Selama hidupnya, tidak sekalipun Kara menjalin hubungan serius dengan lawan jenisnya. Pemikir dan kekhawatiran berlebih adalah penjara tak kasat mata. Itu yang menghalangi dirinya untuk bisa mengenal apa itu cinta. Hidupnya yang datar tiba-tiba berubah saat Luis, si tetangga baru menaruh perhatian pada Kara.
Sekeras apapun Kara menghindar, Luis punya seribu satu cara untuk mendekati Kara. Bagaimana kisah mereka? Apakah Kara bisa melanjutkan hidupnya yang damai tanpa kehadiran Luis, atau berhasilkah Luis menggenggam erat Kara?
Halaman pertama akan membawamu masuk dalam kehidupan membosankan seorang Kara Ina. Check this out!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rencana Hapsari.
6:15
Hapsari terlihat tengah menyapu teras rumahnya, pandangannya fokus pada lantai. Dalam hati tidak akan membiarkan setitik kotoran menyentuh lantai rumahnya. Menggiring semua debu ke tanah yang sudah tertutup paving block.
"Gini kan enak dipandang," guman Hapsari. Puas dengan hasil kerjanya. Wanita itu mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggalnya sebelum memasuki rumah. Namun niatnya terhenti saat Hendra hendak berangkat kerja, pria itu terlihat sedang menghidupkan sepeda motornya.
Hapsari memasang wajah ramah. "Pak Hendra mau berangkat kerja ya?" tanya Hapsari basa-basi.
Merasa namanya dipanggil, Hendra menoleh. "Eh, iya ini." Hendra mengangguk sambil memasang senyum ringan. "Saya berangkat dulu, Mba Hapsari."
"Hati-hati Pak Hendra." Hapsari terus memperhatikan kepergian Hendra. Wanita itu mendadak teringat suaminya yang sedang dinas. Perasaan rindu datang tiba-tiba. Hapsari bergegas masuk rumah, menyiapkan sarapan untuk Luis sambil ingin menelpon suaminya untuk menanyakan kabar.
Belum sempat menutup pintu, sebuah mobil. berhenti tepat di depan rumahnya. Hapsari mengurungkan niat, melihat mobil itu penuh penasaran. Siapa gerangan pagi-pagi buta datang ke tempat orang.
Tak lama kemudian sepasang muda-mudi keluar dari dalam mobil, pakaian mereka begitu serasi dengan menggunakan batik. Si pemuda yang tak lain adalah Aldo, teman dekat Luis, memberik kode padang gadis disampingnya agar mengikutinya.
"Assalamu'alaikum Bunda Luis!" seru Aldo.
Keduanya kompak melepas alas kaki, masuk ke teras rumah Hapsari. Sedangkan Hapsari membuka lagi pintunya lebar-lebar.
"Waalaikumsalam ... Kaya Aldo, iya bukan?" Hapsari memastikan, pasalnya sudah lama sekali mereka tidak bertemu, apalagi semenjak Luis memutuskan untuk hidup mandiri.
"Iya tante." Aldo terkekeh pelan, kemudian menyalami tangan Hapsari, pun dengan gadis yang datang bersama Aldo.
"Ini pacarnya yaa," goda Hapsari ketika mereka bersalaman.
"Salam kenal tante, saya Masya." Gadis yang ternyata bernama Masya itu memasang senyum manis, membuat Hapsari terpesona dengan lesung pipitnya.
"Haduhh, Si Aldo pinter cari pasangan. Hitam manis kaya oreo," puji Hapsari.
Masya terkekeh, belum sempat dirinya menyahuti, Aldo sudah lebih dulu berbicara. "Ya begitulah, gak ada yang bisa menolak pesona saya tante."
Mendengar kenarsisan Aldo, Masya menyenggol pelan lengan pacarnya itu. Membuatnya malu saja.
"Ah, tante bisa kok," kekeh Hapsari.
"Tante kan sudah sudah punya Pak Shis. Nanti kalo tante terpesona sama saya bisa bahaya," ujar Aldo, menanggapi candaan Hapsari dengan apik.
