Rey, seorang pria muda yang bekerja pada sebuah komplotan yang menyebut dirinya sebagai Cyber Enemy. Cyber Enemy memiliki fokus pekerjaan membobol rekening bank orang-orang yang memiliki aliran dana tidak wajar. Dan Rey adalah salah satu peretas terbaik yang dimiliki kelompoknya.
Rey bertemu Raya dalam salah satu misinya menghancurkan sebuah kota di mana banyak orang-orang yang memiliki aliran dana tidak wajar. Keduanya terlibat pada sebuah misi di mana Raya tahu Rey korban yang tidak mengerti bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh komplotannya.
Raya membuka kedok komplotan Rey dengan menemukan ayah Rey yang disekap di sebuah hutan. Lalu keduanya bekerja sama untuk menjatuhkan dan membuka kedok paman Rey yang selama ini menjadi otak dari berbeloknya tujuan utama komplotan mereka didirikan.
Penasaran kelanjutan ceritanya?
Jangan lupa subscribe Cyber Enemy untuk mendapat notifikasi updatenya.
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kandil Sukma Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECELAKAAN
“Hari ini aku memaafkanmu. Tapi lain kali aku tidak akan segan-segan membetot tanganmu dari tubuhmu dan melemparnya pada anjing liar.” Raya mengancam dengan tatapan membunuh. Lalu dia berbalik dari hadapanku, berjalan masuk ke kamar mandi. Sebentar kemudian dia keluar dengan mengenakan baju tidur pink bermotif panda berbahan semi sutra. Baju dengan celana selutut itu menempel **** di tubuhnya.
Aku menahan nafas menatapnya. Raya melempar pandang sinis ke arahku, sebelum membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menarik selimut dan tidur.
Aku masih membeku di tempatku, tidak mampu melakukan apa-apa. Setelah berhasil mengatur nafasku dan menenangkan diri, aku mulai bisa bergerak.
Aku memandangnya dari jauh, sepertinya dia sudah tertidur. Perlahan aku melangkah ke pintu, berniat membukanya dan keluar, tapi segera teringat Raya tadi menguncinya.
Jariku bergerak untuk memutar kunci, tapi ternyata kuncinya tidak berada di sana. Astaga! Permainan apa lagi ini. Apa dia sedang mengujiku. Begitu yakinkah dia aku mampu menahan diri melihatnya tidur dengan pakaian **** yang membalut tubuhnya.
Oh Tuhan kenapa aku harus mengalami ini, desahku putus asa.
Aku berbalik, memandangnya selama beberapa menit, tapi Raya tetap tidak bergerak. Kakiku mulai lelah sehingga aku duduk di samping pintu, bersandar pada tembok. Mataku masih menatap tubuh Raya yang bergelung di balik selimut, menunggu pergerakan sekecil apa pun pada dirinya, yang menandakan dia terbangun. Kalau dia bergerak, aku akan meminta kuncinya.
Tapi beranikah aku. Aku harus berani. Aku tidak ingin terkunci semalaman disini. Aku tidak yakin aku bisa menahan makhluk liar yang semakin menggeliat-geliat di dalam perutku. Bagaimana jika makhluk itu menang. Apa kata ayahku nanti.
Raya tidur cukup tenang. Sampai dua jam aku mengamatinya, dia sama sekali tidak bergerak. Apa dia tidak capek tidur pada posisi seperti itu semalaman, batinku.
Langit di luar semakin pekat. Mataku mulai terasa berat dan aku sangat lelah. Aku ingin tidur, tapi aku tidak ingin terperangkap disini.
Aku berdiri, memutuskan untuk mencari kuncinya di meja di dekat tempat tidur Raya. Nihil.
Mungkin Raya membawanya tidur. Perlahan aku mendekat, mencari tahu kalau-kalau Raya menjatuhkannya dari genggamannya saat dia tertidur.
Raya bergerak, mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Aku membeku di tempatku, menelan ludah dengan kasar. Tapi Raya tetap tertidur nyenyak.
Perlahan aku kembali mendekat. Selimut Raya terbuka dan bajunya sedikit tersingkap memperlihatkan bagian kecil perutnya. Kecil sekali, hanya 3 centimeter. Tetapi gejolak di dalam diriku tak mau tahu. Nafasku seketika memburu. Jantungku berpacu di dalam rongganya. Otakku membeku, aku hampir tidak dapat berpikir jernih.
Tidurnya sedikit mendongak. Leher jenjangnya begitu menggoda. Bibirnya yang sedikit terbuka seolah memanggilku untuk mendekat.
Nafasku semakin memburu. Perlahan, aku mulai menunduk dan tanganku bergerak mendekati tubuhnya. Sepersekian senti dari bibirnya aku tersadar.
