Usai mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali membuat Sabrina tidak mau lagi membuka hati untuk semua pria yang mencoba mendekatinya. Hingga pada satu kesempatan dimana ia harus kembali dipertemukan dengan sosok pria sombong dan egois bernama Evan yang notabene adalah musuh bebuyutannya pada zaman kuliah dulu. Entah sebuah kebetulan atau takdir dimana Evan adalah bos perusahaan konstruksi tempat Sabrina melamar pekerjaan.
Tapi apa yang terjadi ketika Evan tiba-tiba saja melamar Sabrina di hadapan kedua orang tuanya? Dan hebatnya lagi Evan berhasil meyakinkan orang tua Sabrina untuk menikahi putri mereka. Tidak punya pilihan lain, Sabrina terpaksa menerima lamaran Evan dan akhirnya resmi menjadi suaminya.
Motif apa yang dimiliki Evan sebenarnya hingga pria itu mau menikahi Sabrina? Bagaimana nasib Sabrina selanjutnya ketika ia harus menjalani pernikahan dengan pria yang ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Parasian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Bertemu Mantan Dajjal
"Del, habis ini kita makan ya?" kata Sabrina yang tampak lelah berjalan mengelilingi mall selama satu jam.
"Iya. Gua juga udah lapar. Gak nyangka ya, keliling shopping kayak gini capek juga. Pegel kaki gua," ungkap Delisa, yang terlihat kesulitan menggerakkan tubuhnya karena saking banyaknya kantong belanjaan yang ia bawa.
Sabrina hanya tertawa mendengar itu. "Rasain lu. Jadi susah kan bawa belanjaan lu. Tadi udah dibilangin pake jasa delivery mereka aja, lu gak mau. Ya udah, tanggung sendiri deh. Atau lu telpon cowok lu untuk datang bantu bawain. Beres kan?" ucapnya memberi saran.
Delisa menghela napas panjang. "Gua udah putus sama dia. Dia selingkuh dengan teman sekantor gua. Kamprett kan?"
Sabrina membesarkan pupil mata. Terkejut mendengar pengakuan sang sahabat. "Eh, selingkuh gimana maksud lu?"
"Ntar gua ceritain. Kita makan dulu aja. Gua udah mau pingsan nih. Laper banget!" ujar Delisa yang sudah masuk salah satu restoran cepat saji yang menyediakan pizza. Sabrina mengangguk setuju. Dia pun sudah lapar juga.
Beruntung mereka langsung mendapatkan meja kosong di restoran itu. Mengingat hari ini hari libur akhir pekan, biasanya akan ada banyak pengunjung sehingga terkadang untuk mendapatkan meja mesti antri atau harus reservasi jauh sebelumnya.
Delisa begitu lega setelah ia mendaratkan bokong ke kursi empuk restoran. Kebetulan sekali, mereka kebagian meja yang kursinya bermodel sofa single.
"Capek banget ya?" tanya Sabrina yang sebenarnya ia sudah tau jawabannya.
"Hem. Banget. Tapi gak apalah. Terbayarkan kok, capeknya. Gua bisa beli barang impian gua sejak lama." Delisa terkekeh, menatap barang belanjaannya yang harganya tidak murah itu. Biasanya dia bakal menabung beberapa bulan gaji hanya untuk membeli satu barang itu.
Tapi hari ini, sahabatnya yang tiba-tiba jadi Ms. Money Bag itu membelikan semuanya dengan menggunakan black card hasil ngepet, eh ralat pemberian suaminya. Katanya sih begitu. Tapi Delisa akan menanyai nanti.
Tidak lama mereka duduk, sudah ada seorang waiter yang datang untuk mencatat pesanan mereka. Usai menyebutkan pesanan dan dicatat oleh waiter, keduanya pun kembali mengobrol.
"Eh, lu cerita dong kenapa bisa lu diselingkuhi sama cowok lu? Bukannya lu bilang selama ini kalau tuh cowok baik dan perhatian sama lu?" ujar Sabrina, yang penasaran penyebab putusnya hubungan sang sahabat dengan pacarnya.
Delisa berdecih dulu sebelum ia mulai berujar. "Memang dia tuh baik dan perhatian sama gua. Tapi itu semua palsu. Dia itu kayak gitu, karena mau nutupin brengseknya dia dari gua. Tapi Tuhan masih berbaik hati sama gua. Secara tidak sengaja gua mendapati riwayat chat si brengsekk itu sama selingkuhannya. Bangkee kan?" Delisa memukul meja sedikit keras kala mengingat perbuatan sang mantan.
"Sabar, Bu. Sabar. Ingat kita lagi di tempat umum. Lu mau orang-orang nyangka lu kesambet?" kata Sabrina, yang tampak malu karena orang sekitar mereka melihat pada mereka karena gebrakan meja Delisa.
"Sorry. Emosi gua. Masa gua yang cantiknya ngalahin Raisa bisa diselingkuhin. Jatuh harga diri gua!" Delisa berujar sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
Hal itu membuat Sabrina mencebikkan bibir. "Dasar narsis!" semburnya. Tapi malahan mengundang tawa keduanya.
Dari kejauhan, tampak seorang pria yang sejak tadi memperhatikan dua sahabat itu. Hingga saat melihat pesanan kedua wanita itu datang, pria yang memakai baju kaos garis-garis berwarna biru itu memantapkan hati menghampiri meja Sabrina dan Delisa.
"Hai, Qirani."