"Oh iya, Luisnya mana ya tan?" Aldo kembali bertanya saat mengingat tujuannya ke rumah Hapsari.
"Masih di atas, nanti tante panggilin. Kalian duduk dulu, apa mau di dalam?"
"Di sini aja tante, biar bisa liat-liat jalan."
Hapsari mengangguk, wanita paru baya itu kemudian memanggil Luis. Belum sempat menyeru, ternyata anaknya itu sudah turun dari kamarnya.
Kedua alis Hapsari menukik, "Loh, bajunya seragam sama Aldo, mau kondangan ya?"
Di ujung tangga, Luis mengangguk. "Udah rapi kan Bun? atau masih ada yang kurang gak?"
Hapsari diam, memindai penampilan Luis dari atas sampai bawah. Mendengus sejenak tubuh anaknya, memastikan sudah memakai parfum atau belum.
"Wangi parfumnya samar, tapi tak apa," jelas Hapsari. Wanita itu mundur lagi.
"Jadi gimana?" tanya Luis, tidak sabar mendengar jawaban bundanya.
"Kurang gandengan aja sih," jawab Hapsari dengan mantap.
"Ngeledek."
"Serius ini loh, nanti bunda cariin gandengan. Biar gak jadi obat nyamuknya Aldo... O iya, di luar Aldo udah nungguin." Luis mengangguk, cowok itu teringat dompetnya yang tertinggal di kamar. Luis melupakan kalimat bundanya sebab dikira hanya bohongan. Akhirnya Luis kembali lagi ke atas sebelum menemui Aldo, sedangkan Hapsari kembali ke depan.
Wanita itu kembali meminta Aldo untuk menunggu sebelum akhirnya pergi ke tempat Ibu Ana, mengetuk pintu beberapa kali sembari memanggil pemilik rumah.
Tak berapa lama, Ibu Ana membuka pintu. Pandangan mereka saling bertemu. Tanpa berbasa-basi Hapsari langsung menyampaikan niatnya.
"Ibu Ana, saya minta tolong boleh?" Ibu Ana mengangguk, Hapsari kembali melanjutkan niatnya. "Saya mau meminta Kara menemani Luis sebentar, anak saya mau kondangan tapi saya kasian sebab tidak punya gandengan sendiri."
Ekspresi Ibu Ana berubah, terlihat antusias. "Wahh boleh banget Mba. Saya suruh Kara siap-siap sekarang juga."
Tidak jauh berbeda dengan Ibu Ana, Hapsari pun merasa senang mendengar respon positif itu. Keduanya sama-sama excited.
"Kalau gak pake baju batik ya gamis warna hitam atau coklat aja bu. Warna-warna kayu gitu deh."
"Siapp!"
"Saya panggil Kara sekarang."
"Terimakasih banget ya, Bu Ana. Saya pulang dulu, mau jagal si Luis biar enggak keburu pergi." Hapsari memegang kedua pundak Ibu Ana, Wanita itu amat sangat berterima kasih sehingga tidak dapat mengendalikan spontanitasnya.
Ibu Ana mengangguk, mereka kemudian saling memisahkan diri.
Sampai di teras rumahnya, Hapsari meminta Aldo, Masya dan Luis yang kebetulan sudah siap, untuk kembali menunggu. Hapsari tidak mengatakan alasannya. Wanita itu memaksa ketiganya masuk, menggiring ke meja makan.
"Tempat kondangannya jauh enggak?" tanya Hapsari begitu mereka duduk.
"Dari sini kira-kira 1 setengah jam tan," jawab Aldo tanpa pikir panjang.
Hapsari mengangguk paham. "Masih ada waktu, kalian sarapan dulu ya. Tante udah bikin oseng bihun banyak ini, sayang banget kalo gak dimakan. Pulang kondangan pasti pada gak mau makan lagi, soalnya udah kenyang," jelas Hapsari. "Kalian belum makan, kan?"
