SERAT-SERAT CINTA
DUA kakak ber adik Imam Baskoro dan Dadang Baskoro kalau dipandang dari segi pemikatnya,pasti akan banyak yang sepakat tampanan Imam kakaknya. Tapi setelah mengalami kecelakaan saat sedang berlatih menyetir mobil dengan tunangannya yang mengakibatkan salah satu anggota tubuhnya menjadi cacat, pamor Imam sebagai lelaki idaman para mojang dan gadis menjadi turun drastis. Bahkan belakangan sudah banyak yang menyebutnya pemuda jomlo kepada Imam. Sedangkan Dadang sang adik janjinya kepada diri sendiri,sampai kapanpun ia tidak akan mau menikah kalau kakaknya belum menikah.
Atas musibah yang menimpa Imam,Pak Burhan ayahnya Vera tunangan Imam, jadi merasa terpanggil untuk memulihka refutasi seorang pemuda, yang semasa hidupnya putrinya begitu mencintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Robiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chat
Manusia hanya punya keinginan. Tapi kalau belum waktunya di
Kabul, segala usaha serta ihktiar pasti akan sia-sian dan menyisakan rasa
kecewa. Akan hal itu akhir-akhir ini sedang dialami Dadang. Setelah enam bulan
terus-terusan berusaha melamar pekerjaan dengan berbagai cara, tapi hasilnya
selalu nihil. Prestasinya selama ini masih belum berarti. Ketika problemnya
serius, selain bawaannya jadi malas wajah Dadang juga tampak kusut sehingga
tambah kental sebagai orang yang sedang menghadapi problemnya itu.
Keadaan Dadang seperti ini jelas-jelas kebalikan dari Imam sang kakak . “Sayang kenapa…?” Sang kakak disana memburu istrinya yang
tiba-tiba memegang kepala dan hampir jatuh didekat meja makan.
“Mas, nanti antar ke dokter kandungan ya…” Amel yang sudah
berhasil ditahan, memegang tangan Imam yang masih menempel di pundaknya.
“Mau apa ke dokter kandungan ?” Imam kurang mengerti.
‘Sebenarnya aku sudah dua bulan tidak mentruasi…Ke Dokter
kandungan, sebenarnya untuk mastiin aja, apa aku sedang hamil atau tidak ?”
“Sayang…? Kalau sudah dua bulan tidak mentruasi, sudah pasti
kamu sedang hamil…?” Imam semberingah.
“Sekarang aku mau istrirahat dulu…”
“Kalau begitu ayo sekarang kekamar…” Imam memapah Amel ke kamar
dengan hati gembira dan berbunga-bunga.
Sore harinya kebahagian kakak dari Dadang ini berlipat-lipat.
“Selamat ya pak Imam…Anda akan segera menjadi seorang ayah…” kata Dokter yang
sudah memerika Amel.
Imam langsung memburu sang istri yang keluar dari tempat
periksaan.
“Kondisi janinnya bagaimana dok..?” Setelah ibu dari calon
anaknya didampingi, Imam kompak dengan sang istri mau tahu keadaan calon buah
hatinya.
“Dari hasil periksaan, alhamdulillah sehat…Tapi bagi bu Amel
selama kehamilan sebaiknya jangan bekerja yang berat-berat…Tolong terus
perhatikan itu”
“Kalau begitu sekarang kami pamit pulang dok…Selain harus
periksa ruthin dan seperti yang barusan dokter bilang, tidak ada lagi yang
harus kita tunggu bukan?”
“Tidak…Hasil USG dan lain sebagainya, sudah ada didalam map
itu…” Jawab Dokter sambil tersenyum. Setelah itu Imam dan Amel lalu keluar dan
langsung menuju mobilnya. Sesampainya dirumah, Imam langsung membuat chatt
untuk dikirim kepada Dadang.
“Dang…? Mas akan segera menjadi seorang ayah…Karena setelah barusan
diperiksa, kata dokter kandungan ternyata istri mas positif hamil”
Ketika HP disampingnya berbunyi, Dadang yang sedang
bermalas-malasan di atas tempat tidur, lalu membukanya. Setelah membaca chatt
nya. “Nggak ngertiin banget aku lagi pusing tuh orang…?!” desis Dadang. Padahal
ia tahu chatt itu dari kakaknya.
“Kok, Dadang lama belum membalas chatt nya…?” kata Imam dan tedengar oleh Amel yang sedang
istirahat di atas Kasur.
“Siapa yang belum membalas chatt, mas…?” Amel yang selama ini berbaring, bangkit.
