proses pembelajaran hidup yang membuatnya sakit hati dan membalaskan dendam karena rasa kecewa.
jika dendam sudah terluapkan maka yang ada hanya sebuah penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Bab 14
"Hei, apa kau tuli!" marah Noella ketika Cyntia tidak mau menjawab kata-katanya.
"Maaf Nona, aku ingin sekali cepat menyelesaikan tugas ini, dan memberikan makan untuk tuan Ayress, karena dia harus minum obat." jawab Cyntia singkat tanpa meninggalkan sayur yang sedang ia aduk itu.
Noella menghentakkan salah satu kakinya, ia merasa sangat geram karena melihat tingkat Cyntia yang menyebalkan. Ia pun akhirnya pergi dari tempat itu dan membiarkan Cyntia menyelesaikan semua tugasnya.
Saat itu Cyntia melempar senyum, karena akhirnya Noella diam dan pergi meninggalkan dirinya. Tentu saja hal itu membuat Cyntia akan lebih cepat menyajikan makanan yang akan ia berikan pada suaminya.
Beberapa saat kemudian Cyntia sudah tidak di depan pintu kamar. Merdeka semua juga masih ada di sana menunggu sampai Cyntia selesai, dan berharap bahwa ia berhasil membujuk Ayress untuk makan.
"Permisi Nyonya, saya ingin memberikan makanan ini pada Tuan," ucap Cyntia meminta izin pada nyonya Benita.
"Ya, silahkan Sus. Semoga ini berhasil, kalau begitu saya akan menunggu hasilnya di ruang keluarga." jawab nyonya Benita yang sangat yakin, bahwa Cyntia akan berhasil membujuk Ayress.
Cyntia menanggapi hanya dengan senyuman, dan saat itu Cyntia masuk ke kamar yang tak terkunci dan melihat Ayress dalam keadaan yang sangat berbeda. Sejak siang tadi Ayress tidak makan sama sekali, dan wajahnya pun menunjukkan bahwa saat itu ia sedang menahan lapar.
"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu!" marah Ayress yang saat itu sedang duduk bersandar di kepala dipan.
"Maaf Tuan, ini darurat. Aku mendengar kau tidak mau makan, apa alasanmu tidak mau makan, apa kau tidak ingin sembuh?" tanya Cyntia mendekati Ayress dan meletakkan menu makanannya di meja.
"Itu bukan urusan mu, kau di sini bekerja untuk di bayar, bukan untuk menceramahi ku," celetuk Ayress tidak bisa mengendalikan hatinya.
"Ya, kau benar Tuan. Tapi menceramahi mu adalah tugas ku yang kedua, aku akan terus berbicara sampai kau bersedia makan. Ayo lah Tuan, aku sudah mengganti menu makanan ini dengan menu yang baru, dan nyonya Benita memanggil ku ke sini untuk membuatmu makan, kau tahu? Aku harus meninggalkan putriku yang baru berusia 5 tahun untuk dirimu yang usianya berkali-kali lipat dari usia putriku. Tuan, aku tidak meminta kau melihat pengorbanan ku untuk sampai ke sini, aku hanya minta tolong lihat lah sepiring nasi dan lauk yang sudah ku buat untuk mu." jelas Cyntia berbicara panjang lebar.
Mendengar kalimat panjang yang diberikan Cyntia padanya, membuat Ayress akhirnya harus menurunkan egonya, apalagi saat melihat wajah Cyntia yang terlihat sedikit sedih, lantaran ia hanya membuang muka pada makanan yang telah disajikan oleh Cyntia.
"Baik lah, aku akan memakannya," ucap Ayress akhirnya.
"Begitu dong Tuan, aku akan menyuapi mu Tuan." dengan semangat Cyntia duduk di ujung bibir ranjang itu dan memberikan suapan pertama nya.
Perlakuan Cyntia yang begitu sangat familiar itu membuat Ayress menjadi tidak bisa marah padanya, dan menuruti apa saja yang diinginkan oleh Cyntia, bahkan ketika Ayress marah ia sama sekali tidak ingin bicara pada siapapun, namun ketika nyonya Benita mengurus Cyntia untuk datang menemui nya seketika rasa marah itu sedikit berkurang.
Cyntia sendiri masih tidak menyadari bahwa sejak tadi ia diperhatikan oleh Ayress, Cyntia fokus memberikan suapan demi suapan untuk Ayress karena ia sangat semangat. Begitu juga dengan Ayress yang terlihat sangat lahap.
