Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Agam
Sepuluh menit kemudian.
Alea sudah menduduki salah satu meja yang ada di sudut kantin kantor. Makanan yang tadi hendak ia pesan bahkan belum disentuh.
Entah sudah berapa kali ia melihat layar ponselnya sejak Agam mengirim pesan terakhir.
Tidak ada pesan baru dari Agam. Bahkan, setiap kali pintu kantin terbuka, pandangannya selalu refleks terangkat. Berharap yang muncul pria itu.
Namun, lagi-lagi yang muncul bukan orang yang ia tunggu. Alea menghembuskan nafas panjang dan menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Kenapa aku menunggunya?” gumamnya nyaris tak terdengar oleh siapapun.
Alea mengusap wajahnya pelan.
Bukankah ia sudah bertekad untuk menjaga jarak? Bahkan, kalau bisa, ia harus melupakan pria itu.
Lalu kenapa sekarang ia justru menunggu kedatangan pria itu?
“Kenapa aku tidak melarangnya untuk datang.” gumamnya lagi sembari menatap kosong piring yang berisi makanan yang ia pesan.
Alea menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang.
Namun, tiba-tiba, sebuah suara mengejutkannya dari arah belakang.
“Melarangnya untuk datang? Siapa?”
Deg.
Tubuh Alea seketika menegang. Suara itu. Suara yang sejak seminggu terakhir ini selalu setia menemani hari-harinya.
Perlahan Alea menoleh. Dan benar saja. Agam sudah berdiri tepat di belakangnya.
Pria itu masih mengenakan pakaian kerja yang rapi. Satu tangannya memegang ponsel, sementara tangan lainnya terselip di saku celana.
Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, Alea hanya mampu menatapnya tanpa suara.
Agam tersenyum tipis. Membuat pandangan Alea semakin terpaku kepada pria itu.
“Kok nggak jawab?” tanya Agam lagi membangunkan Alea dari lamunannya.
Alea segera mengalihkan pandangan.
“Hah? Jawab apa?” tanya balik Alea.
“Kenapa aku tidak melarangnya untuk datang? Siapa itu? Kamu ada janji selain denganku?”
Deg.
Alea kembali dibuat tertegun setelah mendengar pernyataan dari Agam. Membuat Alea tidak bisa langsung menjawab.
Agam kemudian beranjak, berjalan ke depan Alea, lalu menarik kursi yang ada di seberang Alea dan duduk disana.
“Kenapa tidak di makan, makanannya?” tanya Agam setelah melihat jika makanan yang dipesan oleh Alea masih utuh, belum disentuh sama sekali.
“Bukannya tadi kamu yang nyuruh aku buat nunggu kamu,”
“Iya. Tapi aku gak nyangka, kalau kamu akan menurut.”
Alea menatap Agam dengan dahi sedikit mengkerut.
“Kan kamu minta aku untuk nunggu kamu.”
“Iya.”
“Terus, salah, ya?”
“Nggak kok. Aku cuma kagum aja. Kamu, benar-benar calon pasangan idaman.”
Deg.
Lagi. Agam membuat detak jantung Alea berdetak lebih cepat. Alea bahkan sampai berdehem beberapa kali demi mengendalikan perasaannya.
Agam mengangkat tangan untuk memanggil salah satu pegawai kantin. Beberapa detik kemudian, salah satu pramusaji pun datang dengan membawa buku menu.
Agam menerima buku menu yang disodorkan oleh pramusaji itu, lalu memilih menu makanan yang sama dengan Alea.
Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan oleh Agam pun datang. Akhirnya, keduanya pun makan siang bersama dalam diam.
Tanpa Alea sadari, tatapan pria itu sesekali tertuju pada wajahnya.
Ada sesuatu yang berbeda. Sejak tadi Alea terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Bahkan ketika mereka bertukar pesan, jawaban Alea terasa singkat.
Membuat Agam tidak bisa lagi menahan diri untuk menanyakan perubahan Alea yang tiba-tiba itu.
“Kamu kenapa?”
Deg.
Alea yang hampir memasukan sendok berisi makanan kedalam mulutnya pun refleks langsung berhenti, lalu menoleh ke arah Agam.