Aldo menggeleng, cowok itu jelas tidak akan menyia-nyiakan rejeki. Hidup hanya dengan saudara yang kini sudah menikah membuat Aldo mengurus dirinya sendiri. Aldo tidak akan membuang rejeki, perhatian orang lain sangat membuat Aldo senang. Lain dengan Masya, gadis itu menolak halus sebab sudah sarapan di rumah. Namun Hapsari tidak peduli, wanita itu memaksa Masya makan walau hanya sedikit. Istilahnya hanya menyicip, Hapsari tidak keberatan. Dan Luis? anaknya itu hanya menurut saja.
Hapsari dengan semangat membawa semangkuk penuh ukuran 12 inch oseng bihun . Menaruhnya di tengah meja, Wanita itu membagi piring dan menyuruh ketiganya untuk mengambil sendiri oseng bihun sesuai selera.
"Jangan sungkan."
Aldo mengangguk, cowok itu yang pertama kali mengambil. "Oseng bihun premium ini mah, isiannya lengkap banget. Ada udang sama cumi segala, sayurnya juga banyak."
Hati Hapsari berbunga-bunga saat masakannya mendapat pujian. "Kalo kurang boleh nambah."
"Belum juga dimakan, bun." Kali ini Luis menimbrung. Mereka dengan khidmat menikmati hidangan yang Hapsari buat.
Sedangkan di rumah Ibu Ana, wanita itu tengah mengobrak-abrik isi lemari Kara. Sembari menunggu anaknya mandi, Ibu Ana mencari pakaian yang nantinya akan digunakan Kara. Ibu Ana mendesis sebab tidak menemukan pakaian yang cocok untuk kondangan. Wanita itu sejenak teringat, bahkan Kara tidak pernah pergi ke kondangan atau menghadiri acara keluarga. Bila dipikir-pikir saat hari raya pun Kara tidak pernah menggunakan gamis atau mungkin long dress.
Astaga, tidak mungkin menggunakan rok dan kemeja. Akhirnya Ibu Ana beranjak dari tempatnya. "Entah siapa yang keterlaluan di sini," rutuknya dalam hati.
Wanita itu pergi ke kamarnya untuk mencari pakaian yang sekiranya pas digunakan Kara. Mungkin masih ada pakaian yang trendy dan tidak kuno. Tidak perlu waktu lama, Ibu Ana tersenyum saat menemukan apa yang diinginkannya. Tangannya menarik baju tersebut, melepaskannya dari gantungan. Sebuah midi dress berwarna mocca dengan desain yang simpel dan polos.
"Boleh juga," pungkas Ibu Ana, lantas kembali ke kamar Kara sembari menenteng pakaian tersebut.
Ibu Ana membuka pintu kamar anaknya, bersamaan dengan Kara yang telah selesai mandi. Ibu dan anak itu sama-sama terkejut, namun tak lama kembali bersikap biasa saja.
"Semua bajumu tidak ada yang cocok untuk pergi ke kondangan, jadi pake baju ibu saja," ujar Ibu Ana sembari mengangkat pakaiannya, memperlihatkan pada Kara.
Kara langsung memasang wajah memelas. "Bu, aku malu."
"Kenapa malu? sama -sama manusia."
"Tapi kan, Kara sama Luis enggak akrab. Masa ikut kondangan. Kara juga tidak kenal dengan teman Luis ... Lagian, nanti kalo ada yang ngira kita couple gimana?"
"Bagus itu!"
"Ibu Anaaaaaaa." Wanita itu mendorong putrinya kembali ke kamar mandi agar segera memakai pakaiannya. Sama sekali tidak peduli dengan rengekan Kara. "Tidakkah Ibunda Ratu merasa kasihan dengan tuan putri?"
Ibu Ana menggeleng. "Tidak."
Suara pintu tertutup mengakhiri obrolan mereka.
aku suka bgt karyamu ini kak
alurnya ringan ga belibet sama konflik
sukses ya kak
semoga segala hal berjalan lancar