Indonesia
NovelToon NovelToon
UNDENIABLE LOVE

UNDENIABLE LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Misha Yusuf

Berawal dari kebodohannya menyanggupi permintaan sang ayah, Victor yang sudah punya kekasih justru terjebak dalam perjodohan dengan Rosie, yang notabene adalah sahabat dari kekasihnya sendiri. Lalu, apa yang harus Victor lakukan jika benih-benih cinta justru tumbuh di antara mereka? Dan, siapakah yang akan Victor pilih? Rosie? Atau kekasihnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Misha Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Desakan Untuk Bercerai

Sepoi angin malam menerbangkan tirai tipis dari jendela kamar yang dibiarkan terbuka, dan udara dingin-pun ikut menyusup di tengah hembusan angin yang memeluk dua eksistensi anak manusia yang saling membisu. Kesunyian dari keduanya tak kunjung pudar meski detik telah terlewati menjadi menit.

Merasa jenuh dengan kebungkaman yang membuat atmosfer ketegangan terasa kian mencekik, Emily bangkit dari sofa single dekat jendela yang mengarah ke halaman samping, dan menghampiri Victor yang masih duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk.

"Kau harus menyuruh mereka pulang, Vic!" desak Emily dalam kefrustrasiannya, kesabarannya telah hilang untuk menghadapi saudari kembar Victor.

Victor mendongak, menatap Emily tak percaya. Satu alisnya terangkat dengan pikiran mencerna perkataan wanita yang tengah berdiri di hadapannya.

"Katakan pada mereka kalau kau butuh waktu berdua dengan Rosie, atau kau tidak ingin mereka mengganggu rumah tanggamu atau apapun. Yang penting mereka pergi dari sini."

"Kau sadar apa yang kau katakan barusan?" tanya Victor heran. Dia berdiri untuk menyamakan posisinya dengan Emily.

"Ya, tentu saja aku sadar."

"Dan kau pikir mereka akan percaya? Mereka mungkin akan curiga karena kau dan Yejun masih tinggal di sini."

"Jadi, menurutmu aku yang harus pergi?" Emily meninggikan nada bicaranya.

"Bukan begitu maksudku." Victor melengos sembari menyugar rambutnya kasar, memilih memunggungi Emily untuk menahan amarahnya. "Sebelum aku minta mereka pulang, mereka mungkin akan memintamu dan Yejun untuk pergi dari sini."

"Kalau begitu katakan pada mereka kalau aku adalah kekasihmu, Vic!"

"Kau gila, Emily. Kita sudah sepakat untuk merahasiakan ini sampai aku menceraikan Rosie."

"Tapi sampai kapan? Kau tidak tahu betapa sakitnya hatiku saat kakakmu menyanjung Rosie di depanku. Mereka sengaja melakukan itu, Vic."

"Emily Parker, kau baru saja menuduh kakakku …" Suara Victor kian merendah untuk meminimalisir ledakan amarah Emily.

"Kau bilang aku menuduh?" Emily membulatkan netranya. "Apa kau tidak bisa melihat perbedaan mereka memperlakukanku dengan Rosie?"

"Emily, kau sudah berjanji untuk tidak membawa Rosie dalam permasalahan kita."

"Tapi semua masalah kita bersumber darinya. Kalau kau tidak menikah dengan Rosie, kita tidak akan seperti ini."

"Tolong jangan menyalahkan Rosie, dia tidak bersalah dalam hal ini. Kalau kau tidak menyukai sikap kakakku, aku akan mencoba bicara pada mereka. Kau tidak perlu membawa Rosie dalam—"

"Jadi sekarang kau membelanya?"

"Rosie itu sahabatmu, Emily. Dia bahkan memintaku untuk menemanimu di sini malam ini."

"Ya, dia memang sahabatku, tapi kau adalah kekasihku, Victor! Kau seharusnya lebih memikirkan perasaanku dari pada perasaannya." Tangis Emily pecah dan itu membuat Victor merasa bersalah.

"Hey ... maafkan aku …" Victor menarik Emily ke dalam pelukan dan mengecup puncak kepalanya. "Maaf kalau sikapku telah menyakitimu, aku berjanji akan bicara pada kakakku dan mencari cara untuk berpisah dengan Rosie."

"Secepatnya!" Emily menarik diri dari pelukan Victor dan menatapnya intens. "Kau harus secepatnya menceraikan Rosie."

Victor mengangguk lalu mengusap air mata yang tertampung di pelupuk mata Emily.

"Kau harus ingat kalau aku ini adalah kekasihmu dan pernikahanmu dengan Rosie hanya sebuah kepalsuan,” ucap Emily penuh penekanan. Sekon berikutnya, dia mengalungkan lengannya di leher Victor dan mengecup bibirnya.