Tidak! Seperti ada yang berteriak di dalam otakku, aku langsung menarik tubuhku menjauhinya. Aku menarik selimutnya perlahan, kembali menutup tubuhnya dengan sempurna.
Aku kembali ke posisiku, meringkuk di samping pintu. Ini adalah tempat teraman untuk menjaga akal sehatku agar tetap bekerja.
Aku tidak berani memejamkan mata, karena setiap kali mataku terpejam tubuh **** Raya berkelebat menggodaku dan membuat monster di dalam perutku kembali menggeliat liar. Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak akan pernah melakukannya. Bukan karena Raya bisa dengan mudah mematahkan tulang-tulangku, tetapi lebih karena aku tidak akan pernah melanggar hukum adat dan agama. Tidak, walau pun sekuat apa pun Raya dan ayah mencoba mengujiku. Aku pasti mampu bertahan.
Aku kembali bersandar di tembok. Aku tidak dapat menahan kuapan lebar dan menyandarkan kepalaku pada lemari. Mataku masih terbuka, walau tinggal separo. Aku berusaha bertahan untuk tidak tidur dan berharap Raya akan segera terbangun.
Ada yang menjawil lenganku, membuatku terlonjak. Aku menoleh terkejut dan tatapan mataku jatuh pada sosok laki-laki tua yang kini menyeringai lebar di ambang pintu.
“Apa yang kau lakukan di sini, anak muda. Ck ck ck.... Tidur di kamar perempuan. Tidak sopan!” katanya galak, tapi seringainya lebar.
Aku segera berdiri dan menatap ke ranjang di depanku. Kosong. Ranjangnya sudah rapi, selimutnya terlipat di bawah. Matahari menerobos masuk lewat jendela yang setengah terbuka.
“Kenapa kau mengerjaiku semalam?” tanyaku murka. Ayah mengangkat bahu, lalu berbalik pergi meninggalkanku.
Kulihat langkahnya terus menuju meja makan. Aku memandang seluruh dinding, mencari-cari jam dinding dan menemukannya di atas ranjang. Jam 8 pagi. Sepertinya aku hampir ketinggalan sarapan.
Aku segera keluar dari kamar Raya dan masuk ke kamarku, mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi. Aku mencuci muka, menggosok gigi dan segera menyusul ke meja makan setelah berganti baju dengan kilat.
Tepat di depan pintu ruang makan aku mendengar ayah sedang bercakap-cakap dengan Raya. Aku menahan langkahku. Aku ingin tahu apakah ayah mau repot-repot mengklarifikasi kejadian semalam.
“....in hubungan.” Hanya kata itu yang tertangkap oleh telingaku, dari mulut ayah. Aku tertinggal bagian depannya.
“Tidak,” jawab Raya singkat.
“Aku kira kau mencintainya.”
“Ya,” jawabnya lagi, masih singkat.
“Lalu kenapa kau menolak anakku?” tanya ayah.
Aku ingin sekali masuk dan menghentikan ayah, tetapi aku juga penasaran dengan jawaban Raya. Waktu di restoran, jelas-jelas dia menyatakan dia tidak ingin aku pergi meninggalkannya. Bahkan dia memperkenalkanku sebagai tunangannya kepada kepala Bank itu. Tapi kenapa sekarang dia mengatakan tidak, kepada ayahku.
“Aku tidak menolaknya,” kata Raya, masih dengan sangat tenang. Dadaku berdegup kencang mendengarnya.
“Lalu?” Ayah terus mendesak.
Lama Raya terdiam, tidak menjawab. Aku ingin sekali melihat ekspresinya. Aku mengintip sedikit dan melihat Raya menunduk menatap makanannya.
“Lalu...?” Ayah mengulangi, intonasinya lebih pelan.
Dia masih diam beberapa saat, sebelum menjawab. “Bagaimana kau bisa mengatakan aku menolaknya, jika dia bahkan tidak pernah memintaku.”
Seolah tamparan keras mengenai wajahku yang tiba-tiba memanas.
“Anak idiot!” seru ayah, membelalak kaget mendengat jawaban Raya.
Aku segera mengatur kesadaranku dan mencerna dengan cepat semuanya.
Jadi, itukah yang dia inginkan. Raya ingin aku menanyainya apakah dia bersedia menjadi kekasihku. Aah, Bodoh sekali aku. Aku bahkan tidak berfikir sampai jauh ke sana.
Setelah mengatur perasaanku, perlahan dan yakin, aku melangkahkan kaki menuju dapur. Ku buat raut wajahku sedatar mungkin, seolah aku tidak baru saja mendengar percakapan mereka.
Raya menoleh saat aku masuk, tiba-tiba wajahnya memerah dan dia kembali menunduk.
