Impian saat ulang tahun ku yang ke tujuh adalah ucapan selamat dan mendapat ciuman dari orang-orang yang kusayangi. Namun bukanlah itu yang kudapatkan, tapi perceraian papa dan mama yang membuat nasib ku berubah drastis.
Apalagi sejak itu, aku di paksa papa mengikuti keinginannya untuk tinggal bersamanya sekaligus meninggalkan mama sendirian dengan penyakit kanker rahim yang menggerogotinya.
Tangisan mama tak dihiraukan papa, kala melepas kepergianku malam itu.
"Nayla, jangan tinggalkan mama, Sayang!" suara mama sesenggukan dengan merangkak berusaha meraih tubuh kecil ku.
Namun tangan kekar papa yang dengan paksa menyeret ku, membuat tubuh kecil ku tak berdaya.
"Mama... mama... aku mau tinggal sama mama..." teriakan ku tak dihiraukan oleh papa.
Dan... mulai malam itu aku tinggal bersama papa dan mama tiri yang penuh kepalsuan. Aku yang masih sangat kecil waktu itu, sudah mulai menyimpan beberapa fakta kebohongan yang dilakukan oleh mama tiri ku tanpa sepengetahuan papa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. BATU NISAN MAMA
POV NAYLA
Di sepanjang jalan, aku bernyanyi dan meluapkan perasaan ku yang sangat gembira. Saat yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Pasti Mama senang, sebentar lagi aku ketemu dan memeluknya erat. Sangaaaat... erat. Aku merindukan mu, Mama.
"Non, pasti kangen sekali ya sama Mama Ranti?" tanya Pak Udin sambil melirik ku yang sedang duduk di kursi belakang.
"Iya, Pak Udin. Sudah lama aku pengen ketemu Mama. Apalagi ponsel Mama nggak bisa dihubungi sama sekali. Jadi nggak tahu kabar Mama gimana sekarang." Jawab ku mulai curhat pada Pak Udin yang memang membuat ku nyaman jika berbincang dengan sopir papa ku itu.
"Sabar, Non. Bentar lagi Non Nayla sudah bisa ketemu dan ngobrol langsung sama mama Ranti. Iya kan, Non?" tanya Pak Udin sambil tersenyum.
Seolah lelaki yang sudah setia menjadi sopir Papa ini bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan saat ini.
"Tentu, Pak Udin. Nayla sudah nggak sabar nih. Bisa nggak mobilnya dipercepat biar lebih cepet nyampek." Pintaku sangat berharap.
"Hehehee... Non Nayla nih, kalau sedang ada maunya nggak sabaran. Tenang Non, sepuluh menit lagi sudah sampai rumah Mama Ranti. Tuh... depan lampu merah, iya kan, Non?" Ucap Pak Udin sambil terkekeh melihat tingkah ku yang mulai nggak sabar.
"Hemm... iya, Pak Udin. Aku tadi juga sudah bawa roti keju kesukaan Mama. Juga susu rasa vanila yang sering Mama beli buat minuman hangatnya waktu masih bersama ku dulu." Ucap ku sambil tersenyum riang menikmati perjalanan yang sebentar lagi akan mengantarkan ku ketemu Mama.
"Mantap, Non. Tuh... kita sudah sampai sekarang." Ucap Pak Udin memperlambat laju mobilnya dan akhirnya berhenti di depan rumah sederhana milik Mama.
Aku tersenyum lebar dan segera ku buka pintu mobil dengan penuh semangat.
"Akhirnya... aku bisa ketemu Mama." Teriak ku dengan suka cita.
Tak lupa ku bawa tas berukuran sedang, berisi kue, roti keju dan susu vanila kesukaan Mama Ranti. Pak Udin tersenyum sambil berjalan mengikuti langkah ku dari belakang.
Sesampainya di teras, langkah ku terhenti dan aku memindai seluruh pemandangan di depan mata ku.
Sepi. Semua jendela tertutup rapat, pintunya juga demikian.
"Pintunya di tutup rapat, Pak Udin. Apa Mama Ranti lagi istirahat ya?" Tanya ku sambil menatap sejenak ke samping.
Karena sekarang Pak Udin sedang berdiri di samping kiri ku sambil membantu membawakan tas yang sedari tadi aku jinjing.
"Iya, Non. Sepertinya pintunya di kunci." Pak Udin mencoba mendorong tapi terasa berat dan menghentikan usahanya.
"Assalamualaikum... Mama... Ini Nayla, Ma." Ucap ku dengan suara keras, dengan harapan Mama akan segera mendengar suara ku dan menjawabnya.
Tapi ku tunggu beberapa saat, tak ada jawaban.
"Mama... Nayla datang Ma..." Ucap ku sekali lagi masih dengan suara lantang.
Pak Udin mencoba dengan mengetuk pintu berkali-kali. Tapi tetap tak ada jawaban.
Tak berapa lama, tiba-tiba datang seorang wanita yang sangat aku kenal. Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menghampiri ku dan Pak Udin.