"Aku tahu …” gumam Victor lirih.

"Terima kasih, Vic. Aku mencintaimu." Senyum puas tercetak di wajah Emily sebelum ia kembali mendaratkan ranum merahnya di bibir Victor.

Mereka berciuman dalam kamar yang hanya diterangi oleh sinar rembulan, tanpa mereka sadari siluet seorang wanita yang beberapa detik lalu berdiri di depan pintu kamar yang sedikit terbuka, melenggang pergi dalam diam.

...*༄ ❀ Undeniable Love ࿐*...

"Terima kasih untuk semuanya, Nn. Chou."

Tok-tok

Yejun melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.49 malam, lalu kembali berbicara lewat ponsel. "Nanti kuhubungi kembali, selamat malam, Nn. Chou." Dia melangkah menuju pintu kamar dan membukanya. "Rosie?"

Rosie buru-buru membekap mulut Yejun, dan mendorongnya masuk kamar lalu mengunci pintu. "Bodoh! Suaramu terlalu kencang, Jun."

Yejun menyunggingkan bunny smile-nya lalu memeluk sang kekasih. "Maaf, aku hanya terkejut. Kupikir kau orang lain."

"Jadi kau tidak mengharapkan kehadiranku?" Rosie menarik diri dan mengerucutkan bibir.

Gemas melihat tingkah Rosie, Yejun pun mengecup ranumnya. "Bukan begitu, Sayang ... kukira kau sedang bersama Victor karena kakaknya ada di sini."

"Aku menyelinap ke sini."

"Lalu Victor?"

"Aku menyuruhnya menemani Emily." Rosie menarik tangan Yejun dan memimpinnya ke tempat tidur. "Malam ini aku ingin tidur denganmu, Jun."

Sebuah senyum kembali merekah di wajah Yejun, senang akan presensi wanita yang dicintainya berada dalam dekapan.

Yejun yang beberapa jam lalu sempat menahan amarah lantaran mendengar celotehan saudari kembar Victor, memilih untuk undur diri tanpa menghabiskan makan malamnya. Dia menyibukkan diri dengan menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan yang tertunda, mempelajari beberapa dokumen, dan membuat beberapa jadwal baru di agenda yang dicatat oleh sekretaris cantiknya, Nn. Chou Meilin.

"Aku merindukanmu, Rosie,” ujar Yejun, masih memeluk Rosie.

Rosie terkekeh mendengar penuturan Yejun. "Kenapa kau bisa merindukanku? Bukankah kita tinggal di bawah atap yang sama?"

"Hmm ... tapi aku tidak bisa bebas memeluk dan menciummu."

Rosie tersenyum, jemari lentiknya mengusap lembut kedua pipi Yejun dan maniknya menatap lembut manik legam sang kekasih. "Maaf …."

Yejun menggeleng, "Jangan meminta maaf, kau tidak bersalah dalam hal ini. Victor lah yang—"

"Jun …" Rosie memotong ucapan Yejun.

Yejun menghembuskan napas, dia tidak mau kembali memulai pertengkaran dengan Rosie. "Maaf ... aku hanya kesal, kehadiran saudari Victor—"

"Mereka hanya mencemaskanku, Jun."

"Tetap saja, mereka membuatku merasa tidak nyaman."

Rosie mengecup bibir Yejun yang mengerucut lantas tersenyum. "Apa sekarang masih merasa tidak nyaman?"

Bunny smile yang menghiasi wajah tampan Yejun membuat Rosie tersenyum lega. Setidaknya hari ini dia tidak harus meributkan masalah yang sama, dan dapat menikmati waktu berdua meski harus dengan mencuri kesempatan saat saudari Victor tengah terlelap.

"Aku mencintaimu Rosie,” tutur Yejun sambil mengeratkan pelukannya.

"Hmm ... aku juga mencintaimu, Jun." Rosie mendongak, menyelam ke dalam manik legam Yejun dengan tatapan syahdu. "Terima kasih sudah mempercayaiku, Jun. Maaf kalau aku terlalu egois."

"Sshh … kau tahu aku tidak pernah meragukanmu, hanya saja ... terkadang keadaan membuatku hilang akal."

"Hmm ... bisakah kita tidur sekarang, Tn. Kelinci?" pinta Rosie yang kelopak matanya mulai berat.

"Tentu, apapun untukmu sayang." Yejun mencium singkat bibir Rosie. Dia membiarkan lengannya menjadi bantal untuk kepala Rosie dan ikut menyelam ke dalam alam mimpi.

...*༄ ❀ Undeniable Love ࿐*...

"D-Daegu?" Emily membelalakan matanya, berharap telinganya salah dengar namun kata-kata Joanna berikutnya membuat hatinya serasa dihujani panah api.

