Lulus dari SMA Al-Fattaah, Jejak Kirana dipersunting oleh seorang laki-laki biasa namun mampu memikat hatinya. Berawal dari sepucuk surat berupa syair-syair cinta, yang ternyata hal itu berhubungan dengan kisah hidupnya di masa depan. Hidup bahagia hanya dapat dirasakan sementara olehnya, ketika kekasih hati menghadap ke Ilahi. Nasib Sang Putri begitu sengsara tiada sosok Ayah di sisi. Hati yang sudah lama terkunci rapat, perlahan terbuka kembali setelah bertemu dengan Roudullah Khalil teman satu kelasnya di SMA, keduanya menikah karena perjodohan. Akankah dia bisa jatuh cinta lagi, untuk kali kedua? Ikuti kisah selengkapnya di Until I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nizamimila7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumpulan Surat Cinta SMA
Terang bulan manis isi coklat dan kacang. Dibelinya di sekitar jalan cemara, Bandung.
Sang Ayah begitu lahap memakannya sampai mulutnya penuh selai coklat. Sang Ibu dengan cepat mengelapnya. Dinda dan Khalisa tersenyum lebar.
"Je, kapan-kapan ajak juga dong si Dullah. Udah lama juga aku nggak ketemu sama tuh anak!"cetus Dinda, "Penasaran gitu sama mukanya yang sekarang, dulu keliatan songong banget yah. Apa masih aja kayak gitu?"
"Aku nggak bisa mendeskripsikan, biar kamu sendiri saja yang menyimpulkannya,"jelas Jeje membuat Ayah dan Bundanya saling bersitatap.
"Jeje ini anaknya memang suka bercanda yah, Din. Sama rupa dan sifat suaminya saja dia tidak mengenalinya,"sahut Bundanya membuat Jeje meringis.
Malam ini, Khalisa tidur bersama Ayah dan Bundanya. Jeje tidur bersama Dinda di kamarnya.
"Wah, udah hampir 10 tahun ya Je. Tapi kamar ini sama sekali nggak pernah berubah. Mulai dari letak meja belajar kamu, terus rak buku,"ucap Dinda, "Oh iya, buku tahunan sekolah masih ada nggak? Mau liat dong! Boleh, yah?"
"Kalau nggak salah, ada di rak buku. Kamu cari aja,"
Jeje merapikan pakaiannya di lemari. Dinda terdiam sesaat setelah melihat beberapa surat yang ada di rak buku sahabatnya itu. Dinda langsung teringat pada saat Jeje menerima surat-surat itu.
"Je, lihat ini! Apa yang aku temukan di rak buku!"ucap Dinda sambil menunjukkan beberapa surat pada Jeje.
Jeje pun duduk di depan meja belajarnya sambil membaca kembali isi surat tersebut. Mulutnya melengkung membentuk senyuman yang manis sesekali tertawa geli. Dinda yang melihatnya ikut meringis.
"Aku ingat betul akan surat-surat itu! Tapi anehnya, yang jadi suamimu malah orang lain. Bukan dengan si pengirim surat,"cetus Dinda membuat Jeje melongo.
"Maksud kamu apa? Bukannya kamu udah tahu kalau orang yang pengirim surat ini adalah Gadhing." Dinda mengerutkan keningnya sambil geleng-geleng kepala.
"Eh, salah! Surat-surat itu bukan dari Gadhing. Tapi dari suamimu yang sekarang, Roudullah Khalil!"jelas Dinda. Jeje tertawa terbahak-bahak.
Dinda menghela napas berat. "Serius tau! Aku sendiri yang ngeliat dullah di kelas sendirian waktu itu!"
Jeje terdiam sesaat lalu tersenyum simpul. "Mungkin memang roudullah ada di dalam kelas untuk memberikan surat itu, tetapi bukan dia yang menulisnya, kan?"
"Lagi pula dengan cara apa lagi agar surat-surat ini sampai di tanganku waktu itu. Gadhing juga bukan siswa dari sekolah yang sama dengan kita." Dinda manggut-manggut.
"Itu masuk akal juga sih Je. Tapi feeling aku selalu aja mengarah ke dullah,"
"Itu karena cinta kamu pernah bertepuk sebelah tangan!"sindir Jeje tertawa puas.
Dinda memanyunkan bibirnya. "Kalau diingat-ingat, lucu juga yah. Aku pernah naksir sama dullah eh nikahnya malah sama kamu!"
"Ya ampun! Foto album aku gini banget sih? Mana lehernya udah kayak kena salah bantal lagi!"imbuhnya melihat foto album sekolah.
Jeje mulai mencharger handphonenya. Matanya melebar melihat beberpaa panggilan tidak terjawab dari Roudullah. Dia pun memilih mengirim pesan.
"Assalamualaikum, maaf baru sempat lihat handphone. Karena di perjalanan kami tertidur. Sekarang handphone aku lagi dicharge, dan mau istirahat juga."