Sedangkan Imam yang selama ini berdiri, kemudian duduk di pinggir tempat tudur.
“Barusan aku memberi tahu Dadang bahwa kamu hamil sayang…?
Tapi chatt nya belum dia balas “
“Kenapa mas memberi tahunya…?”
“Lho…? Memangnya tidak boleh kalau aku berbagi kebahagiaan
dengan saudaraku sendiri…? Sudahlah…Sebaiknya Dadang sekarang aku telepon saja supaya
langsung diangkat…”
Ketika akhirnya Imam memutuskan menelpon Dadang, Amel tidak
bisa mencegah. Saat mendengar suaminya menepon adiknya, Amel hanya bisa pasrah
dan menutupi wajahnya dengan bantal.
“Halo mas…” Dadang yang ditelepon kakaknya, menjawab.
“Dang…? Kok, suara kamu lesu…? Kamu sakit…?”
“Tidak mas…Tapi mungkin hati dan pikiranku yang terganggu
karena sampai saat ini belum juga dapat pekerjaan…”
“Kamu harus sabar Dang…Kamu masih belum mendapat pekerjaan
pasti karena belum waktunya...Tapi mas yakin suatu saat kamu akan bisa mencapai
cita-citamu dan sukses…Sekarang anggaplah bahwa semua yang kamu hadapi itu
hanya cobaan…”
”Selamat ya mas…”
“Selamat untuk apa…?”
“Istrimu sedang hamil bukan…?”
“Oh iya…Mas sampai lupa atas perbuatan sendiri…”
“Maksud mas…?”
“Kan tadi mas sudah mengabari kamu tentang kehamilan istri
mas…Itu kan maksud kamu ?”
“Sayang…? Kamu mau berbagi juga dengan Dadang
tidak...?” Terdengar oleh Dadang
disana. Kepala Dadang yang selama ini sedang pusing, tambah berat. Tapi mau
menutup HP nya tidak enak juga oleh kakaknya.
“Kak Amelnya sehat mas…?” Dadang terpaksa berpura-pura.
“Alhmdulillah Dang…Tapi sekarang mungkin malas bicara sama
kamu…Tuh ! sekarang malah orangnya menelungkup wajahnya dengan bantal…Tiba-tiba
mual dan pusing mungkin? Maklum masih hamil muda Dang…” Imam salah tanggap. Padahal Amel yang menutup
wajahnya dengan bantal itu supaya kesedihannya tidak terlihat oleh suaminya.
“Mas benar…Kalau lagi hamil muda, memang katanya perempuan
itu suka mual-mual dan pusing…Kalau begitu sekarang HP nya mau saya tutup dulu
ya mas..? Kebetulan tadi aku sedang melihah ada lowongan kerja di salah satu
media…”
“Ini baru permulaan…” Gumam Dadang setelah menutup HP nya. “Setelah
ini pasti akan lebih banyak lagi hal yang akan menyakitkanku…Aku tidak
menyangka, keputusan Amal menikah dengan kakakku itu dampaknya seperti ini…?
Hari-hariku jadi banyak makan hati…!”
Kriing…
“Mau apa lagi mas Imam…?” Dadang yang sedang uring-uringan mengambil HP nya yang berbunyi. “Ternyata
ini dari Riki bukan dari mas Imam…?”
“Halo Rik…?”
“Dang, kok lama membukanya…?”
“Mmm…Maaf Rik, barusan aku sedang aaa…Yang sedang Asar…”
“Jam lima kamu baru solat Asar Dang…?”
“Hehe…Iya Rik. Barusan aku ketiduran…Ada apa memang…?”
“Itu Dang…Besok aku mau ke Jakarta. Kamu mau ikut nggak ?”
“Mau intrveew ya…? Kayaknya nggak deh…Nanti kalau kamu lagi
intrveew aku tinggal dimana coba ?”
“Ya udah…Kalau begitu besok aku akan pergi sendiri…Do’akan
ya, supaya aku lulus…Nanti kalau aku sudah lulus dan ada lowongan lagi, kamu dikabari
ya?”
“Makasih sebelumnya Rik…Sekarang udah dulu ya ? Soalnya aku
belum makan “
Lumayan mengobati ternyata kabar dari si
Riki…Tapi aku yakin itu hanya sesaat. Hari-hari kedepan kalau aku belum juga
dapat pekerjaan, pasti kepala ini rasanya bakal tambah berat lagi “ Gumam Dadang. Setelah itu kegalauannya kembali
ditenangkan ditempat tidurnya.
Smangat
Semang4