“Aku? Kenapa apanya?”
“Tentu saja kamu. Sepertinya kamu sedang ada masalah.”
“Tidak ada. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Karena aku merasa kalau kamu sedang tidak baik-baik saja.”
“Aku baik-baik saja kok.”
“Yakin?”
“Tentu saja.”
“Tapi aku merasa kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku.”
Deg.
Kalimat itu membuat Alea kembali menatap Agam. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu. Dan sekali lagi, jantung Alea berdetak tidak beraturan.
Ia benar-benar benci situasi ini. Dimana setiap ucapan dari Agam selalu berhasil membuat dirinya kehilangan kendali.
Alea menelan ludah, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Itu hanya perasaan Kakak saja.”
“Benarkah?”
“Iya. Lagi pula, apa yang mau aku sembunyikan dari Kakak?”
“Benar juga.”
Keduanya pun kembali fokus pada makanan mereka masing-masing. Lalu, Agam kembali menatap Alea dalam diam.
Beberapa saat kemudian, Agam kembali membuka suaranya. Mengajak Alea berbincang mengenai pekerjaan.
Percakapan mereka pun akhirnya mengalir begitu saja. Mulai dari tentang rapat pagi tadi. Tentang pekerjaan Alea. Dan tentang kesibukan Agam.
Jujur, obrolan santai itu selalu berhasil membuat Alea nyaman berada di dekat Agam. Bahkan, terlalu nyaman membuat Alea enggan untuk pergi dari sisi Agam.
Namun, Alea kembali mengingatkan dirinya sendiri untuk menjaga jarak dengan pria itu.
Seketika, Alea pun kembali merespon Agam dengan jawaban yang seadanya dan singkat. Membuat Agam menyadari hal itu dan langsung bertanya.
“Sekarang kenapa lagi?”
“Maksudnya?” tanya balik Alea.
“Tadi sudah biasa. Kenapa tiba-tiba jadi banyak diam lagi?”
“Hah. Enggak kok. Gak apa-apa.”
“Dari tadi bilang enggak apa-apa terus. Tapi sikap kamu berkata lain.”
“Aku memang nggak kenapa-napa.”
Agam meletakkan sendoknya, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Pria itu menatap lurus ke arah Alea. Membuat wanita itu gugup setengah mati.
“Azalea.” ucap Agam dengan nada suara Agam berubah lebih serius.
“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Agam.
Alea terdiam. Tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap makanan di hadapannya. Kemudian, menggeleng pelan.
“Nggak ada.”
“Kalau memang nggak ada, kenapa kamu terus menghindariku?”
Deg.
Refleks, Alea langsung mengangkat wajah.
“Menghindarimu? Tidak kok, kenapa juga aku menghindarimu, Kak?”
“Kalau tidak menghindari aku, kenapa respon kamu sangat dingin?”
Alea terdiam. Ia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan itu. Seandainya saja, Alea belum tahu status Agam saat ini, mungkin komunikasi mereka akan berjalan seperti biasanya.
“Kamu tahu, Al. Saat ini, aku bahkan merasa kalau kamu sedang menjaga jarak denganku.”
Alea menggenggam sendoknya lebih erat. Ia tahu. Cepat atau lambat, Agam akan menyadarinya.
Dan mungkin, inilah saatnya ia mengatakan semua unek-uneknya.
Namun ketika tatapan Agam kembali bertemu dengannya, keberanian Alea justru menghilang.
“Enggak ada apa-apa, Kak. Aku hanya sedang banyak pekerjaan saja.” jawab Alea dengan berbohong, tentunya.
Agam tidak membalas senyum itu.
Tatapannya justru semakin dalam. Seolah pria itu tahu bahwa ada sesuatu yang sedang Alea sembunyikan.
Dan untuk pertama kalinya, Alea merasa takut. Takut jika Agam mengetahui alasan sebenarnya.
Takut jika pria itu tahu bahwa ia memang sengaja menjaga jarak darinya. Bukan karena Alea membencinya. Namun, karena Alea sudah jatuh cinta kepada pria itu.