Roudullah yang tengah fokus menatap layar laptop langsung meraih handphonenya yang berdering di atas laci. Roudullah menghela napas berat, harapannya pupus karena dia tidak dapat juga mengobrol dengan istrinya.
"Baiklah, tidak masalah. Selamat malam."
Jeje menengok ke arah Dinda. Namun sahabatnya itu justru sudah tertidur pulas sambil memeluk buku tahunan SMA nya.
Jeje pun perlahan meraih dan menaruhnya kembali ke rak buku, lalu mematikan lampu kamarnya.
Roudullah mengobrak-abrik pertahanan rambutnya yang klimis itu karena geram dengan dirinya sendiri. Tidak masalah, padahal itu adalah masalah yang sangat besar. Sok-sokan nggak peduli, aslinya begitu ngarepin, batinnya kesal. Roudullah menutup laptopnya dan keluar dari kamar.
Di bawah, Roudullah bertemu dengan Papanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memandang layar laptopnya.
"Papa belum tidur juga?"
"Hai, Nak. Kemarilah, Papa ingin bicara empat mata denganmu."
Roudullah duduk di samping Papanya. Pak Budi menutup laptopnya.
"Papa memang menginginkan kamu mengelola bisnis furniture itu. Tetapi Papa tidak ingin jika kamu sampai mengabaikan soal rumah tanggamu,"ucap Papanya, "Sebab, Papa sendiri dulu yang meminta ayah dari Jeje untuk menerima pinangan dari kamu."
"Setelah Papa memikirkan hal ini lebih dalam lagi, Papa memang salah karena telah memaksa kamu untuk menikah dengan jeje. Meski Papa tahu, kamu dan jeje bukanlah orang yang baru saja saling mengenal satu sama lain, tapi justru sudah begitu lama saling mengenal, sejak duduk di bangku sekolah."imbuh Pak Budi.
"Papa jangan terus bersalah seperti ini. Awalnya aku memang membenci pernikahan ini, tetapi waktu cepat berlalu. Dan kebencian itu berubah menjadi kebahagiaan, Pa,"
Pak Budi tersenyum manis. "Alhamdulillah, kalau memang itu yang kamu rasakan, Papa hanya bisa mendoakan kalian berdua agar hidup bahagia dalam berumah tangga."
"Terima kasih, Pa."
Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Sinar mentari hari ini tidak terlalu terik. Jeje hari ini ingin mengunjungi toko buku bersama Dinda, namun sebelum pergi, dia menyiapkan makanan untuk Ayah, Bunda dan Khalisa. Makanan khas kota kembang itu siap disajikan di atas meja makan.
Dinda keluar menuju ke garasi mobil. Matanya melebar melihat seorang laki-laki bertubuh jangkung berdiri di halaman rumah Jeje.
"Tampak belakang, keliatannya cowok ini cakep nih!"cetus Dinda berjalan menghampirinya, "Permisi, Masnya ini mau nyari apa yah?"
Pria itu berbalik badan sambil memapang senyum manis di wajahnya. Mata Dinda bercahaya.
"Halo! Apakah benar, ini alamat rumah Bu Jejak Kirana?"
"Masnya ini Kang Paket yah. Sebentar, saya panggil dulu orangnya. Silakan duduk,"
"Jeje, perasaan kamu semalam nggak main handphone yah. Tapi kok ada tukang paket di luar?"ucap Dinda membuat Jeje mengerutkan keningnya, "Udah ayo, kasihan orangnya dari tadi nungguin kamu."
Jeje pun melongo melihat kehadiran pria itu di rumahnya.
"Astaga. Kok jadi bengong gini sih. Istighfar Je!"cetus Dinda.
"Hai! Bagaimana kabar Nona? Tolong jangan terkejut seperti itu. Saya jadi ragu."
"Udah Mas, berikan sini paketnya. Kita lihat dulu yah isinya. Kalau rusak, teman saya ini nggak jadi bayar."sahut Dinda.
Jeje menghela napas berat. "Dinda, orang ini tuh bukan tukang paket!"
"Oh iya? Terus siapa dong? Apa dia malaikat?"cetus Dinda sumringah membuat Pria itu meringis.
Jeje pun meraih tangan Dinda dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Dinda, please! Kali ini biarkan aku yang mengurusnya sendiri yah!"pinta Jeje.
"Eh, janji dulu,"cetus Dinda menghentikan langkah Jeje, "Cari tau nomor handphonenya yah!"
Pria itu sedang berada di taman. Jeje berjalan menghampirinya.
"Taman yang begitu indah. Bertebaran bunga lili auratum di sini,"
"Iya, soal bunga itu. Anda kan, yang mengirim tanaman bunga-bunga itu ke saya?" Pria itu manggut-manggut.
"Sahabatku sekarang pasti tersenyum bahagia, melihat bunga-bunga pemberiannya dirawat dengan begitu baik,"
Alis Jeje bertaut. "Sahabat? Siapa yang Anda maksud sebagai sahabat?"
"Mendiang suamimu, Gadhing Endaru adalah sahabat ku."
...[BERSAMBUNG]...