Sinopsis:
Dalam sinopsis ini, kita mengikuti kisah Azura yang tidak sengaja menemukan dirinya berhadapan dengan Ahmed Bin Yasir, seorang aktivis keturunan Mesir yang melarikan diri dari penjara Alcatraz di San Francisco. Meskipun Azura awalnya ketakutan, dia memutuskan untuk menggunakan akalnya untuk menghadapi Ahmed. Sementara itu, pihak berwenang sedang melakukan pencarian di seluruh daerah untuk menemukan pelarian tersebut.
Azura menyadari bahwa melawan Ahmed adalah mustahil, jadi dia mencoba untuk tetap tenang dan menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Dia berusaha bekerja sama dengan Ahmed, berharap bahwa dia tidak akan menyakitinya. Namun, Azura tetap waspada dan mencari peluang untuk melarikan diri.
Dalam perjalanan ini, kita melihat ketegangan antara Azura dan Ahmed yang terus berlanjut. Azura berusaha menjaga keselamatan dirinya sambil mencari cara untuk menghadapi situasi ini. Dia juga berusaha mencari tahu bagaimana Ahmed bisa sampai ke tempatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Saat diantar ke pintu depan, Rodriguez terpesona melihat gerakan ekor kuda Azura yang bergoyang-goyang. Apakah rambut itu masih sehalus yang diingat-nya? Apakah warna pirang pucat itu, yang merupakan
cap yang sangat jelas akan darah kulit putih wanita ini, benar-benar pernah merasakan belaian tangan Indiannya? Dan bibir itu bibir yang sekarang tersenyum kepadanya benarkah bahwa dulu bibir itu pernah merasakan belaian lidah Rodriguez di dalamnya?
“Sampai jumpa, Rodriguez. Kuharap segalanya berlangsung baik untukmu.” Azura mengulurkan tangan.
“Terima kasih.” Rodriguez menggenggam tangan Azura. Mata mereka bertemu. Lama.
Lalu suara itu terdengar. Asalnya dari bagian belakang rumah. begitu tak terduga, hingga mulanya Rodriguez mengira ia salah dengar. Tapi kemudia n suara itu terdengar lagi. Rodriguez dugaan kearah tersebut dengan alis berkerut.
“Itu seperti suara…”
Azura menyentakkan tangan dari genggaman Rodriguez Dengan kaget Rodriguez menoleh. begitu melihat wajah Azura, tahulah ia bahwa ia tidak salah dengar.
Azura tampak pucat pasi dan seperti merasa bersalah.
Rodriguez terpaku. Ditatapnya Azura dengan tajam.“Suara apa itu?”
“bukan apa-apa.”
Rodriguez menepiskan Azura dan melangkah ke
ruang duduk yang bagus itu.
“Kau mau ke mana?” teriak Azura sambil mengejar-nya.
“Tebak saja.”
“Tidak!” Azura mencengkeram kemeja lelaki itu dan menahannya.
“Kau tidak bisa seenaknya masuk kemari
dan…”Rodriguez membalikkan tubuh dan menyingkirkan tangan Azura.
“Aku sudah pernah melakukannya.”
“Kau tidak boleh…!”
“Tidak boleh? Lihat saja.” Rodriguez bertekad mesti menemukan sumber suara itu.
Dengan terisak-isak Azura mengikutinya, masih tetap mencengkeram kemejanya. Tapi Rodriguez mengibaskan tangannya.
Ia melongok ke dalam kamar Azura. Kamar itu
masih tetap seperti dulu. Feminin dan teratur rapi. Rodriguez melewatinya. Di ujung lorong ada pintu yang tertutup. Tanpa ragu-ragu, apalagi meminta maaf, Rodriguez membuka pintu tersebut.Dan ia lelaki dengan hati dan darah pejuang Apache itu—tertegun.
Ketiga dinding ruangan tersebut dicat warna kuning lembut. Dinding satunya ditutup kertas berwarna pastel dengan gambar Mother Goose. Sebuah kursi goyang dengan bantal-bantal empuk terletak di salah satu sudut. Ada laci-laci dengan bagian atas datar dan berlapis kain empuk, penuh didereti botol-botol berisi kapas serta tabung-tabung krim. Kerai-kerai yang berwarna putih ditutup untuk mencegah masuknya sinar matahari sore, tapi masih ada cahaya yang menyusup masuk
melalui celahcelahnya, dan membentuk siluet pada
ranjang bayi yang ada di depan jendela.
Rodriguez memejamkan mata, mengira semua ini
hanya sebuah mimpi yang luar biasa. Ia akan segera
terbangun dan menertawakan mimpi ini. Tapi ketika ia kembali membuka mata, tidak ada yang berubah. Terutama suara yang tak mungkin salah didengarnya itu.
