarga Mahendra," ujar Aris lembut sambil mendaratkan kecupan hangat di kening Ziva.
Ziva membeku seketika.
Tubuhnya kaku.
'Pulang? Ke kota di mana seluruh lukanya bermuara?'
Sementara itu, ribuan kilometer di sudut elite Jakarta, keheningan justru terasa amat mencekam.
Gibran Mahendra duduk terpaku di tepi tempat tidur berukuran king size yang masih dipenuhi taburan kelopak bunga mawar merah.
Malam itu adalah malam pertamanya sebagai suami sah dari dr. Anindita Prasetya.
Anindita sang istri yang merupakan mantan model papan atas sekaligus dokter spesialis tampil teramat mempesona dalam balutan gaun tidur sutra bermerek mahal.
Wajah cantiknya memancarkan binar menggoda saat ia berjalan mendekat.
Namun, tepat ketika jemari lentik Anindita baru saja menyentuh bahu tegap Gibran, sang Jenderal tersentak kaku seolah tubuhnya dihantam aliran listrik bertegangan tinggi.
Gibran memejamkan matanya rapat-rapat.
Akan tetapi, di balik kegelapan pikirannya, bukan paras cantik dan sempurna Anindita yang muncul.
Bayangan yang hadir justru wajah Ziva yang kotor berdebu tanah merah di zona konflik perbatasan.
Ia teringat jelas tawa berisik gadis itu, aroma manis parfum vanilanya yang menusuk dada, serta keberanian gilanya saat menyerahkan seluruh jiwanya tanpa sisa.
"Gibran?
Kamu kenapa, Mas?" tanya Anindita heran sekaligus tersinggung oleh reaksi dingin suaminya.
Gibran mendadak bangkit berdiri dari tempat tidur.
Napasnya memburu cepat, dan keringat dingin tampak membasahi pelipisnya.
Jiwanya menolak secara brutal.
Ia tidak sanggup menyentuh wanita mana pun ketika seluruh ruang di hatinya masih tertinggal dalam dekapan seorang gadis muda yang dulu ia usir dengan kejam.
"Maafkan saya, Anin.
Saya... saya sedang tidak enak badan.
Jahitan luka lama di perut saya mendadak terasa amat nyeri," bohong Gibran dengan nada suara yang begitu dingin dan kaku seolah ia sedang memberikan laporan situasi militer kepada atasannya, bukan berbicara pada wanita yang baru saja ia nikahi.
Anindita mendesah kecewa berat, namun demi menjaga gengsi dan martabatnya, ia tidak memaksa.
Sejak malam pertama yang gagal total itu, hari-hari dan malam-malam pernikahan mereka dilewati dalam kedinginan yang sama.
Seiring berjalannya waktu, pernikahan megah yang dielu-elukan publik itu terbukti hanyalah sebuah pajangan media yang kosong tanpa jiwa.
Anindita, sebagai figur publik dan dokter spesialis, memiliki kesibukan yang luar biasa padat.
Ia lebih sering menghabiskan berminggu-minggu waktunya di Paris, Milan, atau Bali untuk acara busana ketimbang berada di rumah.
Bagi Anindita, pernikahan dengan seorang Letnan Jenderal berprestasi adalah tameng sosial yang sangat sempurna untuk mengangkat citra keluarganya.
Gibran pun sama saja.
Pria itu justru sengaja mengajukan diri untuk memimpin lebih banyak operasi dan tugas luar daerah agar memiliki alasan sah untuk tidak pulang ke rumah mewahnya yang terasa begitu hambar dan hampa.
Rumah itu memang sangat besar dan megah, namun di sana tidak ada aroma martabak manis yang dibawakan secara nekat di tengah malam.
Tidak ada lagi suara nyaring yang memanggil "Om Jenderal!" untuk memecah kesunyian jiwanya.
Suatu malam, Gibran pulang ke rumahnya yang sunyi.
Anindita sedang berada di luar negeri untuk sebuah pameran selama sebulan penuh.
Pria berseragam loreng itu duduk di sofa ruang tengah, menatap sebuah kotak kayu kecil bermotif ukir yang selalu ia simpan di dalam laci meja kerjanya yang terkunci rapat.
Di dalam kotak itu, tersimpan secarik kertas lusuh dan terlipat pesan pamit terakhir yang dikirimkan Ziva tiga tahun lalu.
"Kamu ada di mana sebenarnya, Ziva...?" gumam Gibran pada keheningan malam, suaranya parau oleh rasa frustrasi yang terkikis waktu.
"Saya sudah mendapatkan semua kepatuhan dan ketenangan yang saya minta... tapi kenapa rasanya saya mati setiap hari?"
Dering ponsel dinas di atas meja mengejutkan Gibran dari lamunannya.
Nama keponakan kesayangannya, Aris, tertera di layar.
Gibran segera menggeser tombol hijau.
"Halo, Om Gibran!
Kabar gembira, minggu depan Aris akhirnya resmi pulang ke Jakarta!" suara Aris terdengar begitu gembira dan penuh energi dari ujung telepon.
"Aris nggak pulang sendirian, Om.
Aris mau mengenalkan calon istri Aris secara resmi ke keluarga besar Mahendra.
Dia wanita paling hebat dan luar biasa yang pernah Aris temui selama di London."
Gibran memaksakan sebuah senyuman tipis di balik suaranya, mencoba bersikap sebagai seorang paman yang suportif.
"Baguslah kalau begitu, Aris.
Bawa dia langsung ke rumah utama.
Kita akan mengadakan makan malam penyambutan keluarga."
Gibran sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang disebut "hebat" oleh keponakannya itu adalah badai terindah yang pernah ia usir dengan kejam dari hidupnya.
Dan Ziva pun tidak pernah membayangkan bahwa kepulangannya ke tanah air akan membawanya berhadapan langsung dengan pria yang selama tiga tahun ini berusaha mati-matian ia kubur dalam ingatannya pria yang tetap hidup sebagai cinta pertama sekaligus luka terdalamnya.
Benang merah takdir telah terikat kencang.
Jakarta akan kembali menjadi saksi bisu: apakah perasaan yang dipendam paksa akan meledak meruntuhkan segalanya, ataukah kehancuran baru yang lebih dahsyat siap menelan mereka bertiga?