KISAH CINTA DAN JUGA PENGORBANAN ANTARA SAHABAT,,, HINGGA BERAKIBAT FATAL DENGAN HUBUNGAN ANAK-ANAK MEREKA, BAGAIMANAKAH CERITA??? IKUTI TERUS,,, JANGAN LUPA KOMEN DAN LIKE NYA AUTHOR TUNGGU YAH,,,, MAKASIH READER TERCINTA,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anet59, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAMARAN
“ting tong..” “ting tong..”“ting tong..”
Ceklek… pintu terbuka
“Huda… masuk… Gimana Udah baikan kan lo..?” dengan canggung Dira bertanya.. sambil masuk ke apartemen nya dan diikuti oleh Huda.
“emmhhh… Iya Udah baikan Gue… makasih yah Dir… dan maaf atas perlakuan gue semalem ke elo…. Kata Huda sambil menundukan kepala nya…. Sekali lagi gue minta maaf… gue gak ada maksud buat ngelakuin itu sama lo…”
“udah jangan lu omongin lagi… gue udah lupain itu kok… gue tahu lo lagi gak sadar melakukan semuanya,,,, lo harus bangkit Huda… mungkin nindy bukan jodoh lu,,, lu harus relain nindy buat kakak lu,,,” ucap dira berbohong dan Huda pun mendongkak kan kepala nya…
“lo udah tau siapa yang dijodohin sama nindy dir…? Dira mengangguk….
“Semalem Nindy telp gue,,,, makanya gue langsung telepon lo,,,, dan ternyata lo lagi mabok di club… sekalian aja gue jemput lo dan… yah setelah itu lo tahu sendiri… lo janji ya buat move on…. Cinta akan tahu siapa pemiliknya dan cinta akan tahu kemana dia berlabuh…”
“Gimana gue bisa move on?”
“carilah kesibukan yang lain,,,, mungkin lo bisa membantu kakak lu untuk megang salah satu perusahaan bokap lo yang ada di cabang lain misalnya… siapa tahu kamu dapat jodoh disana” ucap Dira meyakinkan sahabatnya.
“Iya Nanti gue pikirin.” saut Huda.
“Kalo pun lo harus ketemu terus sama nindy, jadiin itu hikmah,,, setidaknya lo gak kehilangan sosok sahabat selain gue,,, yang akan jauh dan gak bisa terus bersama kalian.” Ucap Dira.
“ya udah gue, pulang dulu yah Makasih dir, lu udah jadi sahabat gue,,, dan sekali lagi gue minta maaf.” Ucap tama yang menyesal atas kejadian tadi malam.
“it’s oke, sama-sama Huda. Ni konci mobil lo gue bawa semalem” Jawab Dira.
“Makasih,,, jam berapa lo berangkat ke Bandara Dir…?” Tanya Huda.
“Gak jadi hari ini gue pergi nya…” jawab Dira.
“Kenapa gak dapet pesawat…? Kalo lu mau pake pesawat pribadi keluarga gue aja, entar gue urusin.” Tawar Huda.
“Gak kok,,, masa iya gue pergi sekarang, sementara sohib gue mau lamaran nati malem,,, lagian gue masih ada urusan dikantor.” ucap Dira yang sengaja membuat Huda cemburu.
“Emang lamaran Nindy malem ini yah dir, gue gak tahu soalnya semalam begitu nindy kasih jawaban, gue langsung
pergi. Dan belum balik ke rumah lagi.” Ucap huda.
“Kalo kata nindy sih semalem, hari ini keluarga lo mau lamaran resmi ke rumah nindy, mending lo balik dulu gih ke rumah.” Ucap dira.
“Ogah ah,,, lebih baik gue gak tau dir, daripada hati gue tambah sakit,,, lagian mereka tahu nya gue lagi ada kerjaan.” Ucap huda yang memang sakit mendengar bahwa nanti malam aka nada acara resmi untuk melamar sahabatnya.
“Jangan gitu dong, kasian nindy nanti, dia pasti ngerasa bersalah banget sama lo. Mau tidak mau entar lo juga bakal ketemu setiap waktu ama nindy dan juga kakak lo bersama, itung-itung latihan aja buat siapin hati lo, belajar buat merelakan. Terus lo emang gak mau lihat sohib lu bahagia? Ya meskipun lo yang menderita.” Ucap dira yang sudah gak tahan ingin ketawa karena kebohongan nya.
“Sialan lo,,,” Tak lama kemudian suara ponsel Huda berdering.
“Ya mah…? Kenapa?” Tanya Huda.
“……………”
“Iya Udah sekarang aku pulang, kebetulan kerjaan udah aku cancel.” Ucap huda.
“Gue disuruh pulang sama nyokap, disuruh nemenin dia ke butik langganan nya,,, nasib,,, nasib,,, kakak gue yang
lamaran,,, gue yang ikut riweuh,,,,” ucap Huda.
“Udah sono pergi lo,,,, kasian nyokap lo nunggu, kali aja di butik lo ketemu jodoh lo,,,” ucap dira.
“Sialan,,, ya udah gue pergi,,, makasih dan sorry,, maafin gue ya dir.”
“Udah,,, gak apa-apa.” Ucap dira.
Huda pun pamit dan dira pun melanjutkan aktifitasnya menuju kantor.
*** Malam harinya
“Hay beiiibb,,,, surprise,,,, selamat ya,,, gue bahagia lo sama huda bakalan nikah.” Ucap dira.
“Diraaaa, lo gak jadi pulang hari ini..?” Tanya nindy.
“Masa sohib gue ada acara penting,,, gue gak hadir sih,, apalagi kedua nya sohib gue. Gimana perasaan lu sekarang?” Ucap dira.