"Ya, Daegu. Kakek meminta Victor dan Rosie tinggal di sana selama satu minggu, dan karena ibu menyuruh kami untuk memastikan Rosie bisa hamil secepatnya, jadi—" jelas Joanna panjang lebar.

"Kami juga akan ikut ke sana,” sambung Joella.

"T-tapi, Eonnie ... kalau Victor dan Rosie pergi ke Daegu, l-lalu siapa yang menjaga rumah ini?" tanya Emily hati-hati sambil meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang masih tersisa separuh porsi makanan yang dia ambil untuk mengisi perutnya.

Dia telah kehilangan selera makannya setelah Joanna menjatuhkan bom untuk meluluh lantakkan mood-nya di pagi hari.

"Bukankah ada kalian?" tegas Joella sambil menyuapkan scrambled egg buatan Rosie ke dalam mulutnya.

"Benar, aku yakin kalian berdua bukan pencuri, jadi kami bisa menitipkan rumah ini dengan tenang pada kalian. Bukan begitu, Yejun?" Joanna menambahkan dengan memberikan penekanan pada kata pencuri sambil melirik tajam ke arah Emily lalu mengerling Yejun.

Pria yang disebut namanya mengambil gelas yang berisi air putih lalu meneguk isinya. "Kau bisa mengandalkan kami, Noona," jawabnya sambil menyunggingkan senyum tipis, berusaha meyakinkan si kembar senatural mungkin.

"Bagus! Satu persoalan teratasi,” seru Joanna. Manik jade-nya berpindah pada sang adik ipar lantas tersenyum. "Adik ipar, kau harus bersiap-siap—"

"Noona." Victor memotong ucapan Joanna. "Apa kau yakin kakek meminta kami untuk tinggal di sana?"

Alis Joanna terajut, sedikit kesal dengan pertanyaan Victor. "Maksudmu kami berbohong?"

"Bukan begitu, maksudku ... satu minggu? Aku dan Rosie harus bekerja, kami tidak mungkin—"

"Jangan khawatir, aku sudah meminta Yeonsang untuk mengizinkanmu mengambil cuti,” potong Joella. "Lagipula kau belum pernah mengambil cuti bulan madu semenjak kau menikah, Vic,” ujarnya melanjutkan.

"T-tapi, Eonnie ... aku sudah berjanji pada Youngjae oppa untuk—" ucapan Rosie terpotong karena lagi-lagi si kembar menginterupsi.

"Dan Youngjae." Joella menyunggingkan gummy smile-nya saat mendapati wajah bingung Rosie.

"Kami sudah mengantongi izin dari kakakmu. Dia bahkan mendukung kalian untuk pergi berbulan madu. Ck, seharusnya kalian melakukannya sejak dulu,” kata Joanna menambahkan. Wanita berparas cantik itu menempelkan bibirnya pada ujung gelas lalu meminum air putih dengan anggun layaknya meminum champagne.

Kalimat final dari Joanna telak membuat dua pasang kekasih itu kehilangan kata-kata. Haruskah Emily mengarang alasan pergi ke Daegu untuk pemotretan? Tapi, jika dia ingin melakukan itu, artinya dia harus bekerja sama dengan Yejun. Sedangkan Yejun, kelinci berotot itu tidak mungkin mengosongkan jadwalnya untuk pergi ke Daegu, karena minggu ini adalah jadwal peluncuran produk terbaru King Fashion dengan tema summer breeze.

...*༄ ❀ Undeniable Love ࿐*...

1
Aku mewek baca part sebelumnya. Ya ampun victor lu tuh keren banget
Mauuuuuu
Misha: Asiaapp
total 1 replies
bagus, semangat
Keburu cemburu ya neng
Mantap! Perubahan besar ini
Wkwkwkwk
Bagus rosie 👍🏻
Kek gimana bang victor?
Misha: Wkwkwkwk
total 1 replies
Jangan ngadi2 lu ya vic
Misha: Sabar kak
total 1 replies
next plisss
Misha: Sudah up ya
total 1 replies
Kasihan victor
Misha: 🤭🤭 emang serem klu lagi ngambek
total 1 replies
Jangaaaaannnn
Lah! Yang bener aja masa dia lupa
Misha: Pukul kepalanya aja gimana kak biar dia sadar
total 1 replies
Duh
Misha: Ehehe
total 1 replies
Meleleeehhhh
OMG …, 🙀🙀🙀 makasih buat linknya. Ya ampun … jadi baby kim ya
Misha: Sama2, terima kasih juga buat follownya
total 1 replies
Next
🍾⃝Tᴀͩɴᷞᴊͧᴜᷡɴͣɢ🇵🇸💖
Aku mampir, feedback ke Janda Perawan Yang Soleha ya, kukadih bintang lima, favorit dan like
Semangat!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!