Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 003: Pertemuan di Pinggir Hutan
Langit sore mulai berwarna jingga saat Seraphina berjalan santai menyusuri pinggiran hutan yang tak jauh dari wilayah kekuasaan klannya. Ia menikmati sejuknya udara dan rimbun pepohonan, hingga tiba-tiba telinganya menangkap suara teriakan yang penuh ketakutan dari kejauhan. Tanpa ragu ia segera berlari menuju sumber suara itu.
Di sebuah lapangan terbuka, terlihat sesosok wanita tua yang tampak lelah dan penuh luka duduk bersandar di pohon. Di hadapannya berdiri Elara, gadis muda berpenampilan mewah dengan sorot mata angkuh, ditemani Torgar, pria bertubuh kekar yang selalu siap melaksanakan segala perintah tuannya.
"Kamu mau apa?" tanya Lira dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Budak rendahan sepertimu mana pantas bertanya kepadaku? Nyawamu saja tak berharga sedikit pun di mataku," sahut Elara sinis. "Berani sekali kau melawan perintahku. Kau harus diberi pelajaran agar tahu diri!"
"Torgar, beri dia pelajaran." Titah Elara.
"Siap Tuan Putri!" Torgar segera merubah wujudnya menjadi srigala hitam besar dengan taring yang menancap tajam, lalu mengaum siap menerkam Lira.
Belum sempat ia melompat, sebuah batu kecil melesat cepat tepat menghantam bahunya hingga tubuhnya terpental keras menabrak batang pohon besar. Semua mata seketika tertuju pada sosok Seraphina yang baru saja muncul dari balik pohon besar.
"Siapa kau ini? Berani sekali mengganggu urusanku!" bentak Elara menatap tajam.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya tak suka melihat yang kuat menindas yang lemah," jawab Seraphina tenang.
"Apakah kau tak mengenalku? Aku adalah Elara, putri Raja Argan dari Kerajaan Bulan Perak!" ucapnya dengan dada dibusungkan penuh kesombongan.
"Siapa ayahmu atau dari mana asalmu, itu tak penting bagiku. Yang salah tetaplah salah," tegas Seraphina.
"Kalau begitu habisi mereka berdua!" titah Elara kepada anak buahnya.
Torgar kembali menyerang dengan kecepatan penuh, namun setiap serangan cakar dan gigannya selalu berhasil ditangkis atau dihindari dengan sangat lincah.
Elara semakin tak percaya melihat hal itu. "Ini tak mungkin... dia tak memiliki wujud srigala, aku tak merasakan ada aura Srigala pada dirinya. tapi kemampuannya jauh melampaui Torgar!" batinnya gelisah.
Seraphina pun sadar ia hampir melampaui pesan ayahnya untuk tidak memamerkan kekuatannya. "lebih baik aku pergi dari sini," pikirnya.
"Ayo Bu, kita pergi dari sini. Tak ada gunanya berlama-lama dengan mereka," ajaknya sembari membantu Lira berdiri dan berlari menuju batas wilayah perlindungan.
"Sialan! Mereka masuk ke perbatasan Klan de Luna!" geram Torgar.
"Biarkan saja. Itu berarti mereka sendiri yang menyerahkan nyawa kepada Klan de Luna yang terkenal kejam," ujar Elara dingin, lalu membalikkan badan dan melenggang pergi kembali ke istana.
Lira terus menoleh kiri kanan dengan penuh kekaguman sekaligus kecemasan. "Nak, kita masuk ke wilayah Klan de Luna? Konon tak sembarangan orang boleh melangkah masuk ke tempat ini tanpa izin."
Seraphina tersenyum hangat. "Jangan khawatir Bu. Ini adalah rumahku sendiri, aku dibesarkan di sini."
"Kalau begitu biarlah aku pamit pulang saja," kata Lira perlahan.
"Untuk apa kembali ke sana? Di sana tak ada yang menghargaimu, mereka hanya menganggapmu barang yang tak berguna," ucap Seraphina meyakinkan.
"Itu benar Nak, aku memang hanya dianggap budak. Namun di kediamanku tersimpan barang peninggalan yang sangat berharga dan penting bagiku," jawab Lira lembut.
"Baiklah, aku akan menemani Ibu mengambilnya. Setelah itu kita kembali ke sini, aku akan siapkan tempat tinggal yang layak untukmu."
"Panggil aku Lira." Ucap Lira.
"Aku Seraphina." Jawab Seraphina.
Mereka pun segera beranjak menuju tempat tinggal Lira yang sederhana dan jauh dari kemewahan. Setelah barang berharga itu diambil, keduanya kembali dengan selamat ke wilayah Klan de Luna.
Di lain sisi, di Kerajaan Bulan Perak, suasana istana mendadak menjadi gelisah. Raja Argan yang sedang duduk di singgasana langsung terlonjak kaget saat para pengawal terburu-buru datang membawa kabar buruk: Klan Cakar Badai dan sekutunya bersatu pasukan untuk menyerang demi merebut kekuasaan dari tangannya.
"Segera kumpulkan seluruh prajurit terkuat kita!" perintah Raja Argan dengan wajah tegang.
"Siap Baginda!" sahut pengawal sambil menunduk hormat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang Baginda?" tanya Sari tampak sangat cemas.
"Tenanglah," ucap Argan sambil meremas sandaran tahtanya. "Kita akan segera mencari wanita yang diramalkan, dialah yang akan mengangkat kejayaan kerajaan kita kembali dan menjadikan kita penguasa nomor satu di seluruh dunia."