"Tuan, kau tidak makan sejak kapan?" tanya Cyntia pada Ayress, saat Ayress menatap dirinya lekat.
"Tadi siang," singkat Ayress menjawab sambil menyantap suapan lagi.
"Apa! Kau tidak makan dari siang?" Cyntia melotot tajam pada Ayress, rasanya saat itu ia ingin sekali menjewer telinga suaminya itu.
"Kenapa kau melototi ku! Apa urusan mu," celetuk Ayress merasa tidak senang dengan tatapan Cyntia.
"Kau ini, aku pergi meninggalkanmu untuk pergi menemui putriku, tapi di sini, kau seenaknya melanggar peraturan yang seharusnya kau jalani. Mana bisa seperti itu!" omel Cyntia marah.
Cyntia tak henti-hentinya memarahi Ayress, hingga kemarahan itu membuat Ayress justru merasa bertambah nyaman, belum ada perawat yang berani memarahinya selama ini, dan kini, ia diam terpaku mendengarkan omelan dari Cyntia.
"Kau dibayar untuk merawat ku, atau kau dibayar untuk memarahiku, Cyntia?" tanya Ayress membalas tatapan Cyntia.
Cyntia pun tersadar, pertanyaan itu membuat Cyntia sadar karena ia telah lepas kendali, dan saat itu Cyntia menahan nafas. Ia hampir saja menelan Ayress saat itu juga dengan kemarahannya, namun Cyntia tidak ingin kemarahannya yang berlebihan itu membuat Ay mencurigai Cyntia.
"Maafkan aku, Tuan," ucap Cyntia terduduk kembali di tempatnya.
"Lupakan Cyntia, apa kau bersedia menjadi temanku?" tanya Ayress menatap wajah Cyntia.
"A-apa Tuan!" Cyntia terlihat bingung saat itu, saat Ayress meminta sesuatu yang membuatnya terpaku.
"Kau bersedia berteman denganku?" ulang Ayress kembali.
Saat itu kedua tatapan mata itu saling bertemu, Cyntia tidak tahu harus menjawab apa kala itu, tentu saja ia sangat senang mendengar penawaran yang diberikan oleh Ayress padanya saat itu, bahkan Cyntia berpikir kalau tadinya Ayress akan marah padanya, namun ternyata ia justru meminta hal lain.
"Tentu saja Tuan, tentu aku mau, dengan kau menjadi teman ku, aku bisa lebih mudah memarahi mu," ucap Cyntia dengan sedikit tersenyum.
"Terserah kau saja, asal kau jangan coba-coba berani menjewer ku saat kau marah, karena itu akan membuat aku sangat malu." jawab Ayress dengan tawa.
Cyntia ikut tertawa saat itu, ia merasa sangat senang karena akhirnya ia berhasil membuat Ayress tertawa lepas seperti itu, selangkah demi selangkah Cyntia berhasil membuat Ayress berubah, dan hal itu tentu saja membuat Cyntia sangat bahagia.
"Tuan, aku sudah memberimu makan dan minum obat, sekarang waktunya kau tidur," ucap Cyntia membereskan piring dan gelas yang sudah terpakai.
"Baik lah." singkat Ayress menatap Cyntia dengan penuh arti.
Cyntia membalas tatapan Ayress sebelum akhirnya Cyntia pergi meninggalkan Ayress sendiri di kamar. Cyntia juga tidak lupa mematikan lampu dan membiarkan Ayress istirahat, saat Cyntia keluar dari kamar nyonya Benita segera bangkit dan menatap ke arah Cyntia, ia juga memeriksa piring dan susu yang Cyntia bawa untuk Ayress.
"Makanannya sudah habis bersih, Ay sudah makan?" nyonya Benita tersenyum senang ketika ia melihat piring itu kosong.
"Benar Nyonya, makanan sudah masuk ke dalam perut Tuan dengan aman, Nyonya jangan khawatir," ucap Cyntia melempar senyum senang.
"Terima kasih banyak Sus Cyntia, sepanjang sejarah Ay sakit, hanya kau yang berhasil membuat Ay bersedia makan, aku sangat senang sekali."
Nyonya Benita menitikkan air mata di hadapan Cyntia, karena ia terharu melihat makanan yang dibawa Cyntia habis tak tersisa, setelah ia sendiri yang mencoba membujuk dan tahu rasanya.
Melihat itu nyonya Benita beraksi berlebihan membuat Noella dan Riffat merasa kesal, Noella menatap sinis ke arah Cyntia yang berhasil memenangkan hati Ayress.