"Nayla." Sapanya dengan wajah senang.
"Mak Entin." Jawab ku sambil tersenyum riang.
Lalu aku bersalaman dan mencium tangannya dengan takzim.
"Mama lagi istirahat ya, Mak? Pintunya di tutup rapat. Dari tadi aku panggil nggak jawab-jawab." Tanya ku padanya.
Tiba-tiba wajah Mak Entin merubah menjadi sedih dan kedua matanya berkaca-kaca.
"Mak Entin, kenapa? Kok jadi sedih gitu?" tanya ku lugu.
Mak Entin makin mendekati aku, lalu membelai rambut ku yang kubiarkan terurai panjang.
"Nayla, Mama Nayla sudah istirahat dengan tenang. Mama Nayla... sudah... me-ning-gal." Ucap Mak Entin sambil meneteskan air mata.
DUERRR...
Bagai tersambar petir sore itu.
Aku tersentak dan menatap tajam ke arah Mak Entin yang sudah duduk dengan bertumpu pada kedua lututnya. Hingga wajahnya sudah berhadapan dengan ku.
"Apa Mak?? Mama... sudah... meninggal?? Tidaaaak... aku pengen ketemu Mama... aku kangen Mama...hiks hiks..." Tangis ku meledak dan tak bisa dikendalikan.
Mak Entin memeluk tubuh ku dengan erat sambil mengelus punggung ku agar aku bisa sedikit tenang.
"Kenapa Mama ninggalin aku? Aku sudah nggak bisa ketemu Mama lagi? Hiks... hiks..." Tapi aku tetap menangis tersedu sambil memeluk Mak Entin yang juga ikut menangis.
Pak Udin terdiam di belakang ku. Wajahnya juga nampak sedih dan merasakan kepedihan yang saat ini aku rasakan.
"Mama... di mana Mama sekarang, Mak?" tanya ku tiba-tiba.
Lalu Mak Entin melepas pelukannya. Dan menatap wajah ku dengan sendu.
"Mama Nayla sekarang sudah dimakamkan di pemakaman kampung ini. Kalau mau ke sana, akan Mak Entin antar sekarang." Jawabnya sambil mengusap air mata yang masih membasahi kedua pipi ku.
"Iya, Mak. Aku mau lihat Mama." Jawab ku sambil menoleh ke Pak Udin.
Lalu Pak Udin menganggukkan kepala dengan wajah sedih sambil melangkah menuju mobil.
Aku dan Mak Entin bersama Pak Udin melaju meninggalkan rumah Mama menuju pemakaman kampung itu.
Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya ku panggil nama Mama dan menangis tersedu.
Aku merasa sendiri sekarang.
Aku merasa tak ada lagi yang menyayangi ku.
Aku merasa tak ada lagi kebahagiaan yang aku cari selama ini.
"Mama... Mama..." teriak ku di sepanjang perjalanan.
Mak Entin merangkul ku sangat erat, untuk menenangkan dan memberi kekuatan pada diriku yang sudah melemah tak punya semangat lagi.
"Berhenti di depan, Pak." Ucap Mak Entin memberi kode.
Pak Udin melambatkan laju mobil dan berhenti di depan pemakaman kampung itu.
Aku menatap sekeliling pemakaman dengan wajah sendu dan tatapan sedih. Kedua mata ku sudah sembab karena tak henti-hentinya air mata ini mengalir begitu saja.
"Nayla, ayo kita turun!" Titah Mak Entin sambil menggenggam jemari tangan ku yang berkeringat dingin.
"Mak... benarkah Mama sudah istirahat di sini?" Tanya ku masih ragu sambil menatap deretan batu nisan yang mulai terlihat jelas di depan ku.
"Iya, Nayla. Ayo aku tunjukkan makam Mama mu. Nayla harus kuat ya, usahakan jangan nangis di depan Mama. Biar Mama Ranti nggak sedih lihat Nayla." Nasehat Mak Entin pada ku.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan mengikuti langkah kaki Mak Entin yang dengan sabar menuntun ku.
Sementara aku menoleh ke belakang, terlihat Pak Udin mengikuti kami dari belakang.
"Sebentar lagi kita sampai, Nayla. Di bawah pohon kamboja itulah, Mama Nayla dimakamkan." Tunjuk Mak Entin pada sebuah pohon yang mulai berkembang berwarna putih.
Ada beberapa diantara bunganya gugur menghiasi makam yang ada di bawahnya.
Lalu Mak Entin menghentikan langkahnya dan mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Nayla, ini makam Mama mu, Nak." Ucapnya dengan suara lembut.
Ku hentikan langkah ku. Dan ku lihat gundukan tanah yang mulai mengering masih tersisa beberapa bunga kamboja menghiasi makam itu.
Aku tatap batu nisan yang menancap di makam itu dengan tulisan RANTI SEPTIANA.
***
BERSAMBUNG