Sapaan itu terdengar di telinga Sabrina dan Delisa. Sabrina sang pemilik nama, langsung menoleh ke arah orang yang memanggilnya barusan.
Melihat sosok yang berdiri menjulang di depannya, Sabrina sontak membulatkan bola mata. Ingin rasanya dia mengumpat kasar. Tapi tidak bisa. Ia sedang berada di tempat umum dan ramai seperti ini. Tentu saja kan menarik perhatian orang-orang yang ada di sana.
Tidak jauh beda dengan Sabrina, Delisa juga tampak kaget dengan kehadiran orang yang berdiri di sisi kanan Sabrina.
"Ngapain lu ada di sini?" tanya Delisa mendahului Sabrina bertanya. Jangan lupakan tatapan judesnya.
"Iya, ngapain kamu pake muncul di depan saya?" Kali ini Sabrina yang bertanya. Namun matanya enggan melihat orang di depannya.
"Boleh saya duduk di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan dua wanita itu, pria itu malahan meminta ijin untuk duduk di sebelah Sabrina.
Bahkan tanpa menunggu Sabrina atau Delisa menjawab, pria itu sudah lebih dulu duduk di sana.
"Eh, siapa yang nyuruh duduk di situ?" seru Sabrina kesal. Tapi ia masih mencoba menahan emosi agar tidak meledak di sana.
Sebenarnya ia ingin sekali menendang jauh pria yang saat ini dengan seenaknya duduk di sebelahnya. Bukan apa-apa, pria itu adalah salah satu dari tiga mantan calon suami Sabrina yang dengan seenaknya jidatnya membatalkan pernikahan secara sepihak menjelang acara yang sudah hampir rampung dikerjakan.
Dari situ saja Sabrina tidak hanya menanggung malu. Tapi juga harus menanggung kerugian secara materi yang tidak kecil jumlahnya.
Bayangkan saja bagaimana perasaan Sabrina. Sudah jatuh ditimpa tangga pula. Sudah dicemooh oleh orang, uangnya pun melayang dengan jumlah banyak dalam sekejap karena untuk membayar WO yang ia sewa.
"Qirani, saya mau minta maaf sama kamu. Saya benar-benar menyesal sudah meninggalkan kamu waktu itu. Sa—"
"Maaf? Kamu bilang maaf?" Pria bernama Yoda itu mengangguk. Namanya Ardito Yoda, akrab disapa Yoda oleh Sabrina.
"Iya, saya minta maaf sama kamu, Qirani," ucap Yoda memasang wajah menyesal. Yoda adalah salah satu mantan Sabrina yang memanggil nama Sabrina dengan nama belakangnya. Katanya lebih estetik saja.
Tapi mengingat kelakuannya pada Sabrina, sungguh sangat-sangat tidak estetik. Delisa tidak ikut campur. Dia hanya mendengar saja. Bagaimana pun itu masalah pribadi sahabatnya. Kecuali ada tindakan si mantan dajjalnya Sabrina yang keterlaluan. Barulah Delisa turun tangan.
"Nggak usah masang wajah seperti itu di depan saya. Jijik tau nggak!" sembur Sabrina, bersedekap tangan di dada.
Yoda melipat bibir ke dalam. Ia tau kalau sudah melakukan kesalahan pada Sabrina. Tapi ia terpaksa melakukannya.
"Saya tau kalau kamu mungkin susah memaafkan saya. Tapi saya benar-benar bersungguh-sungguh meminta maaf sama kamu, Qirani. Jujur saya masih mencintai kamu. Sata tidak bisa melupakan kamu."
Rasanya Sabrina mau muntah mendengar penuturan si mantan dajjalnya barusan. "Sebaiknya kamu pergi deh dari hadapan saya. Saya enek tau nggak lihat kamu. Saya juga gak mau dengar apapun yang kamu katakan. Saya tidak peduli, kamu masih cinta kek atau apalah namanya. Yang jelas kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Jadi, sebelum saya mempermalukan kamu di sini, sebaiknya enyah dari hadapan saya. Ngerti?" ucapnya sungguh-sungguh dengan penuh penekanan.
"Qirani, please kasih saya kesempatan untuk—"
"Woi, Bung. Lu kagak denger ya? Sabrina sudah bilang pergi dari hadapannya! Lu budek atau apa?" Kali ini, Delisa yang menyahut. Mata wanita itu melototi Yoda, mengintimidasi pria itu agar segera pergi dari sana.
Bersamaan dengan itu, pesanan pizza Sabrina dan Delisa datang. Waiter mulai meletakkan pan berisi pizza berikut dengan gelas minumannya di meja.
Melihat Yoda masih tidak bergeming. Membuat Delisa berdecak lidah. "Mas, ada pan kosong nggak ya, tapi yang baru keluar dari oven?" tanya Delisa pada si waiter.
"Buat apa Mbak?" tanya si Waiter, bingung.
"Buat geplak kepalanya mantan dajjal sahabat saya yang tidak tau malu!" jawab Delisa dengan senyum menyeringai sambil menatap Yuda.
Mendengar itu, Yoda langsung berdiri dari tempatnya lantas pergi begitu saja. Kembali ke tempat duduknya yang letaknya cukup jauh dari tempat duduk dua wanita itu.
Sabrina sontak tertawa melihat ekspresi takut sang mantan dajjal tidak tau diri itu. "Good job, ladies!" pujinya mengacung jempol untuk sang sahabat.
...----------------...
...--bersambung--...
masih lanjut ada episode yang lain atau ngegantung kayak gini
next pen
ngamuk lagi kayanya🤭🤭🤭