Dedari Aurelia Djorgie begitu rapuh saat mendapati tunangannya Ardi Putra Sena selingkuh dengan sahabatnya sendiri Chika Anastasya. Dedari bertekad tak mau terlihat rapuh, Dedari pun ingin membalas perbuatan mantan tunangan dan mantan sahabatnya itu dengan cara pura - pura baik - baik saja.
Ide itupun muncul saat Dedari bertemu dengan Demas Dwi Saputra.
Bagaimana kisah Dedari dan Demas, yuk ikutin cerita cinta mereka dikarya pertama ku yang berjudul Dedari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sist Ndut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dedari - BAB 15
Dedari memutuskan untuk kembali ke Indonesia lebih awal dari jadwal yang seharusnya, tiba di Jakarta Dedari pun berencana akan berkunjung ke rumah Demas karna Dedari sangat merindukan Nirmala yang Dedari kenal dekat sejak Dedari kecil.
"Pak agus, ke harvest dulu ya" ucap Dedari ingin membelikan kue untuk di jadikan buah tangan.
"Siap Non" jawab Pak agus dengan anggukan.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam Dedari pun tiba di rumah Demas, tak lupa Dedari turun dari mobil membawa kue yang ia beli di Harvest tadi.
"Sudah lama sekali aku tidak ke sini" gumam Dedari yang sudah berdiri di depan pagar rumah Demas.
Dedari pun memencet bel di sebelah kiri gerbang itu, tak menunggu lama asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Demas pun keluar.
"Cari siapa Non ?" tanya Minah yang baru pertama kali melihat Dedari.
"Tante Nirmala ada Bik ?" tanya balik Dedari karna dia tidak memberi tau Demas lebih dulu saat akan berkunjung ke rumahnya.
"Maaf Non siapa ya? biar saya tanyakan Bu Nirmala dulu" ucap Minah enggan membukakan gerbang pada orang yang dia tidak kenal, karna tidak ada perintah dari tuan rumah kalau akan ada tamu yang datang.
"Saya Dedari" jawab Dedari dengan muka sedikit memerah karna terpapar langsung sinar matahari.
"Sebentar ya Non, saya tanyakan Ibu dulu" sahut Minah dengan sopan.
"Iya Bik" jawab Dedari yang masih berdiri di depan gerbang.
Minah pun masuk ke dalam untuk segera memberi tau pada majikannya.
"Permisi Bu, di luar ada tamu" ucap Minah menghampiri Nirmala yang sedang memotong buah melon.
"Siapa ?" tanya Nirmala.
"Namanya De Dedari" jawab Minah terbata mengingat nama Dedari.
"Dedari????" sahut Nirmala terkejut saat mendengar nama Dedari.
"Iya bu, Non cantik itu masih di depan gerbang Bu" jawab Minah.
"Kenapa tidak di suruh masuk Minah ?" ucap Nirmala meletakan pisaunya.
"Ya kan Ibu yang bilang jangan masukin sembarang orang" jawab Minah membela diri.
"Ya sudah kamu lanjutin potong melon ini Minah, tapi kamu cuci tangan dulu. Biar saya yang buka gerbang" sahut Nirmala berjalan cepat.
"Siap Bu" jawab Minah.
Nirmala pun segera ke depan rumahnya, dan terkejut saat melihat Dedari berdiri di depan gerbang dengan wajah yang terlihat sedikit memerah.
"Non Dedari" ucap Nirmala membuka gerbang rumahnya.
"Hiii Tante Mala" sapa Dedari yang langsung memeluk erat Nirmala.
"Mari masuk dulu Non di luar panas" ucap Nirmala yang masih tidak percaya Dedari datang kerumahnya setelah 15 tahun lebih.
Nirmala pun membawa Dedari duduk di sofa ruang tamu, tak lupa Nirmala menyalakan AC yang ada di ruang tamu karma melihat Dedari sedikit berkeringat.
"Oh ya Tante tadi Dedari mampir Harvest membeli kue ini, semoga Tante Mala dan Om Syarif suka" ucap Dedari meletakan paper bag berisi kue di meja.
"Kenapa repot - repot Non, Non dateng ke sini saja Tante bahagia banget. Tante benar - benar tidak menyangka Non datang ke sini" ucap Nirmala meneteskan air matanya karna terharu.
"Tante jangan nangis dong, waktu di korea Dedari bilang sama Demas pengen ke rumah Tante. Karna Dedari kangen banget Tante Mala" ucap Dedari menatap Nirmala.
"Tante menangis karna bahagia, kamu terakhir datang ke rumah tante kalau tidak salah waktu kamu masih kelas 4 SD. Gimana tante tidak kaget tau kamu ke sini, maaf ya tadi kamu ke panasan di luar. Demas juga tidak bilang kalau Non mau ke sini" jawab Nirmala kembali memeluk Dedari.
"Dedari memang tidak memberi tau Demas kalau hari ini Dedari mau dateng, oh ya Tante boleh Dedari minta sesuatu pada Tante dan Om Syarif ?" ucap Dedari menatap Nirmala.
"Memangnya Non minta apa, kalau Tante dan Om bisa pasti akan kami usahakan" jawab Nirmala dengan tersenyum bahagia.
"Dedari minta tolong jangan panggil Non" sahut Dedari.
"Tapi Non" jawab Nirmala yang merasa tidak enak karna bair bagaimana pun Dedari adalah anak dari mendiang orang yang berjasa dalam hidupnya.