“makasih ya dir,, gue gak tahu apa gue mesti bahagia, atau gimana, jujur gue emang sayang sama huda, tapi gak
terbersit sedikit pun bahwa dia calon suami gue sekarang.” Ucap nindy.
“Gak apa-apa nin, lebih enak kali nin, secara lo udah tahu baik buruknya si pe’a.” ucap dira.
“Pe’a-pe’a gitu juga calon suami gue kali Diraaaaa,,,” ucap nindy yang sedikit nge gas…
“Woy,,,woy,,, woy,,, biasa aja kaleee,,, udah dibelain aja ni sama calon bini nya si huda…”ucap dira.
“Diraaaaa,,,,” Tak lama kemudian, pintu terbuka.
“Sayang,,, huda sama keluarga nya udah ada di bawah, yuk kita turun.” Ucap bunda nya Nindy.
“Iya Bun,,”
Mereka pun turun ke bawah menemui keluarga Wibowo.
Huda begitu terpesona melihat kecantikan nindy, namun dia tersadar kalau sahabatnya ini akan segera menjadi milik sang kakak. Sehingga huda mengalihkan pandangannya kepada sahabatnya yang lain.
“Aduuuhhh,,, cantik nya calon mantu mama sama papah,,,” ucap raka.
“langsung aja, kami datang kesini untuk meresmikan acara kemarin malam supaya lebih afdol lagi, dan kami harap
nak nindy menerima lamaran kami.” ucap Raka.
“Bagaimana Sayang..?” Tanya Aditya.
“Mmm,,, Boleh nindy minta orang yang bersangkutan yang berbicara pah,,, kesan nya om yang mau melamar nindy.” Ucap nindy yang diketawai oleh semua yang berada di sana kecuali Huda.
“Hahaha,,,, Baiklah,,, ayo bicara lah Tam,,,” ucap Raka yang masih bersandiwara.
“Saya rasa saya tidak berhak berbicara di sini, dan saya tidak bisa melanjutkan lamaran ini. Karena saya tidak mau menikah dengan milik orang lain.” Ucap tama yang membuat huda tercengan dengan ucapan kakak nya.
“Maaf maksud nak tama apa…? Bukan ah semalam kalian sudah sepakat untuk menjalankan amanah kakek kalian.” ucap Aditya yang memang ikut berperan mengerjai huda.
“Saya tidak mau menikah dengan orang yang dicintai oleh orang lain, apalagi orang itu adik aku sendiri om.” Ucap tama yang membuat Huda membelalakan matanya.
“Kakak…?” ucap huda yang masih kaget.
“Apa..? apa kamu mau jadi pahlawan kesiangan…? Berkorban demi kakak sementara kamu terpuruk,,, kakak tahu kamu mencintai nindy,,,? Apa kakak bakal tega melihat kamu menderita melihat kebahagiaan kami nanti…. Jawab,,,?” ucap Tama.
“Kakak….” Ucap Huda menghambur ke pelukan Tama sambil menitikkan airmata nya yang semenjak berangkat dari rumah sudah dia tahan.
“Udah sono,,,, kalo gak kakak yang lamar nih pujaan hati kamu,,,,” ucap Tama yang meledek adiknya dan diketawai oleh semuanya.
“Hiks,, hiks,,, makasih kak…” ucap huda sambil menjauhkan pelukannya.
“Nindy,,,, saya,,, saya,,,,” ucap huda yang terbata-bata..
“Saya apa huda…????” ucap nindy.
“sa,,,saya,,, arghh… Gue harap lo mau jadi istri gue….” Ucap huda.
“Heh Pe’a,,, mana ada lamaran resmi pake lu gue,,,, romantis dikit kali huda…. Eh maaf mah,,, pah,,, udah kebiasaan,,,” Ucap Nindy yang sadar ngatain anak mereka Pe’a.
“Hahaha,,,, gak apa-apa nak,,, papa sama mama juga pernah muda,,, lagian papa sama mama dulu juga sama
sahabatan,,, jadi ya biasa ngomong gitu ma sahabat sendiri. Ucap raka.
“maaf pah,,, lagian mana ada lamaran kayak gitu… gak usaha banget sih.” Ucap nindy.
Huda pun beranjak dari tempat nya dan berpindah ke sisi Nindy, ia meraih tangan pujaan hatinya.
"Nindy,,,, Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu dan keberanian. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Berkali-kali ku tepis rasa ini rasa yang ada pada hatiku, rasa yang lebih dan rasa yang beda ketika aku membandingkan perasaanku kepada dira dan kepada kamu, Sudah tepatkah pilihan hatiku ini? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu. Dan hati ini seolah tak
bertenaga ketika tahu kamu akan dijodohkan dan lebih sakit lagi ketika orang yang akan dijodohkan denganmu adalah kakak ku sendiri, aku berdoa kepada sang pencipta untuk meminta yang terbaik untukku dan merelakan rasa ini dikala kamu akan menjadi milik kakakku. Namun hatiku tidak bisa dibohongi, ketika mama menyuruhku datang ke butik untuk perlengkapan lamaran dan menyuruhku memilihkan cincin untuk kakakku, begitu sakit yang tiada terkira, rasanya aku ingin tenggelam ke dasar lautan yang dalam, dan biarkan lenyap tak bersisa. dan ini jawaban dari doaku kepada sang pencipta. Satu-satunya hal yang bisa kujanjikan padamu saat ini adalah hatiku yang tulus. Akan kulakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidup ku. Ayunindya Arimbi Wibisana, mau kah kau menua bersamaku? Will you marry me?" Ucap Huda sambil bersimpuh dan menunjukkan cincin yang dipilihnya sendiri.
“Yes I Will…” Jawab Nindy yang berkaca-kaca mendengar penuturan sahabatnya.
jangan lama lama up nya
jangan lama lama up nya