Ia maju perlahan-lahan, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun, sampai ia tiba di depan ranjang bayi itu. Tepi ranjang itu dilapisi bantalan empuk. Sebuah
boneka beruang tersenyum padanya dari salah satu sudut. Seprai di ranjang itu berwarna kuning juga, sesuai dengan
warna cat kamar tersebut. Selimutnya pun kuning. Dan di bawah selimut itu terbaring dengan tinju kecil terkepal dan tubuh bergerak-gerak adalah seorang bayi.
bAYI itu terus menangis, tak peduli dengan gemuruh
yang ditimbulkannya dalam hati dan pikiran lelaki jangkung berkulit gelap yang berdiri di samping ranjang itu.
Wajah yang biasanya begitu kaku itu dipenuhi emosi.
Azura, yang berdiri di belakang Rodriguez, menekankan jemarinya ke bibir, untuk menahan emosinya sendiri. Menekan rasa cemas dan takut yang amat sangat.
Semula ia ingin mengatakan bahwa ia sedang menjaga anak temannya, atau saudaranya. Tapi rasanya usaha
itu akan sia-sia saja. bayi itu jelasjelas anak
Rodriguez. Sekali pandang sudah cukup untuk memastikannya. Kepala mungil dan bulat itu, yang bentuknya sempurna karena si anak lahir dengan mudah, ditutupi rambut hitam lebat. bentuk alisnya, sudut dagunya,
tonjolan tulang pipinya, semuanya merupakan replika miniatur wajah Rodriguez.
Dengan rasa takut yang kian memuncak, Azura memandangi Rodriguez yang mengulurkan satu jarinya
yang cokelat untuk menyentuh pipi si bayi. Mata kelabunya menyorotkan rasa takjub dan tak percaya. bibirnya bergerak-gerak sedikit.
Seluruh wajahnya memancarkan emosi yang amat dalam. Azura pun merasakan
emosi yang sama, setiap kali ia menggendong bayinya. Rasa cinta yang menggelegak dari dalam dirinya saat ia menyentuh anaknya pasti akan terlihat jelas di wajahnya.
Dan ia merasa takut karena Rodriguez juga merasakan gejolak emosi yang sama.
Ia terlompat ketika Rodriguez menyingkapkan selimut si bayi dengan satu gerakan cepat. Insting keibuannya bereaksi ketika lelaki itu membuka popok yang dipakai
si bayi. Azura mencengkeram lengan Rodriguez, namun lelaki itu mengibaskannya dan menurunkan popok si
bayi.
“Anak laki-laki.” Suara serak lelaki itu terdengar bagai lonceng kematian di telinga Azura.
Ia hampir gila karena panik dan ingin menutupi telinganya serta meneriakkan penyangkalan. Dengan berdebar ia berdoa semoga semua ini tidak benar-benar terjadi.
Tapi ini kenyataan. Ia berdiri tak berdaya, memandangi Rodriguez yang melepaskan baju terusan si bayi dan mengangkatnya dari ranjang. Azura hanya bisa
menatap ketika Rodriguez membawa anak itu ke dalam pelukannya.
begitu Rodriguez membaringkan si bayi di
dadanya, anak itu berhenti menangis.
Keakraban yang langsung terjalin antara si lelaki dan si anak membuat Azura gelisah. Kali ini ia lebih suka
kalau bayinya menangis menjerit-jerit. Tapi anak itu hanya memperdengarkan suara khas bayi yang manis saat dipeluk di bahu ayahnya.
Rodriguez membawa bayi yang Tidak Berbusana itu ke kursi goyang. Kakinya yang panjang tertekuk canggung ketika ia duduk sambil menggendong si bayi. Dalam keadaan
lain, Azura pasti akan menganggap pemandangan itu
lucu. Tapi saat ini wajahnya pucat pasi. Segala mimpi buruknya berlangsung nyata di hadapannya.
Akhirnya ia meletakkan anak itu di pahanya dan menatap Azura. “Siapa namanya?”
Azura ingin menjawab bahwa itu bukan urusannya, tapi sayangnya tidak bisa.
“Anthony Joseph.” Sekilas mata kelabu lelaki itu mengerjap.
“Aku juga punya kakek bernama Joseph,” kata Azura membela diri.
“Nama panggilan bayi itu Tony.” Rodriguez memandangi si bayi yang mulai menggerak-gerakkan tangannya dengan marah.
“Kapan dia dilahirkan?”Azura ragu-ragu menjawab.
Semula ia hendak berbohong tentang tanggal kelahiran anak itu, supaya Rodriguez tidak bisa mengakui Tony sebagai anaknya.
Tapi tatapan tajam lelaki itu menuntut Azura untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Tanggal tujuh Mei.”