"Please Tante, kalau Tante tidak mau Dedari tidak akan pernah datang ke sini lagi" sahut Dedari.
"Iya baiklah, mulai sekarang Tante akan panggil Dedari. Nanti Tante juga akan bilang Om kalau sudah pulang ya" jawab Nirmala.
"Memang om syarif ke mana tante, apa yang lain juga tidak ada kok sepi ?" tanya Dedari.
"Om sedang main golf di kota B mungkin sore baru pulang, kalau Aldi dan istrinya seperti biasa setiap weekend ke rumah mertuanya. Kadang mereka nginap, kadang pulang malam. Kalau Demas lagi pergi sama temen - temen kuliah nya, paling nongkrong di kafe biru mereka sering nongkrong di sana" jawab Nirmala menatap Dedari.
"Ow gitu Tante, wah sebentar lagi rumah ini juga akan ramai dengan kehadiran cucu. Anak bang aldi hehehehe" sahut Dedari dengan terkekeh.
"Aamiin, semoga ya Nak" ucap Nirmala.
Mendengar di panggil Nak oleh Nirmala, Dedari langsung memeluk Nirmala.
"Tante, Dedari kangen Mama" lirih Dedari memeluk erat Nirmala.
"Kamu yang tabah ya Nak, Tante tau ini tidak mudah. Tante yakin mendiang Bu Deasy di atas sana pasti bahagia melihat kecilnya tumbuh menjadi gadis yang kuat, jenius bahkan sukses membuat ADV Group berkembang pesat seperti sekarang" jawab Nirmala membalas pelukan Dedari.
"Terimakasih Tante" ucap Dedari melonggarkan pelukannya.
"Sama - sama sayang, janji ya jangan merasa kesepian lagi. Om dan Tante sejak kamu kecil sudah menganggap kamu sebagai anak perempuan Om dan Tante, jangan pernah sungkan untuk datang ke rumah ini. Anggap kami orang tua mu dan rumah ini adalah rumah mu" jawab Nirmala terharu.
"Boleh Dedari panggil tante Mama ?" tanya Dedari penuh harap.
"Boleh banget sayang, Mama malah seneng" jawab Nirmala mengecup kening Dedari.
"Terimakasih Ma" jawab Dedari yang terlihat begitu bahagia.
"Iya Nak, oh ya kita makan dulu yuk. Mama belum makan siang, tadi Mama masak rawon" ucap Nirmala.
"Mau Ma, Dedari juga belum makan sih" ucap Dedari tersenyum.
"Pas deh kalau gitu, ayo kita makan dulu" ucap Nirmala mengajak Dedari ke meja makannya.
Di tempat lain, Demas sedang berada di Kafe Biru bertemu dengan teman kuliahnya.
"Hendi thanks ya lu udah pinjemin gue duit buat modal gue buka usaha" ucap Demas melihat temen ya sudah mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.
"Santai aja bro, lu dulu juga bantuin gue waktu gue kecelakaan. Lu temenin gue lewatin masa kritis sampai lu gak pulang dua hari, sekarang gantian lah kebetulan gue ada ya gue bantu" jawab Hendi pada Demas.
"Ah lu masih inget aja Hen, pokoknya doain gue ya semoga bisnis pertama gue ini berjalan lancar" sahut Demas menepuk bahu besti nya.
"Iya bro, kalau lancar kan gue juga seneng duit gue cepet balik hahahha canda gue Dem" jawan Hendi dengan tertawa lepas.
"Iya Aamiin dah" sahut Demas ikut tertawa.
Saat Demas asik berbincang dengan besti nya, tiba - tiba ponsel Demas pun berdering singkat.
"Demas kamu dimana ?
cepat pulang ada dedari dirumah" Demas membaca chat masuk dari Mamanya.
"Di kafe biru Mah, oke aku pulang" balas Demas tersenyum mendengar Dedari data g ke rumahnya.
"Lah lu napa bro senyam senyum dewekan ?" tanya Hendi penasaran.
"Biasa" jawab Demas terkekeh.
"Lu masih gonta ganti cewek, ti ati lu kena karma jadi bucin beneran" sahut Hendi.
"Gak mungkin gue bucin, lagi gue juga gak ada niat gonta ganti cewek. Lha gimana mereka yang nembak gue duluan, mau nolak juga kasihan ya gue kasih kesempatan lah kali gue suka beneran" jawab Demas yang langsung menghabiskan minumnya.
"Percaya deh gue, selalu jadi idola lu dari jaman kuliah semester awal sampai lulus S2. Gue ingetin aja bro tiati takutnya lu ketemu cewek yang beneran lu cinta ama dia, eh lu jadi bucin akut hahahaa" jawab Hendi dengan tertawa lepas.
"Gak mungkin, udah dulu ya gue di suruh balik sama nyokab gue. Next time ketemu lagi bro, btw thanksnya" ucap Demas beranjak dari duduknya.
"Oke bro sama sama, tiati lu bawa motor" ucap Hendi.
"Yoi" jawab Demas dengan memakai helm nya dan berlalu pergi.
Dengan perasaan yang sulit di artikan sepenjang jalan Demas selalu tersenyum mengingat kejadian di Signiel Seoul Hotel bersama Dedari malam itu.
Bersambung...
Karya gress ya
Sukses bwt karyanya