Makananku sudah siap di meja di samping ayah. Aku duduk di sana, mulai melahapnya. Sup krim kental yang lezat, tetapi sudah mulai dingin.
Raya selesai makan. Tanpa berbicara, dia langsung berdiri dan menuju bak cuci piring.
“Kau sudah selesai, Paman?” tanya Raya pada ayah. Ayah mengangguk, lalu menyodorkan piringnya. Raya membawa piring-piring kotor itu tanpa menungguku selesai.
“Anak idiot!” kata ayah tajam sambil memelototiku, kemudian pergi. l
Aku cepat-cepat menghabiskan makananku dan menyusul Raya ke dapur sambil membawa piring kotor.
“Kenapa kau mengunciku di kamar, semalam?” tanyaku, tiba-tiba persis di belakangnya.
Prang! piring itu jatuh ke dasar bak cuci piring, pecah menjadi tiga.
“Oh.” Raya melihat piringnya yang pecah, sebelum menoleh cepat ke arahku.
“Pergi dari sini!” ucapnya tajam.
“M-mafkan aku,” Kataku, masih melihat pada piring yang pecah.
Raya memelotot ke arahku dan kupikir sebaiknya aku menuruti kata-katanya. Aku mundur selangkah, lalu menjauhinya. Aku bersandar pada meja dapur, beberapa meter darinya, melihatnya meneruskan mencuci piring.
Raya membuang pecahan piringnya ke tempat sampah dan meneruskan mencuci sisa piring dan gelas, lalu membilasnya. Aku ingin membantunya mengelap piring dan gelas itu, tetapi aku takut dia akan semakin marah.
Dia sudah selesai mencuci, mengambil serbet di sebelahnya dan mulai mengeringkan piring dan gelas sebelum meletakkannya di rak. Setelah mengelap semuanya dia mulai membersihkan bak cuci piring.
“Aduh,” Jeritnya kemudian. Dia memandang tangannya di dalam bak cuci piring.
Aku menoleh, membeku, antara ingin berlari padanya tetapi takut dia akan mengusirku lagi. Tetapi tubuh Raya tiba-tiba limbung dan sebelum aku menangkapnya, kepalanya membentur ujung meja.
Aku berlari menangkapnya, meski tahu aku terlambat. Darah mengalir deras dari ujung dahinya.
“Ayah...!” teriakku. “Ayah cepat tolong Raya,” teriakku mengulangi, sengaja mengatakan tolong Raya, agar ayah segera datang. Karena aku tidak yakin dia akan datang kalau dia berpikir akulah yang membutuhkan pertolongan.
Langkah kakinya terdengar sedang berlari, satu detik kemudian tubuhnya muncul tergopoh-gopoh mendekatiku.
Ayah membelalak kaget memandang Raya yang pingsan di pangkuanku, darah menetes dari kepala dan telapak tangannya. Piring yang pecah tadi belum terbuang semuanya dan ketika dia membersihkan bak cuci piring, pecahan piring itu menggores tangannya cukup dalam. Tetapi entah bagaimana, Raya tiba-tiba pingsan dan malah terbentur meja.
“Ap... apa yang terjadi?” tanya ayah bingung, menatapku dan Raya bergantian.
“Pegang dia. Cepat!” teriakku.
Ayah segera berlutut di depanku dan menahan tubuh lemas Raya. Aku melepas kaosku, merobeknya dan membebat lukanya.
“Kita harus membawanya ke rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi lula di kepala.” Aku mengangkat tubuh lemas Raya dan berlari keluar. Ayah mengikutiku di belakang.
“Kunci mobilnya, tolong.” Pintaku. Ayah segera mengambilkannya.
“Bisakah aku memintamu tetap disini, ayah?” Aku bertanya lagi padanya. Ayah mengerutkan kening, memelotot.
“Yah, mereka mencarimu. Please,” sergahku.
Ayah menatap Raya.
“Dia akan baik-baik saja. Aku akan mengabarimu lewat telpon.” Aku meyakinkan dia. Akhirnya dengan berat hati ayah mengangguk. Lalu dia melepas kausnya dan melemparkannya padaku.
“Terima kasih, Ayah. Jangan berbuat macam-macam. Jika ada apa-apa, segera telepon aku.”
Kulihat Ayah mengangguk.
“Pergilah. Dia kehilangan banyak darah,” katanya. Matanya menatap kepala Raya, lalu berpindah ke telapak tangannya.
Aku ikut melihatnya dan memang benar. Kaos yang ku gunakan untuk membalut kepalanya sudah mulai berwarna merah. Aku segera berbalik dan berlari menuju lift.
Ceritanya seru...
Teruslah semangat berkarya...💪
😇