“Kau tidak pernah berniat memberitahuku, bukan?”
“Tidak ada alasan untuk memberitahumu.”
“Dia anakku.”
“Dia tidak ada urusannya denganmu.”
Rodriguez tertawa singkat. “Mulai sekarang, dia terkait erat denganku.”
Tony menangis keras, setelah sempat tenang sejenak tadi. Ia lapar rupanya. Rodriguez mengangkat bayi itu ke bahunya dan mulut kecil yang basah itu langsung bergerak mencaricari. Di luar dugaan Azura, Rodriguez
tertawa kecil melihatnya.
“Untuk yang satu itu, aku tidak bisa melakukannya, Anthony Joseph.” Digendong-
nya bayi itu, lalu ia berdiri dan menyerahkan Tony pada Azura.
“Dia membutuhkanmu.” Azura mengambil anaknya dan membaringkannya
kembali di ranjang bayi.
Cepat-cepat ia memakaikan kembali popok yang tadi dibuka Rodriguez. Gerakannya menjadi canggung karena protes keras si bayi dan ge-
rakan-gerakan tangan serta kakinya, juga karena mata Rodriguez yang terus mengawasinya. Setelah Tony berpakaian lengkap lagi, Azura menggendongnya dan
membawanya ke kursi goyang. Ia duduk di sana sambil membuai anak itu, menepuknepuk punggungnya dan
menggumam pelan untuk menenangkannya. Tapi usahanya siasia.
“Dia lapar,” kata Rodriguez.
“Aku tahu,” bentak Azura, kesal karena dikira tidak tahu kebutuhan bayinya sendiri.
“Lalu? Susui dia.” Azura menatap Rodriguez; bayi itu seolah menjadi perisai yang lemah di antara mereka.
“Kau bisa mem beri ruang sedikit, tidak?”
“Maksudmu, apa aku akan keluar dari ruangan ini?”
“Ya.”
“Tidak.” Mereka saling pandang. Sungguh ajaib, akhirnya Rodriguez yang mengalah.
Ia membalikkan tubuh dan berdiri di depan jendela, memandang ke luar setelah
membuka kerai-kerai sedikit. Saat itulah Azura tahu titik lemah lelaki yang keras ini. bayi ini bisa meluluhkan hatinya. Di antara ayah dan anak itu telah terjalin ikatan yang sangat kuat, meski Rodriguez baru beberapa
menit yang lalu mengetahui tentang keberadaan anak-
nya. Seandainya saja ia tak pernah tahu. Ia bisa sangat
menyulitkan Azura.
“Kenapa kau tidak memberitahu aku?” Tanpa mengacuhkan pertanyaan itu, Azura mem buka blusnya dan menurunkan bra khusus untuk menyusui yang dikenakannya.
Dengan rakus Toni mulai menyusu
de ngan suara ribut. Azura menebarkan selimut lanel tipis di bahunya, untuk menutupi dirinya dan kepala si bayi.
“Aku bertanya padamu.” Kali ini suara Rodriguez
mengandung nada memerintah.
“Sebab Tony anakku.”
“Dia anakku juga.”
“Kau tidak bisa yakin akan itu.” Dengan cepat Rodriguez menoleh. Azura terkesiap
melihat sorot tajam di mata kelabunya.
“Aku yakin.” Nadanya begitu mantap, hingga tak ada gunanya lagi bagi Azura untuk memperdebatkan hal itu.
Kalaupun Azura menang berdebat dengannya, kenyataannya tetap sama. Tony adalah anak Rodriguez.
“Tony adalah… insiden biologis semata,” katanya kemudian.
“Kalau begitu, kenapa dia tidak kau singkirkan saja?” Azura merinding ngeri mendengarnya.
“Kenapa tidak kausingkirkan saja dia?” begitulah ibunya berteriak padanya dulu,
ketika Azura memberitahukan kehamilannya kepada orangtuanya. Sengaja Azura menunggu sampai kandungannya sudah terlalu besar untuk diaborsi, sebelum memberitahu mereka, sebab ia tahu betul
bahwa mereka akan menganjurkan cara itu sebagai jalan keluar.
Ya, kenapa ia tidak melakukan aborsi? Sebelum pergi ke dokter pun Azura sudah menebak-nebak, kenapa belakangan itu ia sering merasa mual di pagi hari, nafsu
makannya semakin besar, namun perutnya selalu terasa tidak enak setelah puas makan. Semua itu gejala yang tidak biasa. Ia tidak dengan sengaja membayangkan bahwa ia
mungkin hamil. Tapi ketika dokter menginformasikan dugaannya, ia tidak terpukul ataupun kaget. Reaksi
pertamanya malah kebahagiaan yang luar biasa.
keren bgt😭